Hello Autumn

Hello Autumn
Pengkhianatan


__ADS_3

Jika menurut Nina ia telah melupakan segala yang ada di rumah ini setelah bertemu dengan masalah yang lebih rumit, seperti menghadapi sosok lelaki yang pernah menjadi dewa penolongnya, maka pada kenyataannya malah berbanding terbalik. Jujur saja, apa yang ia saksikan ini lebih menusuk perasaannya daripada sebelumnya.


Spontan Nina menjatuhkan semua belanjaannya, membuat dua orang yang tengah bermain suap-suapan buah terkejut. “Apa yang kalian lakukan?”


“Nina? Kapan kamu pulang?” Sorot mata lelaki itu mengatakan bahwa ia sangat terkejut.


“Ka-kakak!”


“Seperti inikah kelakuan kalian di belakangku? Bukankah katanya kamu sibuk sehingga tidak bisa menemaniku belanja?”


“I-ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku dan Milly hanya-”


“Apakah aku seperti seseorang yang sedang mengharapkan penjelasan?”


“Nina, maaf. Tadi Milly bilang butuh bantuan di rumah karena tidak ada orang yang bisa membantunya. Ma-maka aku menawarkan diri.”


“Hohoo…bukankah tadi aku juga bilang butuh bantuan, tetapi kamu beralasan sibuk hari ini! Vino, kamu lelaki berengsek! Kalian berdua menjijikkan!”


Nina berlari ke kamarnya, meninggalkan barang belanjaan masih tercecer di ruang tamu. Sekali lagi, ia merasakan sakitnya sesuatu yang menjadi miliknya direbut secara paksa. Setelah orang tuanya lebih sayang pada Milly, hanya Vino satu-satunya yang menjadi alasannya untuk tetap bertahan, tempat ia bercerita, tempat ia bersandar ketika lelah menghadapi hidup. Dan kini, satu-satunya alasan bertahan pun telah direnggut.


Gadis itu hanya bisa meringkuk di depan pintu, terisak sesenggukkan menahan agar suaranya tak pecah keluar. Namun air matanya tidakk bisa ia tahan untuk tidak keluar. Hatinya benar-benar hancur menghadapi perselingkuhan pacarnya dan adiknya sendiri.

__ADS_1


“Kak, ini Milly. Aku dan Kak Vino tak ada apa-apa. Kami hanya duduk bersama dan makan buah. Percayalah, aku tak akan berani merebut dia. Lagian Kak Vino juga hanya mencintai Kakak.”


“Diam! Masih ada nyali kamu berbicara denganku? Pergi kamu!”


“Maafkan aku yang tidak memikirkan perasaanmu.”


Nina terbahak mendengar ucapan yang dilontarkan Milly. “Apakah ini lelucon? Hey, Milly. Setelah kamu berhasil merebut orang tuaku dengan sikap sok polosmu itu, kini kamu juga merebut Vino dariku. Aku tidak butuh penjelasan yang berbanding terbalik dengan apa yang kulihat! Kenapa kamu tidak mati saja!”


Deg! Ucapan Nina yang begitu kejam merajam perasaan Milly. Bukan hanya Milly, bahkan Nina pun heran kenapa ia bisa mengatakan hal sekejam itu. Mungkinkah itu keinginan hatinya yang selama ini ia pendam?


Nina kembali meringkuk, sembari menyesali ucapannya pada Milly. Bagaimana sakit hatinya ia, tidak seharusnya ucapan itu terlontar pada gadis kecil di balik pintu kamarnya.


“Apakah itu yang Kakak inginkan? Apakah itu membuat Kakak bahagia? Maka dengan senang hati aku akan ikut ibuku ke surga. Aku letakkan barangmu di depan pintu, Kak.”


Nina kembali menelan kata-kata yang hampir ia ucapkan.


Rasa tidak enak dan alasan yang belum terpikirkan, menjadi alasan Nina diam seribu bahasa. Seandainya bisa, ia ingin membuka pintu dan mengucapkan maaf. Tapi, ia kembali mengingat dengan tragedi yang selama ini menimpanya. Mulai dari orang tuanya yang sering membandingkan ia dengan Milly, dicap sebagai kakak yang tidak becus, sampai perselingkuhan pacarnya. Dan itu semua terjadi karena satu orang, yaitu Milly.


Bukahkan tak masuk akal jika ia harus meminta maaf hanya karena satu kesalahan, sedangkan ia telah mendapatkan ribuan luka yang sampai saat ini belum kering bekasnya? Namun begitulah Nina. Sifat sungkan dan tak enaknya membuat ia terluka lebih dalam daripada siapapun.


Nina menyeka air matanya, menahan agar tidak menangis lagi. Ia membuka koper dan menurunkan beberapa baju dari lemari pakaiannya. Hari ini juga ia memutuskan untuk pergi dari rumah dan hidup mandiri. Keputusan yang akan mengubah jalan hidupnya, tindakan yang hanya bisa dia sendiri yang melakukannya.

__ADS_1


Gadis berambut hitam panjang itu keluar dari kamarnya sambil menenteng koper. Ia mendapati barang yang sempat ia beli tergeletak di depan pintu. Nina mengambil dan membawanya pergi.


Nina paham dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Vino di ruang tamu. Haruskah ia mengucapkan selamat tinggal? Dia sempat membayangkan bersanding dengan lelaki itu di depan penghulu. Nyatanya, semua itu hanya angan-angan belaka.


“Milly sudah menceritakan semuanya. Aku tidak menyangka kamu bisa bertindak kejam pada adikmu sendiri. Ada apa denganmu, Nina?”


“Oh, rupanya adikku tersayang sudah mengadu. Baguslah, jadi aku tidak perlu menjelaskannya.”


“Aku tidak mengerti lagi padamu. Kenapa kamu bisa berubah seperti ini?”


“Aku berubah di bagian mana? Bukankah kau sendiri yang sudah berubah? Kamu bilang sibuk hari ini, dan terpaksa aku belanja sendiri, membawa barang seberat ini sendiri, dan siapa sangka kau sibuk berselingkuh dengan adikku? Jelaskan di bagian mana aku berubah? Katakan jika aku salah! Aku hanya tidak ingin sendirian lagi. Kamu jelas tau betul aku seperti itu! Tapi kenapa? Kenapa Vino? Kenapa? Kamu mengkhianatiku dengan cara yang tidak pernah terpikirkan olehku.”


“Aku memang salah. Tapi bukan berarti aku selingkuh. Aku sedang menemani Milly saat dia sendirian di rumah.”


“Dan kau tak mau menemaniku saat aku sendiri mencari barang. Jika kau bertanya mengapa aku berubah, tanyakan pada dirimu sendiri, apa alasanku berubah sekejam itu, sejak kapan, dan apa pemicunya.”


Nina menghela napas berat. Gadis itu menatap lelaki yang hampir tiga tahun lamanya ia cintai untuk terakhir kalinya.


“Vino, apakah kamu tahu? Aku mencintaimu begitu lama, mempercayaimu melebihi keluargaku sendiri, mengandalkanmu daripada diriku yang payah. Bagiku, kamu adalah tempat bergantung dan bersandar saat aku lelah. Kamu adalah orang pertama yang mau menyeka air mataku saat orang lain tidak peduli dengan keberadaanku. Jatuh cinta bukan hanya sekadar gejolak hati saat kita menginginkan orang itu. Dan aku mencintaimu dengan cara yang berbeda. Sungguh, sampai saat ini aku masih sangat mencintaimu. Tapi sayang, kita harus berakhir seperti ini. Saat aku lebih memprioritaskan kamu dari segalanya, tapi kamu berbeda. Bagimu, mungkin aku hanya pecundang yang tidak tau cara menikmatiku hidup. Jika kita berpisah, ingat bukan karena kamu mengkhianatimu, tapi karena aku yang tak bisa menerima kenyataan bahwa kamu telah berpaling dariku. Sejak awal, aku yang salah dan tidak baik untukmu. Selamat tinggal.”


Untuk terakhir kali, ia menatap rumah mewah itu. Nina memutuskan menghubungi mamanya dan mengatakan keputusannya tinggal di apartemen.

__ADS_1


__ADS_2