
Auditorium Fakultas Kedokteran penuh sesak. Sebagian orang harus rela lesehan, menerima hawa dingin yang menusuk bokong mereka. Hari ini merupakan hari pembagian kelas. Seluruh mahasiswa menunggu dengan perasaan was, kecuali Nina. Mereka takut tidak sekelas dengan temannya.
Nina tetap duduk di tempatnya, menyaksikan beberapa pembukaan membosankan dari para petinggi kampus dan panitia penyelenggara. Matanya terasa sangat berat, hingga rasanya ingin terpejam saja. Tetapi di tiap pojok terdapat seksi dokumentasi yang bertugas menangkap semua aktivitas hari itu yang hasilnya akan ditampilkan di akhir masa orientasi.
“Baiklah, selanjutnya mari kita lihat tabel pembagian kelas. Kalian kami beri waktu satu jam untuk melihat daftar kelas di luar auditorium dan menuju ke ruangan yang telah ditentukan. Bagi yang terlambat akan mendapat hukuman membersihkan toilet fakultas selama satu bulan!” Sekian, selamat beristirahat.”
Bagai kawanan burung unta yang ketakutan melihat singa, mereka langsung keluar dari auditorium fakultas secara serempak, saling berdesakan hanya demi memburu waktu. Hanya satu jam, kami harus saling bersaing, berdesakan mencari nama kami yang sekecil kerikil dari ribuan nama mahasiswa.
Apa boleh buat, memang seperti itu aturannya. Nina yang bertubuh kecil hanya bisa menunggu sampai keadaan sedikit reda.
“Apa, kita tidak sekelas. Bagaimana ini?”
“Eh, tadi lelaki yang berisik namanya Riko, ya? Aduh, aku sekelas dengannya.”
“Waa..kita sekelas!”
“Cewek yang barusan banyak nanya itu kamu, kan? Sepertinya kita satu kelas.”
__ADS_1
“Ruang A5 di mana?”
“Eh, ruang H7 bukannya yang paling ujung?”
Suara mereka bergeming menutupi seluruh teras auditorium.
“Hei, yang sudah selesai silahkan mundur, gantian!”
Suara ini begitu tak asing. Nina menoleh, dan benar saja, Azra. Caranya berbicara dengan orang lain masih sangat menyebalkan. Ia seakan menjadi bos yang berkuasa. Hanya dengan melihat tingkah lakunya, Nina yakin mereka pasti akan membullynya.
“Wah, tampan sekali. Datang dari mana, ya?”
Gadis itu masih memandanginya, wajahnya memerah. Sementara lelaki yang diamatinya masih focus mencari namanya. Jarinya menunjuk nama-nama itu,berharap tak perlu banyak waktu untuk menemukannya.
“Ah.. ketemu. Ngomong-ngomong, terima kasih, ya. Silahkan kamu bisa lanjut mencari lagi.”
“Ti-tidak perlu. Aku sudah mendapatkannya. Ka-kamu, di ruang apa?”
__ADS_1
“Hmm…B7. Baiklah, aku duluan, ya.”
Gadis itu mengangguk. Begitu mudah bagi Azra menerobos sekumpulan mahasiswa yang begitu lengket bagaikan sarang semut. Apakah itu kemampuan yang hanya dimiliki lelaki tampan dan wanita cantik?
Tiap detik begitu berharga, waktu tinggal setengah jam tersisa. Tiga puluh menit yang lalu Nina masih merasa cukup tenang, karena menurut prediksinya, 30 menit sudah lebih dari cukup untuk mengurangi separuh dari mereka dan meninggalkan papan pengumuman.
Nina semakin panik, waktu terus berjalan, dan masih ada beberapa anak yang belum menemukan kelompoknya. Nina hanya punya waktu tidak lebih dari lima belas menit untuk menemukan namanya, atau ia akan berada di toilet selama satu bulan.
“Aaah sial. Kalian bisa minggir tidak? Aku masih belum mendapatkan namaku.”
“Kamu pikir kami sudah dapat?”
“Benar! Kami di sini, karena kami belum menemukan kelas,” celetuk salah satu dari mereka.
“Tenang, jika kita dihukum, aku akan senang bisa membersihkan toilet denganmu.”
“Hey, apa kamu playboy? Dengan wajah tampan, baju bermerek sepertimu, kamu yakin mau membersihkan toilet? Arrghh…aku pasti gila!”
__ADS_1
“Akhirnya ketemu!” teriak salah satu gadis cantik.
Waktu semakin sempit, hanya tersisa lima menit. Akhirnya Nina bisa menyapu nama demi nama dari ribuan itu. Taka da waktu lagi. Entah kenapa pihak panitia tidakmengurutkan nama mahasiswa sesuai abjad saja.