
Flashback On
Seorang laki-laki sedang duduk santai di sebuah caffe sambil menikmati kopi favoritenya. Dia sedang menunggu kedatangan kekasihnya. Tiba-tiba seorang gadis datang menghampirinya.
"Gavin sayang, Maaf ya aku lama datangnya," kata Gadis itu.
"Gak papa Sella sayang, ayo kamu duduk. Aku udah pesankan minuman favorite kamu," kata laki-laki itu yang ternyata bernama Gavin.
Gadis yang bernama Sella itu segera duduk di kursi lalu mulai menikmati minuman favoritenya itu.
"Oh ya, aku udah daftar nama kita di Universitas favorite di kota ini," kata Gavin.
"Apa? Kamu udah daftarin nama kita di Universitas di kota ini?" tanya Sella terkejut mendengar pernyataan Gavin.
"Iya, jadi kita tinggal datang kesana buat mengikuti test masuk," jawab Gavin.
"Aku gak mau ikut test, itu " kata Sella.
"Kenapa kamu gak mau ikut Test itu sayang?" tanya Gavin.
"Karena aku gak mau kuliah di sini, aku mau kuliahnya di Luar negeri Gavin," jawab Sella.
"Tapi kita kan udah pernah janji mau satu kampus, apa kamu lupa sama janji kita dulu?" tanya Gavin.
"Aku gak pernah lupa sama janji kita, tapi aku gak mau kuliah di sini. Kalau kamu mau, kamu bisa kok kuliah di luar negeri, aku bakalan bilang sama Papah aku buat daftarin kamu juga, jadinya kita bisa satu kampus," jawab Sella dengan antusias.
"Aku gak bisa kuliah diluar negeri," kata Gavin.
"Kenapa?" tanya Sella.
"Aku gak mau ninggalin orang tua aku disini," jawab Gavin.
"Itu sudah jadi resiko kita buat ninggalin keluarga kita demi masa depan kita Gavin," kata Sella mencoba membujuk Gavin untuk mengikutinya kuliah diluar negeri.
"Maaf Sella, aku gak bisa buat ikut kamu diluar negeri," kata Gavin.
"Aku juga gak bisa ikut kamu kuliah disini," kata Sella.
"Terus hubungan kita gimana?" tanya Gavin.
"Kalau kamu gak mau ikut aku kuliah diluar negeri ya udah berarti kita putus," kata Sella dengan enteng.
"Apa? Kita putus?" tanya Gavin memastikan perkataan Sella.
"Iya, karena aku rasa kita berdua itu gak cocok, " kata Sella.
"Cuma karena aku gak ikut kamu kuliah diluar negeri, kamu mutusin aku?" tanya Gavin.
"Iya, mulai sekarang kamu gak usah hubungin aku lagi, kita jalani kehidupan kita masing-masing," kata Sella.
Sella segera beranjak dari kursinya lalu dia pergi meninggalkan Gavin. Sedangkan Gavin, dia sangat sedih karena Sella mengakhiri hubungan mereka begitu saja dia sangat mencintai gadis itu. Gavin tidak menyangka hubungan yang sudah terjalin selama 3 tahun lamanya harus kandas karena ego mereka masing-masing.
Pada akhirnya, Gavin pun melanjutkan pendidikannya di Indonesia sedangkan Sella melanjutkan pendidikannya di Luar negeri.
Saat Gavin sedang buru-buru menuju ruang kelasnya, Tiba-tiba dia bertabrakan dengan seorang gadis cantik hingga buku yang dibawa gadis itu jatuh berserakan di lantai. Gavin pun langsung berjongkok dan membantu gadis itu membereskan bukunya.
"Maaf ya aku gak sengaja," kata Gavin.
"Gak papa," kata Gadis itu.
Gavin pun menatap gadis itu lalu seketika dia terpesona dengan gadis itu. Setelah selesai membereskan buku, mereka berdua segera berdiri.
"Sekali lagi maaf ya aku gak sengaja, soalnya tadi aku buru-buru," kata Gavin.
"Gak papa Kak, makasih ya Kakak udah bantu aku buat beresin buku," kata Gadis itu.
"Kenalin nama aku Gavin, kalau kamu namanya siapa?" tanya Gavin seraya memperkenalkan dirinya dan mengulurkan tangannya.
"Nama aku Zhiva Kak," jawab Gadis itu yang ternyata bernama Zhivanna. Dia pun menjabat tangan Gavin.
"Kamu adik tingkat ya?" tanya Gavin.
"Iya Kak, aku baru tahun ini masuk ke kampus ini," jawab Zhivanna.
"Oh begitu," kata Gavin.
"Kalau gitu aku permisi dulu ya Kak, aku mau ke kelas," kata Zhivanna
"Iya silahkan," kata Gavin.
Zhivanna segera pergi meninggalkan Gavin. Sedangkan Gavin, dia menatap Zhivanna yang semakin menjauh lalu dia kembali berjalan menuju kelasnya.
Setelah kejadian itu, Gavin mulai mendekati Zhivanna. Bahkan hampir setiap hari mereka berdua selalu bersama layaknya sepasang kekasih. Hingga tiba saatnya Gavin menyatakan perasannya pada Zhivanna. Dengan senang hati Zhivanna menerima cinta Gavin karena dia juga mencintai Gavin.
Mereka menjalin hubungan selama hampir 2 tahun, hingga hari kelulusan tiba, mereka berdua memutuskan untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang pernikahan. Impian mereka pun akhirnya terwujud.
Flashback Off
Gavin tersenyum saat mengingat pertemuan pertamanya dengan Zhivanna hingga dia bisa mencintai wanita yang sekarang menjadi istri itu. Namun dia juga sedih ketika mengingat kandasnya hubungannya dengan Sella dan tadi siang dia bertemu kembali dengan mantan kekasihnya itu.
"Aku gak tau apa harus Terima kasih sama kamu atau enggak, kalau bukan karena kamu memutuskan hubungan kita waktu itu, aku gak mungkin bisa ketemu sama Zhivanna dan jatuh cinta sama dia," gumam Gavin.
Sama halnya dengan Gavin, kini Sella juga sedang mengingat masa lalu mereka. Sella sangat menyesal karena egonya dan ambisinya untuk kuliah diluar negeri, dia memutuskan Gavin begitu saja. Padahal saat itu dia masih sangat mencintai Gavin bahkan sekarang pun dia masih mencintai laki-laki itu. Namun dia harus menerima kenyataan pahit jika Gavin kini sudah menikah.
"Kamu tau Gavin, aku nyesel banget udah mutusin kamu waktu itu. Aku masih sangat mencintai kamu bahkan sekarang rasa cinta itu masih ada buat kamu, tapi nyatanya sekarang kamu sudah menikah. Kesempatan aku buat dekat sama kamu lagi sudah hilang," gumam Sella.
Setelah meredakan rasa sedihnya, Sella kembali mengerjakan pekerjaan kantornya.
...****************...
...(Malam Harinya) ...
→Rumah Gavin.
Gavin telah tiba dirumahnya setelah seharian bekerja di kantor. Setelah turun dari mobil, Gavin melangkahkan kakinya memasuki rumahnya.
Sesampainya di dalam rumah, Gavin melihat Orang tua dan adiknya sedang berkumpul diruang keluarga. Gavin pun berjalan menghampiri keluarganya.
"Gavin sayang, kamu udah pulang," kata Tari ketika melihat Gavin menghampirinya.
"Iya Mah," kata Gavin," Oh iya, Zhiva mana? Kok gak ikut kumpul disini?"
__ADS_1
"Zhiva lagi masak di dapur," jawab Vendo.
"Ya udah aku mau temuin Zhiva dulu di dapur," kata Gavin.
Gavin segera pergi meninggalkan keluarga lalu berjalan menuju dapur.
Sesampainya di dapur, Gavin melihat Zhivanna sedang sibuk memasak makanan untuk makan malam.
Gavin berjalan pelan mendekati Zhivanna lalu dia memeluk Zhivanna dari belakang.
"Sayang," panggil Gavin.
"Kamu udah pulang Mas," kata Zhivanna.
"Aku kangen banget sama kamu," kata Gavin.
"Kita kan gak ketemunya cuma seharian, masa kamu udah kangen sama aku?" tanya Zhivanna.
"Tapi tetap aja aku kangen banget sama kamu," kata Gavin," emangnya kamu gak kangen ya sama aku?"
Zhivanna melepaskan pelukan Gavin. Dia pun berbalik badan lalu kembali memeluk Gavin.
"Siapa bilang aku gak kangen? Aku juga kangen banget sama kamu Mas," kata Zhivanna.
Gavin tersenyum mendengar perkataan istrinya itu lalu dia mencium ubun-ubun Zhivanna dengan lembut.
"Oh ya, tadi Mamah Zahira telpon aku. Dia ngundang kita buat makan malam di rumah," kata Zhivanna.
"Dalam rangka apa?" tanya Gavin penasaran.
"Sepupu aku Yumna, dia baru pulang dari London siang tadi. Dia mau ketemu sama kita," jawab Zhivanna.
"Oh,sepupu kamu yang sering kamu ceritakan itu," kata Gavin.
"Iya, gimana? Kamu bisa kan datang ke rumah orang tua aku buat makan malam?" tanya Zhivanna.
"Bisa sayang, mana mungkin aku gak datang kalau yang mengundang itu mertua aku sendiri," kata Gavin.
"Ya udah, aku mau masak dulu buat Mamah, Papah, sama Laura habis ini selesai kita langsung berangkat ya," kata Zhivanna dengan semangat.
"Iya, kalau gitu aku mau mandi dulu ya," kata Gavin.
"Iya sayang," kata Zhivanna.
Gavin segera pergi meninggalkan dapur lalu dia pergi menuju kamarnya untuk ganti baju.
Sesampainya dia di kamar, Gavin meletakkan tas kerjanya dimeja kerjanya. Tiba-tiba handphone Gavin berbunyi. Gavin segera mengambil handphonenya dari dalam saku celananya.
From:+628xxxxxxxx
Gavin, ini aku Sella.
Aku cuma mau kabarin kalau
Proposal kerja sama kita sudah
aku kirim ke email kamu.
^^^Baik. ^^^
^^^Makasih ya. ^^^
Setelah membalas pesan Sella, Gavin segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
10 menit kemudian, Gavin telah selesai mandi. Dia berjalan mendekati lemari pakaiannya untuk memilih baju yang akan dia kenakan untuk ke rumah mertuanya.
Sementara di ruang makan, Zhivanna telah selesai menyiapkan makan malam untuk mertua dan adik iparnya.
"Gavin mana?" tanya Tari.
"Mas Gavin ada di kamar Mah, dia lagi mandi," jawab Zhivanna.
"Ya udah sana, lihat apa dia udah selesai mandi atau belum habis itu suruh kemari buat makan malam," perintah Tari.
Zhivanna segera pergi menuju kamarnya untuk menemui Gavin.
Sesampainya di kamar, Zhivanna melihat Gavin sudah siap dengan penampilannya.
"Gimana udah selesai masaknya?" tanya Gavin.
"Udah, malahan aku udah siapin juga dimeja makan," kata Zhivanna.
"Ayo kita berangkat sekarang nanti malah telat lagi kita ke rumah Mamah sama Papah," kata Gavin.
"Tunggu bentar ya Mas, aku mau dandan sama ganti baju dulu," kata Zhivanna.
Zhivanna segera duduk di meja rias nya lalu mulai mendandani dirinya dengan make up yang sederhana. Setelah selesai dandan, Zhivanna segera berganti baju. Kini barulah Zhivanna siap untuk pergi.
"Aku udah siap Mas," kata Zhivanna.
"Ayo kita berangkat sekarang," ajak Gavin.
Gavin segera mengandeng tangan Zhivanna lalu mereka berdua keluar dari kamar sambil bergandengan tangan.
Sesampainya di ruang tamu, tiba-tiba mereka dicegat oleh Tari.
"Kalian berdua mau kemana?" tanya Tari.
"Kami mau makan malam dirumah Mamah Zahira sama Papah Rian Mah," jawab Gavin.
"Kenapa kalian gak izin dulu sama kami?" tanya Tari marah.
"Mah, buat apa kami izin dulu sama Mamah. Kami bebas mau pergi kemana aja. Lagian kami perginya cuma bentar kok disana," jawab Gavin.
"Tetap aja kalian harus minta izin dulu sama Mamah," kata Tari.
"Mah, udahlah lagian mereka mau pergi ke rumah besan bukan mau keluar negeri," kata Vendo.
"Tapi Pah," kata Tari.
"Gavin, Zhiva, udah kalian pergi aja nanti kalian malah telat kesana. Salam ya buat besan," kata Vendo.
__ADS_1
"Iya Pah, nanti kami akan sampaikan salam dari Papah," kata Zhivanna.
"Mah, Pah, kami pergi dulu," kata Gavin berpamitan pada Orang tuanya.
Gavin dan Zhivanna berjalan menuju keluar rumah. Sesampainya di luar rumah, Gavin dan Zhivanna menuju mobil milik Gavin yang sudah terparkir rapi di halaman rumah.
Gavin pun membukakan pintu untuk Zhivanna, setelah Zhivanna masuk dia cepat berputar dan masuk ke bangku kemudinya. Gavin mulai menghidupkan mesin mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Sementara di dalam rumah, Tari sangat marah pada Vendo karena sudah mengizinkan Gavin dan Zhivanna pergi.
"Papah apaan sih? Kenapa Papah biarin mereka pergi?" tanya Tari.
"Emangnya Papah salah izinin mereka buat pergi? Lagian Gavin itu pergi ke rumah mertuanya untuk berkunjung, gak ada salahnya kan Papah izinin mereka?" tanya Vendo.
"Tentu aja ada Pah, gimana kalau mereka menghasut Gavin untuk tinggal sama mereka? Terus disana mereka menjelekkan kita di depan Gavin?" tanya Tari.
"Mereka bukan orang seperti itu Mah," jawab Vendo.
"Belain aja terus menantu kesayangan Papah itu sama keluarganya itu," kata Tari," Kalau gini Mamah malas ah makan lagi,"
"Aku juga," kata Laura.
Tari dan Laura pergi meninggalkan Vendo. Sedangkan Vendo, dia hanya bisa menghela nafasnya melihat kelakukan istri dan putrinya itu.
→Rumah orang tua Zhivanna
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya Gavin dan Zhivanna telah sampai didepan rumah Zahira dan Rian. Melihat mobil Gavin datang, Pak Yadi segera membuka pintu gerbang.
Setelah turun dari mobil, Gavin dan Zahira segera melangkahkan kaki mereka memasuki rumah. Kedatangan mereka disambut hangat oleh Zahira dan Rian. Gavin dan Zhivanna langsung menyalami tangan Zahira dan Rian.
"Akhirnya kalian datang juga," kata Zahira.
"Maaf ya, kami telat datangnya," kata Zhivanna.
"Gak papa sayang, yang penting kalian datang," kata Zahira.
"Papah senang akhirnya kamu datang kesini Gavin," kata Rian.
"Iya Pah, maaf ya akhir-akhir ini aku gak bisa kesini soalnya pekerjaan kantor lagi banyak banget," kata Gavin.
"Gak papa, kami bisa memaklumi itu," kata Rian.
"Mah, Yumna mana?" tanya Zhivanna.
Belum sempat Zahira menjawab, Yumna sudah datang menghampiri mereka. Yumna berjalan mendekati Zhivanna lalu memeluk Zhivanna dengan erat.
"Kak Zhiva, aku kangen banget sama Kakak," kata Yumna.
"Aku juga kangen banget sama kamu Yumna," kata Zhivanna.
Setelah memeluk Zhivanna, tatapan Yumna beralih pada Gavin.
"Biar aku tebak Kakak pasti suaminya Kak Zhiva iya kan?" tanya Yumna.
"Iya kamu benar. Kenalin aku Gavin, suami Zhiva," jawab Gavin seraya memperkenalkan dirinya pada Yumna.
"Aku Yumna. Adik sepupunya Kak Zhiva tapi kami sudah seperti saudara kandung," kata Yumna.
"Mari kita mulai acara makannya," ajak Zahira.
Mereka berempat pergi menuju meja makan. Sesampainya di sana, mereka segera duduk dikursi masing-masing dan mulai menyantap hidangan makan malam mereka.
"Oh ya kalian cuma datang berdua aja? Anak kalian mana? Aku kan mau ketemu sama keponakan aku," kata Yumna.
Mendengar perkataan Yumna, membuat Zhivanna murung. Melihat istrinya yang sedih, Gavin berusaha menenangkan Zhivanna.
Yumna yang melihat Zhivanna sedih pun kembali bertanya.
"Kok Kak Zhiva sedih? Kak Zhiva kenapa?" tanya Yumna.
"Aku gak papa. Sampai saat ini kami belum punya anak," jawab Zhivanna.
Yumna sangat terkejut mendengar jawaban dari Zhivanna. Dia sangat merasa bersalah karena menanyakan pertanyaan yang salah pada Zhivanna hingga membuat wanita itu sedih.
"Maaf Kak, aku gak tau kalau Kakak belum punya anak. Kakak pasti sedih dengar pertanyaan aku tadi," kata Yumna.
"Gak papa kok," kata Zhivanna.
"Udah, mari kita lanjut makan," kata Adrian mencoba mencairkan suasana.
Mereka pun menlanjutkan makan mereka. Setelah selesai makan malam, Zhivanna membantu Ibunya mencuci piring dan membereskan meja makan. Sedangkan Gavin berbincang dengan Ayah mertuanya di ruang tamu.
Saat mereka sedang mencuci piring, tiba-tiba Yumna datang menghampiri mereka.
"Kak, apa aku boleh memberi saran sama Kakak?" tanya Yumna.
"Saran apa Yumna?" tanya Zhivanna kembali.
"Aku saranin buat Kakak supaya adopsi anak aja dari panti asuhan supaya Kakak bisa punya anak," jawab Yumna.
"Adopsi anak?" tanya Zhivanna.
"Iya, Kakak tau teman aku juga mengalami kayak Kakak terus dia sama suaminya adopsi anak dari panti asuhan dan akhirnya dia hamil," kata Yumna.
"Gak ada salahnya juga sih kamu mencoba saran dari Yumna sayang," kata Zahira.
"Ya udah deh, nanti aku coba bicarain dulu sama Mas Gavin, semoga aja dia setuju," kata Zhivanna.
"Amin," kata Zahira dan Yumna bersamaan.
Mereka melanjutkan mencuci piring. Setelah selesai mencuci piring, kini Zhivanna dan Gavin pamit pulang kepada Adrian dan Zahira.
"Mah, Pah, kamu pamit pulang ya," kata Zhivanna.
"Iya, kalian hati-hati dijalan ini kan udah malam," kata Zahira.
"Iya Mah," kata Zhivanna.
Setelah berpamitan, Zhivanna dan Gavin masuk ke mobil. Gavin menghidupkan mesin mobil lalu mulai menjalankan mobilnya meninggalkan rumah mertuanya.
...[Bersambung...]...
__ADS_1