Hurt Love

Hurt Love
Hurt Love-014


__ADS_3

Gavin, Zhivanna, dan Bu Fitri terus menunggu dengan sabar di dekat ruangan tempat Alea sedang diperiksa, mereka terus melirik ke pintu ruangan itu berharap Dokter dan suster cepat keluar dan memberi tau tentang kondisi Alea saat ini.


Hingga, setelah menunggu kurang lebih 20 menit akhirnya Dokter itu pun keluar dari ruangan, dia berdiri di dekat pintu dan mulai berbicara dengan Gavin, Zhivanna, dan Bu Fitri.


"Dengan Keluarga pasien?" tanya Dokter tersebut.


"Iya Dok, kami orang tuanya. Bagaimana keadaan anak saya?" tanya Zhivanna penasaran.


"Pasien mengalami penyakit DBD dan tadi sempat mengalami kritis tapi karena kalian membawanya dengan cepat kesini, maka kami bisa menyelamatkan dan dia sudah melewati masa kritisnya," jawab Dokter tersebut.


Gavin, Zhivanna, dan Bu Fitri merasa lega karena Alea sudah melewati masa kritisnya.


"Tapi kami harus melakukan pemeriksaan lanjutan, jadi pasien harus rawat inap disini," kata Dokter tersebut.


"Baik Dok, terima kasih. Apa kami boleh masuk dan melihat keadaan anak kami?" tanya Gavin.


"Bisa silahkan," jawab Dokter," Kalau begitu saya pamit dulu kalau terjadi apa-apa kalian bisa langsung panggil saya atau mencet tombol yang ada di dalam."


"Baik Dok, sekali lagi kami ucapkan terima kasih," kata Gavin.


Dokter itu pun mengangguk. Setelah itu, dia pun pergi meninggalkan Gavin, Zhivanna, dan Bu Fitri. Mereka bertiga masuk ke dalam ruang inap Alea.


Ceklek!


Mereka bertiga masuk ke dalam ruang inap Alea. Disana tampak suster masih sibuk memasang selang infus Alea.


"Permisi Pak, Bu, kami pamit keluar! Kami sudah selesai memasang infus pada pasien dan memeriksa kembali keadaannya," kata Suster itu.


"Terima kasih sus," kata Zhivanna.


Suster itu pun mengangguk sambil tersenyum lalu setelah itu dia pamit untuk pergi dan meninggalkan ruang inap Alea.


Zhivanna kini duduk di kursi yang berada di samping ranjang rawat Alea. Sambil menangis, Zhivanna mengenggam tangan Alea dan tangan yang satunya mengelus puncak kepala Alea.


"Cepat sembuh ya sayang, Tante sedih lihat kamu sakit kayak gini," kata Zhivanna sambil menangis.


Gavin dan Bu Fitri yang melihat itu juga menangis. Kini Bu Fitri yakin untuk memberikan hak adopsi Alea pada Gavin dan Zhivanna. Dia yakin jika Gavin dan Zhivanna adalah orang tua yang baik untuk Alea.


"Sayang aku mau urus administrasi dulu ya," kata Gavin.


"Iya Mas," kata Zhivanna.


Gavin segera pergi meninggalkan ruang inap Alea untuk mengurus administrasi Alea.


→Rumah Gavin.


Tari berjalan mondar-mandir di depan pintu. Dia tengah menunggu kedatangan anak-anaknya. Melihat istrinya yang mondar-mandir sejak tadi, membuat Vendo menegur istrinya.


"Mah udah dong, mondar-mandirnya lagipula anak-anak pasti pulang kok," kata Vendo.


"Tapi Mamah khawatir Pah sama mereka, tadi Mamah hubungin Gavin dia gak angkat terus Laura juga sama. Sebagai seorang Ibu Mamah perlu khawatir sama anak-anaknya Pah," kata Tari.


"Iya Papah ngerti kekhawatiran Mamah tapi apa Mamah gak capek daritadi mondar-mandir kayak gitu?" tanya Vendo.


"Ya, sebenarnya capek sih Pah," jawab Tari.


"Ya udah sekarang Mamah duduk, kita tunggu mereka di sini aja," kata Vendo.


Setelah dibujuk suaminya, Tari pun luluh dan menuruti suaminya untuk duduk disofa menunggu kedatangan anak-anaknya.


Sementara diluar rumah, Edgar telah sampai mengantar Laura. Seketika Edgar kagum dengan kemewahan rumah Laura.


"Ini rumah kamu?" tanya Edgar.


"Iya ini rumah aku," jawab Laura," Oh ya apa kamu mau mampir?"


"Gak deh lain kali aja soalnya ini juga udah malam, gak enak sama orang tua kamu," kata Edgar.


"Tapi lain kali kamu mampir ya ke rumah ku," pinta Laura.


"Iya, nanti aku pasti mampir ke rumah kamu," kata Edgar.


"Aku turun dulu ya, makasih udah anterin aku," kata Laura.


"Sama-sama cantik," kata Edgar.


Laura pun turun dari mobil Edgar dan berjalan memasuki halaman rumahnya. Sedangkan Edgar, dia kembali menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Laura.


Sesampainya Laura di dalam rumah, Tari langsung berjalan menghampiri Laura.


"Laura kamu darimana aja, kenapa jam segini baru pulang? Mana telpon Mamah gak kamu angkat," kata Tari memarahi Laura.


"Sorry Mah, acaranya baru selesai terus handphone aku lowbatt makanya aku gak angkat telpon dari Mamah," kata Laura memberikan alasannya.


"Ya udah sana masuk ke kamar kamu istirahat," kata Tari.


"Iya Mah," kata Laura.


Laura pun pergi menuju kamarnya untuk beristirahat. Sedangkan Tari, dia kembali menunggu kedatangan anaknya yaitu Gavin.


→Rumah Sakit


Zhivanna yang sedang asyik berbincang dengan Bu Fitri tiba-tiba berteriak karena dia melihat jemari tangan Alea perlahan bergerak.


"Bu lihat, jarinya Alea bergerak," kata Zhivanna.


Benar saja, Alea kini mulai menggerakan tangannya lalu mulai membuka matanya perlahan. Mereka berdua langsung beranjak dari sofa dan menghampiri Alea.


"Alea sayang, syukurlah kamu sudah sadar Nak," kata Bu Fitri.


"Bu aku ada dimana?" tanya Alea pelan.


"Kamu ada dirumah sakit, kamu terkena DBD sayang dan yang membawa kamu kesini adalah Bu Zhivanna dan Pak Gavin bahkan mereka rela menunggu kamu sampai kamu sadar," kata Bu Fitri.


Alea melirik ke arah Zhivanna yang tersenyum padanya dan mengucapkan Terima kasih pada Zhivanna.


"Tante makasih udah menolong aku," kata Alea.


"Sama-sama sayang. Kamu cepat sembuh ya biar kita bisa bermain bersama," kata Zhivanna.


Tak lama kemudian, Gavin pun datang setelah dia mengurus administrasi Alea. Dia sangat terkejut Sekaligus senang karena Alea sudah sadar. Gavin pun berjalan menghampiri ranjang rawat Alea.


"Alea kamu sudah sadar," kata Gavin.


"Om makasih ya udah menolong aku," kata Alea.


"Sama-sama sayang, cepat sembuh ya Nak," kata Gavin sambil mengelus kepala Alea.


Setelah melihat keadaan Alea yang sudah sabar, Gavin pun mengajak Zhivanna pulang.


"Sayang, ayo kita pulang," ajak Gavin.


"Tapi Mas aku masih mau disini," kata Zhivanna.


"Kamu harus istirahat sayang lagipula besok kita pasti kesini jengukin Alea," kata Gavin.

__ADS_1


Zhivanna akhirnya menuruti perkataan suaminya dan mereka pun pamit pulang kepada Bu Fitri.


"Bu Fitri kami pamit pulang dulu, besok kami akan kesini lagi jenguk Alea," kata Gavin.


"Iya Pak," kata Bu Fitri.


"Alea Om sama Tante pulang dulu ya, besok kami kesini lagi buat jenguk kamu," kata Gavin.


Alea pun menganguk pelan. Gavin dan Zhivanna mencium puncak kepala Alea secara bergantian. Setelah itu mereka pun pergi meninggalkan ruang inap Alea.


→Rumah Gavin.


Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya Gavin dan Zhivanna telah sampai di rumahnya. Dia pun turun dari mobilnya dan berjalan memasuki rumahnya.


Sesampainya di dalam, Gavin dan Zhivanna langsung di dekati oleh Tari. Mereka tidak menyangka jika Tari belum tidur karena waktu sudah menunjukkan jam 11 malam.


"Mamah kenapa belum tidur jam segini? nanti Mamah sakit Loh," kata Gavin.


"Gimana Mamah bisa tidur nyenyak, kamu belum pulang Mamah telpon kamu gak angkat," kata Tari.


"Maaf Mah, tadi aku sibuk ngurus administrasi rumah sakit Alea," kata Gavin.


"Kamu yang bayarin rumah sakit anak itu?" tanya Tari.


"Iya Mah," jawab Gavin.


"Ya ampun Gavin kenapa kamu mau aja ngeluarin uang buat anak itu, dia itu bukan siapa-siapa kamu," kata Tari.


"Mah, Alea juga akan menjadi bagian keluarga kita jadi apa salahnya kalau Mas Gavin bayarin biaya rumah sakit Alea," kata Zhivanna.


"Diam kamu! saya gak butuh pendapat kamu," kata Tari memarahi Zhivanna.


"Mah udah, Zhiva benar sebentar lagi Alea akan menjadi anak kami otomatis dia juga akan menjadi anggota keluarga kita. jadi gak masalah kalau aku membiayai biaya rumah sakitnya Alea," kata Gavin.


"Kamu ini selalu aja susah buat dinasetin. Selalu aja belain istri kamu itu," kata Tari.


"Bukan begitu Mah, tapi---" kata Gavin.


Belum sempat Gavin melanjutkan perkataannya, Tari lebih dulu pergi meninggalkan Gavin dan Zhivanna. Gavin menghela nafasnya. Dia pun berusaha menenangkan istrinya karena Gavin yakin saat ini istrinya itu pasti sedih karena perkataan Mamahnya.


"Udah kamu jangan sedih ya sayang, mendingan sekarang kita istirahat biar besok kita bisa jenguk Alea lagi," kata Gavin berusaha menghibur Zhivanna.


Zhivanna pun mengangguk. Mereka berdua pergi menuju kamar mereka untuk istirahat.


(Keesokan Harinya)


→Rumah Gavin.


Keluarga Gavin sedang menikmati sarapan mereka. Tidak ada suara terdengar di antara mereka, yang ada hanya suara denting peralatan makan saja.


Setelah selesai sarapan, kini Zhivanna mengantar Gavin ke depan rumah lalu menyalami tangan Gavin.


"Sayang aku berangkat kerja dulu ya," kata Gavin sambil mencium puncak kepala Zhivanna.


"Mas, aku boleh gak jenguk Alea duluan di rumah sakit?" tanya Zhivanna.


"Boleh sayang. Kalau kamu mau kamu bisa duluan ke rumah sakit nanti aku nyusul setelah pulang kerja sekalian aku jemput kamu," jawab Gavin.


"Makasih ya Mas udah izinin aku," kata Zhivanna sambil memeluk Gavin.


"Sama-sama sayang," kata Gavin," Aku berangkat kerja dulu ya,"


"Iya Mas, Hati-hati di jalan ya jangan ngebut bawa mobil," kata Zhivanna setelah melepaskan pelukannya pada Gavin.


"Siap istri ku sayang," kata Gavin.


→Adhitama Groups.


Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya Gavin telah sampai di kantornya. Gavin turun dari mobilnya lalu berjalan memasuki kantornya.


Sesampainya di dalam, Gavin menuju ke arah lift dan menekan angka 10.


Sesampainya di ruangannya, Gavin langsung duduk dikursinya dan menyalakan laptopnya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk," sahut Gavin.


Ceklek!


Pintu pun terbuka dan ternyata yang datang adalah Arini. Arini pun berjalan mendekati Gavin.


"Pak Gavin," panggil Anara.


"Ada apa?" tanya Gavin.


"Saya mau kasih tau kalau proyek kerja sama kita dengan Fernando Group akan dilakukan di kota Medan Pak. Ini surat tugasnya," kata Arini.


Gavin pun mengambil surat tugas itu dari tangan Arini lalu membacanya dengan seksama.


"Jadi maksudnya kita harus pergi ke Medan sampai 1 bulan?" tanya Gavin.


"Iya Pak dan kita berangkatnya besok pagi," jawab Arini.


"Ya sudah kamu persiapkan semuanya untuk besok," kata Gavin.


"Baik Pak, " kata Arini


Arini segera pergi meninggalkan ruangan Gavin. Sedangkan G avin, dia kembali melanjutkan pekerjaannya.


→Fernando Group


Saat ini Sella juga sedang sibuk dengan pekerjaan kantornya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk," sahut Sella


Ceklek!


Pintu pun terbuka dan ternyata yang datang adalah Siska. Siska pun berjalan mendekati Sella.


"Bu Sella," panggil Siska.


"Apa kamu sudah memberitahu sekretaris Pak Gavin kalau besok kita ke Medan buat mengerjakan proyek kerja sama ini?" tanya Sella.


"Sudah Bu dan Pak Gavin setuju dengan usul Ibu," jawab Siska.


"Oke, jadi besok pagi kita akan berangkat ke Medan dan tolong kamu siapkan persiapan buat besok ya," pinta Sella.


"Baik Bu. Kalau begitu saya permisi," kata Siska.


"Ya silahkan," kata Sella.


Siska pun pergi meninggalkan ruangan Sella. Setelah Siska pergi, Sella tersenyum puas. Dia sangat senang karena dia yakin rencananya untuk mendekati Gavin akan berhasil dengan sempurna.

__ADS_1


"Syukurlah rencana ku berhasil. Dengan begini aku pasti bisa merebut Gavin kembali dan membuat dia kembali mencintai aku," gumam Sella.


Sella pun kembali melanjutkan pekerjaan kantornya.


(Siang Harinya)


Setelah menyiapkan makan siang , Zhivanna pun bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Tiba-tiba Tari datang menghampirinya.


"Mau kemana kamu?" tanya Tari.


"Aku mau ke rumah sakit Mah jengukin Alea," jawab Zhivanna.


"Buat apa kamu kesana lagi hah? kan saya sudah bilang, dia bukan siapa-siapa buat apa diperhatikan? lebih baik kamu disini aja ngurusin rumah. Saya melarang kamu buat kesana," kata Tari.


"Tapi Mah, pekerjaan rumah sudah aku kerjakan dan makan siang sudah aku siapin kenapa aku gak boleh jengukin Alea?" tanya Zhivanna.


"Ya gak papa, pokoknya kamu harus tetap disini kalau kamu melanggar larangan saya, saya akan pastikan kamu gak boleh menginjakkan kaki kamu di rumah ini lagi," ancam Tari.


"Tapi Mah---"


"Ada apa ini Mah? Kok ribut-ribut?" tanya Vendo yang baru saja datang setelah mendengar keributan antara istri dan Menantunya.


"Ini Pah, menantu kesayangan kamu ini mau pergi ke rumah sakit buat jenguk anak panti asuhan itu dan Mamah larang dia tapi dia malah membantah Mamah," adu Tari pada Vendo.


"Benar itu Zhiva?" tanya Vendo.


"Iya Pah, tapi aku kesana cuma sebentar aja gak lama lagipula pekerjaan rumah sudah aku kerjakan dan makan siang sudah aku siapkan," kata Zhivanna.


"Apa kamu udah izin sama Gavin?" tanya Vendo kembali.


"Sudah Pah, saat Mas Gavin mau berangkat kerja aku udah izin sama dia dan dia izinin aku ke rumah sakit buat jengukin Alea. Kalau Papah gak percaya Papah bisa telpon Mas Gavin sekarang," kata Zhivanna.


"Papah percaya sama kamu dan kamu boleh pergi ke rumah sakit," kata Vendo.


Zhivanna sangat senang karena Vendo mengizinkannya pergi. Tari sangat kesal karena Vendo mengizinkan Zhivanna pergi.


"Makasih Pah, kalau gitu aku pergi dulu Pah," kata Zhivanna.


"Iya, salam ya buat Alea," kata Vendo.


Zhivanna pun mengangguk. Dia segera pergi meninggalkan rumahnya. Setelah Zhivanna pergi, Tari melakukan protes pada suaminya.


"Papah apaan sih? Selalu aja kasih izin buat Zhivanna pergi? Heran deh Mamah sama Papah," omel Tari pada Vendo.


"Seperti yang Mamah bilang, Zhivanna menantu kesayangan Papah, jadi Papah kasih izin buat dia karena dia menantu kesayangan Papah," kata Vendo.


Vendo pun pergi meninggalkan Tari. Dia tidak mau mendengar omelan Tari yang super duper panjang. Lebih baik Vendo menghindari omelan dan kemarahan istrinya itu.


→Rumah Sakit


Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya Zhivanna telah sampai di rumah sakit. Setelah membayar biaya taksi, Zhivanna turun dari mobil dan berjalan memasuki rumah sakit menuju ruang inap Alea.


Sesampainya di ruang inap Alea, Zhivanna membuka pintu perlahan dan dia melihat Alea sedang makan disuapi oleh Bu Fitri.


"Bu Zhiva mari masuk," kata Bu Fitri yang melihat kehadiran Zhivanna.


"Iya Bu, Terima kasih," kata Zhivanna.


Zhivanna pun masuk ke dalam ruang inap Alea dan berjalan mendekati ranjang rawat Alea. Dia duduk di kursi depan ranjang rawat Alea.


"Alea sayang gimana keadaan kamu sekarang?" tanya Zhivanna.


"Aku udah baikan Tante," jawab Alea.


"Lihat Tante bawain buah-buah buat Alea. Apa Alea suka buah?" tanya Zhivanna.


"Suka," jawab Alea.


"Ucapin apa sama Tantenya?" tanya Bu Fitri.


"Terima kasih Tante," kata Alea.


"Sama-sama sayang," kata Zhivanna," Apa Alea mau disuapin sama Tante?"


Alea mengangguk. Zhivanna pun mengambil piring berisi makanan itu dari Bu Fitri lalu menyuapi Alea dengan penuh kasih sayang.


→Rumah Gavin


Disisi lain, Laura sedang mencari keberadaan Zhivanna sambil membawa beberapa bajunya. Namun dia tidak menemukan keberadaan Zhivanna dimanapun. Dia pun menghampiri Orang tuanya dan bertanya pada orang tuanya dimana Zhivanna.


"Mah, Pah, Kak Zhiva mana?" tanya Laura.


"Dia pergi ke rumah sakit, buat jenguk anak adopsinya itu," jawab Tari.


"Emangnya ada apa kamu cari Zhiva?" tanya Vendo.


"Aku mau Kak Zhiva cuciin baju aku Pah, lihat nih baju kotor aku banyak banget," kata Laura.


"Laura kamu bisa kan cuci baju sendiri? Kenapa kamu harus nyuruh Kakak ipar kamu?" tanya Vendo.


"Pah, Papah kan tau sendiri aku gak bisa nyuci baju Papah. Lagian apa salahnya aku nyuruh Kak Zhiva, cuma cuci baju doang," kata Laura.


"Karena Zhiva itu bukan pembantu yang seenaknya bisa kamu suruh. Sekarang kamu cuci baju kamu sendiri," pinta Vendo.


"Ih, kan aku udah bilang aku gak bisa Papah," kata Laura.


"Pah udahlah, Laura kan gak bisa cuci baju sendiri jadi biarkan aja Zhiva nanti yang cuci baju dia saat dia datang nanti," kata Tari.


"Yeyy makasih Mamah," kata Laura," Oh ya Pah aku boleh minta uang gak? soalnya aku mau jalan-jalan sama teman-teman aku?"


"Berapa uang yang kamu mau?" tanya Vendo.


"30 juta Pah," jawab Laura.


"Nanti Papah transfer ke rekening kamu," kata Vendo.


"Makasih Papah ku sayang," kata Laura.


"Tapi ingat pulangnya jangan malam-malam," kata Tari.


"Oke Mah. Aku ke kamar dulu ya," kata Laura.


Laura pun kembali ke kamarnya. Setelah Laura pergi, Vendo menasehati istrinya untuk tidak memanjakan Laura.


"Mah, harusnya Mamah gak manjain Laura," kata Vendo.


"Emangnya kenapa kalau Mamah manjain dia? Dia kan putri kita?" tanya Tari.


"Tapi dia akan susah saat dia menikah dan tinggal dengan mertuanya kalau dia gak bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga," jawab Vendo," Dan Mamah memperlakukan Zhiva seperti ART, gimana nanti kalau putri kita juga diperlakukan seperti Mamah memperlakukan Zhiva?"


"Papah tenang aja, itu semua gak akan terjadi sama Laura. Papah percaya deh sama Mamah," kata Tari.


"Baiklah, tapi ingat jika Laura bernasib sama seperti Zhiva Mamah jangan salahkan siapapun," kata Vendo.


Vendo pun pergi meninggalkan istrinya sedangkan Tari, dia kembali melanjutkan membaca majalah sambil meminum secangkir teh.

__ADS_1


...[Bersambung...]...


__ADS_2