How Your Garden Grows

How Your Garden Grows
percaya


__ADS_3

kapal tetap berlayar seperti biasanya. mengarungi samudra. tetap berada di jalurnya. hanya para penumpang yang riuh dengan teriakan teriakan. cemas. khawatir. takut. karna kejadian yang telah terjadi didalam kapal ini. insiden didalam kapal yang menyebabkan para bangsawan terbunuh. tidak ada yang tau siapa pelakunya. tidak ada yang tahu apa motifnya. yang kami tahu hanyalah sekelompok orang itu mengincar para bangsawan. peperangan mungkin akan terjadi jika permasalahan ini dibiarkan. aku dan dewi gagal melaksanakan rencana. para bangsawan terbunuh. dampaknya akan menggemparkan seluruh dunia. saat kapal ini mendarat di pelabuhan. orang orang akan segera mengetahui. berita ini akan segera tersebar. para bangsawan terbunuh akan dimuat diberita harian utama. dan mungkin, perkumpulan yang dilakukan selama tujuh tahun sekali akan dibatalkan untuk mencegah lebih banyak korban jiwa.

__ADS_1


setelah kejadian di geladak kapal. aku dan dewi langsung dibawa keruangan kepala penjaga. di introgasi kembali. ruangan itu cukup nyaman dari rungan sebelumnya. terdapat meja kerja dengan berkas berkas berserakan diatas meja. lemari yang menyimpan banyak buku dan berkas. sofa panjang. aquarium. juga jendela yang menghadap lautan lepas. aku lansung menjelaskan yang sebenarnya. termasuk kenapa dewi melumpuhkan para penjaga. beruntungnya kepala penjaga ini profesional. dia mantan marinir. dan sudah dua puluh lima tahun berada di profesinya. dia sudah tahu semuanya. termasuk sekelompok orang yang mengincar para bangsawan. dia sudah menduganya.

__ADS_1


"aku turut berduka cita". aku duduk di kursi. menatap kepala penjaga dengan tatapan iba. "aku bukan bagian dari keluarga kerajaan". jawab kepala penjaga singkat. "tidak ada yang perlu dikasihani di ruangan ini". lanjutnya sembari melihat keluar jendela. menatap lautan lepas. ya, aku tahu. bukan itu maksudku mengucapkan bela sungkawa. "aku turut berduka cita atas jabatanmu". lanjutku. aku mencoba menjelaskan. kepala penjaga tertawa kecil. ia melambaikan tangannya. membalikan badan. berjalan perlahan. lalu duduk di kursi meja kerjanya. "tidak ada yang perlu dikasihani diruangan ini". ucap kepala penjaga. dia mengulangi kalimatnya. "sejujurnya aku sudah menyadari para kriminal ini mengincar para bangsawan. aku menyukai astronomi. aku biasa melihat pola". lanjutnya. dewi tetap berada diatas sofa. membaca majalah majalah yang berada di lemari. dia tidak perduli dengan percakapan kami. malah dia bernyanyi nyanyi kecil sembari menggoyang goyangkan kakinya. tubuhnya terlentang diatas sofa. seperti tidak mengijinkan jika ada orang lain yang ingin duduk disana selain dirinya. "sesaat setelah kau memasuki ruang introgasi aku langsung menyadari bahwa kau bukan orang biasa. dan status itu terlihat lebih jelas dari bagaimana kau menyikapi keaadan saat kau mulai terpojok". kepala penjaga menghela nafasnya. dia tetap duduk di kursinya. lalu mendekatkan badannya kehadapanku. "aku tidak tahu kalian siapa. aku juga tidak tahu kalian dari kelompok mana. tetapi jika kuamati sikap kalian sedari tadi. sepertinya kalian bukan dari kelompok biasa. kalian profesional. dilatih sejak dini. dan memang disiapkan untuk melakukan pekerjaan ini". kepala penjaga menatap tajam mataku. kata katanya seakan mengintimidasi. ia menghela nafas. melepaskan tatapan itu. lalu kembali menyenderkan badannya di kursi. dia menyilangkan tangannya. kembali menatapku "aku sudah cukup tua untuk melakukan pekerjaan ini, anak muda". lanjutnya. dia menatapku dengan tatapan iba. seakan akan ingin memasrahkan semua tugasnya kepadaku. "bisakah aku mempercayakan para bangsawan kepadamu?". jawabnya. astaga. apa aku tidak salah mendengar. tiga jam yang lalu dewi menodong kepalanya dengan pistol. dia benar benar hendak membunuhnya. dan sekarang. lihatlah apa yang terjadi. dia mempercayaiku. mataku menatapnya tidak percaya. "apa dia gila?". dewi menyahut dari sofa sana. menoleh ke meja. dia mendengarkan percakapan kami rupanya. "aku tahu anak muda. tapi untuk sekarang tidak ada yang bisa kami percayai. para petinggi. para prajurit. para penjaga keamanan. hampir semuanya. hampir semua yang berhubungan dengan keamanan seakan berbeda akhir akhir ini. entah apa yang sedang terjadi. tapi menurut dugaanku. sekelompok orang mencoba menyulut peperangan lagi. sekelompok orang ini mungkin sudah mempunyai mata matanya sendiri. dan mungkin anak buahku juga sudah dimasukinya". ia menatapku pasrah. benar benar memberikan beban ini kepada kami. dahiku terlipat. aku menatapnya tidak percaya. "hei pak tua". dewi menimpali dari belakang sana. dia sembarang melemparkan majalah sembari bangun dari tidurnya. posisinya sekarang duduk. terlihat serius. "aku yakin tidak menarik pelatuk pistolku tadi. kau benar benar tidak gila kan? maksudku, mencoba menyerahkan tugas ini kepada orang yang tidak kau kenal?. kau serius?, ayolah pak tua aku bahkan hampir membunuhmu tadi". lanjutnya. dia menjelaskan dengan menggerakkan kedua tangannya. terlihat serius. "kau tidak mencoba membunuhku nona. kau hanya mencoba melarikan diri". ucap kepala penjaga santai sembari menatap dewi. dia tetap menyilangkan tangannya. dahi dewi terlipat. mimik wajahnya seakan menjelaskan bahwa ucapan kepala penjaga benar. "tunggu, biar kuperjelas". aku mengangkat tangan. menengahi obrolan dewi dengan kepala penjaga. "kenapa kau bisa mempercayai kami?". aku menatap kepala penjaga. kepala penjaga menatapku dengan tatapan tajam. seakan akan ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting. ia mulai mendekati badannya. posisi duduknya serius. "karna gerakanmu tadi saat ditawan. apakah itu silat cingkrik?". ucapan kepala penjaga itu mengintimidasi. aku tersentak. terheran heran. astaga. darimana dia mengetahui itu. dia mengangkat kedua alisnya. tatapannya seakan berkata, aku benar kan. tiba tiba kepala penjaga tertawa lepas. dia tertawa terbahak bahak. seperti orang gila. aku dan dewi menatap satu sama lain. dahi kami terlipat. ekspresi dewi seakan akan ingin mengatakan bahwa kepala penjaga memang benar benar sudah gila. "ekspresimu menjelaskan yang sebenarnya anak muda". kepala penjaga berbicara sembari tertawa. memukul mukul meja. aku menatap kepala penjaga terheran. bukan karna dia tiba tiba tertawa seperti orang gila. tapi karna dia mengetahui silat cingkrik. astaga. aku tersentak. darimana dia mengetahuinya. aku belajar silat itu dimasa lalu. dan tidak ada yang tahu bahwa silat itu ada. teknik itu benar benar dirahasiakan. dan lihatlah dewi. dia hanya menatap kepala penjaga dengan tatapan heran. dia sudah kehabisan kata. tidak biasanya dia diam saja setelah melihat kejadian yang mengganggu pikirannya. dia hanya menggelengkan kepala sembari berkata. "sepertinya kita memang sedang berhadapan dengan orang gila". dia mengambil sembarang majalah yang ada di lemari. kembali merentangkan kakinya. mukanya ditutup oleh majalah seakan mengisyaratkan jangan ganggu aku. "darimana kau mengetahuinya?". aku berbicara kepada kepala penjaga yang masih tertawa. tatapanku serius karna suatu alasan dimasa lalu. kepala penjaga mulai berhenti tertawa. dia mulai menenangkan dirinya. aku masih menunggu jawabannya dengan serius. silat cingkrik?. dia mengetahuinya. yang benar saja. siapa dia?. aku mengira ngira. "aku hidup lebih lama darimu anak muda. aku tidak ingin mengambil simpati dengan menceritakan masa laluku yang kelam. yang jelas, aku berteman dengan mereka". kepala penjaga menghela nafasnya. menyenderkan badannya di kursi. dia menatap langit langit. hembusan nafasnya seperti mengeluarkan kenangan kelam dimasa lalu. "siapa kau anak muda. kau pasti sangat istimewa sehingga dilatih oleh mereka". lanjutnya dengan nada bicara rendah. dia masih menatap langit langit. masih menyenderkan badannya dikursi. aku tidak menjawab pertanyaannya. aku mengikutinya. menyenderkan badanku di kursi. aku tertawa kecil. sekarang sudah jelas. dia sebenarnya bukan mempercayaiku. dia mempercayai mereka. teman temanku. guruku. masa laluku. kawanan monyet dari bangsa mink. suasana lengang. menyisakan suara detik jam yang semakin kencang. juga deburan ombak yang menghantam lambunh kapal. BYURR.

__ADS_1


__ADS_2