
"Ara cepat bangun. apa kamu mau terlambat dihari pertama masuk sekolah" ibu terus menggedor pintu kamar
Ara menggeliat merentangkan tangannya yang terasa pegal setelah tertidur semalam
"Ara cepatlah, Adikmu bisa terlambat" ibu masih berteriak dari depan pintu kamar. sebelum Ara berangkat ke sekolahnya Dia selalu menyempatkan mengantar kan adiknya pergi ke sekolah dan menjadi rutinitasnya setiap pagi
"iya aku sudah bangun Bu" Ara bergegas masuk ke dalam kamar mandi
setelah beberapa menit mandi Ara segera memakai seragam, menyampingkan tas di bahu dan bergegas ke ruang makan untuk sarapan.
"kamu ini Ara semenjak satu tahun ini selalu saja bermalas malasan kalau pergi ke sekolah" nenek menjitak kepala Ara dengan sendok
" Apa sih nek. sakit ini" Ara memegang kepalanya.
sepenggal dengan pembicaraan neneknya barusan Ara teringat dengan sosok Ayahnya yang sudah tiada 1tahun yang lalu.
"ah sudah lah" Ara berucap dalam hati
"cepat habiskan sarapan mu De. nanti kita terlambat" Ara telah selesai dengan sarapannya
__ADS_1
" iya iya sebentar. Kaka saja yang selalu membuat onar pagi - pagi. jadi selalu membuatku terlambat" Diana mengerucutkan bibirnya.
"sudah, ayo kita berangkat ka"
Diana menghampiri ibunya untuk berpamitan dan mengecup tangan sang ibu. Di susul oleh Ara bergantian mengecup tangan sang nenek.
"kita berangkat ya" mereka berucap bersamaan.
Ara mengendarai motor maticnya yang selalu setia mengantarnya kemanapun. begitupun saat pergi sekolah karena Ara berpikir dengan menaiki motor akan lebih cepat dan praktis untuk lebih cepat sampai sekolah.
"sudah siap de? pegangan" Ara memacu motor maticnya membelah jalan yang terkadang selalu macet sewaktu - waktu.
"pegangan nya yang bener de, Kaka mau ngebut. kamu tau Valentino Rossi yang pembalap itu ? nanti kalau kaka udah lulus sekolah Kaka mau iseng iseng jadi pembalap"
"apaan sih ka, kalau ketahuan nenek bisa - bisa ngoceh panjang kali lebar nyampe berhari - hari tuh. apalagi kalau ketahuan ibu bisa - bisa motor nya di rantai terus pake gembok. Dan lebih parahnya Kaka dikunciin tuh di kamar"
" iya juga yaa" mereka tertawa bersama sepanjang perjalanan.
Beberapa saat kemudian Diana terpikir tentang kenangan bersama ayahnya setahun yang lalu saat pergi ke sekolah yang selalu di antar Ayahnya.
__ADS_1
" Ka aku kangen sama Ayah. Biasanya kalau aku berangkat sekolah kita selalu berangkat bersama. Ayah selalu mengajak ku bercanda sepanjang perjalanan, seperti ini"
Ara terdiam sejenak, mengingat kenangan manis bersama ayahnya. sesekali ayahnya meluangkan waktu untuk menjemput Ara sepulang sekolah. matanya telah berkaca kaca.
"kaka, denger gak sih aku ngomong" Diana memukul bahu sang kaka. karna seolah sang kaka menghiraukan nya
" Apaan sih de gak denger. berisik sama suara kendaraan" Ara pura pura mengalihkan pembicaraan sang adik, pura-pura tidak terdengar dengan suara bising kendaraan.
karna saat dia menyauti pembicaraan sang adik air matanya tak bisa dia tahan untuk terus mengalir. biarlah hanya dia yang tahu bahwa masih sangat terasa kehilangan atas kepergian sang Ayah.
Beberapa menit kemudian sampailah di sekolah Diana.
Diana berpamitan dan mengecup tangan sang kaka.
"Belajar yang bener, jangan nakal. Buat Ayah, Ibu nenek bangga" Ara menasehati adiknya.
"siap boss" Diana menghormat dengan tangan kanannya.
"Kaka berangkat ya"
__ADS_1
Ara melaju dengan motor matic ke sekolahan