How Your Garden Grows

How Your Garden Grows
berlari


__ADS_3

Bulan sedang memancarkan auranya, bersinar dengan gagah diatas sana. pepohonan besar menjulang tinggi, sepertinya usia mereka sudah ratusan tahun, angin malam selalu tidak perduli siapa targetnya, ia akan selalu memaksa orang orang untuk menarik selimut ketika tertidur diatas kasur. dan dibawah terangnya bulan dan dinginnya malam sang putra mahkota terus berlari diantara pepohonan, masuk ke hutan lebih dalam, ditemani isak tangisnya, entah sudah berapa jam ia berlari. ia tidak berhenti, yang ada dipikirannya hanya berlari, ia tidak perduli, padahal banyak hewan buas didalam hutan ini. satunya satunya pencahayaan adalah terang bulan yang memaksa masuk melalui celah celah dedaunan, satu satunya suara yang ia kenali adalah tangisnya sendiri, terengah engah, satu dua kali dia terjatuh karna akar pohon, tidak punya tujuan dia harus kemana, tidak punya alasan kenapa dia harus hidup lebih lama, satu satunya alasan dia hidup adalah ibunya, sang ratu, yang telah lebih dulu meninggalkannya. sang putra mahkota terus berlari, tidak memperdulikan keadaan sekitar, tidak memperdulikan bahwa dia sedang berada di alam liar. BRUKK, dia terjatuh, meringkuk diatas tanah, kakinya terkilir, tetapi dia tetap memaksakan bangun, berlari menyusuri hutan dengan kaki pincang, terengah engah, "tidak ada yang lebih sakit dari kehilangan alasan hidup", bantahnya sambil menyeka air mata, dia sudah tidak bisa merasakan sakit fisik, tubuhnya sudah pucat, diterjang buas angin malam, TRAKK, BRUKK, dia menginjak sisi jurang, terjatuh kebawah sana, menggelinding seperti batu, dia terjatuh untuk yang kesekian kali, tertidur di atas tanah, disamping pepohonan, dan diselimuti oleh dedaunan, penglihatannya sudah kabur, iapun mulai tidak sadarkan diri. hal terakhir yang ia lihat hanyalah sebatang pohon besar yang menjulang tinggi.

__ADS_1


-

__ADS_1


kawasan hutan yang dimasuki sang putra mahkota adalah hutan terlarang yang tidak boleh dimasuki oleh siapapun, bahkan oleh para prajurit kerajaan, raja menyebutnya kawasan suci, tempat para dewa bersembunyi, hanya raja dan ratu yang boleh memasuki tempat itu, tiap satu bulan sekali raja memasuki tempat itu, tidak ada yang tahu, raja hanya bilang bahwa ia ingin berbicara dengan para dewa, meminta pertolongannya. warga desa hanya boleh menaruh sesembahan berupa buah buahan di bibir hutan, dan tidak ada yang berani memasukinya karna kabarnya setiap yang masuk kesana tidak akan kembali lagi ke rumahnya. dahulu pernah ada warga dari klan suki yang bermukim didekat hutan, dan diperintah raja untuk melindungi hutan itu, tetapi klan itu hilang tanpa meninggalkan jejak, seakan ditelan bumi, tidak ada satupun yang tersisa. banyak desas desus tentang klan suki, ada yang mengatakan bahwa mereka melanggar titah raja dengan memasuki hutan itu, ada yang mengatakan bahwa mereka meninggalkan desa karna diusir oleh para dewa, tetapi tidak ada yang tau pasti kenapa mereka menghilang. sebagian warga desa menyebut bahwa mereka pernah melihat orang dari dalam hutan itu ketika sedang menyimpan sesembahan di bibir hutan, "mereka berbulu, tidak memakai baju, bertingkah selayaknya hewan, membawa tombak dan akan membunuhmu ketika kau menampakan diri", ucap warga desa terengah engah ketakutan, ia melihat sosok itu didalam hutan. "itu adalah klan suki", ucap raja sembari meminum teh tanpa gula. rupanya kabar sosok seram yang berada di dalam hutan itu sudah sampai kepada istana. "mereka menjadi tidak terkendli karna memasuki hutan itu, mereka telah melanggar titah dewa". lanjutnya sembari menyeruput teh, yang dibuatkan oleh sang ratu. itulah mengapa raja mengeluarkan fatwa bahwa siapapun yang berhubungan dengan orang suki akan mati tanpa aba aba. dan tidak ada yang berani memasuki hutan itu, terkecuali hanya menaruh sesembahan di bibir hutan dan langsung lari terbirit birit.

__ADS_1


-

__ADS_1


hanya ada kawananan monyet yang sedari tadi memperhatikan gelagat sang putra mahkota dari atas pohon, menyadari anak kecil yang meringkuk itu sudah bangun kawanan monyet pun mulai menuruni pohon, berjalan mendekatinya, entah para monyet itu merasa iba kepada sang putra mahkota atau menganggap sang putra mahkota adalah mangsanya, "kita apakan dia?" tanya salah satu monyet kepada kawanan nya, "entahlah, dia masih kecil, memakannya pun tidak akan membuat kita kenyang selama satu hari". jawab salah satu monyet sembari berjalan mendekati sang putra mahkota. sang putra mahkota yang menyadari bahwa para monyet itu mulai mendekatinya langsung terbangun, ketakutan, juga terheran heran kenapa dia bisa mengerti apa yang dibicarakan monyet. "hei!!" sahut sang putra mahkota, bangun dari tempat tidur sembari mengambil ranting yang ada disampingnya, ranting itu mulai ditodongkan ke arah monyet. "a-apa, aapa yang kalian bicarakan?", sang putra mahkota terengah engah, "k-kenapa kalian bisa bicara?". lanjut sang putra mahkota, menyeka air mata yang ada di pipinya, matanya masih berkaca kaca. ia masih bingung dengan apa yang sedang terjadi. ia melihat para monyet mengerumuninya, tetapi monyet ini berbeda, tidak seperti monyet pada umumnya, dia berdiri, seperti manusia, seperti manusia yang dipenuhi bulu, sebagian membawa tombak, sebagian yang lain membawa panah. "kenapa kami bisa bicara?" jawab salah satu monyet dengan sikap meledek, "karna kami monyet nak"' lanjutnya, membuat semua kawanan monyet tertawa. "bukan kah sudah kubilang kabari aku jika anak itu sudah bangun" terdengar suara dari belakang sana, rupanya dia monyet juga, tubuhnya besar, taringnya berkilau tajam, berjalan mendekati kawanan monyet dengan 4 tangannya, gagah, dilihat dari respon kawanan monyet yang kikuk setelah dia berbicara sepertinya dia pimpinan kawanan monyet, diapun berdiri tepat didepan sang putra mahkota yang sedang duduk terheran. "sepertinya ada banyak hal yang harus kau pelajari, nak", sahut sang pimpinan monyet sembari mengambil ranting yang ditodongkan oleh putra mahkota kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2