
di ruang TV itu hanya ada keheningan, dan suara TV, adinda dan ivan menikmati acara TV, namun tiba tiba di TV menayangkan adegan panas
saat di TV menayangkan adegan cuman adinda pun menutup matanya dengan kedua tanganya, ivan yang melihat adinda seperti itu pun tertawa kecil
" di aku boleh tanya sesuatu, ini pertanyaan pribadi aih" ivan
" ya pak, apa itu" adinda
" aku kamu pernah ciuman" seketika pertanyaan ivan membuat wajah adinda memerah bak kepiting rebus
adinda hanya bisa menunduk sambil menggeleng pelan karna malu
" kalau pacaran" ivan
" tidak pernah pak, saya terlalu focus bekerja, lagian usia saya masih sangat muda pak" ucap adinda dengan nada malu
" ooh iya" ucap akan, entah kenapa dia merasa sangat senang oleh kenyataan itu
"emmmm.... sa saya ngantuk pak, saya istirahat dulu, besok saya harus bekerja, permisi pak" pamit adinda sopan, jujur saja saat ini dia sangat malu
" ooh iya din, have a nice dream yah... " ivan
adinda hanya mengangguk, jujur saja dia juga tidak begitu tau bahasa Inggris
ivan masih tertahan dengan senyumnya " dasar adinda si gadis polos" ucap ivan dengan geleng geleng kepala
sementara adinda di dalam kamarnya sedang menyandarkan tubuhnya di pintu kamar dengan degub jantung yang kuat, adinda pun meraba dadanya
" apa apaan sih ini, hahending aku tidur lagi aja" ucap adinda dengan tak bersemangat, adinda punntertidir dengan sangat nyenyak
setelah beberapa saat, mata hari menyapa melalui celah celah khorden kamarnya
adinda pun beranjak dari kasurnya menuju kamar mandi, dia akan memulai ritual mandinya dan sekalian berganti pakaian
setelah adinda mandi dia pun menuju kamar untuk memulai sholat dan mengaji
selesai dengan ritual paginya adinda berkutat di dapur untuk masak, saat makanan tersaji ivan keluar dengan wajah khas bangun tudur
" pagi din" ucap ivan menyapa adinda
" pagi pak ivan, ada yang bisa saya bantu pak?" tanya adinda
" eemmm... kamu ambilin saja saya air putih" ucap ivan
setelah adinda kali dengan air putih ivan ternyata sudah meminum air dari gelas dinda
" din kamu masak apa? " avan
" saya masak telur dadar sosis sama nasi goreng pak, bapak mau makan juga? " tanya dinda
__ADS_1
" boleh deh" ivan
adinda pun kembali ke dapur untuk mengisi air di gelas dan mengambil piring serta sendok untuk ivan
saat adinda kembali mereka pun makan bersama dalam diam, hanya ada suara dentingan sendok dan piring
" din apa kamu biasa makan sendiri? " tanya ivan saat melihat dinda selalu melakukan segala sesuatu sendiri
" tidak pak, di kampung kami selalu makan bersama, dan saya baru terbiasa makan sendiri saat di sini" ucap dinda jujur
" kenapa kamu gak pernah ajakin aku makan bareng" ivan
" yah karna saya cukup sadar diri saja pak" adinda
" sadar diri seperti apa? " ivan bertanya karna jujur saja dia sangat bingung
" status sosial kita berbeda, bapak adalah orang berada dan saya hanya orang miskin, bapak adalah atasan saya" terang adinda
ivan hanya diam, entah kenapa mendengar langsung dari mulut dinda sangat menyakitinya, walau itu memang kenyataanya
setelah mereka selesai dengan ritual makanya, adinda pun pergi menuju hotel, dia di youtube dengan viki kali ini di depan mini market yang tak jauh dari apartemen ivan
alasan dinda di mput di situ sama viki, pertama karna viki baru pulang dari kampungnya sekalian jalan satu arah, kedua adinda tak ingin viki tau kalau dia tinggal di sebuah apartemen kawasan elit itu
ivan sempat melihat adinda berboncengan dengan seorang pria, entah kenapa dia sangat marah, tapi dia tak tau harus berbuat apa, itu hak adinda
" siapa pria tadi, apa dia kekasih adinda? tapi bukan kah adinda tak pernah pacaran? apa laki laki itu sedang mendekati adinda, tidak tidak aku harus cari tau tentang itu, adinda gadis yang masih sangat polos batin ivan
" sini biar aku bukain helmnya" viki
" makasih bang viki" adinda
"iya sama sama" ucap viki, mereka pun berjalan beriringan menuju ruang loker guna menyimpan tas mereka dan berganti pakaian
" din ini ada titipan sari ibu" ucap viki sambil memberikan sekotak makanan pada pada adinda
" apaan ini bang?" adinda
" dodol" viki
" wah dodol, kesukaan aku banget, makasih ya bang" adinda
" kamu suka dodol, sama sama din" viki
" kapan kamu pindah di rusun din" tanya viki
" hari ini atau besok bang, tergantung dari atasan" adinda
" ooh... " viki hanya ber ooh ria
__ADS_1
dia sangat ingin adinda menempati rusun yang bersebelahan dengan miliknya
" kalau kamu sudah tinggal di rusun, berangkat kerjanya bareng aku yah din" viki
" insya Allah bang" adinda
jawab adinda santai, mereka pun memulai kerja pGi ini dengan semangat,
beberapa saat setelah jam istirahat adinda memutuskan bertemu dengan atasanya yang bernama pak junaidi
tok tok tok...
masuk, suara ucapan dari dalam sontak membuat adinda membuka pintu
" permisi pak" adinda
" iya din, kok tumben kesini? ada apa?" junaidi
" pak saya mau menerima soal fasilitas yang pernah bapak tawarkan kepada saya" adinda
" ooh soal itu? kapan kamu mau pindah dinda? " junaidi
" kapan saja pak " adinda
" kamu bisa pindah hari ini juga adinda" junaidi
" trimakasih pak" adinda
" sama sama, kamu nanti bisa minta formulir dan juga kunci pada ana yah, dia yang mengatur soal fasilitas pekerja hotel ini" ucap junaidi lagi
" baiklah pak, trimakasih banyak, saya permisi" adinda
" iya baiklah adinda" junaidi
adinda pun mengangguk dan pamit undur diri, sementara di tempat lain ivan sedang sangat gusar
entah kenapa pikiranya selalu terpaut pada adinda, adinda yang mau pindah, adinda yang dekat dengan seorang pria, dan tiba tiba tersengar pintu di ketuk dari luar
tok tok tok...
" masuk" ucap ivan
setelah ivan mempersilakan seseorang di luar sana untuk masuk pintu pun terbuka menampilkan sosok pria setengah baya
" aah paman, sejak kapan paman datang, kenapa tak memberi tahu ku, dan kenapa mendadak? " tanya ivan dengan nada panik dan khawatir
"wow ponakanku, satu satu donk, paman dari salam sudah di kota ini, paman tak memberi tahu ku supaya jadi kejutan, dan pan tak mendadak hanya kau saja yang tidak tau" ucap ayah citra, yah yang datang itu adalah ayah dari citra
" ooh baiklah, silakan duduk paman, paman mau minum apa? " ivan
__ADS_1
" baiklah, aku minum seperti biasa, teh hangat dengan sedikit gula" ucap ayah citra