
→Rumah Keluarga Sella
Sella telah sampai dirumahnya setelah seharian bekerja di kantor. Setelah turun dari mobil, dia langsung masuk ke dalam rumahnya. Sesampainya di dalam, kedatangan Sella disambut oleh Bi Marni.
"Non Sella udah pulang," kata Bi Marni.
"Iya Bi, Mamah sama Papah kemana Bi? Kok sepi banget rumah?" tanya Sella.
"Nyonya lagi pergi ke pertemuan sosialitanya kalau Tuan ada di kamar lagi istirahat Non, " kata Bi Marni.
"Oh gitu. Kalau gitu, aku mau langsung ke kamar ya Bi, mau istirahat juga," kata Sella.
"Iya Non," kata Bi Marni.
Sella berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat. Sesampainya di kamar, Sella langsung duduk di pinggir kasurnya. Saat ini dia sedang memikirkan Gavin.
'Aku yakin apa yang dibilang Gavin itu cuma pura-pura? karena gak mungkin dia bahagia tanpa seorang anak. Sepertinya aku memang punya kesempatan buat kembali sama dia dan aku pastiin kalau Gavin akan mencintai aku lagi seperti dulu,' batin Sella.
Setelah puas memikirkan Gavin, Sella berjalan mengambil baju mandinya dan pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
...****************...
...(Malam Harinya)...
→Rumah keluarga Gavin
Keluarga Gavin sedang menikmati makan malam. Tak ada suara di meja makan tersebut, yang ada hanya dentingan suara peralatan makan saja.
"Apa Mamah sudah sehat?" tanya Vendo yang membuka pembicaraan diantara mereka.
"Sudah Pah, nih buktinya Mamah ikut makan disini," jawab Tari.
"Syukurlah, Mamah harus berterima kasih sama Zhiva yang udah rawat Mamah sampai sembuh," kata Gavin.
Tari pun mendengus kesal karena Vendo menyuruhnya untuk berterima kasih sama Zhivanna.
"Makasih," kata Tari singkat dan ketus.
"Sama-sama Mah," kata Zhivanna.
"Laura mana? Kok dia gak ikut sarapan?" tanya Gavin.
"Laura ada pesta dirumah temannya," jawab Tari.
"Oh gitu," kata Gavin.
Tiba-tiba handphone Gavin berbunyi. Gavin pun mengambil handphonenya yang dia letakkan di atas meja makan.
Drttt. Drttt... Drttt..
Ibu Fitri is Calling
"Dari siapa Mas?" tanya Zhivanna penasaran.
"Dari Ibu Fitri," jawab Gavin," Ada apa ya dia telpon aku?"
"Coba kamu angkat aja, siapa tau Bu Fitri telpon kamu buat membahas adopsi Alea," kata Zhivanna.
Gavin pun segera menerima panggilan dari Ibu Fitri tersebut.
"Hello Bu Fitri," kata Gavin.
"Hello Pak Gavin, maaf menganggu waktu Bapak malam-malam," kata Ibu Fitri dari sebrang telpon.
"Ada apa Bu?" tanya Gavin.
"Ini Pak Alea saat ini lagi sakit, dia mengalami Demam tapi kami gak tau harus bawa ke rumah sakit pakai apa," jawab Ibu Fitri.
"Ya udah, saya dan istri saya akan segera kesana Ibu tunggu kami ya," kata Gavin.
"Baik Pak. Terima kasih Bapak sudah mau untuk membantu kami," kata Ibu Fitri.
"Sama-sama Bu," kata Gavin.
Tutt... Tutt... Tutt...
Gavin pun memutuskan sambungan telponnya dengan Ibu Fitri dan menyuruh Zhivanna untuk bersiap-siap.
"Sayang, kita harus ke panti sekarang juga. Alea sakit demam," kata Gavin.
"Ya udah aku siap-siap dulu ya Mas," kata Zhivanna.
Zhivanna pun pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap.
"Gavin, buat apa kamu kesana? Anak itu kan gak ada hubungan apa-apa sama kamu lagipula ini udah malam nanti kalau terjadi apa-apa sama kamu gimana?" tanya Tari.
"Alea akan jadi anak aku sama Zhiva Mah, otomatis dia adalah tanggung jawab kami dan aku yakin gak bakalan terjadi apa-apa," tegas Gavin.
Tak lama kemudian Zhivanna kembali menghampiri suaminya dengan tergesa-gesa. Dia sudah tidak sabar ingin melihat keadan Alea.
"Ayo Mas kita berangkat sekarang," ajak Zhivanna.
"Mah, Pah kami pergi dulu," kata Gavin.
Gavin dan Zhivanna berjalan menuju keluar rumah. Tari sangat kesal karena Gavin tidak menuruti larangannya. Dia langsung pergi ke kamarnya untuk menumpahkan rasa kesal. Sedangkan Vendo, melihat istrinya yang sedang marah, dia pun menyusul istrinya ke kamar.
__ADS_1
Sesampainya di kamar, Tari seketika menumpahkan rasa kesalnya terhadap Gavin.
"Arghh, kenapa sih Gavin gak pernah nurut lagi sama ucapan aku? Padahal aku ini Ibu kandung, Ibu yang udah ngelahirin dia. Ini semua gara-gara Zhivanna. Dia udah bikin Gavin gak nurut sama aku," kata Tari.
Tak lama kemudian, Vendo pun datang dan dia menghampiri istrinya untuk memenangkan memarahan istrinya itu.
"Mah udah, jangan marah-marah nanti Mamah kembali sakit," kata Vendo.
"Gimana Mamah gak marah-marah Pah, Gavin udah gak nurut lagi sama Mamah yang dia turutin cuma kemauan istrinya itu," kata Tari.
"Bukan begitu Mah, Gavin nurut kok sama Mamah, buktinya dia gak pindah dari rumah ini padahal dia sangat ingin punya rumah sendiri lagipula apa yang dilakukan Gavin ini sudah benar. Dia hanya mau menolong anak panti yang akan menjadi anaknya," kata Vendo menasehati Istrinya.
"Ahh, Papah sama Gavin sama aja, suka banget membela Zhivanna. Udah ah Mamah mau tidur," kata Tari.
Tari merebahkan tubuhnya ke kasur lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut dan memejamkan matanya. Vendo yang melihat sikap istrinya itu hanya bisa menghela nafasnya dan ikut merebahkan tubuhnya ke kasur.
Di tempat lain, Laura sedang berpesta ria dirumah temannya yang bernama Almira. Saat ini mereka tengah menikmati makanan dan minuman masing-masing.
"Guys, makasih kalian udah mau datang ke ulang tahun gue ini," kata Almira.
"Ya pastilah kita semua datang, secara lo kan sahabat kami jadi mana mungkin kita gak datang ke acara ulang tahun lo," kata gadis yang bernama Anelis," Btw, selamat ultah ya. Nih kado dari gue."
"Thank you Anelis," kata Almira.
"Nih kado dari gue, selamat ulang tahun Almira," kata gadis yang bernama Elisa sambil menyerahkan kadonya kepada Almira.
"Thank you El," kata Almira
"Selamat ultah ya, nih gue bawain kado buat lo," kata Reggita sambil menyerahkan kadonya Almira.
"Wah, thank you Reggita," kata Almira.
"Ra, kado lo mana? Kok gak lo kasih ke Almira?" tanya Anelis
"Atau jangan-jangan lo gak bawa kado lagi buat Almira," kata Reggita.
"Sembarangan aja lo kalau ngomong ya gue bawa lah kado buat Almira mana mungkin sahabat gue ultah gue gak bawa kado," kata Laura," Nih kado dari gue buat lo, selamat ulang tahun ya kalau lo mau lo bisa buka sekarang."
"Beneran nih gue boleh buka sekarang?" tanya Almira.
"Buka aja kalau lo mau," jawab Laura.
Almira segera membuka kado dari Laura dan seketika dia dan semua teman-temannya terkejut dengan kado yang diberikan oleh Laura kepadanya adalah sebuah tas wanita yang harga sangat mahal.
"Ra, ini seriusan buat gue?" tanya Almira.
"Iya, serius lah," jawab Laura.
"Ini kan tas mahal asli dari New York yang limited edition itu," kata Elisa.
"Wah, thanks banget ya Ra. Ini kado spesial banget buat gue," kata Almira.
"Sama-sama," kata Laura.
"Oh ya sekarang cerita sama kita gimana kehidupan lo sewaktu di luar negeri?" tanya Reggita.
"Ya susah-susah senang lah. Senangnya gue bisa shopping sepuasnya gak ada yang larang apalagi ngatur terus susahnya, gue hidup sendiri disana tanpa keluarga gue. Apa-apa gue harus sendiri disana," jawab Laura.
"Ya juga sih tapi gue bangga sama lo, lo bisa bertahan hidup mandiri di sana selama 4 tahun ini tanpa keluarga disisi lo," kata Anelis.
"Iya lo hebat banget Laura," puji Elisa.
Laura tersenyum senang dengan dia berhasil mendapatkan pujian dari teman-temannya.
"Mira, kapan pacar lo datang?" tanya Elisa.
"Lo udah punya pacar Mir?" tanya Laura terkejut.
"Iya, kami udah pacaran selama 2 tahun dan 4 bulan lagi kami bakalan nikah," jawab Almira.
"Wah gak nyangka banget lo bakalan nikah muda," kata Reggita.
"Gue penasaran apa sih alasan lo buat nikah muda dan gak lanjutin s2 lo?" tanya Elisa.
"Karena gue udah capek kuliah, makanya gue berhenti di S1 aja dan memutuskan buat nikah sama pacar lo lagipula orang tua gue setuju kok kalau gue nikah dan jadi alasan utama gue nikah adalah karena hidup gue bakalan terjamin karena suami gue itu seorang pengusaha, kalau gue mau liburan atau shopping gue tinggal minta aja uang yang banyak sama suami gue," kata Almira.
"Ya alasan lo masuk akal juga sih Mir," kata Anelis.
"Kalian nanti datang ya ke acara nikahan gue, kami bakalan adain pesta yang meriah," kata Almira.
"Kami pasti datang ya kan Guys," kata Reggita.
"Iya dong," kata Anelis dan Elisa kecuali Laura.
Laura hanya diam saja setelah mendengar temannya akan menikah muda. Entah kenapa di dalam hatinya, dia juga ingin seperti temannya yaitu menikah muda karena dia mau hidupnya terjamin dengan memiliki suami pengusaha.
"Yuk kita lanjut makan," kata Almira.
Mereka berlima melanjutkan makan mereka. Tiba-tiba lima orang laki-laki datang mendekati meja mereka.
"Hai sayang," sapa salah satu dari laki-laki itu pada Almira.
"Viktor sayang," jawab Almira.
Ternyata laki-laki itu adalah pacar Almira yang bernama Viktor. Viktor datang bersama keempat temannya.
__ADS_1
"Ayo sayang kamu duduk, lihat aku udah pesankan makanan kesukaan kamu," kata Almira.
"Makasih ya sayang," kata Viktor.
Laura menatap laki-laki yang berdiri disamping Viktor dengan tatapan kagum.
'Ya ampun, ganteng banget sih nih cowok,' batin Laura.
Tiba-tiba lamunan Laura buyar ketika Reggita menegurnya.
"Ra," tegur Reggita.
"Hah iya," kata Laura.
"Lo kenapa? Kok ngelamun? Lagi mikiran apa?" tanya Reggita.
"Gue gak papa kok. Emm... gue ke sana dulu ya ambil minum," kata Laura.
Laura segera berjalan menuju meja minuman. Sesampainya di meja saji minuman, saat Laura ingin mengambil minuman, tiba-tiba sebuah tangan menyodorkan minuman pada Laura. Laura pun segera menoleh ke arah orang itu.
"Ini buat kamu," kata orang itu.
"Kamu temannya Viktor kan?" tanya Laura.
"Iya. Kenalin aku Edgar," kata orang itu yang bernama Edgar. Dia mengulurkan tangannya pada Laura.
"Aku Laura," kata Laura sambil menerima uluran tangan Edgar.
"Nama yang cantik secantik orangnya," goda Edgar.
"Kamu bisa aja deh," kata Laura tersipu malu.
Mereka berdua pun melanjutkan obrolan mereka dengan membahas banyak hal. Tak disangka mereka berdua menjadi akrab dan dekat.
→Panti Asuhan Lestari Cinta
Gavin dan Zhivanna telah sampai di depan Panti Asuhan Lestari Cinta. Zhivanna turun dari mobil dengan tergesa-gesa dan berlari masuk ke dalam panti asuhan diikuti oleh Gavin.
Sesampainya di dalam, Gavin dan Zhivanna bertemu dengan Bu Risma, pengurus panti Asuhan.
"Pak Gavin, Bu Zhiva," kata Bu Risma.
"Aleanya ada dimana?" tanya Gavin.
"Ada di kamar Pak, mari ikut saya," kata Bu Risma.
Gavin dan Zhivanna mengikuti Bu Risma menuju kamar Alea. Sesampainya di kamar Alea, mereka melihat Bu Fitri sedang menunggui Alea dengan memeluknya. Zhivanna langsung duduk dipinggir kasur Alea dan memegang kening Alea.
"Ya ampun, panasnya udah tinggi banget Mas," kata Zhivanna.
"Ayo kita bawa Alea ke rumah sakit secepatnya mungkin," kata Gavin.
Gavin menggendong Alea dan membawanya keluar dari kamar. Zhivanna dan Bu Fitri mengikuti Gavin dari belakang.
Sesampainya di luar, mereka segera masuk ke dalam mobil. Gavin mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan panti asuhan Lestari Cinta.
→Tempat Pesta Laura
Tak terasa pesta ulang tahun Almira sudah selesai. Kini Laura sedang berdiri di depan rumah Almira menunggu Pak Wawan menjemputnya. tiba-tiba sebuah mobil. Mewah berhenti di depan Laura. Pemilik mobil itu membuka kaca mobilnya dan Laura sangat terkejut melihat pemilik mobil mewah itu.
"Edgar," kata Laura.
"Ayo naik, aku anterin kamu pulang," kata Edgar.
"Gak usah lagian aku udah suruh supir aku buat jemput disini," kata Laura.
"Udah ayo naik, apa kamu mau nunggui supir kamu disini apalagi ini kan udah larut malam," kata Edgar.
'Benar juga sih apa yang dibilang cowok ini lagian kelihatannya dia cowok baik-baik jadi gak mungkin macem-macem. Yaudah deh gue Terima aja tawaran dari dia daripada gue sendirian malam-malam begin, batin Laura.
"Gimana kamu mau ikut aku atau nunggui supir kamu?" tanya Edgar.
"Ya udah deh aku ikut kamu aja," jawab Laura.
"Ayo naik," kata Edgar.
Laura pun segera masuk ke dalam mobil Edgar. Edgar mulai menghidupkan mesin mobilnya kembali lalu menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan rumah Almira.
→Rumah Sakit
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya Gavin, Zhivanna, dan Bu Fitri telah sampai dirumah sakit. Gavin segera turun dari mobilnya dengan membawa Alea di gendongan.
Sesampainya di dalam rumah sakit, Gavin langsung memanggil sambil Dokter dan suster yang ada di dalam rumah sakit itu.
"Dokter, suster tolong ada pasien gawat," kata Gavin.
Beberapa suster yang mendengar itu langsung bertindak dengan cepat membawa brankar yang akan ditempati Alea. Setelah itu, para dokter dan suster yang baru saja tiba di lobi pun mulai menggotong tubuh Alea untuk ditempatkan di atas brankar. Gavin, Zhivanna, dan Bu Fitri mengikuti Suster dan Dokter itu sambil mendorong brankar Alea menuju UGD.
Hingga tanpa sadar mereka telah tiba di depan ruang UGD. Dokter dan Suster itu membawa Alea ke dalam UGD. Saat Zhivanna ingin masuk, dia dilarang oleh suster tersebut.
"Maaf Bu, keluarga pasien hanya diperbolehkan menunggu diluar saja," kata suster tersebut.
Setelah berbicara, suster itu langsung menutup ruang UGD. Zhivanna sangat diliputi perasaan khawatir dan cemas, dia berharap semoga Alea baik-baik saja.
...[Bersambung...]...
__ADS_1