Hinaan Dari Keluarga

Hinaan Dari Keluarga
bab 29


__ADS_3

Bu Ratna benar-benar baru menyadari kalau ternyata anaknya yang bernama Eko dan menantunya yang bernama intan tulus menyayanginya. Meskipun lontaran kata kasar dan hinaan sering diucapkan oleh Bu Ratna kepada mereka namun Eko dan intan sabar dan ikhlas dengan semua itu. Mungkin ini salah satu hidayah untuk Bu Ratna, melalui penyakitnya,ia menyadari betapa jahatnya dia kepada anak dan menantunya.


Namun setelah beberapa hari Bu Ratna menyadari akan kesalahan-kesalahannya,takdir berkata lain. Asam lambung yang diderita Bu Ratna sudah kronis dan membuat beberapa bagian tubuhnya bengkak termasuk wajahnya.


Eko dan Intan pun tidak bisa menemani Bu Ratna disampingnya karena berada diruang ICU. Bu Ratna sudah tidak sadar dan tidak mengenali Eko dan Intan sebelum dipindahkan ke ruang ICU.


Dengan kecemasan menunggu hasil pemeriksaan dokter, Eko dan Intan hanya bisa berdoa dan berharap yang terbaik untuk Bu Ratna. Eko juga berusaha menghubungi saudaranya yang bernama Adi untuk memberi tahu keadaan Bu Ratna yang sedang kritis. Namun Adi tidak menjawab telfon dari Eko. Padahal Adi adalah anak kedua Bu Ratna yang selalu ia banggakan dan ia bandingkan kesuksesannya dengan Eko anak pertamanya.


INtan: (memanggil Eko dengan lembut) "Mas, apakah kamu sudah mencoba menghubungi Adi? Aku khawatir dengan keadaan Bu Ratna dan mungkin Adi bisa memberikan dukungan dalam situasi ini."


Eko: (menggelengkan kepala dengan sedih) "Sudah beberapa kali aku mencoba, sayangnya dia tidak menjawab. Mungkin dia sedang sibuk atau tidak ingin berurusan dengan kita."


Intan:" Semoga saja dia menyadari pentingnya keluarga di saat-saat seperti ini. Kita harus tetap bersatu dan mendukung Bu Ratna dengan segenap hati kita."


Sementara itu, dalam ruang ICU, Bu Ratna terbaring tak sadarkan diri. Tubuhnya yang bengkak mengindikasikan kondisi yang serius. Eko dan Intan tidak bisa berada di sampingnya, hanya dapat melihatnya dari jauh melalui jendela kaca yang tersembunyi di balik tirai putih.


Eko: "Ibu, tolong sembuhlah. Kami masih ingin memperbaiki hubungan kami denganmu. Maafkan kesalahan-kesalahanmu yang kami terima dengan ikhlas. Kami mencintaimu, Bu."


Intan:"ia, Bu Ratna. Kami berharap bisa mendapatkan kesempatan untuk memperlihatkan betapa besar cinta kami padamu. Kamu adalah ibu yang berharga bagi kami berdua."


Dalam ketidakpastian dan kegelisahan, Eko dan Intan terus menanti berita dari dokter tentang kondisi Bu Ratna. Mereka berharap dan berdoa agar kesadaran Bu Ratna dapat kembali, sehingga mereka bisa menyatakan kasih sayang mereka sebelum terlambat.


SAat Eko dan Intan duduk gelisah di ruang tunggu rumah sakit, tiba-tiba sebuah telepon masuk ke ponsel Eko. Dia melihat nama yang muncul di layar, dan keheranan pun meliputi wajahnya.

__ADS_1


Eko: (kaget) Intan, itu... itu adalah nomor telepon Adi!


Intan: (terkejut) Benarkah? Mengapa dia baru menelepon sekarang?


Eko dengan hati berdebar-debar menjawab panggilan tersebut. Suara di seberang terdengar ragu-ragu.


Eko: "Halo, Adi? Ini Eko, saudaramu. Ada kabar buruk tentang Bu Ratna, ibu kita. Dia sedang dalam kondisi yang sangat kritis."


Adi: (suara yang terdengar terkejut) "Apa? Apa yang terjadi dengan Bu Ratna?"


Eko: "Asam lambung kronis telah membuatnya terbaring tak sadarkan diri di ruang ICU. Kami berharap kamu bisa datang dan memberikan dukungan dalam situasi ini. Ini adalah saat-saat yang kritis, Adi."


Adi: (suara terdengar terguncang) "Maafkan aku, Eko. Aku seharusnya tidak pernah menjauhkan diri dari keluarga kita. Aku akan segera datang ke sana. Beritahu Bu Ratna bahwa aku sangat mencintainya."


Setelah menutup telepon, Eko dan Intan merasa campur aduk oleh perasaan lega dan harapan. Mereka berdua berjanji untuk tetap saling mendukung dan mengatasi masa sulit ini bersama-sama.


Eko dan Intan dengan harapan tinggi bahwa Adi akan segera datang, tetapi mereka kemudian dihadapkan pada kekecewaan baru. Beberapa saat setelah percakapan telepon, Adi menelepon kembali dan suaranya terdengar terguncang.


Adi: (suaranya gemetar) "Eko, aku mohon maaf. Istriku tidak mengizinkanku untuk pergi ke rumah sakit. Dia berpendapat bahwa Bu Ratna telah mengabaikan keluaharga kita selama ini, dan aku tidak boleh memberikan dukungan padanya sekarang."


Eko: (terkejut dan sedih) "Tapi Adi, ini adalah saat-saat yang kritis bagi Bu Ratna. Dia butuh dukungan dan kasih sayang kita semua. Apa yang bisa kita lakukan?"


Adi: (suaranya penuh penyesalan) "Aku tahu, Eko. Aku sangat ingin pergi, tetapi istriku begitu keras kepala. Dia mengatakan bahwa Bu Ratna harus merasakan akibat dari perlakuan buruknya terhadap kita."

__ADS_1


Intan: (dengan sedih) "Adi, ini bukan saatnya untuk mempertahankan perselisihan keluarga. Bu Ratna sedang berjuang untuk hidupnya, dan kita semua harus bersatu untuk mendukungnya."


Adi: (berdesis) "Aku tahu, Intan. Tetapi aku juga terjebak dalam situasi yang sulit. Aku akan mencoba membujuk istriku lagi, tetapi aku tidak bisa menjanjikan apa pun."


Ketidakpastian dan keputusasaan melanda Eko, Intan, dan Adi. Mereka berdua menyadari bahwa Bu Ratna mungkin tidak mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan Adi dan memperbaiki hubungan mereka. Namun, mereka juga merasa tak rela jika Adi harus bertentangan dengan istrinya dalam situasi ini.


Eko: "Adi, kita harus mencoba menemukan jalan keluar dari situasi ini. Bu Ratna adalah ibu kita, dan kita harus mencoba melakukan yang terbaik untuknya. Mungkin kita bisa mencoba menjelaskan kepada istri Adi tentang pentingnya momen terakhir dengan Bu Ratna."


Selama Bu Ratna sehat,Adi dan istrinya lah yang selalu ia sanjung,bukan Eko. namun nyatanya Eko dan Intan lah yang menemani disaat situasi genting.


Adi juga berusaha untuk menjenguk Ibunya,namun ia tidak bisa membantah apa yang sudah dikata oleh istrinya. Dengan kebingungan dan kegelisahan, Adi memikirkan bagaimana ia bisa membantu Eko kakaknya dalam mengurus ibunya.


Adi tidak bisa tidur semalaman karena pikirannya terus menerus dipenuhi oleh keadaan Bu Ratna dan permasalahan keluarganya. Ia merasa terjebak dalam dilema antara tanggung jawab sebagai anak dan kewajiban sebagai suami.


Adi terbangun dari tidurnya dengan gelisah dan memutuskan untuk bangun lebih awal. Ia merasa perlu mengambil langkah untuk menyelesaikan situasi ini dengan sebaik mungkin. Adi merenung sejenak, mencoba mencari cara untuk membujuk istrinya agar mengizinkannya menjenguk Bu Ratna.


Setelah memikirkan berbagai pendekatan yang mungkin, Adi memutuskan untuk duduk dan berbicara dengan istrinya dengan tulus dan terbuka. Ia ingin membuatnya memahami betapa pentingnya momen terakhir dengan Bu Ratna, terlepas dari perbedaan dan konflik yang pernah terjadi.


Keesokan harinya, Adi menyampaikan keinginannya kepada istrinya. Mereka duduk berdua di ruang keluarga, suasana tegang terasa di udara.


Adi: "Sayang, aku ingin bicara denganmu tentang Bu Ratna, ibuku. Aku tahu kita memiliki perbedaan pandangan tentang keluarga ini, tetapi aku merasa ini adalah momen yang penting bagi kita semua."


Istri Adi: (dingin) "Aku sudah memberitahumu, Adi. Bu Ratna telah menyakiti kita selama bertahun-tahun. Mengapa kita harus memberikan perhatian dan dukungan pada saat-saat genting seperti ini?"

__ADS_1


__ADS_2