
sampai di rumah milik rian adinda di sambut baik oleh calon kakak iparnya, dan keluarga besar yang ada di sana
"dek kenalin ini calon kakak namanya citra lestari, citra ini adek aku yang suka aku ceritain ke kamu" ucap rian
"hay din, gimana kabar, seneng kakak ketemu kamu, kak rian suka cerita tentang kamu loh" sapa citra dan memulai keakraban mereka
"hallo kak aku citra" citra
"yaudah yuk duduk dulu, di dalem ada papa sama mama juga, kayanya mau kenalan ama kamu" ucap citra lagi
mereka pun berjalan beriringan, citra tak melepas pegangan tanganya pada rian dan yang satunya lagi merangkul pundak adinda
"mah pah... ini adinda adiknya mas rian, yang katanya mau kerja di kota, tapi gak mau aku ajak kerja bareng, kata mas rian dia pengen kerja di hotel, karna dia suka banget masak, apa di hotel papa ada lowongan" citra mengenalkan dinda dan tanpa basa basi bertanya, karna jujur saja citra kurang suka dengan keluarga rian, menurut citra mereka beda kelas, dan rian... itu karna cinta sudah terlalu mencintainya, saat itu rian hanya supir ayahnya
ibu citra memandang risih, "adinda memang cantik, tapi dengan penampilan yang kampungan" batin ibu citra,berbeda dengan ayah citra pak heru yang menag tidak memandang orang dari status sosialita nya
"nak adinda, apa tamatan sekolah terakhirmu" tanya pak heru
"sa saya tamatan SD pak"ucap citra sopan sambil tertunduk
" ooh.. gak papa nanti saya tanya kan di HRD di hotel kota m yah, kamu gak papa kan kalau jauh di sana" tanya pak heru lagi
" iya Pak, gak papa... makasih bayak sebelumnya " ucap citra ramah
beberapa hati berlalu, hari ini adalah hari yang di nanti nanti oleh citra dan keluarga, begitu juga dengan rian
ibu rian pun dari kemarin sudah datang, di sebuah gedung di perhotelan milik ayah citra mereka melangsungkan pernikahan, suara alunan musing yang meriah, dan sapaan para teman dan rekan bisnis dari keluarga citra dan kawan kawan rian pun menambah kemeriahan suasana
di sudut sana ada beberapa pemuda yang sedang berkumpul
"eeh van, lu tau gak itu siapa? " tanya rega pada vandy
__ADS_1
"mana"vandy yang sedang fokus dengan hpnya pun mengangkat wajahnya dan mengalihkan kan perhatiannya pada remaja cantik yang keliatan sangat polos
" itu tuh" ucap rega pada vandy sambil menunjuk
"wih iya bening banget produk langka tuh" kata vandy
ivan yang sedari tadi tidak focus karena pikiranya sedang melayang pada seorang gadis yang entah sekarang ada di mana, tadi siang dia menjumpai gadis itu, gadis yang telah pergi membawa dunianya, dan tanpa sadar dia menoleh dan melihat remaja yang menurutnya masih sangat muda itu, lalu iya berkata"jangan ganggu dia, atau lu bakal di pukul ma rian" tiba tiba ifan berkata demi kian
"emangnya ada apa ama rian" tanya rega pada ivan
"iyah emangnya kenapa? " timpal vandy
"dia adiknya rian, dia bakal ikut gue di kota m besok, dia bakal kerja jadi asisten gue" kata ivan dengan nada malas
"woah... hebat juga lu punya asisten bang koki, mau donk gue kalau asistenya kek gitu modelanya" jawab vandy
" ah yang bener lu, setau gue adiknya si rian tuh satu laki laki loh, itu si andre, yang nikah ama Rere sepupu gua" jawab rega
" amun yang bener aja lu van" tanya rega
"iyah ngapain gue bohong" jawab ivan asal
beberapa jam pu berlalu, kini waktu telah beranjak pagi, semua sudah bersiap siap untuk pulang, mama dan adik adik adinda sudah pulang semalam bersama kerabat mereka dari kampung, kini waktunya adinda yang harus berangkat
"dek baik baik kamu di sama yah, lagian kenapa kamu gak mau aja kerja ama kak citra atau di rumah makan milik kak andre aja sih, kak rere juga kan udah nawarin? " tanya rian, sebenarnya dia berat merelakan adiknya untuk merantau jauh
"kak aku gak mau ngerepotin, lagian aku pengen punya pengalaman kak" jawab dinda
setelah dinda berpamitan dan berpelukan dengan rere dan andre kini dinda bersalaman dengan citra, sebenarnya citra baik, hanya saja dia memiliki sedikit sikap ibunya yang selalu membedakan kasta
" hati hati kamu dek" pesan andre
__ADS_1
citra hanya mengangguk dan sebutir kristal mulai menwtes di kedua pipi mulusnya
"van tolong jagain dinda yah, gue mahon, dia gadis yang baik kok, cuma kadang kadang usilnya keterlaluan aja" kata rian pada ivan, ivan pun mengangguk mengiakan
setelah itu mobil tiba untuk mengantar mereka ke bandara, dari rumah tian ke bandara memang cukup jauh, sampai memakan waktu satu jam lamanya
di dalam mobil hanya ada keheningan, ivan yang memang pendiam dan cuek dengan gaya colnya sedangkan adinda gadis pemalu dan polos memilih menyandarkan kepalanya di kaca mobil sambil memandang jalanan
beberapa saat berlalu adinda ketiduran, dan tanpa sengaja mobil melewati jalan berlubang, ivan yang memang diam diam memperhatikan wajah adinda dan dengan sigam memeluk adinda agar tidak terbentur, adinda yang mendapat pelukan mendadak dengan tubuh yang masih setengah sadar pun membelalak matanya
untuk sesaat pandangan mereka terkunci, dan detak jantung adinda pun berdetak dengan kencan, adinda tidak tau apa artinya karna dia tidak pernah merasakan detakan itu
"emmm... anu kak, eeh pak" ucap adinda
ivan pun langsung tersadar dari lamunannya, dia gelang geleng kan kepalanya" maaf aku cuma hak mau kamu kenapa napa" ucap ivan
adinda mengangguk mengerti, dan merekapun sama sama terdiam kembali, ada kecanggungan kali ini antara mereka berdua tanpa ada yang membuka pembicaraan
tak lama waktu pun berlalu, mereka sampai di depan bandara, setelah cek in ivan mengajak adinda untuk makan karna memang mereka belum sarapan apa apa tadi sebelum berangkat
" din, yuk makan dulu di sana, kita juga lagi nunggu jam keberangkatan, masih sempat lah makan" ucap ivan
adinda pun menggangguk sambil berkata "iya Pak"
mereka pun sampai di sebuah rumah makan yang ada di dalam bandara itu
"din kamu mau makan apa? " tanya ivan pada dinda
" apa aja pak, saya gak pilih pilih makanan, jawab dinda sambil tertunduk
ivan pun memesan makanan, dan tak lama makanan siap saji tersedia di hadapan mereka "ayo din di makan dulu, jangan ngelamun, entar kalau kamu sakit kakak kamu bakal marahin saya" ivan berkata dengan nada cueknya
__ADS_1
"iya Pak" dinda pun memulai ritual makanya, dan tak lama terdengar pengumuman bahwa calon penumpang pesawat yang mau dinda dan ivan tumpangi akan lepas landas, mereka pun segera menuju ke dalam pesawat, ini pertama kalinya untuk dinda biak pesawat