Hinaan Dari Keluarga

Hinaan Dari Keluarga
bab 22


__ADS_3

Setelah menerima pesan dari perempuan tadi, Eko segera menutup layar ponselnya dan memasukkannya kembali ke saku celananya. Ia merasa gelisah dan tidak enak ketika Intan menanyakan siapa yang mengirimkan pesan.


"Mas, siapa yang mengirim pesan tadi?" tanya Intan penasaran.


"Oh, itu hanya pekerjaan," jawab Eko dengan nada cuek. "Nggak usah dipikirin."


Intan tampak tidak percaya dengan jawaban Eko. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Tapi, karena Eko terlihat sangat tidak ingin membahas hal tersebut, akhirnya Intan memutuskan untuk tidak menanyakan lebih lanjut.


Malam itu, Eko memutuskan untuk tidak ikut pengajian dan memilih untuk tetap berada di rumah. Ia mengatakan ingin bekerja lebih keras demi menyelesaikan pekerjaannya. Intan memahami dan membiarkan Eko bekerja di rumah.


Namun, hati Intan tetap tidak tenang. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Eko. Ia berusaha untuk tidak memikirkan hal itu dan fokus pada pengajian yang sedang berlangsung.


Malam itu, Intan pulang ke rumah dengan hati yang bercampur aduk. Ia merasa ada sesuatu yang salah dan tidak dapat mengatakan apa itu. Namun, dalam hatinya ia berharap semuanya akan baik-baik saja dan keluarganya akan kembali harmonis seperti dulu.


Intan memperhatikan ponsel Eko dan terlihat sedang berdering. Namun, Eko sepertinya tidak ingin membuka ponsel tersebut dan memasukkannya kembali ke dalam saku. Intan mulai curiga dan bertanya, "Mas, ponselmu berdering, ada apa?"


Eko terlihat gugup dan berbohong, "Oh, itu hanya pesan dari kantor. Nggak penting."


Intan tidak terlihat yakin dengan jawaban Eko dan mencoba untuk membuka ponsel tersebut. Namun, ia terkejut saat melihat ponsel Eko terkunci dengan password.


"Mas, kenapa ponselmu terkunci? Biasanya kamu nggak pernah mempassword ponselmu." Tanya Intan dengan nada heran.


"Oh, aku lupa nggak sengaja mempassword. Nggak apa-apa, besok aku akan membukanya."

__ADS_1


Intan tidak terlihat yakin dengan jawaban Eko dan mulai merasa curiga. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan Eko dan ponselnya. Namun, ia memutuskan untuk tidak memaksa dan membiarkan Eko menjelaskan sendiri saat ia merasa siap.


Setelah beberapa kali mencoba membuka ponsel Eko dan menemukan bahwa ponsel itu terpassword, Intan mulai merasa curiga. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres dari perilaku suaminya. Tapi, ia berusaha untuk tidak terlalu terbawa emosi dan berusaha untuk tetap baik-baik saja. Ia tidak ingin membesar-besarkan masalah dan memperburuk hubungan mereka.


Intan memutuskan untuk tidak membicarakan perasaan curiganya pada Eko. Ia berusaha untuk menjaga hubungan mereka dan tidak memperburuk masalah dengan bertengkar. Ia berpikir bahwa mungkin Eko memiliki alasan yang baik untuk menyembunyikan pesan ponselnya dan mengapa ponsel tersebut terpassword.


Maka, Intan memutuskan untuk menunggu dan mempercayai suaminya. Ia berharap bahwa Eko akan menjelaskan semuanya pada waktunya yang tepat dan bahwa masalah ini akan segera terselesaikan.


Pukul sebelas malam Intan terbangun dari tidurnya. Ia mengucek matanya lalu mengubah posisinya menjadi duduk. Melihat kesamping, Intan menyadari nyatanya ia memang sendiri di sini. Eko tidur di ruang tamu.


Helaan napas kecil terdengar dari bibirnya. Intan mengambil napas ia jang dan membuangnya perlahan,la tas beranjak dari kasur untuk bersiap-siap salat malam.


Shalat,itulah yang selalu dapat menenangkan hatinya. Disaat orang terlelap namun ia memilih terjaga untuk menghadap Allah ,itu adalah waktu yang tepat baginya. Kesunyian malam membuatnya bisa bercerita dan menangis meluapkan rasa sedihnya.


Setelah berdzikir, Intan menengadahkan tangannya berdoa.


"Ya ,Allah... Sebenarnya mas Eko kenapa marah sama Intan? Kenapa mas Eko bisa berubah seperti ini?"


Air mata jatuh bebas ke pipinya. Intan terisak mengingat sikap Eko semalam membuatnya sungguh sakit. Pertama kalinya dibentak langsung oleh orang yang dicintai setelah menikah bukanlah hal yang baik - baik saja. Hati Intan sangat rapuh,ingin rasanya memeluk Sari ibunya,namun ia sadar ini masalahnya dengan Eko. Intan tidak ingin orangtuanya tahu akan sikap Eko kepadanya. Biarlah ia bersama Allah. Hanya Allah satu - satunya tempat baginya.


"Ya Rabb..beri kekuatan untukku agar bisa kuat menghadapi ini. Jika marahnya mas Eko disebabkan oleh aku sendiri, bantu aku untuk bisa memperbaiki diri agar suamiku rida, Ya Allah...


Lembutkan hati mas Eki,jadikanlah ia suami yang dapat membimbingku menuju surga-Mu. Aku akan berprasangka baik,karena aku yakin Engkaulah sebaik-baik perencana...Amiin."

__ADS_1


Intan mengusap wajahnya . Rumah tangga yang harmonis menjadi harapannya. Ia menanamkan keyakinan bahwa Eko hanya tidak sengaja kemarin membentaknya. Eko hanya sedang lelah. Ya,sedang lelah.


Pagi hari sudah nampak.


Intan telah rapi dengan pakaian dan jilbab.


Sebelum keluar tidak lupa ia memperhatikan matanya yang tidak lagi sembab karena menangis semalam. Intan menarik bibirnya tersenyum,hari ini ia akan minta maaf dan membuat Eko rida kepadanya.


Ia yakini marahnya Eko adalah karenanya. Intan kemarin mendesak Eko untuk meminta alasan,pasti karena itu Eko tidak sengaja membentaknya. Intan mengangguk yakin membenarkan pikirannya.


Mendengar suara pintu sebelah yang terbuka membuatnya tersenyum. Eko baru saja pulang,artinya ia harus segera ke dapur untuk menyiapkan sarapan.


Dengan wajah yang ceria,Intan keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Pagi ini ia akan membuat nasi goreng.


Mula - mula Intan mengambil bahan yang diperlukannya,berlanjut dengan memasang celemek. Hingga kemudian ia mulai mengiris tipis bawang merah dan bawang putih. Tidak butuh waktu lama,harum wangi sudah tercium di ruangan,membuat senyum Intan mengembang. Setelah mencicipi sedikit nasi goreng, Intan menyajikannya ke dalam dua piring.


"Selesai." Nasi goreng dan teh panas sudah tersedia di meja makan. Intan tersenyum lebar, kini tinggal memanggil Eko. Baru melangkahkan kaki ke lantai kamar sebelah,ia mendapati Eko yang sudah turun dengan setelah jasnya yang rapi.


Setelan jas yang sudah rapi? Intan terdiam dalam posisinya. Apa Eko akan ke kantor?


Bunyi kursi yang berdecit mengundang Intan kembali menatap Eko yang ternyata sudah duduk di meja makan. Ia tersenyum miris. Kenapa Emo melewatinya begitu saja tanpa menyapa?


Intan menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan,bibirnya kembali tertarik membentuk senyuman.

__ADS_1


"Ke kantor Mas?" Ia ikut duduk di hadapan Eko,namun Eko Tidak menjawab pertanyaannya dan terlihat sibuk dengan makanannya.


Intan menatap hampa makanannya,ingin minta maaf namun apa ini waktu yang tepat? Apa tidak akan menimbulkan kemarahan Eko lagi seperti semalam? Bertanya ke kantor saja di abaikan.


__ADS_2