
Ara melangkah mengikuti adiknya yang telah pergi terlebih dahulu. Melihat sekeliling yang terlihat hanya ada Dina dan Nenek sedang menonton tv. Ara melihat pintu kamar ibunya yang terlihat tertutup rapat. Mungkin ibunya telah tidur karena terlalu lelah membuat pesanan kuenya.
"Kau baru keluar kamar ?" Nenek bertanya
"Hmm" melihat nenek sekilas
"Cepatlah makan ! Dari tadi sepulang sekolah kau belum makan. Entah kau sudah kenyang dengan mimpimu yang terlalu lama. Kau tidur seperti kebo Ara. Ibumu dari tadi sore memanggil mu tapi batang hidungmu saja tidak keluar dan kau keluar saat tengah malam"nenek menyeringai mengerjai cucunya
"Bagaimana batang hidungku keluar sedangkan badanku saja masih di dalam. Yang benar saja kau nek?" Menatap neneknya malas setelahnya pasti ada perdebatan
"Yasudah lah terserah kau.nenek mau istirahat ke kamar" melangkah meninggalkan cucunya untuk pergi ke kamar
"Dina temani nenek, biar dia bisa tidur nyenyak. Atau ka bacakan dongeng sekalian siapa tau setelah mendengar dongeng nenek terlalap dalam mimpi indah nya.Biar nenek tidak cerewet " ceorcos Ara kepada adiknya
"Hey ! Aku mendengarnya Ara. Kau pikir aku anak bayi dibacakan dongeng " melotot dari arah kejauhan
"Tidak mau ka. Lebih menyenangkan menonton tv. Aku pusing mendengar kan nenek terus berbicara, membuat telingaku pengang" dengan suara pelan takut neneknya bisa mendengar
"Ya sudah, jangan terlalu lama. Besok kan kau harus sekolah"
__ADS_1
"Iya, lagian kau yang selalu telat bangun ka. Aku yang selalu menunggumu bukanya kau yang menungguku." Pandangan nya tetap tak beralih melihat telivisi yang sedang di tontonnya
"Iya nanti kakak stel alarm lebih pagi. Agar tidak terlambat"
Beberapa menit kemudian Ara tampak dari arah dapur sambil membawa cemilan untuk menonton tv.namun dia tak menemukan adiknya yang sedari tadi menonton tv.
"Apa dia sudah pergi ke kamar untuk tidur" gumamnya sendiri
"Aku bisa menikmati cemilan dengan menonton tv tanpa gangguan Dina dan nenek"
Ara tampak fokus melihat Drakor kesukaannya. Dia lebih suka menghabiskan waktu untuk menonton Drakor dibanding keluyuran tidak jelas diluar.
Ibu keluar kamar, melihat Ara yang focus menonton Drakor sampai ibu mendudukkan dirinya di samping Ara.
"Kau belum tidur Ara? " Tanya ibu tampak masih focus menatap Ara
"Ah--ibu mengagetkanku ! " Memegang dadanya karena terkejut.
"Cepatlah tidur ! besok kau harus sekolah. Nanti adik dan nenek terus mengoceh saat kau bangun terlambat"
__ADS_1
"Iya sebentar lagi. Lalu kenapa ibu bangun? Ini sudah larut malam tidurlah lagi tidak baik untuk kesehatan ibu". Ara menerawang melihat ibunya sekilas. Ibunya seperti memiliki beban pikiran yang tidak mau dia ceritakan.
"Ada apa Bu ? Ceritalah" ucapnya lagi
"Satu bulan lagi adikmu akan mengikuti acara study tour dari sekolahnya" menghela nafas seketika
Ara berfikir sejenak.pasti masalahnya tentang biaya yang dipikirkan ibunya.
"Apa Ara berhenti sekolah saja. Biar Ara bisa membantu keuangan keluarga kita Bu" berucap lembut agar ibunya tidak tersinggung dengan perkataan nya.beberapa bulan yang lalu Ara sempat merundingkan keinginan nya untuk bekerja tanpa melanjutkan sekolahnya tapi ibunya malah besar.
"Tidak Ara, ibu sudah berjanji untuk bisa menyokolahkanmu dan adikmu. Lagi pula itu juga harapan ayahmu sewaktu dia masih hidup."
"Kau tahu, Ayah memang tegas terhadapmu tapi dia punya alasan untuk itu. Dia ingin mendidikmu untuk bisa mandiri apalagi berurusan tentang sekolahmu. saat pulang bekerja dia selalu menanyai tentang bagaimana sekolahmu.Untuk itu tetaplah bersekolah sesulit apapun kehidupan kita"
"Tapi Bu, aku tak mau menyusahkan ibu" menatap sendu matanya ibu
"Sudahlah jangan terlalu di pikirkan. Lagian biaya study tour adik mu masih ada waktu 2 Minggu lagi" ibu menyentuh lengan kanan Ara dengan lembut
"Ibu juga jangan terlalu keras berfikir.aku tak mau kalau ibu sakit . masalah biaya untuk Dina nanti aku coba meminjam kepada temanku setidaknya bisa meringkan beban ibu" ucapnya dengan tersenyum
__ADS_1
"Terimakasih Ara" seketika ibu memeluk Ara dengan erat. Setidaknya ada Ara yang bisa mendengar kan beban pikirannya