
setelah lama mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban dari adinda ivan pun memberanikan diri membuka pintu, dan ternyata dinda sedang berada di alam mimpinya
dinda yang tertidur tak menyadari jika Alvin sudah ada di kamarnya, Alvin melihat dinda yang tertidur pun tertegun
menurut ivan dinda gadis manis dan polos, wajahnya yang imut dengan tubuh mungilnya menyejukkan mata, tanpa sadar ivan tertarik padanya
tapi ivan sadar, umur mereka yang terpaut jauh, ivan pun telah menganggap adinda sebagai adiknya sendiri
ivan jadi teringat keinginan sang ayah, yang mengingin kan dia agar cepat menikah, ivan tidak bisa berbohong kalau dia juga ingin menikah, tapi setelah dia bisa melupakan margareta, atau biasa di panggil rita, cinta pertamanya yang seorang model, kemarin dia bertemu rita ada rindu dan kecewa si tatapanya
tapi walau berusaha pun atau hubungan mereka terjalin pun ahmad sang ayah tidak mungkin setuju, karna dari awal hubungan mereka di tentang sang ayah, bahkan ibunya sebelum meninggal pun menyuruhnya agar tidak kembali bersama rita
entah kenapa ayah dan ibunya sangat tidak menyukai rita, padahal saat mereka baru berpacaran ayah dan ibunya sangat mendukung
karna pertanyaan seseorang ivan pun kembali ke alam sadarnya, bahwa dia sedang berada di kamar adinda
"eeh... pa pak ivan ngapain, ma maaf saya ketiduran yah? " tanya dinda merasa sungkan
"iya tadi saya mengetuk pintu kamar berkali kali dan tidak ada jawaban, saya sedikit kwatir sama kamu" jawab ivan dengan nada gugub
"apa pa ivan khwatir sama aku, serius?" batin dinda
"eemmm... anu pak, pak ivan gausah khawatirin saya, saya baik baik saja kok pak" jawab sundan malu malu
"gimana pun kamu tanggung jawab saya, saya khawatir sama kamu, karna kamu di sini adalah tanggung jawab saya, kalau kamu kenapa kenapa saya jawab apa sama keluarga kamu" jawab ivan enteng, sontak saja membuat adinda kecewa
andinda pun hanya menganggu dan menunduk
"oh iya, ayo kita makan... saya sudah memesan makanan tadi, mungkin sedikit lagi datang, saya mau masak cuma bahan bahan belum beli, karna saya lama tidak menempati apartement ini" ucap ivan panjang lebar
"kalau kamu mau, nanti malam kamu antar saya belanja untuk stok makanan kita" tanya ivan pada adinda
"emangnya gak apa apa pak, kalau saya ikut? " tanya dinda
"ya gak papa, emangnya kenapa? " tanya ivan balik
adinda pun hanya menggeleng, tidak begitu lama bunyi bel apartemen berbunyi, adinda pun membuka pintu, benar saja, yang datang adalah seorang kurir
__ADS_1
"maaf mbak, saya mau anter makanan atas nama pak ivan" terang kurir
"oh iya bang sini" dinda
"ini mbak, makasih yah" kurir
"masama bang" jawab adinda, kurirpin berlalu
sementara adinda mengatur makanan di atas meja, ivan baru baru saja turun dari kamarnya
"kurir makanan kan? " tanya ivan
"iya Pak" jawab adinda singkat
"tapi kurirnya kok gak minta bayaran ya pak? " tanya adinda lagi karna jujur saja dia penasaran
"sudah aku bayar lewat aplikasi" terang ivan, sebenarnya ivan mau ketawa dan merasa heran, kenapa begitu saja adinda tidak tau
"oo ooh gitu ya pak, kaya utang gitu yah" tanya adinda lagi
ivan pun melongi di buatnya "hahahaha... udah udah, kapan kapan aku ajarin, sekarang makan aja dulu, abis makan mandi terus kita belanja, besok kamu mulai kerja" jawab ivan
mereka makan dalam diam, tak beberapa lama ivan menyudahi ritual makanya
"din aku duluan mandi yah" jawab ivan yang berlalu ke wastavel guna mencuci piring bekas di buat makan olehnya
"iy iya Pak, silakan" jawab dinda singkat
dinda pun menyelesaikan makanya nya, dengan membawa baju ganti dinda menuju kamar mandi bawah untuk mandi
setelah dinda mandi tak lupa berganti pakaian dinda ke ruang tamu, ternyata ivan sudah. menunggunya di ruang TV
"sudah din? " tanya ivan
"aah iya sudah pak" jawab dinda gugup
"ayo" mereka pun berjalan beritingan menuju basement apartemen, dimana mobil ivan sudah di palkirkan
__ADS_1
di dalam mobil tidak ada percakapan, hanya ada kecanggungan antara adinda dan ivan, karna ini pertama kalinya mereka di dalam satu mobil
tidak begitu lama merwka sampai di suatu supermarket yang besar, adinda terus mengekor di belakang ivan, ivan mengambil sebuah troli guna untuk membawa barang bwlanjaan mereka
setelah lama berputar putar mereka pun menyusahi kegiatan belanja, setelah mengantri dan membayar di kasir adinda dan ivan pun berjalan menuju mobil
sesekali mereka saling lirik, tapi tidak ada yang berani mulai percakapan, kalau adinda gugup karna malu, lain dengan ivan yang memang jarang bicara
beberapa saat berlalu...
setelah sampai di apartemen ivan, adinda dan ivan pun membagi tugas mengatur persediaan makan mereka
"din besok kamu kerja, aku anter kamu, tapi kalau kamu udah inget jalanya, gak papa kan kamu berangkat sendiri, soalnya aku kadang" harus ke kantor, aku gak setiap hari ke hotel" ucap ivan mberi pengertian pada adinda
"iya Pak gak papa kok" jawab sinda singkat
"yaudah kamu istirahat, aku juga mau tidur" jawab ivan singkat
adinda hanya mengangguk setuju
beberapa jam berlalu, pagi ini dinda akan bekerja di salah satu hotel terbesar di kota ini, adinda dan ivan sedang menikmati sarapan mereka, kali ini dinda yang memasak
"kamu masaknya enak juga din" ucap ivan di sela sarapan mereka
"eemmm... mama yang ngajarin, maaf Pak kalau gak sesuai sama selera bapak, saya cuma bisa masak masakan kampung" ucap dinda malu malu
"gak juga, nanti kalau udah banyak belajar bakal semangkin mahir kamu masak, ooh iya aku harus ke perusahaan, entar abis aku nganter kamu dan ngenalin kamu ke Teman-teman kerja, aku harus langsung ke kantor" terang ivan
"ooh iya Pak gak papa" jawab dinda
setelah makan mereka pun melaju menaiki mobil ivan menuju hotel
tak beberapa lama mereka pun sampai, adinda tercengang karna hotel itu sangat besar dan terdiri dari 26 lantai
"ayo din" ajak ivan pada dinda
dinda pun mengangguk, mereka jalan beriringan, banyak mata yang memandang meteka, banyak yang memandang kagum pada ivan, pria tampan, yang berjalan penuh wibawa dengan jas dan celana bahan berwarna hitam, dengan kemeja berwarna putih dan dasi berwarna hitam gari garis putih, dan sepatu formal berwarna hitam
__ADS_1
berbanding terbalik dengan ivan, semua memandang risih pada sosok yang berjalan di belakang ivan, yah mereka mandang risih adinda yang menurut mereka penipuan adinda sangat kampungan
setelah sampai ke ruangan HRD dan menejer, adinda pun mengenalkan dirinya pada kawan" yang bekerja bersama adinda, adinda di dapur bekerja sebagai tangan kanan koki, pekerjanya di tekuni dengan sangat baik, andinda senang karna dia di sambut baik dengan rekan rekan kerjanya