How Your Garden Grows

How Your Garden Grows
mendarat di pelabuhan


__ADS_3

kami mendarat dipelabuhan pada pukul 7 pagi. sorak sorai para warga yang akan menyambut para bangsawan terhenti ketika mereka menemukan kejadian yang sebenernya. sorak sorai kegembiraan sudah berubah menjadi sorak sorai tangisan. ketakutan. kekhawatiran. kecemasan. semuanya menjadi seakan tidak terkendali di pelabuhan itu. para pengisi berita langsung berlarian mendekati ambulan yang segera merapat ke sisi pelabuhan. mengangkut jasad jasad para bangsawan. hampir seluruh kabar berita menyiarkan kabar yang sama. siapa dalang dibalik pembunuhan para bangsawan?. apa yang sebenarnya terjadi didalam kapal selama pelayaran?. sebagian para tamu undangan pingsan setelah mengetahui kejadian yang sebenernya. kepala penjaga memang sengaja memberikan informasi palsu saat berada di dalam kapal. kepala penjaga mencoba mengontrol keadaan. malam malam itu merupakan malam yang mencekam bari para penjaga. juga awak kapal. tetapi tidak bagi para penumpang yang tidak mengetahui kejadian yang sebenernya. kepala penjaga hanya memberikan perintah untuk jangan keluar kabin sebelum berada di pelabuhan. dan para tamu undangan yang ketakutan pun menurutinya. tanpa tahu apa apa.

__ADS_1


"bisakah kita menghubungi penjaga pelabuhan agar mengosongkan area itu?". aku bertanya kepada kepala penjaga tiga jam sebelum kapal ini benar benar mendarat di pelabuhan. kami tidak tidur semalaman. masih diruangan yang sama. "itu mustahil". kepala penjaga menghela nafas. "yang berada disana bukan hanya mereka yang akan menyambut para bangsawan. itu kawasan bebas penduduk. ada banyak pemukiman disekitar pelabuhan. "lanjutnya. nadanya seakan pasrah dengan apa yang sudah terjadi. "kau bodoh kepala penjaga". dewi menimpali dari belakang sana. mulutnya penuh dengan cemilan yang ia minta dari pelayan kapal. pelayan kapal menatap aneh dewi saat akan memberikan makanan, menganggap bahwa dewi juga merupakan bagian dari pelayan kapal karna pakaian yang dikenakannya sama. ia tetap berada di sofa. bedanya sekarang sofa itu penuh dengan cemilan. seperti tidak mengijinkan siapapun selain dirinya berada di sofa itu. sekarang posisinya duduk. kedua kakinya diangkat keatas sofa. lalu disilangkang. "serahkan tugas itu kepadaku jeje. aku bisa merakit bom dari dalam kapal ini. lalu melemparkannya sesaat setelah kita mendarat di pelabuhan. bumm. area kosong. misi selesai. haha". dia tertawa puas sembari menatap langit langit. lalu menatap kepala penjaga. itu tatapan meledek. kepala penjaga menatapnya dengan tatapan iba. "sepertinya kau mempunyai masa lalu yang menyedihkan nona". kepala penjaga balas menatap dewi dengan tatapan meledek. tetapi nada bicaranya rendah. itu nada bicara serius. dewi hanya memicingkan mata. dahinya terlipat. ia seakan siap untuk berkelahi dengan kepala penjaga. aku hanya tertawa. pertama karna ucapan kepala penjaga benar. dan kedua karna mereka sepertinya tampak serasi jika dimasukan kedalam tim yang sama. "kalian beruntung anak muda. aku tidak tahu berapa jumlah kelompok kalian. tetapi kalian tidak harus menanggung beban itu seorang diri". kepala penjaga menghela nafasnya. dia benar benar seperti orang tua yang senang menceramahi anaknya. "berhenti menceramahi kami sebelum kepalamu masuk kedalam aquarium itu, orang tua". dewi bersulut sulut dibelakang sana. masih memicingkan matanya. ia sepertinya sudah muak mendengar perkataan kepala penjaga. aku kembali tertawa. melupakan sejenak kejadian yang sebenernya. tok tok tok. tiba tiba ada yang mengetuk pintu. "siapa". kepala penjaga berteriak. "jimi pak". kepala penjaga bangun dari kursinya. berjalan mendekati pintu. membuka pintunya. "silahkan masuk jimi. sepertinya kau melewati pesta teh kecil kita". kepala penjaga mepersilahkan tamunya masuk. sekilas tampak aneh. baru saja terjadi pembunuhan didalam kapal ini. tetapi kami tetap tenang. seakan tidak terjadi apa apa. mungkin karna kami telah sering melewati yang seperti ini. pembunuhan. pembantaian. genosida. perbudakan. dan tindak kriminal lainnya. aku sudah melihat semuanya. termasuk dewi. dia bahkan hampir pernah mengalami semua itu. dan kepala penjaga. aku tidak tahu apa yang sudah dilewati olehnya. tetapi dari cara dia bersikap. aku yakin dia bukan kepala penjaga biasa. "ah tidak perlu pak." ucap penjaga yang berdiri didepan pintu. "aku hanya ingin menyampaikan pesan bahwa kita akan tiba dipelabuhan sekitar tiga jam lagi". lanjutnya. "hanya itu?". ucap kepala penjaga dengan mengangkat kedua alisnya. "oh dan satu lagi pak". lanjutnya. dia mendekatkan kepalanya. berbisik bisik. sepertinya itu pesan rahasia. jimi tidak memperkenankan kami mendengarnya. itu cukup masuk akal kenapa dia tidak menelepon ke ruangan ini. kepala penjaga sedari tadi mengangkat telepon sembari berbincang dengan kami. anak buahnya sekedar memberi tahu lokasi. atau situasi. dewi langsung meminjam telepon itu setelah mengetahui ada telepon di kolong meja kerja. meminta makanan. atau sekedar memarahi pelayan karna makanan yang dibawa cukup lama. kepala penjaga menganggukan kepalanya. menerima pesan itu. "sepertinya aku harus meninggalkan kalian di ruangan ini untuk sementara waktu". ucap kepala penjaga sembari membalikan badannya ke arah kami. "kau pikir kami akan merindukanmu?, pergilah yang lama pak tuaa..". dewi menimpali sembari melambaikan tangannya yang kotor oleh cemilan. aku hanya mengangguk takzim. pak tua segera keluar ruangan. lalu menutup pintu. ruangan lengang sejenak. hanya menyisakan suara dewi mengunyah makanan. dan gemuruh ombak yang menghantam lambung kapal. BYURR.

__ADS_1


kepala penjaga kembali ke ruangan ini dua jam sebelum kapal ini mendarat di pelabuhan. entah apa yang dia kerjakan selama satu jam terakhir. mungkin dia sedang dimarahi. atau mungkin jabatannya sudah diturunkan oleh pusat. entahlah. aku tidak terlalu perduli. aku langsung terbangun sesaat setelah mendengar seseorang membuka pintu ruangan ini. kepalaku agak sedikit pusing. "apakah aku membangunkanmu?". kepala penjaga berbicara setelah menutup pintu. "ah tidak. aku hanya merebahkan badan sejenak". aku mencoba mencairkan suasana. padahal ya, dia membangunkanku karna membuka pintu. telingaku tajam sehingga ketika aku tertidur akan langsung bangun saat ada suara yang asing ditelingaku. "kau berbohong". dewi menimpali. "ya kau membangunkannya pak tua. dia sedang tertidur lelap tadi. aku tahu karna mendengar suara dari mulutnya saat dia tertidur". dewi bersulut sulut. ia sedang berada dimeja kepala penjaga. entah apa yang dia lakukan. mataku masih buram. kesadaran ku belum penuh. ia seperti nengutak atik sesuatu diatas meja. sepertinya mejanya berantakan. lalu kulihat kepala penjaga membungkukan badannya. seperti mengambil sesuatu. astaga. setelah kulihat ternyata seisi ruangan ini berantakan. aku menepuk dahiku. entah apa yang dia lakukan selama aku tertidur. tetapi dia berhasil membuat seisi ruangan ini berantakan. kepala penjaga hanya menggelengkan kepala sembari tersenyum. lalu mengambil buku buku dan berkas yang berserakan. bahkan salah satu buku berada di dalam aquarium. aku mengambilnya. airnya bercipratan di lantai. aku memikirkan apa yang dia lakukan selama aku tertidur sampai buku ini bisa masuk kedalam aquarium. dia tetap bersikap tidak perduli. seolah tidak terjadi apa apa sedari tadi. masih sibuk dengan barang yang dia utak atik diatas meja. "sudah jadi jeje". dia berbicara sekaan tidak terjadi apa apa. dia mengangkat tangannya. ingin menunjukan sesuatu yang sedang dia genggam. aku memicingkan mata. bentuknya bulat. "apa yang kau buat?". aku bertanya sembari tetap merapihkan buku buku yang berserakan. astaga. sebagian buku sobek. mungkinkah?. kenapa dia tidak bisa sehari saja tidak membuat kekacauan. "bom". jawab dewi datar. aku tersentak. astaga. ternyata itu yang dia buat. "kenapa kau membuat bom dewi?" aku bersulut sulut. tidak percaya dengan apa yang dewi buat. dia memang pandai merakit. entah darimana dia belajar. berikan dia alat seadanya dan dia bisa menjadikan alat itu menjadi benda apa saja yang dia inginkan. "kau yang bilang ingin mengosongkan area pelabuhan jeje!!". dewi berteriak. dia masih melihat lihat benda itu. kepala penjaga hanya menggeleng sembari tertawa melihat tingkahnya. "aku tidak bilang kau harus membuat bom dewi!!". aku berteriak kesal. masih memegang buku yang akan kurapihkan. astaga. dia benar benar ingin meledakan pelabuhan. dewi berdiri. lalu tiba tiba di mengangkat tangannya. seperti ingin melemparkan benda itu ke lantai. "BODOH KAU INGIN MELEDAKAN KAPAL INI!!". aku berteriak ke arahnya. dia benar benar ingin mencoba bom rakitan nya di dalam kapal ini. aku meraih tangannya. bergulat memperebutkan alat itu. "BIARKAN AKU MENGUJI COBA PENEMUANKU JEJE!!". dia berteriak. kami masih bergulat memperebutkan alat itu. kepala penjaga hanya tertawa melihat tingkah kami. dia bahkan tertawa terbahak bahak. dia seakan tidak perduli jika kapal ini benar benar meledak. kami masih bergulat memperebutkan alat itu. BYURR.

__ADS_1


__ADS_2