
Bab 26
Setelah beberapa saat mengobrol dengan Bu Ratna, Eko memutuskan untuk pergi dan mencoba membicarakan masalah ini dengan Intan, istrinya.
Namun, ketika Eko sampai di rumah, ia menemukan Intan hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa tentang masalah tersebut. Eko mencoba untuk memulai pembicaraan dengan Intan, tetapi dia tetap diam dan menunjukkan ekspresi yang dingin.
Eko merasa frustasi karena ia ingin membicarakan masalah ini dengan Ida dan menyelesaikannya bersama-sama. Namun, setelah beberapa saat mencoba membicarakan masalah ini dengan Intan, Eko mulai menyadari bahwa Ida mungkin tidak siap untuk membicarakannya.
Eko merasa sedih karena ia tahu bahwa Intan sangat dihormati oleh Bu Ratna dan mungkin merasa terpukul oleh komentar-komentar mertuanya. Namun, Eko juga ingin memberikan dukungan dan dorongan pada Intan untuk memperjuangkan impian dan cita-citanya.
Mereka akhirnya duduk bersama dan membicarakan masalah ini secara terbuka. Eko berbicara dengan penuh kasih sayang dan memberikan dukungan pada Intan. Intan juga akhirnya membuka diri dan berbicara tentang perasaannya.
Mereka berdua memutuskan untuk tidak membiarkan kata-kata Bu Ratna mempengaruhi mereka dan akan tetap berjuang untuk mencapai impian mereka. Eko juga berjanji akan selalu mendukung dan memotivasi Ida untuk meraih cita-citanya.
Dengan saling mendukung dan menghormati satu sama lain, Eko dan Intan berhasil mengatasi masalah ini dan memperkuat hubungan mereka sebagai pasangan suami istri yang saling mendukung dalam mencapai impian mereka.
Eko memutuskan untuk tidak membuat Bu Ratna sadar dengan kelakuannya sendiri. Meskipun ia berharap agar Bu Ratna bisa memahami perasaannya dan memperbaiki hubungan mereka, Eko menyadari bahwa mungkin itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat.
Sebaliknya, Eko memutuskan untuk fokus pada dirinya sendiri dan mencoba untuk mencapai impian-impian yang ia miliki. Ia terus berusaha untuk meningkatkan keterampilannya dan mendapatkan pengalaman baru di tempat kerja. Ida juga memberikan dukungan penuh kepada suaminya dan membantunya menjalankan rencana-rencana yang ia miliki.
Beberapa bulan kemudian, Eko mendapat kesempatan untuk mengikuti pelatihan di luar kota yang sangat penting untuk karirnya. Meskipun ia merasa sedih meninggalkan keluarganya, Eko tahu bahwa ini adalah kesempatan yang tidak bisa ia lewatkan.
Ida mendukung keputusan suaminya dan membantunya dalam persiapan. Namun, ketika Eko memberitahu Bu Ratna tentang rencananya, ia tidak mendapat respons yang ia harapkan.
Bu Ratna tetap bersikap acuh tak acuh dan mengatakan bahwa Eko harus mengurus dirinya sendiri. Ia tidak menunjukkan rasa bangga atau dukungan pada keputusan Eko untuk mengambil pelatihan penting ini.
__ADS_1
Eko merasa sedih dan kecewa, tetapi ia tidak membiarkan reaksi Bu Ratna menghentikan dirinya dari mencapai impian-impiannya. Ia berangkat ke luar kota dengan semangat yang tinggi dan mengikuti pelatihan dengan baik.
Selama pelatihan, Eko bertemu dengan orang-orang baru dan belajar banyak tentang bidang kerjanya. Ia juga berhasil memperluas jaringan kontaknya dan mendapatkan kesempatan baru yang menarik.
Saat ia kembali ke rumah, Eko merasa puas dengan keputusannya untuk mengambil pelatihan tersebut. Ia merasa lebih percaya diri dan siap untuk menghadapi tantangan baru di tempat kerja.
Intan juga merasa bangga pada suaminya dan memberikan dukungan yang ia butuhkan. Meskipun Bu Ratna tidak menunjukkan dukungan, Eko tahu bahwa ia bisa mengandalkan keluarganya yang lain untuk mendukungnya.
Beberapa bulan kemudian, Eko mendapat kesempatan untuk mengajukan promosi di tempat kerja. Ia merasa siap untuk mengambil tantangan ini dan mempersiapkan dirinya dengan baik.
Ketika ia memberitahu Bu Ratna tentang rencananya, ia tidak mendapat respons yang ia harapkan. Bu Ratna tetap bersikap acuh tak acuh dan mengatakan bahwa Eko hanya seorang mantu dan tidak akan pernah menjadi apa-apa.
Namun, Eko tidak membiarkan perkataan Bu Ratna merusak semangatnya. Ia terus berusaha dan berhasil mendapatkan promosi yang ia inginkan.
Setelah itu, Eko terus bekerja keras dan mencapai kesuksesan yang semakin besar di tempat kerja.
Bu Ratna:" Oh, benarkah? Apa impianmu?"
Intan:" Saya ingin membuka bisnis kecil-kecilan sendiri di masa depan. Saya ingin menunjukkan pada anak-anak kami bahwa meskipun saya tidak sehebat ibu dalam hal keuangan, saya masih bisa sukses dalam bidang yang saya tekuni."
Bu Ratna: "Hmm, bisnis kecil-kecilan? Apa kamu yakin kamu bisa sukses? Tidak ada gunanya membuang-buang waktu dan uangmu untuk usaha seperti itu."
Intan: "Saya yakin, Bu. Saya sudah melakukan riset dan mengumpulkan informasi untuk memulai bisnis saya. Saya juga berencana untuk mengikuti kursus dan pelatihan untuk memperdalam pengetahuan saya dalam bidang itu."
Bu Ratna:" Hmph, kursus dan pelatihan? Apa itu akan cukup untuk membuatmu sukses?"
__ADS_1
Intan: "Saya tahu bahwa tidak akan mudah, Bu. Tapi saya percaya bahwa dengan kerja keras dan tekad yang kuat, saya bisa meraih impian saya."
Bu Ratna:" Aku tidak tahu, Intan. Aku masih meragukan kemampuanmu. Tapi jika itu yang kamu inginkan, aku tidak bisa menghentikanmu. Tetapi jangan berharap aku akan memberikanmu dukungan atau bantuan apa pun."
Intan:" Saya mengerti, Bu. Terima kasih sudah mendengarkan saya."
Bu Ratna:" Hmph, terserah kamu. Sekarang aku harus pergi. Ada banyak hal yang harus kulakukan hari ini."
Intan:" Baiklah, Bu. Sampai jumpa."
Setelah Bu Ratna pergi, Intan merasa sedikit lega. Meskipun dia masih merasa terhina dengan perlakuan Bu Ratna, dia merasa senang bahwa dia telah berhasil mengutarakan keinginannya dan meraih dukungan Eko.
Intan merasa semakin yakin dengan impian bisnisnya dan berencana untuk terus belajar dan mengembangkan dirinya agar bisa mencapai tujuannya. Dia tidak akan membiarkan pandangan negatif orang lain merusak semangatnya untuk meraih impian dan tujuan hidupnya.
Setelah beberapa minggu, Intan akhirnya memutuskan untuk mencoba berjualan pakaian keliling. Ia membeli beberapa kain dan menjahitnya menjadi pakaian yang menarik untuk dijual. Setiap hari, ia mengambil barang dagangannya dan berjalan keliling kampung untuk menjualnya.
Saat Intan pertama kali berjualan, ia merasa sangat gugup. Ia takut tidak ada yang membeli barang dagangannya dan merasa malu jika orang-orang melihatnya berjualan dengan kain-kain yang tidak terjual. Namun, dengan tekad yang kuat, Intan terus berusaha.
Hari pertama, Intan hanya berhasil menjual beberapa potong pakaian. Ia merasa sedikit kecewa, tapi tetap semangat untuk melanjutkan usahanya. Ia mencoba berjualan di lokasi yang berbeda-beda dan mencari cara untuk menarik perhatian pembeli.
Suatu hari, Intan bertemu dengan seorang ibu rumah tangga yang ingin membeli baju untuk anaknya. Ibu tersebut sangat menyukai kain yang dijual oleh Ida dan membeli beberapa potong sekaligus. Intan merasa senang dan terus berusaha mencari pembeli lain yang tertarik dengan kain-kainnya.
Saat berjalan ke kampung berikutnya, Intan bertemu dengan seorang nenek yang ingin membeli kain untuk dijadikan baju tradisional. Intan dengan senang hati menunjukkan kain-kain yang cocok untuk baju tradisional dan membantu nenek tersebut memilih kain yang sesuai dengan keinginannya. Nenek tersebut sangat senang dengan pelayanan Intan dan merekomendasikan Intan kepada teman-temannya.
Dengan bantuan rekomendasi dari nenek tersebut, bisnis Intan mulai berkembang. Intan semakin rajin berjualan dan mencari cara untuk membuat bisnisnya semakin menarik. Ia memperluas pilihan barang dagangannya dan memberikan harga yang bersaing dengan penjual lainnya.
__ADS_1
Meskipun ada beberapa hari di mana Intan tidak berhasil menjual barang dagangannya, ia tidak kehilangan semangat. Ia terus berusaha dan mencari cara untuk meningkatkan bisnisnya. Ia bahkan mulai mempromosikan bisnisnya melalui media sosial agar dapat menjangkau lebih banyak orang.