
"pe-permisi, diharap kepada tamu undangan untuk tetap tenang" ucap seorang pelayan diatas panggung sana. suaranya gemetar. padangannya tampak ketakutan. gelagatnya seperti orang gugup. "dan.. dan tetap berada dimejanya masing masing" lanjutnya. aku menoleh kenanan dan kekiri. mencoba memahami keadaan. apa yang sebenarnya terjadi. tiba tiba para bangsawan berlari lari kecil keluar ruangan. merunduk. dikawal oleh para penjaga. sial, gumamku, ada apa. para tamu undangan semakin riuh. mengkhawatirkan hal yang sedang terjadi. para penjaga berdatangan, semakin banyak. mengelilingi ruang makan. berjaga agar tidak ada yang melarikan diri. "permisi mohon perhatiannya sebentar". seseorang berbicara diatas panggung. mengangkat tangan kanannya. memancing perhatian penonton. aku reflek menoleh keatas panggung. "perkenalkan nama saya antoni, saya kepala penjaga". lanjutnya dengan menempelkan tangan kanannya di dada. ia tampak ramah. suaranya berat. badannya besar. gagah. memakai jas hitam. "telah terjadi tragedi diatas kapal ini yang menyebabkan acara makan malam dibatalkan, untuk keamanan dan kenyamanan, kami tidak bisa memberitahu detailnya, yang jelas,". ia menghela napas, tatapannya iba, ia seakan pasrah. "silahkan keluar satu persatu dengan tertib. kalian akan makan malam didalam kabin masing masing". lanjut penjaga itu. dia menganggukan kepala kepada salah satu penjaga. lalu menuruni panggung. berjalan menuju pintu keluar. akupun kembali memeriksa keaadaan. para penjaga memegang pinggul kirinya. aku yakin itu pistol. mereka seakan siap menembak siapa saja yang berontak. suasana semakin tegang. para tamu undangan mulai berbicara satu sama lain. semakin riuh. mempertanyakan keadaan. para penjaga mencoba menenangkan tamu undangan. satu persatu tamu undangan keluar dari dalam ruangan. mereka dipanggil dengan nomer urut. entah apa yang terjadi. aku masih duduk dimejaku. mengira ngira. bersiap atas segala kemungkinan. mr julius caesar dan mrs silvi caesar. terdengar panggilan itu dua kali. tetap tidak ada yang beranjak dari tempat duduk. akupun tersentak. sialan aku lupa siapa nama sepasang kakek nenek yang sedang kupakai namanya ini. aku mencoba mengambil tiketku didalam saku. tertulis jelas disana mr caesar. sial ternyata itu namaku. mr julius caesar dan mrs silvi caesar. panggilan yang ketiga kalinya. para prajurit yang bersiaga di ruang makan sudah mulai memaju, ingin mengecek kartu nama para undangan satu persatu. tetapi aku langsung berdiri. "oh maaf itu aku" ucapku sembari mengacungkan tangan. aku membenarkan jasku. mencoba terlihat profesional. "maaf aku melamun tadi, aku mengkhawatirkan istriku, dia sedang sakit didalam kabin, jadi tidak bisa ikut ke acara ini". aku mencoba improvisasi, menjelaskan kepada seisi ruangan, juga para penjaga yang menatapku tajam. "silahkan lewat sini mr caesar". salah satu penjaga mengarahkanku ke pintu keluar. tersenyum. terlihat ramah. tetapi matanya tajam, seakan mengintimidasi. akupun menganggukan kepala, berjalan menuju pintu keluar. dan ketika membuka pintu ternyata ada banyak penjaga disana. memegang pinggul kirinya. mereka sungguh bersiap akan menembak seseorang. akupun diarahkan menuju ruangan yang ada disebelah kanan. aku memasuki ruangan itu. ada 4 orang penjaga disana, salah satunya merupakan kepala penjaga yang tadi berbicara diatas panggung. dia duduk di meja yang berada di tengah ruangan. di kanan kiri sepertinya orang kepercayaannya. badannya besar. salah satunya terdapat luka di pipi kirinya. tampak menyeramkan. aku langsung membaca situasi. aku mengerti. ini ruang interogasi. "silahkan duduk mr caesar". ucap kepala penjaga itu. dia tersenyum ramah. menggerakan tangannya. akupun duduk di kursi yang berada di didepan meja yang sedang diduduki kepala penjaga. "selamat malam" dia memajukan wajahnya. menatap tajam wajahku. "mr caesar" lanjutnya. intonasi bicaranya ditekan. tatapan matanya tajam. dia benar benar tahu bagaimana cara membuat jatuh mental lawan bicara. atmosfer diruangan itu menjadi tegang.
__ADS_1
-
__ADS_1
satu jam yang lalu. tepatnya lima belas menit sebelum acara makan malam dimulai. ketika semua orang sedang bersiap siap untuk datang ke acara. ternyata telah terjadi tragedi di dalam kapal ini. tidak ada yang tahu tepatnya kapan. tetapi kemungkinan besar, yaitu pada saat semua orang keluar ruangan dan berjalan menuju ruang makan. salah satu bangsawan telah dibunuh didalam kamarnya. pelakunya tidak diketahui. itu menjelaskan kenapa acara tidak kunjung dimulai setelah setengah jam berlalu. pelakunya profesional, ia seakan tahu celah celah kapal ini. dia menunggu momen yang pas dan tidak beresiko untuk melakukannya. yaitu pada saat semua orang keluar dari kamarnya, dan berjalan menuju ruang makan. itu berarti semua orang yang ada didalam kapal ini berkemungkinan adalah pelaku. pembunuh ini profesional, dia menunggu momen yang pas untuk melakukannya. para penjaga pun kewalahan untuk menangkap pelaku. tidak ada yang tahu. mereka hanya mengintrogasi para tamu undangan satu persatu. menurutku ini merupakan langkah yang bijak. mengintrogasi tamu undangan satu persatu. dan para penjaga ini tidak memberitahu kejadian yang sebenernya diatas panggung. mungkin mereka sedang ingin mengontrol keaadaan, agar para tamu undangan tidak berseru panik. atau mungkin agar citra mereka tidak terlihat buruk dimata para tamu undangan. yang baru kusadari adalah ternyata aku merupakan tersangka. karena ada tiga ruangan di lorong pintu keluar ini, di ruangan kanan tempat aku sekarang berada adalah ruangan untuk para tersangka. terlihat dari jelas dari mimik para penjaga yang mengintimidasi, seperti tidak segan untuk menyiksa tamu undangan. atmosfer ruangan ini terasa tegang. berkas berkas berserakan di meja yang berada di depanku. sedangkan di ruangan kiri, ruangan yang tadi aku melihat -sebelum masuk ke ruangan ini ada sepasang suami istri keluar dari sana. mereka masih muda, sekitar tiga puluh tahunan. dilihat dari pakaiannya sepertinya mereka mempunyai garis keturunan bangsawan. bergandengan tangan. berbincang hangat satu dengan yang lainnya setelah keluar dari ruangan itu. ekspresi wajah mereka tidak terlihat tegang. seperti tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. sedangkan disini. heii lihatlah, mereka bahkan tidak tersenyum sama sekali. tatapan matanya tajam. tangan kanan mereka memegang pinggul kirinya. seakan siap untuk mengeluarkan pistol dan menembaku. dan dipintu keluar ruangan -dibelakang sana. ada satu penjaga yang memainkan pentungan, seakan siap untuk memukul kepalaku dari belakang. aku benar benar dalam keaadan terpojok.
__ADS_1
-
__ADS_1
"maaf mengganggu waktumu mr julius caesar" ucap seseorang yang sedang mengintrogasiku. suaranya berat. tetapi terdengar ramah. ia sedang memilah milah berkas yang ada diatas meja. lalu mengambil satu berkas. dan membukanya. beberapa menit berlalu. ia menutup berkas itu, mengangguk takzim. lalu menatapku "kemana istrimu?, mrs silvia caesar". lanjutnya sembari membereskan berkas berkas yang berserakan. sepertinya dia mencoba mencairkan suasana. "istriku ada didalam kabin, ia sedang tidak enak badan". ucapku ramah. mencoba terlihat profesional. "oh, sungguh kebetulan yang sangat terencena sepertinya". ucap penjaga itu. tatapan matanya beda, ia seakan sudah tahu semuanya. "aku tidak menyangka kau terlihat lebih muda dari kebanyakan kakek kakek berumur tujuh puluh tahunan". lanjutnya. aku terengah. menghebuskan nafas. mencoba menenangkan diriku sendiri. dia menatapku. menyenderkan badannya dikursi. menyilangkan tangannya. tersenyum tipis. lalu menatap penjaga yang ada dibelakang sana. menganggukan kepala. terdengar suara langkah kaki. penjaga itu berjalan perlahan, mendekat dari belakang sana. atmosfer di ruangan ini bertambah tegang. aku memejamkan mataku. memfokuskan pikiran. mencoba membaca situasi. akupun langsung tau apa yang akan dilakukan penjaga itu. suara langkah kakinya berhenti. dia mengayunkan pentungannya, mencoba memukul kepalaku. aku menghembuskan nafas. plakk. aku menangkap pentungan itu. badanku tetap diam. mengarah ke arah penjaga yang sedang mengintrogasiku. hanya tangan kananku yang bergerak, menangkap pentungan yang diayunkan kepadaku dari belakang. para penjaga terengah. terheran heran. aku langsung menatap tajam mata kepala penjaga. atmosfer ruangan sudah berubah drastis. kedua penjaga yang berada didepanku langsung mengeluarkan pistolnya. menodongku. aku tetap tenang. mencoba mengontrol situasi. sedangkan penjaga yang mengintrogasiku hanya tersenyum tipis. menatap tajam kedua mataku sembari menyenderkan badannya di kursi. kepalaku dipegang oleh penjaga yang berada dibelakangku. brakk. kepalaku dibenturkan keatas meja. "angkat tanganmu" ucap penjaga itu. aku mengangkat tangan. kepalaku masih ditekan diatas meja. aku mengeraskan rahangku. sial. tidak ada cara lain, mereka sudah mengetahui identitas ku. aku tidak menduga hal seperti ini akan terjadi. tidak mungkin seorang kakek mempunyai perawakan sepertiku. sial. kenapa siatuasinya menjadi semakin rumit. aku mengatupkan rahang. bersiap atas segala kemungkinan yang akan terjadi.
__ADS_1