
Gemuruh ombak terdengar lantang, angin berhembus kencang tak tentu arah menerbangkan salah satu topi milik wanita cantik keturunan eropa, bisa saja aku menangkap topi itu dan mengembalikannya, lalu berbincang sebentar sembari memuji betapa indah gaun yang dikenakannya, tetapi aku tidak perduli, ada yang lebih penting daripada memacari wanita cantik keturunan eropa. dengan tatapn cemas aku tetap berjalan melewati kerumunan, tidak perduli bahwa disekitarku banyak orang berlarian, banyak kuli yang menawarkan jasa angkut barang, banyak calo yang menjejalkan tiket keberangkatan. aku tidak perduli, tujuanku hanya satu, mengamankan orang orang itu. aku terus berjalan melewati kerumunan, menyelip diantara satu dua orang yang sedang berbincang, bernegosiasi, atau bahkan sedang berpeluk mesra karna akan ditinggal kekasihnya. aku menyelinap diantara calo calo tiket, banyak yang menawarkanku tiket keberangkatan, aku hanya menunjukan tiketku, bukan tanpa alasan aku menujukan tiket, karna para calo ini tidak akan berhenti menawarkan ketika kita hanya menolak dengan menggelengkan kepala, dan mereka langsung mengerti setelah ku tunjukan tiket ini, ini tiket VIP, hanya orang orang tertentu yang bisa memilikinya, karna kapal yang akan kunaiki adalah kapal safraja, kapal para bangsawan, dan kalian tidak perlu bertanya dari mana aku mendapatkan tiket ini, tiga jam sebelum berada di pelabuhan ini aku sudah berdebat kecil dengan sali melalui telepon, meminta tiket ini untuk keberangkatan, dia kesulitan, sungguh kesulitan, karna aku mendadak memintanya, tiga jam sebelum keberangkatan, yang mana itu mustahil didapatkan untuk orang yang tidak mempunyai identitas seperti ku, beruntungnya dia cerdas, gigih, dan tidak pernah kehabisan akal, dia membayar sepasang penumpang dengan harga tinggi untuk bisa mendapatkan tiket ini, wajar saja, aku baru mendapatkan kabar 3 jam yang lalu bahwa ada yang sedang mengincar para bangsawan, entah apa motifnya, sudah sebulan yang lalu sejak perang dingin itu para bangsawan sekarang menjadi incaran, siapa dalangnya dan apa motifnya tidak ada yang tahu, mereka benar benar profesional, bergerak dalam diam. kabarnya target selanjutnya yaitu bangsawan yang akan berada di atas kapal ini, sesaat setelah mendengar kabar itu aku mulai menelepon sali, dan melakukan perjalanan menuju pelabuhan, "temui aku di pelabuhan gandameda" ucapku kepadanya 3 jam yang lalu. aku bertemu dengannya disini satu jam yang lalu, menceritakan apa yang sedang terjadi. dia mengerti, dan langsung kembali ke markas setelah berhasil mendapatkan tiket, dia bilang akan mencari informasi tentang kapal ini, dan siapa saja yang ada didalamnya. aku mulai menaiki kapal, menghirup aroma laut, gemuruh ombak dan hembusan angin sungguh terasa dari atas sini, aku sudah berada diatas kapal, lalu masuk ke kabin kabin, menyusuri lorong lorong, diam didepan pintu bertuliskan angka 13, angka yang sama dengan informasi kamar yang ada di tiket ini.
__ADS_1
-
__ADS_1
1 tahun yang lalu terjadi perang besar antara kerajaan alameda dan kerajaan tanina, itu merupakan perang besar diawal tahun dan membuat kedua belah pihak kehilangan lebih dari setengah prajurit mereka, perang yang tidak akan pernah diduga oleh rakyat biasa. dua kerajaan yang tadinya saling melindung menjadi saling memusuhi. tidak banyak yang tahu bagaimana cerita aslinya, tetapi aku memiliki akses dan sumber informasi yang terpercaya. 3 tahun yang lalu sang ratu dari kerajaan alameda memiliki itikad baik untuk mengakhiri perang dingin dan menjalin hubungan baik dengan menikahkan putranya, pangeran talas dari kerajaan alameda dengan putri artei dari kerajaan tanina. acara berjalan lancar, pangeran talas dan putri artei menikah hingga dikaruniai seorang putri yang mereka beri nama tari, mereka berdua memilih untuk tidak tinggal di istana, melainkan berbaur, hidup bersama warga disebuah desa terpencil, mereka hidup bahagia dalam kerajaan kecilnya, tetapi naas, ada sekelompok orang yang menganggap bahwa kerajaan mereka berdua tidak boleh disatukan, karna akan menjadi ancaman besar dan bisa menggangu kestabilan dunia. bisa dibayangkan, kerajaan mereka berdua merupakan yang terbesar di benua raksa, dan merupakan kekuatan yang tiada tanding jika disatukan. sekelompok orang itu mulai mengadu domba kedua belah pihak agar tercerai berai. entah siapa yang memulainya, dimulai dengan persebaran fitnah yang terjadi di setiap desa, simpang siur itu menyebar cepat bagaikan virus, memasuki satu desa ke desa lainnya, "benarkah tujuan sang ratu menikahkan putranya hanya agar diberi perlindungan karna kerajaan alameda kekurang pasokan senjata setelah kematian sang raja?", ucap salah satu rakyat yang berada di desa. simpang siur itu menyebar sangat cepat, seakan ada yang menaburkan benihnya di setiap desa, tumbuh subur, menjalar hingga dimuat oleh kabar berita utama, dua kerajaan yang diadu domba tidak perduli, mereka hanya menginginkan kedamaian bagi para penduduknya. tetapi beda dengan sekelompok orang ini, mereka rela melakukan apapun untuk memecah bedua belah pihak, entah kerajaan mana yang membayarnya, entah kelompok mana yang melakukannya, tetapi mereka seakan memiliki akses tanpa batas, mengetahui titik titik lemah kedua kerajaan. puncaknya ialah pada saat sang putri kecil tari -anak dari pangeran talas dan putri artei, dibunuh oleh sekelompok orang tidak dikenal yang mengatas namakan kerajaan tanina. sang pangeran talas murka, dia menghabisi seluruh narapidana yang ada di penjara kota, dia membakar desa desa yang dicurigainya, dan hampir membunuh istrinya sang putri artei karna mencoba menahannya. seseorang yang mengaku bahwa dia yang membunuh putri tari atas suruhan raja tanina itu semakin didukung oleh simpang siur yang disebarkan oleh sekelompok orang ini kepada warga desa, sang pangeran sudah kehilangan akal, ia murka, iapun berniat untuk menyerang kerajaan tanina karna telah merenggut putri kecilnya, sang pangerang talas mulai mengumpulkan pasukan, ia meminta bantuan kepada ibunya, sang ratu dari kerajaan alameda, tetapi ditolak, "kamu sudah gila jika menyuruh pasukanku untuk berperang melawan kerajaan yang sedang melindungi kita" ucap sang ratu. sang ratu mengacuhkan permintaan sang putra, "yang membunuh cucuku adalah orang yang dibayar untuk memecahkan belah kerajaan kita nak, ia tidak ingin kerajaan kita semakin membesar, ini urusan politik, kau akan paham jika sudah memimpin istana", lanjut sang ratu, ia tidak bisa mengorbankan pasukan kerajaannya hanya untuk memenuhi ego sang putra. "nyawa diganti nyawa, bu" ucap sang pangeran talas sembari mengacungkan pedang, matanya merah, juga berkaca kaca, tubuhnya kaku, urat uratnya mengeras, dia sudah sangat siap untuk berperang dengan kerajaan tanina. istrinya, putri artei hanya bisa menangis, ia juga murka dan ingin membalaskan dendam atas kematian putrinya, tetapi tidak mau, jika harus menyerang kerajaan sendiri. pangeran talas tidak pernah kehabisal akal, dia cerdik, sama seperti mendiang ayahnya. etah darimana dia bisa mengumpulkan pasukan sebanyak itu dan mengajaknya ke medan pertempuran, ia mulai menyerang kerajaan tanina secara membabi buta, tanpa rencana, tanpa aba aba, ditemani oleh gemerlap bulan purnama, hingga akhirnya ia berhasil memenggal kepala sang raja alameda. dan pulang dengan pelarian. tetapi ceritanya tidak berakhir disitu, adik putri artei dari kerajaan alameda, sang penerus takhta, membalas dendam setelah mendengar kabar bahwa yang membunuh mendiang ayahnya adalah ratu alamedea karna ingin menguasai kerajaanya, sang putra mahkota mulai mengumpulkan pasukan, menyerang kerajaan tanina hingga terjadi pertumpahan darah besar besaran di istana. hingga pada akhirnya hubungan antara kedua kerajaan mereka terpecah belah, yang mengakibatkan kedua belah pihak untuk memutus hubungan politik, dan kembali ke masalalu, perang dingin memperebutkan wilayah.
__ADS_1
-
__ADS_1
aku sudah berada di dalam kabin, menghembuskan napas, menatap ruangan legang, dua tempat tidur. ya, dua, karna kebetulan tiket ini milik sepasang kakek nenek yang akan berlibur ke pirika, tidak mempunyai catatan kriminal, dan sali bilang harus membeli keduanya jika menginginkan tiket ini, padahal aku hanya meminta satu. satu meja dan kursi lengkap dengan hiasan dan lukisan diatasnya, dan satu lemari besar. kamar yang cocok untuk sepasang kakek nenek bermesra, gumamku, aku meletakan koperku diatas meja, lalu merebahkan badanku sesaat diatas salah satu kasur, menghebuskan napas, menatap langit langit, menjernihkan pikiran sembari bertanya, kali ini bangsawan milik kerajaan mana?, kenapa para bangsawan?, siapa dalangnya?, apa motif mereka?, dan kenapa aku baru menyadari bahwa mereka mengincar para bangsawan?.
__ADS_1