Hurt Love

Hurt Love
Hurt Love-010


__ADS_3

Zhivanna dan Gavin telah sampai di rumah. Dengan kunci serep mereka pun masuk ke dalam rumah dan pergi menuju kamar mereka.


Sesampainya di kamar, barulah Zhivanna membicarakan saran dari Yumna.


"Mas, bisa kita bicara sebentar?" tanya Zhivanna.


"Bicara tentang apa sayang?" tanya Gavin.


"Emm... tadi aku bicara sama Yumna terus dia kasih saran supaya aku bisa cepat hamil," jawab Zhivanna.


"Saran apa yang dia kasih ke kamu?" tanya Gavin penasaran.


"Dia kasih saran untuk kita adopsi anak dari panti asuhan," jawab Zhivanna.


"Adopsi anak?" tanya Gavin.


"Iya," jawab Zhivanna," Kamu setuju kan kalau kita adopsi anak?"


"Saran dari Yumna bagus juga tapi asal kamu tau untuk kita adopsi anak itu gak mudah, kita harus benar-benar bertanggung jawab sama anak itu, memberi kasih sayang, dan merawat dia seperti anak kandung kita sendiri," kata Gavin memberi pengertian pada Zhivanna.


Kita bisa kok melakukan itu semua, aku akan menyayangi dia seperti anak kandung aku sendiri meskipun nanti aku sudah hamil," kata Zhivanna.


"Kamu yakin mau adopsi anak?" tanya Gavin.


"Aku sangat yakin Mas," jawab Zhivanna.


"Ya udah, gimana kalau besok kita ke panti asuhan? Biar kamu bisa memilih anak mana yang akan kita ambil buat adopsi," kata Gavin.


"Jadi kamu setuju Mas buat kita adopsi anak?" tanya Zhivanna.


"Iya sayang," jawab Gavin.


"Makasih ya Mas, kamu udah memenuhi keinginan aku," kata Zhivanna sambil memeluk Gavin.


"Sama-sama sayang. Sekarang kita tidur ya," kata Gavin.


Mereka berdua merebahkan tubuh mereka ke kasur. Gavin pun mematikan lampu tidur yang terletak diatas nakas. Lalu tak lama kemudian mereka pun tertidur dengan pulas.


...****************...


...(Keesokan Harinya) ...


Keluarga Gavin sedang berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi bersama. Zhivanna sedang melayani mertua dan adik iparnya.


Melihat Gavin dan Zhivanna berpakaian rapi, Tari pun bertanya pada mereka berdua.


"Kalian mau kemana, tumben rapi begitu?" tanya Tari.


"Kami  mau ke panti asuhan Mah," jawab Gavin.


"Ke panti asuhan? Buat apa Kakak kesana?" tanya Laura.


"Rencananya kami mau adopsi anak," jawab Gavin.


"Apa? Adopsi anak?" tanya Tari terkejut


"Iya Mah, siapa tau dengan kami mengadopsi anakZhivanna bisa hamil," kata Gavin.


"Gak! Mamah gak setuju kalau kalian adopsi anak," kata Tari menolak rencana Zhivanna dan Gavin.


"Kenapa gak setuju Mah? Bukannya Mamah mau cepat punya cucu?" tanya Gavin.


"Mamah mau cucu dari darah daging kamu sendiri Gavin, bukan dari orang lain. Gimana kalau anak itu mempunyai darah orang jahat?" tanya Tari.


"Iya Mamah benar Kak, lagian buat apa adopsi anak bukannya Kak Zhivanna sehat dan bisa hamil kecuali Kak Zhivanna itu gak bisa hamil alias mandul," kata Laura menghina Zhivanna.


"Laura," tegur Vendo.


Mendengar teguran dari Vendo membuat Laura seketika terdiam. Sedangkan Zhivanna, dia sangat sedih mendengar penolakan mertuanya tentang adopsi anak ditambah dia harus mendengar hinaan dari Laura.


"Kalian tenang aja aku sama Zhiva akan melihat latar belakang anak itu, kami gak akan sembarangan mengadopsi anak," kata Gavin.


"Niat kalian mengadopsi anak itu sangat bagus, tapi Papah kasih tau nanti kalau kalian udah punya anak kandung, kalian jangan mengabaikan anak adopsi kalian itu. Kalian harus menyayangi dia juga," kata Vendo.


"Iya Pah, kami juga sudah berkomitmen seperti itu sebelum mengadopsi anak," kata Zhivanna.


"Bagus, Papah mendukung rencana kalian ini," kata Vendo.


Gavin dan Zhivanna sangat senang karena Vendo mendukung rencana mereka. Sedangkan Tari dan Laura mereka sangat kesal karena Vendo mendukung rencana Gavin dan Zhivanna untuk mengadopsi anak.


Setelah selesai sarapan, Gavin dan Zhivanna pamit kepada Vendo dan Tari.


"Mah, Pah kami pergi dulu ya," kata Gavin.


"Iya kalian hati-hati dijalan dan semoga rencana adopsi kalian sukses," kata Vendo.


"Amin," kata Gavin dan Zhivanna.


Setelah berpamitan, Gavin dan Zhivanna pergi meninggalkan meja makan. Saat Gavin dan Zhivanna sudah pergi barulah Tari dan Laura melakukan protes kepada Vendo.


"Papah apaan sih? Kok malah dukung rencana mereka buat adopsi anak?" tanya Tari.


"Tau nih Papah, harusnya Papah melarang Kak Gavin buat adopsi anak," kata Laura mendukung Mamahnya.


"Apa alasan Papah buat larang mereka? niat mereka itu bagus mau mengadopsi anak dari panti asuhan," kata Vendo.

__ADS_1


"Tapi Pah, kita gak tau asal usul anak itu, bisa aja kan anak itu dari hasil hubungan terlarang atau anak dari penjahat dan juga Mamah gak mau ada orang asing masuk di keluarga kita," kata Tari.


"Mamah harus yakin sama Gavin dan Zhivanna kalau mereka bisa memilih anak yang akan mereka adopsi, lagipula siapa tau dengan mengadopsi anak Zhivanna bisa hamil. Itu juga kan yang Mamah mau," kata Vendo.


"Papah selalu aja belain menantu kesayangan Papah itu. Udah ah, Mamah malas disini," kata Tari," Ayo Laura kita pergi."


"Ayo Mah," kata Laura


Tari dan Laura pergi meninggalkan meja makan. Sedangkan Vendo, dia hanya bisa menghela nafasnya melihat kelakuan istri dan putrinya itu.


→Panti Asuhan Lestari Cinta.


Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya Gavin dan Zhivanna telah sampai di depan panti asuhan Lestari Bunda. Mereka berdua pun


turun dari mobil dan berjalan memasuki lingkungan panti asuhan.


Sesampainya di dalam, mereka berdua disambut oleh pengurus panti asuhan Lestari Cinta.


"Selamat datang di panti asuhan Lestari cinta Pak, Bu. Perkenalkan nama saya Risma, ada yang bisa saya bantu?" tanya pengurus panti asuhan tersebut yang ternyata bernama Bu Risma.


"Kami mau bertemu dengan ketua panti asuhan ini, kami berniat ingin mengadopsi salah satu anak dari panti asuhan ini," jawab Gavin.


"Oh begitu, mari saya antar kalian ke ruangan Bu Fitri," kata Bu Risma.


Bu Risma pergi menuju ruangan ketua panti asuhan sedangkan Gavin dan Zhivanna mengikuti Bu Risma dari belakang.


Tak lama kemudian, mereka telah sampai di depan ruangan yang bertulisan KETUA PANTI ASUHAN. Sebelum mereka masuk, Bu Risma terlebih dahulu mengetuk pintu.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk," sahut seseorang dari dalam.


"Mari Pak Bu, silahkan masuk," kata Bu Risma


Bu Risma membuka pintu dengan perlahan. Sesampainya mereka di dalam, Gavin dan Zhivanna melihat seorang wanita paruh baya yang terlihat anggun duduk di kursi kebesarannya. Wanita itu sedang sibuk membaca sebuah dokumen ditangannya.


"Permisi Bu Fitri ini ada tamu mau ketemu sama Bu," kata Bu Risma.


Wanita yang bernama Bu Fitri menoleh kepada Gavin dan Zhivanna lalu tersenyum pada mereka.


"Mari silahkan duduk Pak, Bu" kata Bu Fitri.


"Terima kasih Bu," kata Gavin dan Zhivanna bersamaan.


Gavin dan Zhivanna pun duduk di kursi didepan Bu Fitri.


"Kalau begitu saya permisi Bu," kata Bu Risma.


"Silahkan Bu Risma," kata Bu Fitri.


Bu Risma pun pergi meninggalkan ruangan Bu Fitri. Setelah Bu Risma pergi, barulah Bu Fitri bertanya pada Gavin dan Zhivanna maksud kedatangan mereka ke panti asuhannya.


"Begini Bu, kedatangan kami disini berniat ingin mengadopsi salah satu anak dari panti ini," jawab Gavin.


"Jadi kalian mau mengadopsi salah satu anak dari panti ini, begitu?" tanya


tanya Bu Fitri.


"Iya Bu," jawab Gavin.


"Saya sangat senang dengan niat kalian untuk mengadopsi anak dari panti tapi saya mau Bapak sama Ibu berjanji untuk menyayangi, merawat, dan menjaga anak yang akan kalian adopsi nanti dengan sungguh-sungguh karena sekarang banyak orang yang mengadopsi anak dari panti setelah pasangan itu memiliki anak sendiri, anak adopsi itu malah diterlantarkan begitu saja. Saya gak mau hal itu terjadi," kata Bu Fitri.


"Bu, Ibu gak usah khawatir. Meskipun nanti kami punya anak sendiri, kami pasti akan tetap menyayangi anak itu," kata Zhivanna.


"Jika kalian sudah berjanji, maka kami akan mengizinkan kalian untuk mengadopsi anak dari panti ini," kata Bu Fitri.


Gavin dan Zhivanna sangat senang karena Bu Fitri mengizinkan mereka untuk mengadopsi anak dari panti asuhan ini.


"Mari saya akan memperkenalkan kalian pada anak-anak panti disini," kata Bu Fitri.


Bu Fitri melangkah keluar dari ruangannya. Sedangkan Gavin dan Zhivanna, mereka mengikuti Bu Fitri dari belakang.


Mereka telah sampai di ruangan anak-anak panti bermain. Anak-anak panti itu kini sedang asyik bermain bersama pengurus panti asuhan.


"Anak-anak," panggil Bu Fitri.


Seketika mereka semua berhenti bermain dan fokus memperhatikan Bu Fitri.


"Anak-anak perkenalkan ini Pak Gavin dan Ibu Zhivanna, mereka kesini ingin kenalan kalian. Ayo sapa dan salim sama mereka, " kata Bu Fitri.


Anak-anak panti tersebut segera berlari menghampiri Gavin dan Zhivanna dan merebut menyalami mereka. Sedangkan Zhivanna, dia sangat senang melihat anak-anak panti itu.


"Hai anak-anak, nama Tante Zhivanna. Apa Tante boleh main sama kalian?" tanya Zhivanna.


"Boleh Tante," kata anak-anak panti tesebut.


"Om gak diajakin nih main sama kalian?" tanya Gavin.


"Om juga boleh kok ikut main sama kami," jawab salah satu anak panti itu.


"Oke, ayo kita main," kata Gavin.


Anak-anak panti itu segera menarik tangan Gavin dan Zhivanna untuk bermain bersama mereka. Saat Zhivanna sedang asyik bermain bersama mereka, Tiba-tiba tatapannya tertuju pada seorang anak yang duduk dipojokan. Anak itu tampak sedang asyik menggambar.


"Sayang, kok temannya gak kalian ajak main, lihat kasihan dia sendirian disitu," kata Zhivanna.

__ADS_1


"Dia orangnya emang suka menyendiri Tante, dia gak mau main sama kita," jawab salah satu anak panti itu.


"Ya udah, kalian lanjut main ya. Tante mau bicara dulu sama Bu Fitri," kata Zhivanna.


"Iya tante," kata anak-anak panti itu.


Zhivanna beranjak dari duduknya lalu berjalan menghampiri Gavin yang sedang berbicara dengan Bu Fitri.


"Bu Fitri boleh saya tanya sesuatu?" tanya Zhivanna.


"Tanya apa ibu Zhiva?" tanya Bu Fitri.


"Kenapa anak itu gak bergabung sama temen-temen yang lainnya? terus anak panti bilang dia suka Menyendiri, apa itu benar?" tanya Zhivanna.


"Iya Bu itu benar. sejak dia dititipkan oleh Tante dan Omnya, dia jadi pendiam seperti itu," jawab Bu Fitri.


"Kalau boleh tau apa alasan Tante dan Omnya menitipkan dia disini?" tanya Zhivanna penasaran.


"Mereka bilang orang tua dia meninggal karena kecelakaan karena gak mampu mengurus dan membiayai dia jadinya dia dititipkan disini, " jawab Bu Fitri.


"Ya ampun kasihan sekali dia," kata Zhivanna.


Tiba-tiba Zhivanna teringat dengan Yumna. Kisah anak itu sama dengan Yumna. Mereka sama-sama kehilangan orang tua mereka karena kecelakaan mobil namun nasib mereka berbeda. Yumna dirawat dan disayangi oleh orang tua Zhivanna sedangkan anak itu di buang ke panti asuhan oleh tante dan omnya.


"Bu siapa nama anak itu?" tanya Zhivanna.


"Namanya Alea Bu," jawab Bu Fitri.


"Namanya yang sangat cantik, secantik orangnya," kata Zhivanna.


Zhivanna berjalan menghampiri Alea. Entah kenapa dia ingin sekali dekat dengan anak itu. Zhivanna pun duduk disamping Alea. Sedangkan Alea, dia hanya asyik menggambar tanpa menyadari kedatangan Zhivanna.


"Hai," sapa Zhivanna.


Setelah menyadari kedatangan Zhivanna, Alea seketika terkejut dan menjadi takut.


"Sayang jangan takut, Tante gak jahat kok. Tante cuma mau dekat sama kamu," kata Zhivanna.


Setelah mendengar perkataan Zhivanna, ketakutan Alea mulai mereda.


"Nama Tante Zhivanna, nama kamu siapa?" tanya Zhivanna.


"Alea," jawab Alea pelan namun masih terdengar oleh Zhivanna.


"Oh Alea ya. Nama yang cantik secantik orangnya," kata Zhivanna," Alea lagi menggambar apa? Boleh tante lihat?


Alea pun memperlihatkan gambarannya pada Zhivanna. Seketika Zhivanna merasa terenyuh setelah melihat gambaran Alea yang ternyata gambarannya bersama kedua orang tuanya. Zhivanna segera memeluk Alea dengan erat. Sedangkan Alea, dia hanya diam saja membiarkan Zhivanna memeluknya.


Setelah puas memeluk Alea, barulah Zhivanna melepaskan pelukannya terhadap Alea.


"Wah, gambaran Alea bagus banget. Tante yakin nanti kalau Alea udah besar pastinakan jadi pelukis terkenal," puji Zhivanna.


Mendengar pujian Zhivanna membuat Alea tersipu malu namun dia senang karena baru kali ini ada yang memuji hasil gambarannya.


"Ya udah Tante mau kesana dulu ya, Alea lanjutin dulu lukisnya ya," kata Zhivanna.


Alea pun mengangguk. Zhivanna berjalan menghampiri Gavin untuk memberitahu anak mana yang akan mereka adopsi


"Mas, kayaknya aku udah nemuin anak mana yang akan kita adopsi," kata Zhivanna.


"Anak mana yang akan kita adopsi sayang?" tanya Gavin.


"Aku mau kita adopsi Alea Mas," jawab Zhivanna.


"Apa Ibu yakin mau adopsi Alea? Dia itu anaknya susah dekat sama orang lain. Saya takut Ibu dan Bapak akan kesusahan merawat dia," kata Bu Fitri.


"Saya yakin Bu, untuk soal dekat sama dia saya yakin dia pasti akan dekat sama kami seiring berjalannya waktu," kata Zhivanna.


"Apa gak sebaiknya kamu pikir-pikir dulu sayang buat adopsi dia? belum tentu kan dia mau kita adopsi?" tanya Gavin.


"Aku udah memikirkan ini dengan matang Mas dan aku yakin dia pasti senang kalau diadopsi sama kita," jawab Zhivanna.


"Ya udah kalau kamu sudah yakin, aku setuju untuk kita adopsi Alea," kata Gavin.


"Baiklah Pak Bu, jika kalian sudah yakin kami akan segera mengurus surat-surat adopsi Alea tapi kami memerlukan waktu 3 bulan agar kalian bisa resmi mengadopsi Alea," kata Bu Fitri.


"Gak papa Bu, dalam waktu 3 bulan juga kami pastikan kalau Alea akan dekat sama kami," kata Zhivanna.


"Mari ikut saya ke ruangan saya untuk memasukkan berkas kalian," kata Bu Fitri.


Bu Fitri segera pergi menuju ruangannya sedangkan Gavin dan Zhivanna mengikuti Bu Fitri dari belakang.


Setelah semua berkas sudah selesai diurus, kini Gavin dan Zhivanna pamit kepada Bu Fitri untuk pulang.


"Bu kami pamit pulang ya," kata Zhivanna.


"Iya Pak, Bu," kata Bu Fitri.


"Oh ya Bu, saya mau donasi buat anak-anak panti sebesar 20 juta. Saya akan transfer setiap bulan dan saya juga akan transfer 10 juta untuk kebutuhan Alea selama disini," kata Gavin.


"Terima kasih Pak atas donasinya, kami akan memakai uang yang bapak donasikan itu untuk kebutuhan anak-anak panti dan Alea," kata Bu Fitri.


"Sama-sama Bu," kata Gavin.


"Kalau gitu kami pergi dulu Bu," kata Zhivanna.

__ADS_1


"Iya Pak, Bu hati-hati dijalan," kata Bu Fitri.


Gavin dan Zhivanna masuk ke dalam mobil. Gavin pun menghidupkan mesin mobilnya lalu mulai menjalankan mobil meninggalkan Panti Asuhan Lestari Cinta.


__ADS_2