
hari sudah gelap. matahari sudah tenggelam, pulang kerumahnya. bergantian dengan bulan yang sekarang sedang memancarkan auranya diatas sana. para penduduk desa sudah menghentikan aktivitasnya. beristirahat di kediaman nya masing masing. hanya ada para penjaga yang berkeliling. mengamankan keaadaan sekitar.
__ADS_1
putra mahkota merebahkan badannya di atas kasur. menatap langit langit dengan tatapan kosong. ia masih berkecil hati telah meninggalkan istana. ia memikirkan hal hal yang terjadi kepada nya selama dua puluh empat jam terakhir. diburu oleh para prajuritnya. berlarian ditengah hutan seorang diri. bertemu para monyet. dia benar benar tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. matanya mulai berkaca kaca. ia kembali menangis. putra mahkota langsung bangun dari tempat tidurnya, menyeka air mata. lalu menatap kearah jendela. ia sekarang sedang berada di kastil istana. bedanya ini bukan kastil miliknya. kastil ini milik para monyet. ia sungguh tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. kenapa ia bisa berada di kastil monyet. iapun mulai mendekati jendela. membukanya. hembusan angin kencang memaksa masuk kedalam kamar. putra mahkota kedinginan. tetapi ia tetap memaksa melihat keluar jendela. hijau sejauh mata memandang. ada gemerlap merah di setiap perkampungan. sepertinya itu obor yang menyala. bulan tampak bersinar diatas sana. gagah. sekilas ia teringat kenangan bersama ibunya. ibunya pernah bercerita bahwa bulan itu hidup. dan akan selalu menuntunmu ketika kau kehilangan arah. dan orang orang seperti kita. para bangsawan. ketika mati akan terbang keatas sana untuk melihat dunia yang telah ditinggalkannya. ia menatap bulan itu dengan lamat lamat. berharap ibunya sedang melihatnya dari atas sana. tidak terasa air matanya kembali menetes. iapun segera menyekanya. lalu menutup jendela. kembali merebahkan badannya diatas kasur. jalannya pincang. kakinya diperban. baru selesai diobati oleh kawanan monyet. ia masih tidak percaya para monyet bisa melakukan hal itu. selama diperjalanan matanya berbinar binar. ia melihat para monyet yang sedang bekerja di ladang. menggembala hewan ternak. bahkan ia melihat para monyet yang sedang belajar. tok tok tok. tiba tiba ada yg mengetuk pintu kamar. "bolehkah aku masuk?" ada yang berbicara diluar sana. "silahkan" jawab putra mahkota singkat. ceklekk. ngikkk. ternyata itu sang ratu. istri dari raja monyet yang tadi mengobati kakinya yang terkilir. sang ratu mendekati putra mahkota. putra mahkota tidak ketakutan, ia sudah mulai terbiasa. sang putra mahkota bangun dari tidurnya. "tidak apa apa, tidur saja, aku hanya ingin memastikan kau baik baik saja". ucap sang ratu. ia duduk di kasur. dipinggir putra mahkota yang sedang tertidur. "kenapa belum tidur?" ucap sang ratu. sang ratu menatap putra mahkota. seperti tatapan ibu kepada anaknya. putra mahkota hanya menggelengkan kepala. tidak tahu harus menjawab apa. "aku mengerti" ucap sang ratu sembari tersenyum ramah. "kau suka dongeng?" sang ratu menawarkan. putra mahkota mengangguk. meskipun tidak antusias. "baiklah, agar kau bisa tertidur akan kuceritakan sebuah dongeng". lanjutnya. putra mahkota tersenyum kecil. seakan kehangatan yang dulu ia rasakan bersama ibunya kembali menemaninya.
__ADS_1
-
__ADS_1
-
__ADS_1
sesaat sebelum putra mahkota sampai didalam istana. ia melewati pedesaan yang dihuni oleh kawanan monyet. putra mahkota antusias melihat para monyet sedang bekerja. para monyet pun terheran kenapa manusia bisa berada di perkampungannya. tetapi bil dan pasukannya tetap berjalan. menghiraukan tatapan cemas para warga desa. ini adalah titah raja. dua puluh empat jam yang lalu, bil dan pasukannya dipanggil kedalam istana. ia diberikan tugas oleh raja untuk pergi keluar zona. masuk kedalam hutan belantara dan mencari seorang anak kecil. bil pun bergegas keluar zona. mencari seorang anak kecil yang sedang berlarian didalam hutan. iapun menemukan seorang anak kecil yang sedang tergeletak didekat pohon. bil dan pasukannya pun mengamati nya. dan membawanya ke pedesaan. sesuai perintah raja. merekapun tiba di istana setelah matahari terbenam. dan disambut hangat oleh keluarga kerajaan. putra mahkota tidak banyak bertanya. ia seakan pasrah dengan hidupnya. kakinya langsung diobati oleh sang ratu. pelayan kerajaan pun langsung memberinya makan. tetapi sang putra mahkota tetap merenung. meratapi nasib malangnya.
__ADS_1