Hinaan Dari Keluarga

Hinaan Dari Keluarga
bab 30


__ADS_3

Adi "Kamu kok gitu sih? Dia itu orang yang telah melahirkan aku dan merawatku? masa iya aku pengen jenguk aja nggak boleh?"


"Ya udah lah mas,terserah. Tapi jangan ngajak aku,aku ogah ketemu sama ipar kamu itu."


Dengan tatapan yang sinis ,Adi berjalan menuju kamar untuk mengambil tas Selempang dan ponsel untuk segera berangkat ke Rumah sakit.


Eko sang kakak dan Intan sang Ipar sudah menunggunya diruang tunggu depan ICU.


Adi mengambil tas selempang dan ponselnya dengan gerakan cepat. Dia merasa terjebak dalam situasi yang rumit antara hubungan keluarga dan perasaan pribadinya. Meskipun dia tidak sepenuhnya setuju dengan sikap Intan, Adi juga menyadari bahwa dia harus menunjukkan rasa hormat dan kepedulian kepada ibunya.


Setelah mengambil barang-barangnya, Adi berjalan dengan hati yang berat menuju ruang tunggu depan ICU. Dia melihat Eko, kakaknya, dan Intan, iparnya, yang sedang duduk dengan penuh kekhawatiran. Ekspresi wajah mereka menggambarkan kecemasan dan kekhawatiran yang mendalam.


Tanpa berkata-kata, Adi duduk di samping mereka. Meskipun ada ketegangan di antara mereka, mereka berusaha menjaga ketenangan dan fokus pada situasi yang sedang mereka hadapi bersama.


Beberapa saat kemudian, seorang dokter keluar dari ruang ICU dan mendekati mereka. Dia memberikan kabar tentang kondisi Bu Ratna yang semakin memburuk. Dokter menjelaskan bahwa mereka harus siap menghadapi kemungkinan terburuk.


Melihat keadaan ibunya yang semakin kritis, Adi merasa kesedihan mendalam. Meskipun dia dan ibunya tidak selalu memiliki hubungan yang harmonis, dia menyadari betapa pentingnya peran ibunya dalam hidupnya. Ia tak bisa menghapus semua kenangan dan pengorbanan yang telah Bu Ratna berikan untuknya.


Dalam keheningan yang memenuhi ruangan, mereka saling memandang satu sama lain. Intan, meskipun masih merasa tidak nyaman dengan kehadiran Adi, menyadari bahwa saat ini adalah waktu yang sulit bagi semua orang yang terlibat.

__ADS_1


Eko, sebagai kakak yang bertanggung jawab, merasa perlu mengambil inisiatif untuk memulai dialog. Dengan suara lembut, dia berkata, "Adi, aku tahu kita memiliki perbedaan pendapat, tapi inilah saatnya untuk kita bersatu sebagai keluarga. Ibu kita membutuhkan dukungan kita semua sekarang."


Adi mengangguk dengan sedih, menyadari bahwa dia tidak bisa membiarkan perbedaan pribadi menghalangi kehadirannya saat ibunya membutuhkan dukungan terbesar. Dia menyadari bahwa bukan hanya ibunya yang berjuang, tetapi seluruh keluarganya juga.


Dalam momen itu, mereka saling melepaskan ego dan perbedaan mereka, bersedia bersama-sama menjaga ibu mereka. Mereka membuka pintu hati mereka untuk menerima situasi yang ada, dengan harapan bahwa mereka bisa memberikan dukungan dan cinta yang diperlukan.


Tanpa mengucapkan kata-kata lagi, mereka kembali masuk ke ruang ICU. Mereka menggenggam erat satu sama lain, bersiap untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi. Walaupun masih ada ketegangan dan perbedaan, mereka menyadari bahwa keluarga adalah hal yang tak ternilai, dan saat ini adalah saat yang menguji kekuatan persaudaraan mereka.


Mereka berjalan bersama, menuju pintu ruang ICU dengan hati yang berat. Setiap langkah terasa berat seolah-olah menandakan akhir dari sebuah babak dalam kehidupan mereka. Saat mereka memasuki ruangan, atmosfer yang penuh dengan kesedihan dan duka menyambut mereka.


Dokter dengan penuh belas kasihan memberitahu mereka bahwa Bu Ratna telah berpulang. Kata-kata itu menusuk hati mereka seperti pedang yang tajam. Air mata mulai mengalir di wajah mereka, mengungkapkan rasa kehilangan yang mendalam.


Tak ada lagi ruang untuk perbedaan dan ketegangan di antara mereka. Kehadiran Bu Ratna yang telah pergi mengajarkan mereka arti pentingnya menghargai waktu bersama keluarga dan tidak membiarkan perbedaan memisahkan mereka. Mereka merasakan penyesalan yang mendalam karena perbedaan pendapat mereka sebelumnya.


Mereka berduka dalam diam, merasakan kekosongan yang ditinggalkan oleh kepergian ibu mereka. Mereka merenung tentang bagaimana Bu Ratna telah memberikan hidupnya untuk mereka, berkorban dan merawat mereka dengan penuh cinta sepanjang waktu.


Keluarga yang tersisa merencanakan pemakaman Bu Ratna dengan segala penghormatan dan kehormatan yang pantas bagi seorang ibu yang luar biasa. Mereka menyatukan tenaga, saling berbagi tanggung jawab, dan merangkul dukungan dari keluarga dan teman-teman.


Pada hari pemakaman, kerabat dan teman-teman dekat berkumpul untuk mengucapkan selamat tinggal terakhir kepada Bu Ratna. Suasana yang mendalam dipenuhi dengan tangis dan cerita kenangan yang indah tentang perjalanan hidup Bu Ratna.

__ADS_1


Di antara keheningan pemakaman, Eko menatap Adi dengan penuh emosi. "Adi, aku tahu kita pernah memiliki perbedaan yang besar. Tapi, inilah momen di mana kita harus melupakan semua itu. Ibu kita telah pergi, dan yang tersisa hanya kenangan indah tentang cintanya dan pengorbanannya."


Adi menundukkan kepalanya, mengeluarkan napas dalam-dalam. "Aku tahu, Eko. Aku menyesal atas semua pertengkaran kita. Aku tidak ingin menghabiskan waktu yang berharga ini dengan penyesalan. Mari kita saling mendukung dan menghormati ibu kita, bahkan setelah dia pergi."


Intan, yang mendengarkan percakapan mereka, ikut bicara dengan suara lembut. "Saya juga ingin mengucapkan maaf atas ketegangan antara kita, Adi. Meskipun kami berdua tidak selalu setuju, tapi ibu adalah ikatan kita. Dia mengajarkan kita tentang keluarga dan cinta sejati. Mari kita tinggalkan semua kesalahpahaman dan hadapi masa depan bersama-sama."


Adi menatap Intan dengan tatapan yang sedikit berubah. "Aku menghargai kata-katamu, Intan. Aku akan mencoba menjalin hubungan yang lebih baik denganmu dan mencari cara untuk mengenalmu lebih baik sebagai anggota keluarga."


Eko tersenyum dan mengangguk. "Itu semua yang kita inginkan, Adi. Kita tidak bisa mengubah masa lalu, tapi kita bisa memperbaiki hubungan kita ke depannya. Bersama, kita bisa menghormati dan merayakan warisan ibu kita."


Setelah pemakaman, ketiganya pulang bersama ke rumah keluarga yang sepi. Di dalam keheningan itu, mereka saling mendukung satu sama lain, merangkul kesedihan mereka dan berbicara tentang kenangan indah dengan Bu Ratna.


Adi melihat foto-foto keluarga yang dipajang di dinding. Ia merasakan kehangatan yang datang dari senyum ibunya dalam setiap gambar itu. Dalam hati Adi, dia berjanji untuk menjaga kenangan ibunya tetap hidup dan memperbaiki hubungannya dengan keluarga yang tersisa.


Hari-hari berlalu, dan Adi, Eko, dan Intan perlahan memperbaiki hubungan mereka. Mereka saling bertukar cerita dan mengenang ibu mereka dengan sukacita, menyadari bahwa bukan hanya kenangan yang penting, tapi juga saat-saat yang mereka habiskan bersama.


Mereka belajar untuk menghormati perbedaan pendapat dan saling memberikan dukungan dalam setiap perjalanan hidup mereka. Meskipun Bu Ratna telah pergi, cintanya dan jejaknya tetap hadir dalam kehidupan mereka.


Dengan setiap langkah yang mereka ambil bersama, Adi, Eko, dan Intan tumbuh menjadi keluarga yang lebih kuat. Mereka belajar bahwa keluarga adalah ikatan tak terputuskan, bahkan ketika perbedaan dan rintangan muncul.

__ADS_1


__ADS_2