Hidup Dalam Bayanganmu

Hidup Dalam Bayanganmu
hari hari adinda bersama ivan


__ADS_3

dalam perjalanan tak hanya ada keheningan, mereka menaiki burung besi itu menuju ke kota B adinda sendiri sangat tegang, karna ini memang pertama kalinya dia berada di badan burung besi, menaiki tranportasi udara,


saat lepas landas adinda sempat sangat terkejut, bahkan keringat sudah bercucuran dan wajahnya memucat, ivan yang sesekali melirik adinda pun merasa iba


"nih minum dulu, di bawa santai aja" ivan


"hah... oh iya pah, makasih banyak" jawab adinda sambil menunduk malu, menurut adinda ivan pria dewasa yang memiliki sifat kol, namun perhatian, untuk ketampanan ivan tidak bisa di ragukan lagi


"kamu kenapa tegang, baru pertama kali naik pesawat yah? " tanya ivan lagi


adinda yang sedang meminum air pun mengangguk setuju "iya Pak" jawab adinda


"ini pertama kalinya kamu kerja" tanya ivan lagi, untuk mengurangi kecanggungan antara mereka


"iya" jawab adinda singkat, jujur saja sebenarnya adinda tidak nyaman bebicara dengan ivan, karna setiap mereka berbicara dinda selalu gugup, dan jantungnya selalu berdetak tidak karuan


"kenapa kerja harus jauh gini? " tanya ivan lagi yang masih bingung


"selain saya mau cari uang untuk membantu perekonomian mama, saya juga mau belajar mandiri pak" terang dinda sambil menunduk, ada nada gugup di dalamnya


ivan pun mengangguk mengerti, umur adinda baru 15 tahun tapi adinda sudah berani merantau, padahal ini pengalaman pertamanya, itu yang membuat ivan penasaran


setelah beberapa jam mereka melakukan perjalanan udara, sampai juga di kota yang di tuju, sebelumnya ada kejadian yang menegangkan


di mana adinda sangat kaget saat pesawat akan mendarat, dia yang sangat kaget dan syok tanpa sadar memegang tangan ivan, dan mencengkram nya dengan kuat, sampai sampai kuku kukunya melukai tangan ivan


ivan hanya diam saja, dia memakluminya "maaf Pak, tadi itu saya kaget banget" kata dinda merasa bersalah


"iya gak papa" jawab ivan singkat


"sakit ya pak, nanti saya obatin pak" adinda

__ADS_1


"gausah adinda, gak papa kok, saya bisa obati sendiri" ivan


"ta tapi pak" dinda masih merasa bersalah


"udah ayo, itu supir ku sudah menunggu" jawab ivan sambil mengajak adinda melangkah memasuki sebuah mobil mewah, ini pertama kalinya untuk adinda menaiki mobil semewah ini


adinda hanya termenung, sambil memikirkan di mana dia akan tinggal


ivan mengajak adinda ke apartement nya, sebenarnya ivan adalah pemilik perusahaan yang bergerak di bidang textile, tapi karna hobinya ivan juga sesekali bekerja di hotel milik pamanya, yaitu ayah dari citra


"keluarga citra mempercayakan adinda padanya karna mereka tidak mau rian khawatir, apa lagi memang adinda adalah gadis polos yang baru memulai mandiri


adinda gadis polos berusia 16 tahun dengan wajah imoet nya dan tubuh mungil, yang sekolah hanya lulusan SD, ivan syahputra berusia 28 tahun adalah pewaris tunggal perusahaan yang bergerak di bidang textile, dan seorang koki idaman, dengan parasnya yang sangat tampan, dan gaya colnya banyak yang menggilainya, tapi sayangnya dia masih terjebak di masa lalu


mereka akan tinggal satu apartemen, karna ivan sendiri telah menjamin keluarga pamanya untuk menjaga adinda


"din ayo masuk" ajak ivan saat mereka sampai di unita artemen lantai 20 lantai paling atas milik ivan, apartemen ini juga milik ivan yang di bagun dengan jerih payahnya hingga jadi perusahaan properti yang cukup besar


adinda tercengang saat ivan membuka tirai cendela kaca yang cukup besar, mereka bisa melihat pemandangan kota dari ruang tamu, " din kamar kita di atas, ayok" terang ivan sambil mengajak dinda


kamar dinda dan ivan bersampingan, dan ada pintu menuju balkon di masing masing kamar " din itu kamar kamu, kalau kamar mandinya yang di luar yah" ucap ifan, yah memang kamar tamu tidak memiliki kamar mandi, hanya kamar ivan yang. memiliki kamar mandi si kamar atas


adinda hanya mengangguk setuju sambil berjalan menuju kamar, dia sempat tercengang melihat kamar yang lumayan luas dengan lemari dan meja rias, jangan lupa kasur yang ukurannya lumayan besar, belum lagi cendela kaca yang memperlihatkan indahnya perkotaan


"hah... akhirnya nyampe juga, kira kira kapan aku mulai kerja ya?" gumam adinda


adinda pun mulai membereskan pakaiannya, di masukan ke dalam lemari, dia yang tidak biasa pakai make up cuma punya parfum, besak bayi, dan sisir di taru di meja rias dan beberapa buku" novel miliknya


tring.. tring... tring...


HP bututnya berbunyi, adinda pun segera mengangkatnya, ternyata telfon dari riang kakaknya

__ADS_1


"hallo dek" suara tian tersengar khawatir


"assalamu'alaikum kak, ya kak, maaf tadi pas sampai gak langsung ngabarin, adinda beberes dulu kak" jawab adinda panjang lebar


"Iyah gapapa, kakak cuma khawatir aja, soalnya kamu kan belum perna naik pesawat, apa lagi ini pengalaman pertama kamu ngelakuin perjalanan jauh" ucap sang kakak dengan nada khawatir


"gak papa kok kak, aku bisa jaga diri, lagian pak ivan jagain aku juga" jawab adinda jujur


"oooh yaudah kalau gitu, kakak tutup yah, soalnya kakak harus ngasih tau mama, sama andre juga biar gak khawatir kaya kakak, ooh iya kamu jangan lupa jaga kesehatan" ucap kakak panjang lebar


"iya kak, assalamu'alaikum" kata adinda


"waalaikumsalam" rian


sementara di kota yang sama dengan rian, seoarang lelaki parih baya sedang berteman ria dengan smag kakak " gimana menurut kamu gadis itu" tanya sangat kakak


"dia gadis polos, gak banyak nuntut dan sedikit pendiam, dia anak yang pemalu, usianya masih sangat belia" jawab sangat adik panjang lebar, pada sang kakak, lelaki itu adalah papa dari citra yang sedang mengenalkan adinda pada sang kakak yang bernama ahmad


"ahmad pun mengangguk, kamu gak peduli dengan pendidikan yang, atau berasal dari mana dia, selagi dia gadis baik baik aku akan menerimanya sebagai menantuku" ucap ahmad lagi


" kakak gak usah khawatir, aku yakinkan dia anak baik, dia adik dari rian, menantuku... yang dulu bekerja sebagai supirku" ucap ayah citra meyakinkan sang kakak


yah karna dia usia ivan yang sudah matang, tapi karna dia yang masih terjebak di masa lalu dan belum mau menikah mbuat ayahnya sangat khawatir


saat ayah citra mengenalkan dinda pada ahmad, ahmad pun langsung memiliki ide untuk menjodohkan mereka, tapi tentu tidak bisa dengan terang terangan karna pastinya ivan akan menolak, apa lagi umur mereka yang terpaut begitu jauh


"oke, kita tinggal tunggu sampai kapan perasaan cinta tumbuh antara mereka, gak mungkin mereka gak memiliki perasaan kalau mereka tinggal dan kerja bersama, aku yakin cepat atau lambat ivan akan mencintai adinda, dengan kepolosan ya dan wajah imutnya siapa yang bisa menolak" ucap ahmad dengan nada dan seringai licik


"tentu saja kak" jawab ayah citra sambil mematikan telefon


sementara di kota lain, adinda yang sedang mbaca di landa kantuk, sore pun beranjak ke malam, ivan yang sedang melamun terkejut saat memikirkan adinda"bagai mana keadaan dia, dia belum makan dari siang tadi" ivan mermonolog sendiri

__ADS_1


ivan pun beranjak menuju kamar adinda, ragu ragu ivan mengetuk pintu "din, dindaaa... dindaaa.. kamu lagi apa din? aku masuk yah? " tanya ivan, karna tidak ada jawaban dari dinda ivan pun memutuskan membuka pintu, dan ternyata...


"


__ADS_2