How Your Garden Grows

How Your Garden Grows
melompat ke laut


__ADS_3

Kapal masih berlayar di atas lautan. didorong oleh angin malam yang kencang. ombak seakan membantu arah laju kapal. BYURR. hari sudah mulai gelap. bulan terlihat bersinar diatas sana. bulat. memantulkan cahayanya. dinginnya angin menembus kulit. didalam kapal, riuh teriakan para tamu undangan memekikan telinga. terdengar oleh seluruh isi kapal, telah terjadi penembakan di lorong pintu keluar ruang makan. DORR!! DORR!! DORR!!. mata para penjaga awas. bersiaga. segera mencabut pistol dari sakunya. bersiap atas apa yang sedang terjadi di lorong pintu keluar. sebagian penjaga merangsek mendekati pintu keluar. mengendap ngendap. sebagian lainnya mencoba melindungi para tamu undangan yang sedang berteriak ketakuan. HEII ADA APA DISANA!!. teriak salah satu penjaga. tidak ada jawaban dari lorong. pintunya dikunci dari luar sana. para penjagapun berinisiatif untuk mendobrak pintu. BRUKK!!. pintu tak kunjung terbuka. HEII JAWAB. ADA APA DIDALAM SANA!!. tak kunjung ada jawaban. seseorang telah mengunci pintu ini dari luar. carikan alat berat. kita akan mendobrak pintu ini. ucap salah satu penjaga.


"JANGAN MENDEKAT JIKA KALIAN TIDAK INGIN PIMPINAN KALIAN MATI!!". dewi berteriak memerintah. mereka masih berada di ruang introgasi. terpojok. menodong pimpinan kepala penjaga. dewi maju dengan hati hati. membawa kepala penjaga. kepala penjaga pasrah mengikuti gerakan dewi. aku mengikutinya. "MUNDUR KALIAN!!". dewi berteriak. kami jalan  perlahan sembari membawa tawanan. situasinya sudah rumit. aku berpikir cepat. nafasku menderu. kesalah pahaman ini sudah kunjung menjalar. tidak ada jalan lain selain melarikan diri. para penjaga berjalan mundur dengan ragu, mereka tetap menodongkan senjatanya kearah kami. mereka mulai keluar dari ruangan introgasi satu persatu. berjalan mundur. tetap menodongkan pistolnya kearah kami. aku dan dewi berjalan dengan hati hati. mulai keluar dari ruang introgasi. kami sudah berada di lorong. perlahan berjalan mundur menjauhi ruang makan. "MUNDURR ATAU KULEDAKAN KEPALANYA!!". teriak dewi ketika para penjaga mulai mendekatinya. ia memegang pistolnya lebih erat. kami tetap berjalan mundur. disela sela kesibukan kami melarikan diri dengan membawa tawanan tiba tiba terdengar suara tembakan entah dari mana. DORR!! DORR!!. DORR!! DORR!! DORR!!. suaranya tidak terlalu jelas. tapi terdengar oleh hampir diseluruh isi kapal. aku tersentak. para penjaga pun terheran. dewi belum menarik pelatuknya. kepala penjaga masih baik baik saja. aku menatap dewi satu sama lain. mata kami seakan bertanya; kau tidak menembak tawananmu kan?. riuh para tamu undangan yang sudah mulai mereda pun kembali terdengar. memekakan telinga. suara tembakan itu entah darimana. nafasku menderu. aku berpikir cepat dan teringat satu hal. sial bukan ini rencananya. aku melemparkan tahanan. tidak jadi melarikan diri. dewi menoleh keheranan. "DIMANA KALIAN MENYIMPAN PARA BANGSAWAN!!". aku berteriak sembari berjalan mendekati penjaga yang sedang menodongku. mereka ragu ragu menembak. terheran oleh sikapku yang berani mendekati pistol yang ditodongkan. dewi mengikutiku melemparkan kepala penjaga. dia langsung mengerti apa yang sedang terjadi. "BODOH DIMANA KALIAN MENGAMANKAN PARA BANGSAWAN!!. urat lehernya terlihat. dia berteriak dengan keras sembari mengikutiku mendekati para penjaga. para penjaga menatap satu sama lainnya. terheran oleh sikap kami. dewi menarik kerah salah satu penjaga. "DIMAN.. ". "di dek lima". seseorang berbicara dari arah belakang sana. memotong kalimat dewi. ternyata itu kepala penjaga. terbatuk. memegang lehernya kesakitan karna dijadikan tawanan oleh dewi. ia mencoba bangun. "dekat ruangan juru kemudi". lanjut kepala penjaga. tanpa berpikir panjang aku langsung berlari meninggalkan para penjaga yang sedang menodongku. dewi langsung mengikutiku. "tahan tembakan, ikuti mereka". kepala penjaga mengangkat tangan. memerintah. dia langsung mengerti dengan situasinnya. aku berlarian di lorong. diikuti oleh dewi. juga para penjaga dibelakang sana. berbelok ke kanan. kiri. kanan lagi. menaiki tangga. aku sudah hafal seluruh isi kapal karna informasi yang sali berikan. dewi dan para penjaga tetap mengikuti ku berlari dari belakang sana. seperti ekor yang mengikuti kepala. aku menaiki tangga darurat. tangga ini lebih cepat untuk sampai di dek lima. aku berlarian menaiki tangga. diikuti oleh para penjaga. bruk bruk bruk bruk bruk bruk. nafasku menderu. memikirkan nasib para bangsawan. tangga ini hanya muat untuk satu orang. kami berbaris menaiki tangga. aku mulai melihat pintu keluarnya. mulai mendekati pintu. tanganku terulur, ingin memegang gagang pintu. BRAKK!!. tiba tiba pintu itu melayang kearahku. meninggalkan engselnya. seperti ada yang menendangnya dengan keras dari luar sana. BRUGG!!. pintu itu mengenai tubuhku. aku terpelanting jatuh kebawah. BRUGG!!. menimpa dewi. dewi ikut terpelanting kebawah. BRUGG!!. menimpa para penjaga. kami tersungkur ditangga. sial!!. gumamku. "BODOH!!, BISAKAH KAU LIAT LIAT SAAT AKAN TERJATUH!!". dewi berteriak kesal. memaki. tubuhnya tertimpa olehku. aku langsung bangun. kembali berlari menaiki tangga. "DAN SEDANG APA KALIAN DISANA BODOHH!!, KEJAR ORANG ITU!!", sekarang dewi meneriaki para penjaga. memaki kesal. ia masih tersungkur dibawah sana. aku menghiraukan ocehan dewi. tetap berlari menaiki tangga. menuju pintu. pintu itu sudah terbuka. sudah rusak lebih tepatnya. aku mengendap ngendap. berjaga jaga jika ada serangan mendadak seperti tadi. menoleh kekanan dan kekiri. ada seseorang berlarian di ujung lorong sana, berbelok ke kanan. dia menuju pintu geladak kapal. sial!!. aku berlari mengejarnya. nafasku menderu. terengah engah. kepalaku masih sakit terkena benturan pintu. aku menghiraukannya. ketika sudah berada diujung lorong aku mengendap ngendap dari balik dinding. memastikan situasi. aman. pintu geladak kapal terbuka. angin malam yang dingin masuk ke lorong lorong. aku mengendap ngendap. berjaga. agar tidak terkena serangan dadakan seperti tadi. menoleh kekanan dan kekiri. geladak kapal lengang. menyisakan gemuruh ombak yang terdengar lantang. BYURR. diujung geladak sana ada orang berlarian. "HEII BERHENTI!!". aku berteriak sembari menodongkan pistol. tetapi orang itu tidak mendengarkan. tetap berlari. orang itu tiba tiba melompat ke ke laut. merentangkan tangannya. aku tersentak kaget. apa yang dia lakukan. gemuruh ombak terdengar lantang. BYURR!!. bodoh, apakah dia sedang bunuh diri. aku sontak berlari ke ujung sana. terengah engah. melihat ke lautan lepas dari balik pagar. pagar itu tingginya hanya kurang dari satu meter. tapi orang bodoh mana yang mau melompat dari atas geladak kapal saat ombak terdengar lantang. aku mencoba melihat lebih teliti. mengamati lautan lepas. tidak ada tanda tanda dari orang itu. kemana dia. apakah dia sudah mati?. tenggelam? atau sebenarnya dia melompat kebawah kapal?. aku berpikir cepat. mengira ngira. aku masih terengah engah. tidak percaya dengan apa yang kulihat. dari belakang sana terdengar langkah kaki berlarian. terengah engah. ternyata itu dewi dan para penjaga. berlari mendekati. "HEI JEJE!!". itu suara dewi. berlarian mendekatiku. terengah engah. "kau belum menembaknya kan, kemana dia, biar aku yang meledakan kepalanya". kalimatnya terpotong potong. terengah engah karna berlarian mengejarku. "dia melompatkan dirinya ke laut" ucapku dengan wajah datar. terengah engah. masih memegang pagar dengan pistol ditangan. menatap lautan lepas. BYURR. suara ombak masih terdengar. "hah, kau melemparkannya ke laut. bodoh, sekarang kita tidak bisa mendapatkan informasi apapun dari..". "dia bunuh diri dewi." aku cepat memotong kalimat dewi. suara kami masih terngah engah. terpotong potong. dewi menatapku heran. seakan tidak percaya dengan kalimatku. dia membalikan badannya. duduk sembarangan sembari menyenderkan badannya di pagar. masih terengah engah. kecapekan. "kau tidak berbohong kan?". dewi menengadahkan wajahnya. masih terduduk lemas di lantai geladak kapal. aku menghiraukannya. masih berdiri menatap lautan lepas. BYURR. "bagaimana nasib para bangsawan?". aku bertanya dengan tatapan datar. masih sedikit terngah engah. "habis tidak tersisa". seseorang berbicara dari belakang sana. membelah kerumunan para penjaga. ternyata itu kepala penjaga. berjalan santai mendekati kami. tatapannya iba. "haruskah aku menembaknya?". kepala dewi kembali menengadah menatapku. memberikan pertanyaan retorik. aku membalikan badan. menatap kepala penjaga itu. lalu termenung menatap lantai geladak kapal. suasana lengang. menyisakan suara debur ombak yang menghantap kapal. BYURR.


__ADS_2