
Hari Minggu, waktunya bagi segelintir orang berlibur, menikmati wisata alam, apalagi di jepang sedang mengalami musim gugur. Daun-daun menguning, kemudian gugur di jalanan.
Pukul sepuluh pagi, matahari perlahan merangkak naik. Orang-orang mulai memenuhi jalanan kota Tokyo dan taman hiburan menikmati akhir pekan. Suara kamera terdengar dimana-mana. Bukan hanya taman, supermarket pun dipenuhi pengunjung dari dalam dan luar kota.
Sementara di sebuah ruangan berbentuk kubus dengan kondisi masih berantakan, dua anak manusia masih tergeletak tak berdaya. Mata mereka masih terpejam sempurna. Dua kasur lipat, dengan arah vertikal dan horizontal, sementara jarak keduanya lebih dari lima meter.
Suara alarm telepon berbunyi, memaksa gadis bernama lengkap Nina Aguero Agnes itu membuka matanya. Gadis yang masih setengah sadar itu terbelalak, bangun seketika.
"Hei! Kenapa kamu tidur di kasurku?" Nina menendang tubuh lelaki yang kini terbaring tepat di sebelahnya.
Lelaki yang dimaksud, tak lain adalah Azra. Ia perlahan membuka mata. Sorot matahari memaksa Azra menyipitkan pandangannya.
"Apa? Hei kenapa kamu ada di kasurku?"
"Ha? Kamu buta? Ini kasurku! Kasurmu di sana!" Nina menunjuk sebuah kasur yang teronggok tanpa penghuni di bagian lain. Sementara tangan satunya menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Lalu apa maksudmu menutup tubuhmu seperti itu? Kamu pikir aku tertarik denganmu? Dengan tubuh yang seperti-"
DUG! Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, badan Azra tersungkur ke belakang. Ia mengaduh kesakitan, sementara tangannya memegangi bagian perut, tepat di mana Nina menendangnya.
"Apa yang kamu lakukan? Kamu sudah menendangku dua kali. Aku akan-"
__ADS_1
"Akan apa? Kamu mau apa? Ingat, kamu di sini numpang. Jangan berbuat macam-macam. Aku tau, wajahku memang cantik, badanku bagus. Tapi walaupun kita tinggal bersama, bukan berarti kamu bisa berbuat mesum!"
Azra menelan ludah. Bukan karena ucapan Nina yang membabi buta itu. Melainkan, karena ia terpana kecantikan Nina. Setelah dilihat dari jarak dekat, Azra akui, gadis itu memang cantik. Apalagi saat marah.
"Rupanya benar, seorang gadis akan terlihat cantik saat dia marah."
"Apa? Suara hatimu terdengar, loh. Bukannya kemarin kamu bilang aku gadis jelek dan bodoh?" Nina menyindir Azra.
Azra mengibaskan tangannya, meminta Nina untuk diam. Ia membuka telepon genggamnya, melihat jam berapa sekarang.
"Ayo, kita buat sarapan. Bukannya semalam kamu sudah membereskan dapur?"
"Kamu mau mengalihkan topik? Kita belum selesai bicara. Sebelum makan, kita harus buat perjanjian dulu."
"Kalau kamu masih bicara, nanti malam aku akan melakukan lebih daripada tidur bersama. Bagaimana?"
Nina kaget bukan main. Ruangan itu lengang. Tak ada yang membuka percakapan. Hanya ada rasa canggung dari keduanya. Nina berpikir hal bodoh apa yang akan dilakukan Azra jika ia tetap bicara. Sementara Azra merasa lebih--menyesal mengatakan hal bodoh.
Nina refleks menendang perut Azra lagi, tak tahan dengan rasa canggung di ruangan itu.
Azra mengaduh, tapi kali ini bukan dengan ekspresi kesakitan. Melainkan lebih tersenyum puas. Ia merasa menang.
__ADS_1
Azra beranjak. Ia segera menuju dapur dan membuat sarapan. Nina turut beranjak. Ia sudah berjanji akan membuatkan makanan untuk Azra, sedangkan Azra sudah berjanji akan membantu Nina belajar masak.
Satu jam berlalu. Makanan hasil buatan Nina, tak ada satu pun yang layak dimakan. Bahkan, tidak layak dikategorikan sebagai makanan. Azra menepuk dahi, peluhnya mulai mengucur, namun belum satu pun makanan tersaji di meja.
"Hari ini, aku saja yang masak. Kamu kan pintar, perhatikan baik-baik. Besok baru boleh praktik, mengerti?"
Nina hendak protes. Tapi ia sadar diri akan masalah yang ditimbulkannya. Makanan belum ada, tapi perut mulai keroncongan. Akhirnya ia mengangguk, tanda setuju.
Azra mulai mengambil alat masak, memotong bahan, menyiapkan bumbu. Minyak mulai dituangkan, kompor dinyalakan. Bumbu satu persatu dituangkan. Tercium aroma wangi. Nina memperhatikan dengan saksama. Suatu hari, ia harus bisa membuat sendiri. Gerakan Azra, tak ada satu pun yang percuma.
Makanan pertama jadi, satu piring telur dengan balado tomat dan bumbu tambahan lainnya. Sementara nasi sudah matang.
"Wah, hebat!"
Lelaki berambut pirang itu terlihat seperti seorang chef di mata Nina. Kini ia menyiapkan bahan-bahan untuk membuat makanan kedua. Baunya masih saja wangi. Makanan kedua siap dihidangkan.
"Wah, hebat!"
Azra melirik. "Bukankah sebelumnya kamu juga mengatakan hal yang sama? Apa tidak ada pujian lain?"
Nina nyengir. "Azra, kamu hebat sekali. Aku ingin pintar masak seperti kamu. Sayang sekali, sifatmu itu tidak terlalu menarik. Jika kamu bisa memperbaiki sifatmu itu, aku takut sekali akan jatuh cinta padamu. Perempuan pintar memasak sudah biasa, tapi lelaki yang pandai masak itu luar biasa!"
__ADS_1
Azra menelan ludah. Wajahnya memerah. Bukan main, sepertinya pujian Nina barusan menyentuh lelaki berhati dingin itu dengan telak. Bukankah ucapan Nina terlalu berlebihan? Bagaimana hati seorang lelaki normal tidak tergerak setelah mendengar penuturannya?
Andai saja kondisinya tepat, dua orang insan manusia itu bisa mengikat takdir yang saling berseberangan.