
setibanya di pelabuhan kami langsung menjauhi kerumunan. mencari celah agar tidak ada yang mengetahui identitas kami. kepala penjaga langsung dikerumuni oleh wartawan yang awalnya akan meliput berita tentang kehadiran para bangsawan. tetapi berubah alur, para wartawan sekarang sedang meliput berita tentang kematian para bangsawan. aku dan dewi tetap berjalan melewati kerumunan. menyelip diantara isak tangis orang orang yang mendengar kabar kematian para bangsawan. ada banyak orang di pelabuhan. isak tangisnya tidak terkontrol oleh penjaga. aku sudah berada di luar dermaga. menoleh kekanan dan kekiri, mencari mobil sedan berwarna hitam milik temanku. dia bilang sudah menungguku di dermaga setengah jam yang lalu. menggunakan sedan hitam. tapi heii lihatlah. hampir semua mobil yang merapa di bibir jalan merupakan sedan hitam. "hei monyet". seseorang berteriak dari sebrang sana. dia memakai topi cowboy dengan kacamata hitam. jaket coklat dan celana cream. juga pantofel coklat. dia seperti orang desa yang sedang merokok sembari bersender di mobil mewah milik orang lain untuk menggoda wanita yang melewati jalan itu. dia melambaikan tangan kearahku. "toni", aku membalas teriakan itu. ternyata dia temanku. aku sudah lama tidak bertemu dengannya. dan dia tidak berubah sedikitpun, mungkin hanya tingginya bertambah 2 centi. pakaiannya dan sikapnya tetap sama. aku menyebrang jalan menghampirinya, diikuti oleh dewi yang tidak banyak bicara sedari tadi. "monyett aku merindukanmu, sungguh" toni memeluk ku erat erat. menepak nepakan tangannya di pundaku. aku balas memeluknya hangat. "kau tidak berubah toni". balasku sembari melepaskan pelukan. "dan heii jeje kenapa kau tidak memberi tahuku bahwa kau bersama wanita cantik". toni menyela sembari membuka kacamatanya. dia mengulurkan tangannya kepada dewi. "diamlah toni aku sedang tidak ingin menembak seseorang". dewi menjawab dengan wajah datar. masih menyilangkan tangannya di dada. dia sepertinya masih kesal dengan kejadian di kapal tadi. toni reflek menarik tangannya kembali. "santailah sejenak dewi kau sedang berada di kotaku sekarang". dia mundur perlahan sembari mengangkat kedua tangannya. kami bertiga sudah lama saling kenal. aku mengenal toni saat dalam pelarian. toni dan dewi mengenal saat dalam penyerangan. ceritanya panjang. kami mulai menaiki mobil. mobil ini mulai masuk ke lalu lintas padat. macet. riuh dengan klakson mobil yang tidak sabaran. tidak biasanya. mungkin karna berita para bangsawan menyebar begitu cepat. orang orang berlarian. garis kuning dipasang disepanjang dermaga. para penjaga disana kewalahan untuk menenangkan warga. dewi memalingkan wajahnya dariku. mukanya masam. ia sepertinya masih kesal kepadaku. aku merebut dan merusak mainannya. dia membuat bom dan ingin mencobanya di dalam kapal. "aku turut berduka cita jeje". toni berbicara iba. mencoba mencairkan suasana. dia sepertinya simpati kepadaku setelah aku menceritakan kejadian yang sebenernya. "aku bukan keluarga kerajaan, tidak ada yang perlu dikasihani di dalam mobil ini". balasku datar. menatap kemacetan jalan. kata kataku sama persis dengan apa yang kepala penjaga ucapkan. jalanan macet. riuh klakson terdengar di sepanjang jalan. mobil yang kami tumpangi hanya berjalan sekitar 10 detik sekali dengan jarak 2 meter. dewi tiba tiba membuka kaca jendela mobil. "HEII BERISIKKK!!". tiba tiba jalanan hening. tidak ada lagi suara berisik klakson dari orang yang tidak sabaran. dia berteriak keras. urat uratnya terlihat. cukup kesal sepertinya dengan kemacetan ini. dia kembali menutup kaca mobil. 10 detik lengang. tiba tiba riuh klakson terdengar kembali diluar sana. sekarang dewi tidak lagi membuka kaca mobil, melainkan pintunya. ia keluar dari mobil dan kembali meneriaki orang orang dijalanan. orang orang hanya menatapnya heran. menyangka bahwa dewi merupakan orang gila. dewi masih bersulut sulut disana. aku dan toni hanya tertawa melihat tingkah nya dari dalam mobil yang terjebak macet.
dua jam berlalu. kami sudah hampir tiba di tujuan. tujuan kami merupakan sebuah rumah di tengah perkebunan luas. kami mulai memasuki gerbang perkebunan. mobil kami berhenti sejenak. ada penjaga disana. penjaga itu langsung membuka palang pintu setelah mengetahui bahwa yang ingin lewat merupakan pemilik kebun itu sendiri. kebun sejauh mata memandang ini merupakan milik toni. dia teman lamaku. ceritanya panjang bagaimana aku bisa berteman dengannya. singkatnya. aku bertemu dia dimedan pertempuran. waktu itu tidak ada cara lain bagi kita agar bisa selamat selain bekerja sama. kami bekerja sama dan berhasil melarikan diri. kami berlari selama tujuh hari tujuh malam dari area musuh. melewati pegunungan. hutan. sungai. limbah. saling melindungi agar bisa bertahan hidup. hingga akhirnya kami selamat. dan berteman. toni sendiri yang memutuskan untuk menjemputku padahal dia bisa saja menyuruh penjaganya untuk menjemput seorang temannya di dermaga. tapi dia mengurungkan niat setelah mengetahui yang akan dijemput itu merupakan teman sepelariannya. aku sudah menganggap nya sebagai kakak ku sendiri. mobil yang kami tumpangi melewati jalanan tanah. debu bermunculan ketika mobil melewati jalanan ini. kebun ini cukup luas. terdapat dua hektar tanaman padi yang mengelilingi rumah tersebut. rumah tersebut cukup nyaman untuk dijadikan tempat peristirahatan. dewi terlelap sedari tadi. mungkin dia sudah lelah memaki maki orang disepanjang jalan. mobil mulai memasuki halaman rumah. ban nya mulai menginjak rumput. aku membangunkan dewi. dia hanya menggeram, menandakn bahwa tidak ingin diganggu. aku membuka pintu mobil. menginjak rumputsetengah basah. suasananya sangat berbeda disini. udaranya bersih. cukup nyaman untuk dihirup. ada kolam berenang disana. juga tempat berteduh. juga ayunan. rumah ini terbuat dari bata. tidak di cat ulang. sepertinya dia mempunyai selera orang tua kuno. bangunan ini lebih mirip terlihat seperti istana daripada rumah. "bukankah sudah kubilang bangunkan aku saat kita sudah sampai". dewi berbicara dari sebrang mobil sana. baru bangun dari tidur lelapnya. dia menguap. dan menggaruk rambutnya yang berantakan. berjalan diatas rumput. menaiki tangga kayu yang menuju pintu. "kemarilah jeje, kau seperti orang tua kuno". toni berbicara dari depan pintu. aku mengangguk. dewi memasuki rumah itu tanpa memperdulikan toni. jalannya seperti zombie. aku mulai melangkah. mengahampirinya. simpan dulu untuk lihat lihat kawasan nyaman ini. aku harus segera membuat rencana agar tidak terjadi chaos. aku mulai melangkah menghampiri toni. menaiki tangga kayu. masuk kedalam rumah. sial. rumah ini bagus sekali. ada sofa disana. api unggun. kulit harimau dilantai. hiasan kapak di dinding dinding kayu. rak buku. "heii dewi kamarmu diatas!!". toni berteriak kesal sembari mengepalkn tangannya. dewi baru saja masuk kamar sembarang. sepertinya itu merupakan kamar pribadi toni. dia hanya melihat pintu lalu membukanya. dan ketika ia melihat ada kasur dikamar tersebut. dia langsung akan merebahkan badannya disana. aku hanya terkekeh melihat tingkah mereka berdua. toni memijit mijit keningnya. menghela napas. "kamarmu disana jeje" toni menunjuk sebuah pintu di ujung kiri. "anggap saja rumah sendiri". lanjutnya. aku menganggukan kepala.