
“Aaah sial. Kalian bisa minggir tidak? Aku masih belum mendapatkan namaku.”
“Kamu pikir kami sudah dapat?”
“Benar! Kami di sini, karena kami belum menemukan kelas,” celetuk salah satu dari mereka.
“Tenang, jika kita dihukum, aku akan senang bisa membersihkan toilet denganmu.”
“Hey, apa kamu playboy? Dengan wajah tampan, baju bermerek sepertimu, kamu yakin mau membersihkan toilet? Arrghh…aku pasti gila!”
“Akhirnya ketemu!” teriak salah satu gadis cantik.
Waktu semakin sempit, hanya tersisa lima menit. Akhirnya Nina bisa menyapu nama demi nama dari ribuan itu. Taka da waktu lagi. Entah kenapa pihak panitia tidakmengurutkan nama mahasiswa sesuai abjad saja.
“Ah sial, mataku perih! Kacamataku ketinggalan!”
Nina mulai panik, ia menitikkan setitik air mata. Ya, hanya setitik.
“Hey, siapa nama kamu.”
“Maaf, ini bukan waktunya berkenalan. Aku takut kena hukuman.”
__ADS_1
“Cih, kau pikir aku lagi modus, hah? Aku hanya berniat baik membantu mencarikan namamu.”
Nina menoleh. Lelaki yang beberapa menit lalu ia cap sebagai lelaki tampan dan playboy, tak disangka ternyata dia orang yang baik.
“Nina. Nina Aguero Agnes.”
“Hmm nama yang unik.”
Nina menghela napas. “Apa kamu juga belum menemukan namamu?”
“Sudah. Tapi aku senang membantu gadis cantik,” balasnya tanpa ragu.
“Hey! Apa kamu secerewet ini? Aku sedang membantumu. Sebaiknya kamu juga cari. Bagian bawah belum dilihat, kan?”
Nina terpaku menatap lelaki itu. Hembusan napasnya terdengar kasar. Namun, ia tersenyum dibalik diam. Entahlah, ada rasa haru yang begitu luar biasa. Selama ini, ia tak pernah dipedulikan bahkan oleh keluarganya sendiri. Dan kini, hanya orang asing yang baru bertemu beberapa menit lalu yang bahkan belum berkenalan secara resmi menawarkan diri untuk menolongnya.
“Si-siapa namamu?”
“Khun Ran. Panggil saja Ran.” Ran masih sibuk mencari. “Ah, ketemu. Kamu di B7.”
“Sungguh. Terima kasih banyak, ya. Semoga di lain kesempatan kita bisa berkenalan dengan benar. Aku permisi.”
__ADS_1
“Tunggu!” Lelaki bernama Ran itu menahan pergelangan tangan Nina. “Kita ke kelas sama-sama.”
“A-apa maksudmu? Kita harus kekelas masing-masing.” Nina berusaha melepas genggaman Ran. Walaupun tak bisa dipungkiri ia yang membantunya, tapi menyentuh Nina saat pertama bertemu, bukankah ini berlebihan?
“Kita sekelas. Aku juga di B7."
Nina tersenyum pertanda mengiyakan, berbalik dengan yang sesungguhnya ia rasakan. Persetan dengan itu, Nina tak peduli lagi. Perkara lelaki genit di depannya bisa diurus kapanpun. Yang jelas ia harus segera ke kelas.
Dengan kecepatan yang sulit Nina ikuti, ia melihat kaki jenjang Ran melangkah meninggalkan Nina di belakang. Ran menoleh. Mendapati Nina tertinggal jauh, ia memperlambat langkahnya hingga mereka bisa berjalan beriringan. Mungkin sudah terlambat dari waktu yang dijadwalkan, Nina tetap berharap agar senior belum ada yang stand by di ruang kelas B7.
Kini, mereka berdua berdiri tepat di depan pintu kelas. Hening. Nina menelan ludah, ia ragu untuk membuka pintu. Tanpa persetujuan, Ran meraih gagang pintu hingga sedikit terbuka. Perlahan, terlihat teman sekelasnya duduk di bangku masing-masing dengan tenang, setenang ujian.
“Apa yang kamu lakukan? Wah, apakah kamu tidak bisa berpikir sedikit? Kita sudah terlambat, dan dengan santainya kamu membuka pintu ini. Bagaimana kita menghadapi senior sekarang?”
“Nina, dalam hidup, kamu tidak bisa hanya mengandalkan otakmu. Ada beberapa hal di dunia ini yang tak bisa dipecahkan hanya dengan berpikir. Kamu harus punya rekan yang mau membuka pintu terlebih dulu supaya kamu bisa terus melaju tanpa ragu. Yah, walau sebenarnya aku hanya seseorang yang suka bertindak dan malas berpikir.”
Nina termenung. Bukankah ungkapan Ran sangat masuk akal dan menyentuh? Orang terlalu banyak berpikir hanya karena mengharapkan sesuatu yang ia rencanakan sesuai harapan mereka. Mengolah rencana dengan matang, sehingga mereka tidak mudah mengalami kegagalan dan jatuh dalam keterpurukan.
Suara langkah kaki mengagetkan lamunan Nina.
“Kalian terlambat! Terhitung hari ini, kalian kuberi hukuman membersihkan toilet fakultas nomor 7 selama 30 hari ke depan!”
__ADS_1