How Your Garden Grows

How Your Garden Grows
rencana


__ADS_3

Jadi apa rencananya?" ucap dewi setelah menceramahiku tentang pentingnya mendengarkan seseorang yang sedang berbicara, dia benar benar menghabiskan waktu setengah jam untuk hal yang sia sia. dia mulai melepaskan sepatunya, menaiki kasur, merebahkan badannya diatas sana, seperti kelelahan karna terlalu banyak berbicara, "seperti kataku tadi, dewi" ucapku kepadanya sembari mengambil tas yang ada dibawah kasur, "kau berjaga didalam kabin ini, sementara aku berjaga di ruang makan" lanjutku. dia mulai menarik selimut, menjadikan kedua tangannya sebagai bantal, posisi tidurnya miring, menghadapku yang sedang mengambil peralatan yang ada didalam tas. "maksudmu kau mau bunuh diri di ruang makan sementara aku hanya menunggu seseorang mengantarkan mayatmu di dalam kabin ini?" ucapnya, "serendah itukah kau memandang potensi berkelahiku", bantahku dengan menatap tajam kedua matanya, "yaa aku hanya melihat kau selalu terjatuh saat kita berkelahi dulu ". ucap dewi meremehkanku, "heii itu sudah lama sekali", bantahku dengan sedikit nada tinggi, aku memasukan tas kebawah kasur, berdiri menghela napas, mengontrol emosiku, "lagipula bukankah sudah sering kubilang, aku tidak bisa menjatuhkan wanita hanya karna nilai", aku membalikan badan, berjalan menuju lemari, mencari baju yang cocok untuk kukenakan saat makan malam nanti. "ou, apa itu juga sebabnya kau tidak pernah menggandeng wanita?" ucapnya sambil menahan tawa, "heii bukn kesana arah pembicaraan kita" aku benar benar sudah terpancing kedalam permainannya. bukan tanpa alasana aku enggan dewi untuk ikut kedalam rencana, dia pintar, gigih dan dapat dipercaya, tetapi dia tidak bisa mengontrol emosinya, ada satu bangsawan yang dia benci didalam kapal ini, mungkin itu alasannya dia ingin sekali ikut andil dalam misi ini. "sepertinya jika memakai rencanaku akan berhasil" usul dewi", "apa?", jawabku, "seperti katamu tdi, kau bunuh diri diruang makan, dan ketika seseorang mengantarkan mayatmu kedalam kabin ini, aku akan membunuh semua orang itu". jawabnya sembari tertawa, dia membalikan badannya, posisi tidurnya tetap miring, dengan kedua tangannya tetap dijadikan bantal, bedanya sekarang ia menghadap tembok. aku menghela napas, sudah kehabisan cara untuk menahannya tetap berada di dalam kabin ini. aku duduk di kursi, meletakan senjataku diatas meja untuk untuk diutak atik kembali agar sesuai dengan seleraku. "baiklah stalky, aku tau bagaimana karaktermu, lima belas menit lagi sebelum makan malam dimulai. sekarang dengarkan aku", aku menghela napas, menuruti kemauannya untuk ikut kedalam rencana. dia wanita yang keras kepala, sulit diatur, dan bergerak atas kehendaknya sendiri, orang orang yang tidak mengenalnya mungkin akan heran kenapa dia bisa lolos pengetesan. tetapi aku memakluminya setelah dia bercerita tentang masa lalunya saat kami minum minum di bar, merayakan kemenangan atas operasi kami. "stalky?" ucapku memastikan bahwa dia mendengarkan, "hmm" jawabnya. aku melanjut mengutak atik senjataku, "ruang makan terdiri dari 134 meja, dan 14 meja untuk para bangsawan, 2 lorong keluar masuk ruang makan, dan satu panggung mengahadad para tamu undangan, 2 toilet untuk pria dan wanita. aku akan berada disana dua puluh menit lagi, pukul tujuh lewat 5 menit, duduk di meja memastikan bahwa para bangsawan juga berada di mejanya masing masing, dan kau, karna sudah berpakaian seperti pelayan, akan memperhatikan area sekitar, berapa orang yang asa disana, berapa yang berjaga dan memegang senjata, dan kau tentunya harus memberitahuku sebelum hidangan penutup disajikan, karna kau sekarang seorang pelayan, kau akan memastikan bahwa makanan yang akan dimakan oleh pangeran lazida sudah kau campuri dengan nasi diet, agar dia sesegera mungkin berlari ke kamar mandi, dan setelah dia berlari ke kamar mandi", tiba tiba aku mendengar suara dengkuran, "stalky?" tanyaku memastikan, tidak ada jawaban, dan setelah kupastikan benar saja, dia tertidur, tidak mendengarkan, baguslah, aku tidak usah repot repot menjaganya selama rencana ini berjalan. tersisa waktu lima menit lagi, aku segera bersiap siap, mengganti pakaianku, memasukan pistol kedalam bajuku, memakai sepatu, lalu ku sembunyikan dengan memakai jas. akupun berjalan menuju pintu, membukanya, dan setelah kulihat dewi dia sepertinya masih tertidur pulas, akupun berjalan diantara lorong lorong kabin, ada perempatan, akupun langsung mengarah ke ruang makan, menuruni tangga, kembali memasuki lorong lorong. "sial ada penjaga", ucapku menggerutu, penjaga itu berada tepat didepan pintu masuk ruang makan, akupun berpikir cepat, berbelok ke arah kamar mandi memasukan pistolku kedalam tempat sampah, tidak ada cara lain, aku harus menggunkan tangan kosong di ruang makan sana. akupun mengambil tisu toilet meninggalkan tanda kepada dewi, dia pasti akan mengerti, aku tidak tau dia akan pergi ke toilet atau tidak, tapi setidaknya ada harapan jika dia pergi ke toilet sebelum benar benar menjadi pelayan. akupun keluar kamar mandi, berjalan menuju pintu ruang makan, melewati penjaga, aku bisa saja mengelabui dua penjaga ini, tetapi aku menyadari, bahwa pintu yang akan ku lewati ini menggunakan alat detektor logam. sepertinya pintu ini baru dipasang, karna saat kemarin aku memeriksa tempat ini tidak ada alat detektor logam. TIITTTT. dan benar saja, pintu ini berbunyi, tepat saat aku melewatinya, aku pun kembali ditarik keluar ruangan, diperiksa, dan setelah di cek kembali ternyata ikat pinggang ku mengandung logam, akupun mencoba bernegosiasi dengan mereka, berdalih bahwa celanaku akan merosot saat tidak memakai ikat pinggang, dan setelah mereka mengecek kembali ikat pinggangku sepertinya aman, mereka pun mengijinkan aku masuk dengan bunyi berisik dari pintu detektor itu, semua orang yang sudah berada di dalam ruang makan memperhatikanku,menatap curiga, aku pun langsung menunjuk ikat pinggangku, memberitahu mereka bahwa aku tidak membawa senjata api, dan yg menyebabkan pintu itu berbunyi ini, ikat pinggangku. dengan gerakan tangan tentunya. aku mulai mengitari ruang makan, berpura pura mencari kursi kosong, memperhatikan keadaan sekitar. sebenarnya aku sudah tau dimana akan duduk setelah memasuki ruangan ini, hanya saja aku ingin memastikan, berputar putar mencari celah. 14 meja didepan panggung untuk para bangsawan, 120 meja untuk para tamu undangan di belakang, dipisahkan oleh rantai. aku masih berkeliling, mengambil minuman dari pelayan yang sedang berjalan jalan, "terimakasih" ucapku sambil tersenyum manis, mencoba mencairkan suasana. aku masih berdiri memperhatikan keadaan sekitar. baru ada 7 bangsawan yang sudah berada diatas meja, itu berarti tersisa setengahnya ynag belum datang ke ruang makan ini. mereka berbicara hangat selayaknya para bangsawan didepan orang orang, padahal saling ingin membunuh satu sama lain ketika tidak terlihat oleh publik. "cihh, sungguh kesenjangan sosial yang sangat terlihat", ucap seseorang yang sedang berdiri meminum sampanye disebelahku, aku tidak menyadari kehadirannya, apakah itu karna aku terlalu fokus memperhatikan keadaan sekitar sehingga lengah. "maaf", lanjutnya sambil mengulurkan tangan, "aku tedi, tamu undangan juga, sama sepertimu". ucapnya. perawakannya gagah, matanya tajam, aku bisa melihatnya walaupun dia memakai kacamata, rambutnya pendek, tebal, seperti gaya orang kantoran, genggamannya kuat, dia tidak seperti tamu undangan biasanya, dan heii darimana dia tau aku juga merupakan tamu undangan. "aku jeje, tamu undangan juga, sama sepertimu", jawabku. "apakah aku mengenalmu?", lanjutku, "ah sepertinya tidak", ucapnya sembari mengayunkan tangannya, "seseorang pernah bilang kepadaku, bahwa sebelum kita dilahirkan ke dunia ini kita diperlihatkan seluruh kehidupan kita sampai kita mati, itu sebabnya jika kau berkenalan dengan orang baru kau akan merasa tidak asing dengan wajahnya, padahal, itu merupakan kilas balik, penglihatan sebelum kau dilahirkan", lanjutnya sembari menatap kedepan dan meminum sampanye, "oh maap, sepertinya aku sudah harus berada di meja", ucapnya. dan setelah kuperhatikan kemana dia melihat, seorang perempuan sedang menatapnya dan menyuruhny untuk segera duduk dengan gerakan tangan, "nanti kita akan bertemu lagi", lanjut nya. aku mengerti, dia bersama wanita itu. akupun langsung berjalan ke arah meja yang sudah kutandai sedari masuk ke ruangan ini tadi, beruntung meja itu belum ada yang menempati, masih kosong, meja ini berada di ujung, dan strategis menurut ku karna dari sudut ini aku bisa melihat keseluruhan ruang makan, dan lumayan cukup jauh dari penjaga tentunya. dan beberapa detik setelah aku duduk, seseorang berdiri menyampaikan kabar diatas panggung sana, "p-permisi mohon maaf mengganggu aktivitas nya sebentar", seorang perempuan berbicara membawa secarik kertas, tubuhnya gemetar, wajahnya pucat, dia bukan mc pembawa acara, pakaian nya lebih mirip seperti pelayan kapal yang dikenakan oleh dewi. tiba tiba pintu masuk dan keluar ditutup. heii ada apa, gumamku sembari menoleh memperhatikan keadaan sekitar, mejanya belum penuh, para bangsawan pun belum berkumpul di mejanya masing masing, masih ada satu yang kosong, para tamu undangan kebingungan, para penjaga mencoba mengamankan keadaan dengan mencoba menenangkan para tamu undangan, sebagian nya berjaga di pintu masuk dan keluar. "sial, apa yang sedang terjadi", gumamku.


__ADS_2