
Seorang anak kecil yang tidak pernah kekurangan apa apa, dia tinggal di sebuah kastil istana, istana yang megah. didalam kastil, hiduplah sang putra mahkota, hidup bahagia bersama saudara saudaranya, disayang oleh seluruh isi istana, terurama sang ratu, ibunya. sang ratu yang selalu mengerti keadaannya, titahnya selalu dituruti, perintahnya selalu dilaksanakan, dan ucapannya selalu diiyakan. dia tidak pernah kekurngan apa apa, dia punya segalanya. terutama sang ratu, ibunya. sang ratu selalu menemaninya bermain, sering kali tersenyum bahagia saat sang putra mahkota dengan sukarela memasak, hampir setiap hari sang putra mahkota memasak, dan hampir seluruh isi istana tahu bahwa makanan sang putra mahkota selalu menjijikan, bahkan tidak layak untuk dikonsumsi, tapi sang ratu selalu menyukai masakannya, bahkan selalu meminta lebih kepada sang putra mahkota dengan senyum bahagia. tetapi berbeda dengan sang raja.
"kita sudah tidak butuh koki lagi di istana" sang raja tidak suka jika sang penerus tahta hanya bisa memasak, sang raja ingin prajurit kuat, tangguh, bijaksana, berwibawa. sosok sempurna yang akan memimpin kerajaan. sang raja sempat melarang putra mahkota untuk bermain main di dapur, sang raja takut putra mahkota tidak bisa membawa kerajaan ke masa jaya. "anak kita bukan alat", sang ratu selalu membela putra mahkota, sang ratu tidak punya ambisi untuk menguasai dunia, yang sang ratu inginkan hanyalah keharmonisan di dalam kerajaan kecilnya.
-
__ADS_1
satu waktu sebelum musim paceklik panjang, ada seseorang terdampar di sebuah pantai dekat salah satu desa, para nelayan yg baru pulang berlayar melihatnya, awalnya mereka mengira itu adalah anjing laut, setelah didekati dengan hati hati, barulah mereka menyadari bahwa itu seorang manusia, tergeletak seperti tidak bernyawa, kotor, basah, seolah olah diantarkan oleh air laut kepada warga untuk dikuburkan. para nelayan yang melihat kejadian itu bingung tidak tahu harus apa, karna dari perawakaanya tidak ada yang mengenali dia siapa, mereka takut melanggar titah raja, "semua yang berhubungan/berkaitan dengan orang suki akan mati tanpa aba aba". titah raja adalah mutlak. hingga terlihatlah oleh dua orang prajurit yang sedang berjaga didekat pantai, "hei sedang apa kalian!!". para prajurit berjalan mendekati nelayan, nelayan menoleh, menyadari yang berteriak itu prajurit mereka lari terbirit birit, "tidak perlu dikejar, dilihat dari penampilannya mereka hanya nelayan", prajurit mengurungkan niat untuk menegejarnya "yang ini lebih penting", sambil menoleh kebawah, prajurit menyadari ada seseorang yang sedang tergeletak, seperti sudah tak bernyawa.
"aku tidak ingin sepatuku basah oleh air laut", salah satu prajurit menyeratnya ke tempat yang lebih kering, meninggalkan jejak tubuh diatas pasir. prajurit membalikan badan yg basah oleh air laut, "wajahnya mencurigakan", sahut salah satu prajurit. "hampir seluruh wajahnya ditutupi oleh pasir, bodoh", salah satu prajurit mengambil air laut lalu menyiramnya ke seluruh bagian muka, dan ketika hendak mengecek apakah urat nadinya masih berfungsi atau tidak, salah satu prajurit yg sedang mengamati bagian tubuhnya menyadari ada tanda di kaki kirinya, dan setelah didekati dan dilihat lebih jeli, "orang suki, bunuh dia, tidak perduli apakah urat nadinya masih berfungsi atau tidak" dikeluarkan sebilah pedang, diacungkannya pedang itu, berkilau, seperti mata singa yang siap untuk berburu mangsanya. dan ketika tajamnya pedang akan sampai di batang tenggorokan seseorang yang seperti sudah tak bernyawa, tiba tiba terdengar suara nyaring wanita, "hei, tunggu dulu", wanita itu berlarian terengah engah di pesisir pantai mendekati prajurit, rambutnya berterbangan, seolah olah sedang dimainkan oleh angin, gaun nya terurai, biru berkilau, seperti mutiara yg muncul dari laut terdalam. para prajurit terengah, lalu membungkukan badan, "kenpa sang ratu sampai repot repot datang kemari". rupanya kabar seseorang yang tergeletak seperti tak bernyawa sudah sampai kepada istana, salah satu nelayan langsung berlarian melaporkan kejadian itu kepada istana setelah mengetahui bahwa yg tergeletak itu bukan anjing laut, melainkan manusia asing.
-
__ADS_1
mendengar kabar itu sang raja menyuruh para prajurit nya untuk kembali, "palsukan kematiannya, bilang kepada warga bahwa telah terjadi kesalahan di dapur istana yg menyebabkan setengah istana hangus". mata sang raja berkaca kaca, "dan api itu telah melahap sang putra mahkota", ia tidak siap mengeluarkan air matanya, dengan sigap sang raja membalikan badannya, tiba tiba terdengar bisikan halus di telinganya, "jangan menangis suamiku, bumi ini haram menerima tetes air mata sang raja", suaranya jelas, nyaring dan anggun, suara lembut nan syahdu yang selalu menemani perjuangan sang raja, suara yang akan selalu menggema diseluruh istana, bahkan suara jangkrik pun akan terdiam jika sudah mendengar suaranya. "apakah orang mati juga bisa berbicara?" suara sang raja parau, terdengar jelas bahwa akan ada sesuatu yang meledak dari dalam istana, sang raja sudah tidak kuasa menahan air yang ada didalam kantung mata, iapun menangis. prajurit yang mendengar itupun langsung membalikan badan, meneteskan air mata, tak kuasa melihat sang raja menderita. hingga beberapa menit berlalu sang raja berkata "putra mahkota terlalu dimanjakan oleh keadaan, biarlah dia menjadi hidup di alam liar sana, dia akan menerima pelajaran, pelajaran yang hanya bisa didapat dari berlari, larilah putra mahkota", tangis sang raja terisak, ia menutup mata matanya, mencoba menahan air yang memaksa keluar, tetapi usaha sang raja sia sia, tetap saja, mata selalu bisa menjelaskan apa yang dirasa, air matanya memaksa keluar dari sela sela jari. mendengar itu para prajurit pun merengek seperti bayi, pesta air mata untuk yang kesekian kalinya terjadi lagi di dalam istana.
-
tak lama setelah kematian sang ratu, kabar duka lainnya pun menuyusul, seakan akan karma sang raja dimasa lalu menghampirinya satu persatu, datang tanpa aba aba, sang raja menderita, tak lama setelah kehilangan sang ratu, sang rajapun kehilangan sang putra, si pewaris tahta, para prajurit iba dengan keadaan sang raja, sebulan lebih sang raja hanya mengurung diri dikamar, menatap dinding kosong, sesekali menatap cahaya yang memaksa masuk dari luar jendala, sang raja sudah tidak punya tenaga untuk melakukan apa apa, semua kekuatannya seakan direnggut secara paksa oleh karma.
__ADS_1