How Your Garden Grows

How Your Garden Grows
sosok misterius di dalam hutan


__ADS_3

"si-siapa kau?" ucap sang putra mahkota kebingungan. ia menjauhkan badannya dari kawanan monyet, tidak bisa lebih jauh lagi karna terhalang oleh batang pohon yang besar. "pergilah!!" teriaknya terengah engah, matanya masih berkaca kaca, ia sangat ketakutan. ia benar benar kebingungan dengan apa yang sedang terjadi. ia baru saja dibuang dari istana, dan sekarang ia melihat monyet monyet ini bisa berbicara. "tenangkan dirimu nak" ucap pimpinan monyet. ia mulai mendekati putra mahkota, dan duduk dihadapannya. "aku mengerti nak, kau mungkin ketakutan dengan keberadaan kami, tapi ketauilah, kami disini untuk menyelamatkanmu". ucap sang pimpinan monyet sembari menjelaskan dengan kedua tangannya. mencoba bersikap ramah. "bisakah kau ikut kami sekarang?", lanjutnnya. "k-kemana?" ucap putra mahkota, ia masih ragu dengan para monyet ini. ia tidak pernah keluar istana, tidak pernah bertemu orang asing selain para prajurit dan keluarganya. "ke desa, nak", sahut salah satu kawanan monyet, "ya, kami akan mengobati lukamu disana, kau bisa tidur, makan sepuasnya, dan bermain mainan yang kau suka, kau bisa melakukan apa saja disana", sahut kawanan monyet lainnya, ia cukup antusias menjelaskan kepada sang putra mahkota. ia mulai mendekati putra mahkota, duduk dihadapannya, menjulurkan tangan, "namaku gal", ucap sang monyet itu. putra mahkota kebingungan, ragu dengan uluran tangan monyet tersebut. setelah keheningan sepersekian detik, tiba tiba sebuah tombak menancap dibatang pohon yang sedang di senderi oleh putra mahkota, tombak itu bergetar. "MUSUHH!!", para monyet berteriak, berbalik badan, mencoba melindungi putra mahkota. "dari arah timur!!", sahut salah satu kawanan monyet. wushh, monyet itupun berlari dengan sangat lincah ke arah sana. satu dua tombak dilemparkan dari arah semak tersebut, monyet yang berlari pun meliak liuk menghindari tombak, wushh wushh. melompat dari satu batang pohon ke batang pohon lainnya, saking lincahnya ia bisa menjadikan batang pohon menjadi pijakan untuk melompat, monyet itu pun melompat menuju semak semak. krusukk krusukk. suasan pun menjadi tegang. kawanan monyet lainnya pun mencoba melihat sekitar, berjaga jaga jika ada yang melemparkan tombak lagi. hanya pimpinan monyet yang tenang, ia tetap duduk dihadapan sang putra mahkota. "dia sudah lari", ucap monyet itu setelah keheningan beberapa detik. "dilihat dari jejak sepertinya mereka penjaga, sedang berkeliling di daerah ini". lanjutnya sembari keluar dari semak semak. "ya, itu menjelaskan kenapa mereka tidak berani keluar dari semak semak, mereka pengintai", ucap pimpinan monyet. pimpinan monyet pun mulai berdiri, mencoba mencabut tombak yang menempel di batang pohon, "ini tombak bangsa suki", ucap pimpinan monyet setelah ia melihat detail dari tombak itu. "kita harus segera pergi dari sini nak, percayalah padaku jika kau ingin tetap hidup" lanjutnya. dengan muka tegang sang putra mahkota menganggukan kepalanya, matanya masih berkaca kaca, ia ketakutan dengan yang baru saja terjadi.

__ADS_1


-

__ADS_1


pimpinan monyet menawarkan tumpangan di punggungnya. ia tahu bahwa kaki putra mahkota terkilir. tidak bisa berjalan. putra mahkota mengangguk pasrah. mukanya masih terlihat tegang. ia sangat ketakutan dengan yang baru saja terjadi. mereka mulai berjalan menyusuri hutan. rombongan itu terdiri dari delapan monyet dan seorang anak kecil. mereka membawa tombak. sebagian panah, berjalan selayaknya manusia. masuk kedalam hutan. menanjak. sepertinya mereka mulai menaiki bukit. "namaku dabilo, kau bisa memanggilku bil". ucap monyet yang sedang menggendong putra mahkota. berjalan sembari menengokan kepalanya. mencoba untuk mencairkan suasana. "aku komandan pasukan, yang memimpin kawanan monyet ini". lanjutnya. sang putra mahkota hanya diam dengan tatapan datar. menyenderkan kepalanya di pundak bil. tidak menjawab. bil hanya tersenyum sembari memaklumi, ia langsung bisa mengerti keadaannya. mereka berjalan cukup lama didasar hutan. sekali dua kali melompati akar pohon besar. naik turun bukit. sebagian monyet langsung berlarian dan melompat kedalam air setelah melihat sungai, mereka berenang renang selayaknya ikan, termasuk gal tentu saja. dan sebagian lainnya hanya minum dari pinggir, mengambil air dengan kedua telapak tangan lalu meminumnya. pimpinan monyet tetap berjalan menyusuri sungai. hanya melihat sekilas monyet monyet yang sedang berenang, memastikan bahwa anggotanya lengkap. putra mahkota mulai mendongak. membangunkan kepalanya dari senderan pundak bil. memperhatikan monyet monyet yang sedang berenang. tersenyum kecil setelah melihat mereka bercanda. lalu melihat keaadaan sekitar. didepan sana terdapat air terjun yang sangat tinggi, airnya deras, mengalir dari atas, terjun kebawah menghantam bebatuan, sebagian monyet yang berenang langsung naik ke permukaan, mereka basah kuyup, terlihat segar setelah perjalanan panjang. "kita sudah sampai nak", ucap pimpinan monyet sembari mendongak, dia melihat air terjun itu dengan perasaan lega. seperti seseorang yang baru saja pulang ke rumahnya setelah perjalanan yang sangat lama. mereka menyusuri sungai. masuk kebelakang air terjun. disana terdapat sebuah lubang. gelap. seperti pintu masuk. pencahayaan mereka hanya obor yang ditempel di dinding gua. dan diujung gua sama terdapat cahaya. mereka pun mulai memasuki cahaya. dan ketika mereka keluar dari dalam sana putra mahkota tercengang, matanya berbinar binar, seperti hidup kembali, penuh cahaya. putra mahkota tertawa kecil, seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "selamat datang di rumah nak" ucap bil ketika menyadari bahwa putra mahkota tertawa kecil. pintu keluar gua tersebut berada diatas tebing. sehingga mereka bisa melihat keseluruhanan yang ada disana. hutan hutan yang subur, hijau sejauh mata memandang. sungai sungai yang besar dengan air yang jernih, bukit bukit yang ditumbuhi oleh pepohonan yang rindang. juga istana megah, yang berada diujung sana.

__ADS_1


-

__ADS_1


matahari mulai tenggelam, terlihat pemandangan yang sangat indah dari atas. sejuk. memanjakan mata. "keren..." ucap gal, matanya berbinar binar, ia seperti akan meleleh melihat pemandangan yang memanjakan mata. "kau mengatakan itu setiap kali kita disini", ucap salah satu kawanan monyet. badannya yang paling besar diantara kawanan monyet lainnya. "selamat datang komandan", ucap salah satu monyet yang sedari tadi berada diatas tebing itu. berjalan mendekati bil. dan memberi hormat. "dan diaa.." ucap monyet itu sembari melihat dan menatap putra mahkota. monyet itu langsung membungkukan badannya. seakan segan dengan anak kecil yang sedang berada di punggung bil. putra mahkota terheran. bil hanya mengangguk. "kakinya terkilir, dia harus segera diobati". ucap bil kepada penjaga itu. mereka pun mulai berjalan, menaiki alat yang dijaga oleh monyet itu. seperti lift. tetapi dari kayu. dan digerakan oleh penjaga. "pegangan nak, kita akan turun". ucap bil sembari menengokan kepalanya. putra mahkota mengangguk. mengeratkan pegangannya. dan tersenyum. mereka sudah sampai di dasat hutan. tetapi hutan yang ini beda, seperti terawat, pohonnya rindang, buah buhanan bergelantungan. mereka mulai memasuki hutan itu. "kau lapar?", tanya bil. putra mahkota tidak menjawab, hanya menggelengkan kepala sembari melihat pohon pohon yang subur. matanya berbinar binar. "belioo" teriak bil dengan nada rendah sembari menengokan kepalanya ke kanan. "hmm", jawab salah satu monyet dibelakang sana. wush. salah satu monyet langsung melompat ke atas pohon, ia sudah mengerti dengan panggilan itu. krusuk krusuk. brukk. "kau mau ini nak?", salah satu kawanan monyet menawarkan buah buahan setelah turun dari atas pohon sana. para rombongan tetap berjalan. putra mahkota menggelengkan kepala, ia tidak nafsu makan. "makanlah, untuk mengganjal perutmu, setidaknya agar kau tidak pingsan", ucap monyet itu, menyodorkan tangannya yang dipenuhi oleh buah buahan. putra mahkota tetap menggeleng, lalu memalingkan wajahnya. monyet yang menawarkan makanan itupun memakan buah buahannya sendiri. "makanlah nak, mukamu tampak pucat". sahut sang pimpinan monyet, ia menengokan kepalanya sembari berjalan. putra mahkota tetap diam lalu menyenderkan kepalanya di pundak pimpinan monyet itu. "hei masih ingat namaku?", ucap salah satu monyet, ia berlari lari kecil ke depan, sekarang posisinya sejajar dengan putra mahkota yang sedang digendong. "gal", ucap putra mahkota datar. "heii dia ingat namaku" ucap gal kepada kawanan monyet sembari menunjuk mukanya. "tentu saja dia ingat, bodoh", ucap monyet yang sedari tadi menawarkan buah buahan. "kau menyanyikan namamu sendiri selama kita berjalan", lanjutnya sembari memakan buah buahan. gal menatap wajah belio dengan tatapan tajam, "setidaknya dia ingat aku, bodoh, tidak seperti kau?" ucap gal dengan mendekatkan wajahnya sembari menunjuk nunjuk belio. "dia pasti ingat aku, badanku yang paling besar disini" ucap belio dengan mulut yang dipenuhi oleh buah buahan. sang putra mahkota kembali tersenyum, ia pun mulai nenberanikan diri untuk bertanya, "kita akan kemana?" ucap sang putra mahkota. ia seperti tidak perduli akan dibawa kemana, ditambah lagi ia tidak bisa berjalan. kakinya pincang. ia digendong oleh pimpinan monyet. mereka berjalan menyusuri hutan, tidak bergelantungan di atas pohon. "pulang, nak" ucap pimpinan monyet singkat. mereka berjalan didasar hutan, melewati pohon pohon. mulai menanjak menaiki bukit. matahari mulai tenggelam. menampilkan siluet kawanan monyet yang membawa tombak dan panah, juga seorang anak kecil yang sedang digendong. mereka seperti berjalan menuju matahari.

__ADS_1


__ADS_2