
POV Angga
Entah perasaan apa saat aku mengingatnya. Perasaan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya
Menginginkan wanita yang bahkan jarang bertatap muka sebelumnya dan berbicara panjang lebar dengannya
Anehnya aku selalu saja dipertemukan dengannya tanpa sengaja tapi membuatku cukup bahagia
Merasa merindu saat sehari aku tak dapat melihatnya, meski hanya dari jauh aku bisa menatapnya cukup lama
Pernah sekali aku menatapnya cukup lama saat kami tak sengaja bertabrakan. Ku lihat wajah yang sedikit kikuk dan salah tingkah saat melihatku sampai akhirnya dia meninggalkanku begitu saja sesaat permintaan maafnya
Entahlah saat itu wajahnya cukup menggemaskan ingin sekali ku cubit pipinya Rara Saputri
"Hey brother apa yang kau lamunkan ?" Rico menghampiriku dengan menepuk pundak ku
"Tidak ada" jawabku acuh
"Jangan terlalu dingin jadi lelaki. Kau akan di jauhi dari setiap wanita "
"Aku tak perlu nasihatmu. Aku lebih suka dengan kehidupanku seperti ini"
"Ya sudahlah. Itu terserah mu Brother"
Dia cepat pergi menjauh meninggalkanku yang sedang berada dihalaman belakang
Aku dan Rico memang sedikit berbeda
Aku yang lebih pendiam dan dingin tapi dia yang lebih ceria dan usil. Bahkan dia yang baru beranjak sekolah menengah pertama sudah beberapa kali bergonta ganti pacar tapi bagaimanapun aku tetap menyayanginya.
__ADS_1
****
Ku dorong pintu rumah sedikit perlahan
Aku takut membangun orang rumah yang sudah terlelap. Kulirik sekeliling rumah tampak sepi jam sudah menunjukan pukul 21.40 malam
Perlahan ku langkahkan kakiku menuju kamar tidur
"Ka baru pulang?"
Aku sedikit terlonjak dengan tepukan di pundak ku
"Ehhh, Ibu belum tidur?" Bukannya menjawab aku malah bertanya kembali kepada ibu
"Ibu menunggumu pulang. Ibu cemas anak gadis ibu belum pulang ke rumah"
"Bersihkan dulu tubuhmu dan cepatlah makan. Pasti belum makankan?" Aku hanya mengangguk dan berlalu masuk ke dalam kamar
Setelah usai mandi ku rasakan tenggorokan ku sedikit kering, ku putuskan untuk pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Ku putar knop pintu sedikit perlahan, di ujung ruangan dekat jendela ku lihat ibu sedang berdiri menatap ke arah luar
"Ada apa? Kenapa ibu belum tidur? Ini sudah cukup larut" ibu sedikit menoleh lalu pandangannya kembali ke arah luar jendela
"Tidak ada apa-apa. Ibu hanya belum mengantuk saja"
"Kamu lapar Ka? Biar ibu hangatkan makanan" ucapnya lagi
"Aku sudah makan saat perjalanan pulang ke rumah. Duduklah Bu aku mau berbicara sesuatu" ku lihat ibu berjalan mendahuluiku untuk duduk diatas sofa
"Duduklah Ka" Ibu berucap sedikit pelan
__ADS_1
"M-mm Bu aku ada sedikit uang. Ini bisa menambah biaya untuk study tour Dina aku meminjam dari teman"
Aku menyerahkan amplop coklat kearahnya
"Apa temanmu tidak keberatan?"
"Tidak, Dia temanku yang cukup baik. Aku bisa membayarnya dengan menyicil dari sisa uang jajanku"
"Tak usah dipikirkan. Dia teman yang cukup pengertian" aku mengusap Punggung tangannya
"Terimakasih ya Ka dan ucapkan salam dan terimakasih kepada temanmu itu"
Aku mengangguk sebagai jawaban
"Tidurlah Bu sudah hampir larut malam, tidak baik untuk kesehatan ibu"
Aku merangkul untuk memeluknya. Aku harap pelukanku bisa sedikit menenangkan pikirannya yang cukup berat
Aku selalu ikut sedih saat tak sengaja ku lihat beberapa kali sudut matanya sedikit berair atau menangis saat sendiri
Aku tak bisa memeluknya erat menyalurkan kekuatan bahwa semuanya akan baik-baik saja
"Maaf Bu aku membohongimu untuk selama seminggu ini. Aku tak mau melihat mu terbebani dengan masalah hanya seorang diri. Aku berjanji kita akan menghadapinya bersama sesulit apapun masalah nya Ara akan selalu di samping ibu"ucapku dalam hati
Ku renggang kan pelukanku,ku lihat matanya sedikit memerah aku tahu dia sedikit menangis
Ku kecup pipinya untuk sedikit menghiburnya
"Ara Tidur dulu, aku menyayangi ibu"
__ADS_1