
aku harus pergi, itulah yang kuucapkan sebelum toni pergi ke ladang untuk mengecek para pekerja.
"aku minta maaf atas persoalan kemarin jeje" ungkapnya sembari memeluku erat erat.
kami sedang berada di halaman rumah, bersiap untuk pergi, dewi tidak juga menunjukan batang hidungnya sedari tadi
aku balas memeluknya, aku mengerti, pada saat dalam pelarian dulu, dia selalu membicarakan ini, di akhir hidupnya, dia hanya ingin tinggal di pinggiran desa, menatap matahari terbit di pagi hari sembari menikmati secangkir kopi, lalu bersantai sejenak sebelum melakukan pekerjaan berladang.
bertani seperti orang orang pada umumnya, dan pulang di sore hari sambil menenteng cangkul di pundak. dia selalu membicarakan ini bahkan saat nyawanya sudah berada di ujung tanduk.
dan aku harus menghormatinya, aku hanya perlu mencari anggota lain untuk membantuku dalam menjaga para bangsawan.
ya meskipun dunia tidak mengetahui keberadaanku, tapi itu merupakan salah satu keuntungan, ya kuanggap itu merupakan keuntungan, karna dengan begitu, aku jadi leluasa untuk kemana saja dan jadi siapa saja
"mana dewi?". tanya toni sembari membalikan badannya, menatap ke arah pintu.
kami sedang berada di halaman, menginjak rumput hijau yang panjang nya tidak lebih dari mata kaki
toni dengan sukarela meminjamkan mobil sedan hitamnya kepada kami, dia bahkan tidak berharap mobil ini akan kembali dengan keaadaan utuh, dia benar benar tahu kepada siapa mobil ini akan dipinjamkan.
dewi berjalan keluar pintu dengan dengan keaadan menguap, sepertinya dia malas untuk berpergian kembali.
"ayolah nona, semangat sedikit, kau akan mencoba menyelamatkan dunia sekarang." toni berteriak sembari mengangkat kedua tangannya, mencoba menggoda dewi.
dewi hanya menggeram, tidak berminat membalas. jalannya benar benar seperti zombie.
aku hanya tertawa kecil, antara senang dan sedih, senang karna akhirnya toni bisa mewujudkan impiannya, dan sedih karna toni sudah tidak bisa ikut bersamaku lagi
ah aku benar benar merindukan masa masa pelarian bersamanya.
"biar aku yang menyetir," ucap dewi sembari mulai menundukan kepala, mencoba memasuki ruang kemudi mobil.
"kau bersantailah dibelakang dewi," aku memegang bahunya, mencoba melarang.
"benar nona, mobil ini tidak akan bertahan lebih dari satu jam jika kau yang mengendarainya." toni mengejek dewi sembari menyeringai.
dewi menatap tajam toni, matanya mengisyaratkan bahwa dia siap untuk berkelahi. aku hanya tertawa.
__ADS_1
roda mobil mulai menggelinding di aspal setelah beberapa menit menggelinding di jalanan tanah, meninggalkan jejak roda disepanjang jalan raya.
jika dilihat dari map, perjalan kami akan memakan waktu kurang lebih 7 jam, itupun jika dewi tidak banyak meminta
tujuan kami selanjutnya adalah kosla, sebuah desa yang jauh dari perkotaan, aku tidak tahu apakah jalannya sekarang sudah bagus atau masih sama seperti dulu.
kosla merupakan sebuah tempat yang jauh dari pemukiman penduduk. sebuah desa terpencil didalam hutan.
tempat itu merupakan tempat berlatih toni. Dia menyuruhku untuk pergi kesana lagi untuk mencari penggantinya.
mobil mulai berbelok, memasuki jalanan utama, merapat dengan mobil mobil lainnya, aku mencoba cepat mengendarai mobil ini, menyalip mobil mobil yang ada didepanku, kekanan, kekiri, kanan lagi, mencoba meliuk liuk, rodanya berputar cepat menggilas aspal
aku tetap memainkan tanganku lincah memegang setir. dewi masih sibuk dengan buku buku yang ia bawa dari rumah toni, tidak banyak bicara.
petunjuk arah kota mulai terlihat di pinggir jalan. berwarna hijau, memudahkan kita untuk melihatnya walaupun hari sudah gelap.
aku hanya menatap sekilas tanda itu, kembali fokus memegang kemudi. kami beristiahat sejenak, dewi bilang dia ingin meminum sesuatu yang mendinginkan tenggorokan, memaksaku untuk menepi.
kami melanjutkan perjalanan setelah lima belas menit beristirahat, dan lima menit berdebat
dia tiba tiba ingin kembali kerumah toni, entah apa alasannya, dia benar benar memaksa, aku membantahnya, dengan alasan bahwa tempat tujuan kita sudah didepan mata
mobil mulai merapat kembali di jalan utama. melaju cepat, bersamaan dengan mobil mobil milik orang lain. rodanya berputar diatas aspal, sama cepat. velgnya yang berwarna silver tidak terlihat seperti berputar
kami mulai berbelok memasuki pedasaan, jalannya masih aspal, hanya saja tidak sebagus jalan utama tadi
dewi sempat bersulut sulut mengomentari jalan ini, menyalahkan siapa saja yang terlintas dibenaknya, dia bahkan sempat memarahi toni karna tidak mau ikut dengan kami.
roda mobil tetap berputar diaspal yang tidak rata, sepertinya ini bukan aspal, melainkan hanya campuran koral dengan semen, terlihat dari tidak meratanya jalan dan debu yang mengepul.
sekali dua kali kami menanyakan arah kepada penduduk sekitar, mereka mengangguk takjim, lalu menunjukan arah dengan gerakan tangan
mereka seperti sangat mengenal tempat ini, dan mengenal siapa orang yang sedang kami cari, terlihat dari antusias warga saat menjelaskan kepada kami arah yang akan dituju
"bodoh, sudah kubilang jangan mempercayai siapapun saat kita berada di tempat asing" dewi bersulut sulut, memaki melihat tidak ada jalan yang bisa dilalui mobil.
diujung jalan yang diarahkan oleh warga sekitar, kami menemui jalan buntu, didepan sana hanya hutan, dan jalan setapak yang mustahil bisa dilalui oleh mobil
__ADS_1
tetapi aku masih mengenal baik tempat ini, masih sama sepertu dulu, jalan ini memang tidak bisa dilalui oleh mobil, kita masih harus berjalan dengan kaki untuk sampai kesana
aku tersenyum getir, mengingat kenangan dulu, pada saat masih tinggal di dalam hutan itu
aku menatap gapura yang terbuat dari batu, usianya mungkin bisa ratusan tahun, tua, penuh dengan tumbuhan di sekelilingnya, tulisan diatasnya pun sudah tidak terlihat, tertutup oleh usia
kami memarkirkan mobil di sembarang tempat, seingatku itu yang dilakukan toni dulu pada saat kami sampai di depan gapura ini, lalu mulai melangkah memasuki hutan
"orang gila mana yang akan membuat rumah didalam hutan seperti ini jeje" ucap dewi setelah melewati gapura dan melihat ke segala arah
"orang gila yang hebat" jawabku singkat
kami mulai berjalan masuk kedalam hutan
jalan ini hanya selebar 2 meter, dengan pohon rindang yg menjulang tinggi di setiap sisinya, hanya sedikit daun yg berserakan, seperti sering dibersihkan
juga tapak kaki, orang orang disini sepertinya selalu berjalan dengan kaki telanjang,
tidak ada daun yang berjatuhan menumpuk di sepanjang jalan, hanya ada pohon yang berjejer seperti sudah diisyaratkan untuk ditempatkan disana
dan obor di setiap dua pohon yang kita lewati, mungkin untuk penanda jalan, atau penerangan pada saat hari sudah gelap, obor itu tetap menyala meskipun di siang hari
setelah kurang lebih setengah jam berjalan kaki, dan omelan yang keluar dari mulut dewi setiap dua menit sekali, akhirnya kami melihat pemukiman didepan sana, rumah rumah yang terbuat dari bilik bambu
tempat ini ramai walaupun berada di dalam hutan, seperti pasar, orang orang berlalu lalang kesana kemari, aku langsung bertanya kepada salah seorang yang lewat di hadapanku,
orang itu sedang memanggul karung, tidak memakai baju, hanya memakai celana yang panjang melebihi lutut sedikit, dia menurunkan barang bawaanya, lalu menunjuk salah satu rumah yang berada di dekat sumur
aku dan dewi bergegas langsung mendatangi rumah tersebut
itu rumah panggung, dengan bilik sebagai dindingnya, dan daun kelapa sebagai atapnya, aku mulai menaiki tangga, terdengar berdecit setelah langkah kedua
"sepertinya jika aku mendorong dindingnya rumah ini akan rubuh" dewi berbicara setelah menaiki tangga kedua
"kau tidak akan percaya jika kuberi tahu jika rumah ini sudah berdiri sebelum kau lahir" aku menjawab ocehan dewi sebelu mengetuk pintu yg terbuat dari kayu
prakk
__ADS_1
terdengar suara kayu patah dari dalam rumah ini, tanganku berhenti di depan pintu, belum sempat mengetuk, aku bertatapan heran dengan dewi