
Nina menghembus napas panjang saat mengingat apa yang terjadi sebelum ia pergi meninggalkan rumahnya. Ia bahkan merelakan cinta pertamanya dan kasih sayang orang tua pada gadis kecil bernama Milly.
“Aiisshh! Jika ini komik ‘Menara Tuhan’, sudah pasti Milly jadi musuh abadiku!”
Gadis berambut hitam itu menatap sekeliling dan menanggalkan jauh-jauh kenangan buruknya. Matanya menyapu seluruh area kampus, mulai dari gedung-gedung yang luas dan panjang, taman bunga tempat mahasiswa selfie, sampai gedung auditorium tempat para senior berjas almamater sibuk hilir mudik.
Hari ini merupakan hari sibuk, bertepatan dengan hari penerimaan mahasiswa baru. Auditorium itu menjadi tempat paling ramai dikunjungi mahasiswa baru, termasuk Nina. Ia mengambil jurusan kedokteran. Entahlah, tapi dengan mengambil jurusan ini ia berharap bisa mengobati luka hati yang selama ini didapatkannya.
“Permisi, saya mau daftar.”
“Silahkan isi formulir, dek.” Gadis berambut hitam pendek itu menyerahkan formulir pendaftaran.
Nina mengangguk, lalu pergi meninggalkan antrean dan duduk bersandar di samping pilar auditorium.
Kepala Nina mendongak, menatap ratusan orang berebut antrean mengambil formulir. Sepertinya, jurusan kedokteran adalah salah satu jurusan terfavorit tahun ini. Bagi gadis berambut hitam itu, ini merupakan kali pertamanya ia menghadiri pertemuan sebesar ini dan memiliki peluang berteman dengan mereka.
Melupakan masa lalu, mengingat masa kini, dan merancang masa depan merupakan visi hidup Nina mulai saat ini. Sebelumnya, ia bahkan sempat berpikir untuk mengakhiri dunia yang begitu kejam.
Nina menggigit ujung pulpennya. “Apa alasan Anda mengambil jurusan Kedokteran? Oh, haruskah pertanyaan ini dijawab? Bahkan tidak dijawab pun kita tetap diterima asal ada dana, kan? Ah aku isi asal-asalan saja!”
“I-S-E-N-G!”
“Wah, jawaban macam apa itu?”
Nina menoleh. Ia termangu mendapati sosok yang sama sekali tidak ingin ditemuinya dengan tatapan heran. Pria di hadapannya ini selalu sukses membuat Nina terkejut dengan kehadiran tidak terduganya.
“Hey! Apa kamu vampir? Bagaimana bisa datang tanpa ada suara? Bikin kaget saja! Untung aku tidak punya penyakit jantung.”
__ADS_1
Pria itu terbahak. “Maaf, penyakit jantung itu untukku saja.”
“A-apa maksudmu? Aku hanya bercanda, tahu!”
Pria itu mengacak-acak puncak rambut Nina, memainkannya dengan rasa gemas. Nina sontak berdiri. Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Sementara pria berambut pirang itu tertawa cekikikan melihat reaksi Nina yang diluar perkiraannya.
“Apa kamu tau yang kamu lakukan? Berhentilah berbuat masalah, dan berhenti mengikutiku! Apa kamu seorang stalker? Atau hanya Lelaki Mesum Tingkat Dewa?”
“Apa? Hey, jangan menuduhku sembarangan! Aku hanya menggodamu sedikit, dan kamu bilang aku mesum? Wah, apa definisi mesum terlalu rendah bagimu? Mau kutunjukkan arti mesum yang sesungguhnya?”
Terlihat beberapa mahasiswa menatap mereka. Suara yang lantang, percakapan yang ambigu berhasil membuat mereka menjadi sorotan utama di ruang auditorium. Bahkan beberapa ada yang menatap mereka dengan jijik.
“Apa? Laki-laki itu benar-benar seorang mesum akut?”
“Kamu tidak dengar? Katanya dia akan menunjukkan arti mesum.”
Bisikan demi bisikan terdengar begitu jelas. Entahlah, ia merasa de javu dengan kejadian itu. Bukankah ia juga pernah mengalaminya saat di danau beberapa waktu yang lalu? Anehnya yang berdiri di sampingnya masih orang yang sama.
Seperti yang dirasakan lelaki itu sekarang, mau tak mau Nina harus melewati hari ini. Pertama kali ke kampus, pertama kali bertemu beberapa calon mahasiswa seangkatan, dan ia sudah menjadi bahan sorotan dan gunjingan. Nina hanya bisa menunduk. Tidak ada gunanya lari dari rumah dan kuliah. Kenyataannya sama saja, tak ada tempat dan orang yang memandangku.
Lelaki itu menarik pergelangan tangan Nina. “Kita cari tempat lain untuk mengobrol.”
Tak peduli Nina meronta, ia tidak peduli sama sekali. Kini mereka di bagian belakang taman kampus. Tidak ada satu pun orang muncul di sana.
“A-apa kamu benar-benar akan menunjukkan arti me-mesum? Ma-maafkan aku. Aku tidak akan mengulangi lagi. Tolong lepaskan aku yang polos ini.”
“Azra.”
__ADS_1
“Apa?”
“Kau bisa memanggilku Azra mulai sekarang. Kubilang sebelumnya kamu tidak perlu tahu namaku karena kupikir kita tidak akan bertemu lagi.” Azra mengulurkan tangannya.
“Sekarang kamu mau kita berjabat tangan? Maaf, tapi walaupun kita satu kampus, bukan berarti kita akan-”
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tubuh Nina terdesak di sebuah pohon besar tengah taman tanda ia tidak bisa menghindar. Mata Nina mengerjap, pria di depannya menatap tajam.
“A-Azra?”
Azra mengambil sebuah kertas dari sakunya. Kertas itu sangat lusuh. Mata Nina membelalak.
“Kamu ambil jurusan kedokteran juga? Tunggu! Ingin sehat? Alasan macam apa itu?”
“Aku tidak mau mendengar saran dari seseorang yang bahkan mengatakan iseng sebagai alasannya.”
Sebenarnya Nina ingin sekali tersenyum. Namun, ada hal yang terasa sesak pula. Mungkin, Azra ditakdirkan sebagai hiburan dalam hidupnya yang keabuan. Selain Vino, Azra adalah orang yang mampu membuat jantungnya berdegup kencang.
“Bisakah kamu minggir dari hadapanku? Orang-orang akan berpikir kamu pria mesum. Aku mau menyerahkan formulir ini.”
“Ayo kita pergi bersama.”
“Bisakah?”
Setiap orang yang terlahir di dunia memiliki hari istimewa dalam hidupnya. Entah itu hari ulang tahun, hari liburan, bahkan hari dimana pertama kali bertemu seseorang yang bisa mengubah pandangan hidupmu. Dan alasan Nina hari ini istimewa bukan dari ketiga alasan tersebut. Melainkan ia mendapat hari paling memalukan sekaligus menyenangkan.
Menyenangkan? Apakah itu yang dirasakannya sekarang? Tapi mengapa? Tidak ada hal istimewa yang terjadi selain mendapat malu di depan calon mahasiswa baru dan para senior oleh satu orang, yaitu Azra.
__ADS_1
Lalu, perasaan apa ini?