Hinaan Dari Keluarga

Hinaan Dari Keluarga
bab 23


__ADS_3

Mata Intan berkaca-kaca, ia menangis karena frustrasi dan kebingungan. Dia tidak bisa mengerti mengapa Eko begitu berubah dan menjadi jauh dan sulit diajak berkomunikasi. Intan selalu mendukung pekerjaannya, tetapi akhir-akhir ini, tampaknya dia meletakkannya di atas segala sesuatu dalam hidupnya, termasuk keluarga mereka.


Intan merasa sendirian dan tidak yakin harus melakukan apa. Dia sudah mencoba berbicara dengan Eko tentang perilakunya, tetapi dia selalu menepisnya dan berpura-pura seperti tidak ada masalah. Dia tidak tahu apakah Eko menyembunyikan sesuatu darinya atau hanya mengalami masa sulit di tempat kerjanya.


Intan menghapus air matanya dan mengambil napas dalam-dalam. Dia tahu dia harus kuat untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya. Dia tidak bisa membiarkan perilaku Eko memecahkannya atau menghancurkan keluarga mereka. Dia harus mencari cara untuk berkomunikasi dengan Eko dan menyelesaikan masalah mereka.


Keesokan paginya, Intan bangun pagi dan menyiapkan sarapan untuk Eko dan anak-anak mereka. Dia berharap makanan yang enak akan mempersatukan mereka dan menciptakan kesempatan untuk berbicara. Namun, Eko hampir tidak mengakui keberadaannya dan meninggalkan rumah pagi-pagi, mengklaim dia memiliki pertemuan penting di tempat kerja.


Intan merasa kecewa dan terluka, tetapi dia tidak menyerah. Dia terus menunjukkan cintanya dan dukungannya untuk Eko, berharap bahwa suatu saat dia akan membuka hatinya. Dia juga mulai lebih fokus pada minat dan hobi pribadinya, mencoba menemukan kebahagiaan di luar kehidupan keluarganya.


Beberapa minggu kemudian, Eko tiba-tiba muncul di depan pintu rumah saat Intan sedang memasak di dapur. Dia memeluknya erat dan mencium pipinya.


"Maafkan aku, sayang. Aku tahu aku telah membuatmu khawatir dan membuatmu merasa kesepian," ujar Eko dengan suara parau.


Intan menatapnya dengan senyum lebar, "Aku sangat merindukanmu."


"Maaf, aku memang sedang mengalami banyak tekanan di tempat kerja. Aku merasa sangat stres dan kehilangan kendali atas hidupku sendiri," lanjut Eko.


Intan mengambil tangannya dan membawanya ke ruang tamu. Mereka duduk berdampingan di sofa.

__ADS_1


"Aku mengerti, sayang. Tetapi aku ingin kamu tahu bahwa aku selalu ada untukmu. Kita bisa melewati masa sulit ini bersama-sama," ucap Intan dengan lembut.


Eko meraih tangan Intan dan menciumnya. "Terima kasih, sayang. Aku sangat beruntung memiliki kamu."


Mereka duduk berdampingan selama beberapa saat, menikmati kebersamaan mereka. Intan merasa lega bahwa Eko telah kembali seperti dulu dan mereka bisa mengatasi masalah mereka bersama-sama.


Intan merasa gembira melihat perubahan sikap Eko yang lebih baik. Namun, ada sedikit keraguan yang masih menyelimuti hatinya. Dia tak bisa menghilangkan pikiran bahwa Eko merubah perilakunya karena ada maunya.


Beberapa hari kemudian, saat mereka sedang bersantai di rumah, Eko mengumumkan bahwa dia dan teman SMA-nya akan pergi liburan selama seminggu. Intan merasa terkejut karena Eko tidak pernah mengatakan sesuatu tentang perjalanan itu sebelumnya. Namun, dia juga merasa senang bahwa Eko tampaknya ingin bersenang-senang dan mengambil waktu untuk dirinya sendiri.


Namun, ketika Eko mulai mengatur detail perjalanan, Intan merasa bahwa sesuatu tidak beres. Eko menolak untuk memberitahu dia tentang rincian perjalanan mereka atau bahkan mengajaknya untuk ikut serta. Intan merasa sedikit curiga tentang perjalanan itu dan bertanya-tanya mengapa Eko begitu merahasiakannya.


Intan mencoba untuk mengajak bicara Eko, tetapi dia selalu menghindar dan mengatakan bahwa semuanya sudah diatur dan dia tidak ingin memikirkan apa-apa lagi. Intan merasa putus asa dan kecewa, tetapi dia tidak bisa mengabaikan perasaan gelisahnya. Dia merasa bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Eko.


Akhirnya, setelah Intan mengajukan beberapa pertanyaan, teman Eko mengakui bahwa Eko merencanakan perjalanan tersebut dengan tujuan yang buruk. Dia merencanakan untuk bertemu dengan seorang mantan kekasihnya di tempat tujuan dan memulai hubungan terlarang.


Intan merasa sangat terpukul. Dia tidak bisa mempercayai bahwa Eko akan melakukan sesuatu seperti itu. Dia merasa seperti dunianya runtuh. Namun, dia juga merasa bahwa dia harus bertindak cepat untuk menghentikan Eko.


Intan menghubungi Eko dan meminta untuk bertemu. Saat mereka bertemu, dia meminta Eko untuk jujur tentang niatnya untuk pergi liburan. Awalnya, Eko mengelak dan berusaha menyembunyikan kebenaran. Namun, akhirnya dia akui semua niat buruknya dan memohon maaf.

__ADS_1


Eko masih mengelak dan berusaha mengalihkan topik ketika Intan menanyakan niat sebenarnya perjalanan liburan mereka. Dia berkata bahwa perjalanan itu hanya untuk bersenang-senang dan melepas penat, dan dia tidak mengerti mengapa Intan merasa curiga.


Intan tidak bisa mempercayai Eko lagi. Dia merasa kecewa dan marah karena Eko lebih mementingkan teman perempuannya daripada keluarganya. Dia bertanya-tanya mengapa Eko tidak berpikir tentang perasaannya dan bagaimana perbuatannya akan mempengaruhi hubungan mereka.


Intan memutuskan untuk memberitahu orangtua Eko tentang rencana buruknya. Meskipun dia tahu itu akan sulit dan mungkin merusak hubungan mereka, dia merasa bahwa dia harus melakukan apa yang terbaik untuk Eko dan keluarganya.


Ketika Intan memberitahu orangtua Eko tentang rencana perjalanan yang sebenarnya, mereka sangat terkejut dan marah. Mereka tidak bisa mempercayai bahwa putra mereka akan melakukan sesuatu seperti itu, dan mereka sangat berterima kasih kepada Intan untuk memberi tahu mereka.


Eko merasa sangat marah pada Intan karena telah mengkhianatinya. Dia merasa bahwa dia tidak punya hak untuk memberitahu orangtua tentang rencana perjalanannya, dan bahwa dia telah melanggar kepercayaan mereka.


Setelah mendapatkan informasi dari teman Eko bahwa Eko merencanakan untuk bertemu dengan mantan kekasihnya, Intan merasa perlu melaporkan hal tersebut kepada orang dewasa yang bisa dia percayai. Dia memutuskan untuk menghubungi ibu Eko untuk meminta bantuan.


Intan " Hallo bu,Assalamualaikum."


Bu Rani :"Waalaikumsalam Intan. Tumben malem-malem telpon,ada apa nak?" Tanya Rani,ibu dari Eko suami Intan. Intan :" Saya bingung bu,saya tidak tahu harus gimana lagi bicara sama mas Eko. Sebenarnya sudah beberapa bulan ini mas Eko tidak peduli dengan anak istrinya bu. Dia lebih sering pergi dengan teman sekolahnya dulu." Hiks..hiks..sambil menangis Intan terus bercerita pada mertuanya.


Bu Rani memahami kekhawatiran Intan dan mendengarkan dengan penuh perhatian. Setelah Intan selesai bercerita, Bu Rani memberikan nasihat yang bijak.


"Intan, saya bisa merasakan betapa sulitnya situasi ini untukmu. Namun, kamu harus tetap kuat dan sabar. Kamu juga tidak bisa diam saja dan membiarkan Eko melakukan hal yang salah. Apa yang kamu lakukan sekarang adalah langkah yang benar dengan memberitahu masalah Eko padaku. Kita akan cari jalan keluar bersama-sama untuk menyelesaikan masalah ini," kata Bu Rani dengan lembut.

__ADS_1


Intan merasa terhibur mendengar kata-kata ibu mertuanya. Dia tahu bahwa dia tidak sendiri dalam menghadapi masalah ini. Bu Rani menambahkan, "Kamu harus bertindak tegas dan memastikan bahwa Eko bertanggung jawab atas tindakannya. Tetapi, kamu juga harus mengambil waktu untuk mempertimbangkan apa yang terbaik bagi dirimu dan keluarga mu."


Intan merasa lega setelah berbicara dengan Bu Rani. Dia merasa memiliki dukungan dan merasa lebih percaya diri dalam menghadapi masalah ini. Dia tahu bahwa ia harus kuat dan sabar dalam menghadapi situasi yang sulit, tetapi dia merasa lebih siap menghadapi apa pun yang akan datang setelah mendapatkan dukungan dari orang yang dicintainya.


__ADS_2