
Intan dan Eko berdebat panjang dan tidak ada yang mengalah. Intan mengatakan bahwa Eko seharusnya memikirkan keluarganya lebih dulu dan tidak selalu memikirkan dirinya sendiri. Eko mengatakan bahwa dia juga bekerja keras untuk keluarga mereka dan merasa dirinya tidak dihargai.
Intan: "Bekerja keras? Itu kan tugasmu sebagai suami dan ayah! Kamu tidak pernah memberikan perhatian yang seharusnya kamu berikan kepada keluargamu."
Eko: "Tidak salahkan aku saja. Kamu juga sering sibuk dengan pekerjaanmu dan tidak pernah memikirkan aku."
Intan: "Itu tidak adil. Aku bekerja untuk keluarga kita agar kita bisa hidup lebih baik. Tapi kamu selalu memikirkan dirimu sendiri."
Eko: "Kamu tidak memahami betapa beratnya pekerjaanku. Aku harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga kita."
Intan dan Eko terus berdebat dan tidak menemukan solusi. Mereka sama-sama merasa benar dan tidak mau mengalah. Pertengkaran ini membuat mereka semakin jauh dan tidak bisa saling memahami.
Intan merasa Eko tidak memiliki rasa tanggung jawab dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Eko merasa Intan tidak memahami betapa beratnya pekerjaannya dan selalu menyalahkan dirinya.
Kondisi ini membuat Intan semakin marah dan kecewa pada Eko. Eko selalu pulang terlambat dari kerja dan tidak pernah memberikan alasan yang jelas. Intan merasa Eko tidak memiliki rasa tanggung jawab terhadap keluarga mereka.
Suatu hari, setelah bekerja, Intan menunggu Eko pulang sambil memasak. Tapi Eko tidak pulang dan tidak memberikan kabar. Intan merasa kesal dan sangat khawatir. Dia mencoba menghubungi Eko, tapi teleponnya tidak diangkat.
Intan: "Apa yang salah dengan suamiku ini? Mengapa dia selalu pulang terlambat dan tidak memberikan kabar?"
Beberapa jam kemudian, Eko pulang dan langsung masuk ke kamar. Intan mengejar Eko dan bertanya mengapa dia pulang terlambat dan tidak memberikan kabar.
Eko: "Aku sibuk. Aku tidak punya waktu untuk menjelaskan."
Intan: "Bukan itu masalahnya. Kamu seharusnya memberikan kabar dan tidak membuat aku khawatir."
__ADS_1
Eko: "Kamu terlalu berlebihan. Aku tidak punya waktu untuk menjelaskan hal-hal kecil seperti itu."
Intan dan Eko kembali berdebat dan tidak ada yang mengalah. Intan merasa Eko tidak memperlakukan dirinya dengan baik dan tidak peduli dengan perasaannya. Eko merasa Intan terlalu mempermasalahkan hal-hal kecil dan tidak memahami kondisinya.
Pertengkaran ini terus berlanjut dan membuat hubungan Intan dan Eko semakin retak. Mereka tidak bisa saling memahami dan memecahkan masalah mereka bersama-sama. Kondisi ini membuat Intan sangat sedih dan merasa sendirian.
Intan berpikir bahwa dia harus berusaha untuk memperbaiki hubungan mereka, tapi dia tidak tahu bagaimana caranya. Dia berharap Eko akan memahami perasaannya dan memperbaiki hubungan mereka. Namun, Eko terus saja pulang terlambat dan tidak peduli dengan keluarga mereka.
Intan merasa sangat kecewa dan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Dia berharap hubungan mereka akan membaik, tapi kenyataannya justru semakin memburuk.
Setelah beberapa bulan, Intan semakin stress dan merasa tidak diterima oleh Eko. Ia merasa seolah-olah Eko tidak memikirkan keluarganya dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Intan mulai mengalami masalah kesehatan seperti sakit kepala yang hebat dan sakit perut. Namun, Eko tetap tidak peduli dan terus memikirkan diri sendiri.
Suatu hari, Intan sakit parah dan harus dibawa ke rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa Intan mengalami sakit asam lambung karena stress yang terlalu berat. Intan merasa sangat tertekan dan merasa seperti tidak ada yang peduli padanya.
Eko datang ke rumah sakit setelah bekerja, tapi dia terlihat sangat santai dan tidak khawatir. Intan merasa sangat kecewa dan merasa bahwa Eko tidak peduli dengan kondisinya.
Eko: "Aku baik-baik saja. Kenapa kamu bertanya begitu?"
Intan: "Aku sakit, Mas. Dokter mengatakan bahwa aku mengalami sakit asam lambung karena stress yang terlalu berat."
Eko: "Oh, itu pasti karena pekerjaanmu yang terlalu banyak. Kamu seharusnya tidak terlalu memikirkan pekerjaan."
Intan merasa sangat kecewa dan merasa seperti tidak ada yang peduli padanya. Ia merasa bahwa Eko tidak memahami betapa beratnya stress yang ia alami. Ia merasa seperti sendirian dan tidak diterima oleh Eko.
Intan pulang dari rumah sakit dan mulai melakukan perubahan dalam hidupnya. Ia memutuskan untuk tidak lagi memikirkan Eko dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia mulai mengambil cuti dari pekerjaannya dan melakukan hal-hal yang membuatnya bahagia.
__ADS_1
Namun, Eko tetap saja tidak peduli dan terus memikirkan dirinya sendiri. Intan merasa bahwa dia telah kehilangan Eko dan tidak bisa mengubah keadaan. Ia harus belajar untuk hidup sendiri dan membiarkan Eko pergi.
Intan merasa semakin tertekan dengan perilaku Eko yang selalu asyik dengan ponselnya ketika berada di rumah. Dia merasa Eko tidak memperhatikan keluarganya dan seolah-olah tidak peduli dengan perasaan mereka. Setiap kali mereka bersama-sama, Eko selalu mengangkat ponselnya dan menjawab pesan-pesan yang masuk.
Intan: "Mas, kenapa sih kamu selalu asyik dengan ponselmu di rumah? Bukankah kamu harus memperhatikan keluargamu?"
Eko: "Aku cuma membaca pesan penting dari kantor. Ini penting buatku."
Intan: "Tapi kamu selalu seperti ini. Kamu nggak memperhatikan keluargamu dan seolah-olah tidak peduli dengan perasaan kami."
Eko: "Aku tidak seperti itu. Aku cuma sibuk aja dengan pekerjaanku. Kamu mau aku dipecat dari Kantor karena terlalu mendengarkan ocehanmu ?"
Namun, Eko tetap tidak mengubah perilakunya dan tetap sibuk dengan ponselnya saat di rumah. Intan mulai merasa stres dan akhirnya sakit asam lambung. Namun, Eko tetap tidak peduli dan tetap fokus dengan ponselnya.
Intan: "Mas, aku sakit asam lambung. Aku butuh kasih sayang dan pengertianmu."
Eko: "Aku lagi sibuk, Intan. Kamu harus bisa mengatasi masalahmu sendiri."
Intan merasa sangat terluka dengan sikap Eko yang tidak peduli dengan kondisinya. Dia merasa sendirian dan tidak memiliki seseorang yang bisa membantunya. Pertengkaran dan perilaku Eko semakin membuat Intan stres dan sakit.
Intan berusaha untuk mengatasi masalahnya sendiri, tetapi dia merasa semakin lelah dan tidak memiliki solusi. Dia merasa tidak diterima dan tidak dihargai oleh suaminya sendiri.
Namun, Intan tetap berharap suatu saat Eko akan mengubah perilakunya dan memperhatikan keluarganya.
Suatu hari Eko kembali bertemu dan merencanakan reuni dengan teman masa sekolahnya dulu.
__ADS_1
Eko pun akhirnya memenuhi permintaan rekan-rekannya untuk bermain dan reuni. Namun, dia tidak pulang selama dua hari dan tidak memberikan kabar pada Intan dan keluarganya. Intan merasa sangat khawatir dan cemas dengan kondisi Eko.
Intan: "Mas, kemana sih kamu dua hari ini? Aku coba telfon gak ada jawaban. Kenapa kamu nggak pulang selama dua hari?"