
selang beberapa saat makanan sudah siap dan bertepatan dengan tibanya mama dari pasar
"eeh buk Rahma, kok rumahnya rame, itu anak anaknya pada dateng yah? " bik atik
" ah masa bu, kok saya malah gak tau ya, ya allahhh iyaaaa"Rahma
"alhamdulillah ya bu selama 2 tahun mereka pulang juga" bik atik
"ayo bu, ikut saya mampir dulu ke rumah" Rahma
"iya bu mari, saya juga kangen sama anak anak" bik atik
setelah bik atik memalkirkan motornya dan, membantu mama yang sedang, menggendong wulan untuk mengangkat sepatu belanjaan,ereka pun jalan beritingan
"dre itu mama kan" tanya tian pada adiknya
" mana kak" andre pun menatap keluar rumah "ah iya kak itu mama" ujar andre pada kakaknya
andre pun beranjak untuk membantu sang mama, tak lupa rian juga berjalan beritingan dengan mereka
setelah sampai di depan sang mama andre dan juga tian tak lupa mengucapkan salam dan berjabatan tangan dan berpelukan pada sang mama tak lupa juga bik atik yang selalu menjaga mamanya dan adiknya adinda
"assalamu'alaikum ma, bik" ucap rin dan andre hampir bersamaan
"waalaikumsalam... nak mama kangen, kenapa 2 tahun kalian gak pulang hiks... hiks... hiks... " ucap rahma sambil menangis pilu, karena kepergian anaknya atas kebodohanya dulu, yang menikahi petia kejam yang tak berhati seperti rido
"eeh nak andre, nak rian, udah pada tinggi tinggi yah ganteng lagi, ibu bik atik ampe pangling loh" ucap bik atik sambil mengisap pundak andre
dulu. mereka sangat dekat, maklum mereka tak mengenal keluarga sang papa, dan keluarga mamanya telah memutuskan persaudaraan mereka pas sang mama memutuskan menikahi erik samtoso yang tak lain adalah papa kandung mereka bertiga
"udah ma jangan nangis" ucap rian sambil meluk manya dan mengajak mereka untuk masuk kedalam rumah
"ayo bik masuk dulu, sekalian kita buka puasa sama sama" ucap rian lagi
"aah bisa aja bibik ini" ucap andre yang malu di puji dengan bik atik, pasalnya dulu andre pernah dekat dengan anak perempuan bik atik yang bernama wati
"emmm... bik, gimana kabar wati" malu malu andre bertanya pada bik atik
"wati udah nikah 5 bulan lalu dengan anaknya pak joko orang kampung sebelah itu loh, si juragan sayur" jawab bik atik pada andre
andre pun hanya mengangguk, sedikit ada rasa tidak nyaman di hatinya
__ADS_1
setelah berjalan tidak terlalu jauh melewati pelataran rumah mereka pun sampai di dalam rumah
" mah ini wulan yah, udah gede banget adeknya kakak, cantik lucu pula" ucap andre
"cantikan juga dinda" ucap dinda uang sedang menata meja
" masa sih, coba liat" kata andre lagi
"iya dong, nih liat" dinda pun berjalan mendekat
"aah kamu kalah kok, cantikan juga wulan" jawab andre
"ah udahlah, kak andre jangan ngangguin orang yang lagi puasa" jawab dinda
" kamu puasa" kali ini rian yang bertanya
"iya dong" jawab dinda
sementara bik atik dan yang lainya langsung tertawa bersama, mama pun mbuka suara untuk menyelesaikan keributan mereka
"sudah sudah, dah adzan tuh, ayo buka puasa, dre kamu ke sini sama istrimu dan anakmu kan? " ucap rahmi
"yang bener aja kakak puasa" cerocos adindayang masih belum Terima di katain kalah cantik
"puasa ih" jawab rian
bik atik yang melihat gelas minum pun menimpali " udah dinda, bahasa jawanya tuh poso pring, poso Poso nyongho piring"
semua pun tertawa dan memulai untuk menduduki tikar tpat mereka makan, karna di meja makan tidak cukup kursi, sementara rere dan budi buncul dari kamar dika, dan kebetulan dika datang
"mah kapan mama datang? " tanya Rere
" barusan nak, kenapa kalian takengabari mama dulu" jawab rahma
" kayanya kak rian biar suprise sini mama, ma" jawab Rere sambil mencium tangan Rahma
sementara itu dika yang baru datang sangat tidak nyaman, karna dia berfikir dirinya orang lain, tapi andre menyayangi dika seperti adik sendiri begitupun dengan dinda, tapi tidak dengan rian, dia sangat tidak suka dengan dika
"assalamu'alaikum" ucap dika sambil menyalami mereka semua
" eeh... dik kamu sudah pulang, ayo duduk dulu, kak dinda siapin piring buat kamu" ucap dinda
__ADS_1
"gausah dek, dika kan punya tangan punya kaki, kamu bukan p bantu" ucap tian
"kakaaakkk... " andre memanggil nama kakaknya terselip permohonan di dalamnya "yaudah dek cepet ambilin" kata andre lagi, sementara rian hanya diam saja, bik atik dan ibu pun memilih berbincang ringan mengenai rencana lebaran besok
beberapa jari telah berlalu, kini lebaran sudah lewat dan saat nya kakak kakak adinda kembali...
" ma besok andre sama kak rian harus balik, belum lagi Rere dan budi sudah di tanyain terus sama orang tuanya Rere" kata andre yang mberi penjelasan kepada mamanya, karna memang benar rere telah di tunggu orangntuanya Rere adalah anak tunggal di keluarganya,
rian pun angkat bicara " ma dia minggu lagi rian mau nikah ama perempuan di kota juga, dia gak bisa keaini karna dia lembianis, gabisa begitu saja ninggalin bisnisnya, tapi rian janji dia orang yang baik, mau kan mama ikut kita ke kota untuk pernikahan tian, sekalian kemarin rian udah ngomong sama adinda, dia pengen kerja jadi sekalian dia ikut dan gak balik"
"iya mama ngerti dre, kamu pasti sibuk sama bisnis mertua mi yang punya banyak cabang rumah makan, rian juga kerja di kantornya cuma dapet cuti bentar doang, masalah nikahan rian mama pasti dateng, tapi pas hari H aja yah, mama sama beberapa orang dari sini dan bik ayok bakal ke kota" jawab mama
" kalau soal dinda, mama serahin ama kalian untuk ngejaga dia, giamanpun dia anaknya terlalu polos dan lugi, takut di manfaatin sama orang nak" jawab Rahma lagi panjang lebar
"iya mah aku janji" jawab rian
" mama tenang saja" jawab andre yang hampir bersamaan dengan riang
pagi hari pun menjelang, mereka sudah siap" pergi dari semalam" re, nde, rian... mama titi dinda yah, baik baik di sana, yang akur kalian" ucap mama, yang langsung di angguki ketiganya
" budi nenek bakal rindu sayang, nene baru juga seminggu bisa deket sama ku sayang" ucap Rahma lagi dengan nada sedih, setetes kristal mulai timpah sambil menciumi pipi cucunya itu
"ma... mama baik baik yah, aku udah titipin mama ke bik atik dan dika, iya kan di" ucap dinda lagi dan memastikan ulang permohonanya
" iyah, kakak kakak tenang aja, dika bakal ngejagain mama" ucap dika penuh keseriusan
rian hanya diam memandang dika dengan datar, sedangkan Rere sedang mengganti pemprea budi, bocah 9 bulan itu memang menggemaskan
andre pun langsung memeluk dika dan berkata " jagain mama ya dik, sama tolong jagain wulan juga, aku percayain mereka ke kamu"
" din... " dinda yang sedang menggendong wulan pun langsung menoleh, dan berkata
"iya ma, ada apa" dinda
" baik baik kamu di sana yah, jangan keluyuran malam, dengerin kata kakak kamu, orang gak punya kaya kita cuma punya harga diri, satu anak perempuan di keluarga itu hancur nama keluarga itu juga bakal hancur din" nasehat Rahma panjang lebar untuk dinda
dinda hanya menganggu sambil menangis, Rere pun datang bersama budi, mereka bersalaman dan berpeluka dan tak lama mereka keluar dari rumah bersama sama, mereka menaiki mobil milik andre
akhirnya adinda pun sampai di kota yang di tuju, yah kota A kota yang terkenal dengan music dan budayanya
dinda yang di bawa ke rumah rian dan calon istrinya pun tercengang, rumah yang sangat besar dan bagus menurutnya
__ADS_1