
***
Sore hari, Nina pulang seorang diri tanpa ditemani Azra. Ia baru saja mondar mandiri keliling kota untuk mencari pekerjaan tambahan. Daun kering berserakan dimana-mana, menandakan musim gugur belum juga kunjung berhenti.
Rasa putus asa merasuk ke tubuh Nina. Berjam-jam gadis polos itu berjalan, kakinya terasa hampir mati rasa. Tetapi tak kunjung menemukan lowongan kerja.
Namun--
Kedua kaki Nina terhenti seketika, saat ia melihat secarik kertas tertempel di pintu sebuah restoran. Restoran dengan nama 'Hole Space Caffe' itu sedang membutuhkan asisten koki.
"Huhh! Kenapa aku minat dengan pekerjaan ini? Ayolah, Nina. Kamu hanya bisa masak air sama mi instan!"
Nina memukul kepalanya, meratapi kebodohan dirinya. Ia berbalik, meninggalkan restoran itu.
"Loh, Nina?"
Terpaksa, Nina lagi-lagi menghentikan langkah kakinya. Ia menoleh, mencari sumber suara yang memanggil namanya dengan lantang.
"Ran? Kamu di sini?"
Ran mengangguk. Lelaki itu terlihat sangat modis dengan kemeja cokelat, celana hitam, dan topi bertuliskan My Destiny menambah nilai ketampanannya.
"Tapi kenapa kamu di sini?"
__ADS_1
"Aku habis makan. Kamu sendiri?"
"A-ah, hanya kebetulan lewat saja. Kalau begitu, aku pulang dulu, ya?"
Nina kembali berbalik badan, bersiap pulang. Entah berapa kali ia bolak balik hadap kanan kiri. Saat ini, ia sangat ingin bekerja. Restoran ini menjadi satu-satunya kesempatan. Tapi di sisi lain, asisten koki adalah pekerjaan yang mustahil.
"Oh iya, di restoran ini ada teman kelas kita. Dia jadi koki. Hebat sekali, bukan? Tadi aku berbicara sedikit dengannya. Katanya, dia butuh asisten. Sepertinya pekerjaan sebagai koki sangat menyusahkan."
"Te-teman kita? Siapa?" Wajah Nina sumringah. Ada harapan. Mungkin, teman sekelas itu bisa membantunya mencari jalan keluar.
"Siapa, ya? Aku tidak terlalu ingat dengan namanya. Apa kamu mau masuk?"
Nina mengangguk. Kini ia berada di dalam Hole Space Caffe. Ruangan dengan dekorasi klasik, meja dan kursi tersusun rapi, serta ventilasi dengan siklus teratur menambah nilai plus di sana. Tidak heran kafe itu sangat ramai pengunjung. Mereka pasti puas dengan layanan di sana.
Ran menunjuk area dapur. Terlihat samar, seorang lelaki tampan dengan setelan baju putih dan tudung putih tinggi menjadi ciri khas seorang koki. Sementara di sekelilingnya banyak remaja menontonnya.
"Ah, dia tampan sekali. Aku tidak menyesal datang ke sini. Setidaknya koki itu menjernihkan mataku." Gadis yang diajak bicara mengangguk setuju.
Di sisi lain kafe, Nina baru menyadari bahwa pikirannya salah besar. Kafe itu ramai bukan karena layanan maupun dekorasi uniknya, melainkan kehadiran seorang lelaki tampan.
Nina menatap koki itu lamat-lamat. Ia seperti mengenal postur tubuh dan cara memasaknya.
"Azra?"
__ADS_1
"Benar! Azra! Aku baru ingat. Dia laki-laki yang duduk di belakang kamu, Nina."
Nina tidak memedulikan Ran. Ia melangkah pergi mendekati Azra. Ia semakin yakin bahwa laki-laki itu adalah Azra.
Live cooking memang selalu menjadi tontonan menarik di sebuah kafe. Bukan hanya sebagai tontonan, hal itu juga biasanya digunakan pemilik kafe sebagai strategi pemasaran, menambah penjualan, dan menarik pelanggan.
Nina hanya melihat dari arah berlawanan. Ia tidak berani menyapa Azra. Saat ini, ia seperti melihat bintang, sementara dirinya hanya seonggok batu kerikil.
Dari jauh, Nina melihat seorang gadis mendekatinya.
"Azra, apa kamu tidak lelah? Kamu harus istirahat. Perhatikan tubuhmu."
"Aku tidak apa-apa, Ruri. Sebentar lagi shift kerjaku berakhir."
Gadis yang dipanggil Ruri mengangguk. Ia adalah gadis cantik, rambutnya panjang sebahu. Matanya terbalik kacamata warna merah menambah kesan kecantikannya.
Wajah Nina tertekuk. Ada yang menohok hatinya.
"Ada apa denganku?"
"Nina, kamu tidak mau menyapa teman kita?"
Nina menggeleng. Perlahan ia menjauh dari keramaian dan berniat pulang. Peluang yang awalnya ia katakan, entah masih ada atau tidak. Senyuman Azra saat gadis cantik itu menyapanya masih terbayang-bayang. Dan hal itu berhasil membuat hatinya terluka.
__ADS_1
"Tuhan, jangan kau buat aku menyukai seseorang jika suatu saat mereka akan berbalik melawanku seperti keluargaku dan mantan pacarku. Jangan juga dengan temanku."