
→Caffe
Saat ini Tari dan Laura berada di Caffe. Mereka berdua sedang menikmati makanan dan minuman yang sudah mereka pesan.
"Udahlah Mah, Mamah jangan cemberut terus kayak gitu dong," kata Laura.
"Laura Mamah itu lagi kesal banget sama Papah kamu, masa dia main dukung aja rencana Kakak kamu buat adopsi anak," kata Tari.
"Aku yakin Mah, kalau ini semua gara-gara Kak Zhiva. Pasti dia yang udah menghasut Kak Gavin untuk setuju kalau mereka mengadopsi anak, dia pasti gak mau kalau Kak Gavin cerain dia," kata Laura.
"Mamah juga sepemikiran sama kamu sayang. Dasar wanita licik," kata Tari," Kayaknya Mamah harus secepatnya cari istri baru buat Kakak kamu, mau dia setuju atau gak, pokoknya dia harus menikah lagi. Mamah gak mau kalau sampai harta warisan keluarga kita jatuh ke anak angkatnya nanti."
"Mamah tenang aja nanti aku juga bakalan bantu buat cari istri baru untuk Kakak," kata Laura.
"Ya, itu bagus sayang. Teman-teman kamu kan banyak, siapa tau mereka tertarik sama Kakak kamu asal dia dari keluarga terpandang," kata Tari.
"Mamah gak usah khawatir, serahkan semuanya ke aku," kata Laura.
Saat Laura sedang asyik meminum jusnya, tiba-tiba dia melihat seseorang yang sangat dia kenali tengah duduk dimeja yang tak jauh darinya.
"Kamu lagi lihatin apa?" tanya Tari.
"Mah, itu disana kayaknya Kak Sella deh," kata Laura.
"Sella? Mantan pacarnya Gavin dulu?" tanya Tari.
"Iya, tuh coba Mamah lihat," kata Laura sambil menunjukkan tangannya ke arah Sella.
Tari pun menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh Laura. Tari seketika terkejut melihat Sella, mantan pacar putranya dulu.
"Iya sayang, itu benaran Sella mantan Kakak kamu," kata Tari.
"Wah, aku gak nyangka sekarang dia tambah cantik dan aku lihat dia seperti seorang pengusaha," kata Laura.
"Ya udah ayo kita samperin dia," ajak Tari.
Tari dan Laura bangkit dari duduk mereka lalu berjalan mendekati meja Sella. Sesampainya dimeja Sella, Tari dan Laura langsung menyapa Sella.
"Sella, ini kamu kan?" tanya Tari.
Sella sangat terkejut dengan kehadiran Laura dan Tari. Dia tidak menyangka jika dia dipertemukan kembali dengan keluarga Gavin.
"Ini Kak Sella kan? Mantan pacarnya Kak Gavin kan?" tanya Laura.
"Iya aku Sella, mantannya Gavin," jawab Sella.
Laura pun memeluk Sella. Sedangkan Sella membalas pelukan Laura.
"Aku kangen banget sama Kak Sella. Sejak Kakak sama Kak Gavin putus Kakak gak pernah ke rumah lagi buat temenin aku hangout," kata Laura.
"Aku juga kangen banget sama kamu Laura," kata Sella.
"Sella gimana kabar kamu?" tanya Tari.
"Baik Tante. Ayo Tante, Laura kalian duduk," kata Sella.
Tari dan Laura duduk di kursi di depan Sella. Mereka pun melanjutkan obrolan mereka.
"Tante senang banget setelah sekian lama akhirnya kita bisa ketemu," kata Tari.
"Aku juga senang banget ketemu sama Tante," kata Sella.
"Kakak sendirian aja? Pacar Kakak mana?" tanya Laura kepo.
"Aku belum punya pacar Laura," jawab Sella.
"Kirain setelah putus dari Kak Gavin, kakak udah punya pacar baru ternyata belum ya," kata Laura.
"Iya," kata Sella.
"Kamu sekarang kerja dimana Sella?" tanya Tari.
"Aku kerja di perusahaan Papah aku. Aku disana gantiin Papah aku jadi direktur utama," jawab Sella.
"Wah, kamu beruntung banget setelah lulus kuliah kamu langsung diangkat jadi direktur di perusahaan Papah kamu. jadi kamu gak perlu susah cari kerja, " kata Tari.
"Aku juga bersyukur banget karena Papah aku mempercayakan perusahaan sama aku," kata Sella," Oh ya Gavin gimana Tante? Aku dengar dia sudah menikah?"
"Iya, dia sudah menikah tapi dia gak bahagia sama pernikahannya," kata Tari.
Sella sangat terkejut mendengar perkataan Tari bahwa Gavin tidak bahagia dengan pernikahannya.
"Gak bahagia gimana Tante?" tanya Sella penasaran.
"Selama 3 tahun menikah, sampai sekarang mereka belum dikarunia anak padahal Tante sama Om pengen banget punya cucu dan Tante juga tau kalah Gavin pengen banget punya anak tapi istrinya malah gak bisa kasih dia anak," jawab Tari.
"Apa istrinya itu mandul Tante?" tanya Sella.
"Ya bisa dibilang begitulah," jawab Tari.
"Mamah udah berusaha buat suruh Kak Gavin ceraiin istri itu tapi Kak Gavin malah gak mau, mungkin karena Kak Gavin kasihan sama istrinya itu makanya dia gak mau ceraiin istrinya," kata Laura.
Sella pun terdiam. Dia tidak menyangka pernikahan Gavin tidak bahagia. Dia sangat sedih mengetahui jika Gavin tidak bahagia dengan pernikahan tapi disisi lain, dia senang mungkin dia bisa mendekati Gavin kembali.
"Kak apa aku boleh tanya sesuatu sama Kak Sella?" tanya Laura.
"Tanya apa Laura?" tanya Sella kembali.
"Apa Kakak masih cinta sama Kak Gavin?" tanya Laura to the point.
Sella seketika terkejut mendengar pertanyaan dari Laura. Dia bingung harus jawab apa pada Laura.
"Aku---" kata Sella
Belum sempat Sella melanjutkan ucapannya, tiba-tiba handphone Sella berbunyi. Sella pun mengambil handphonenya yang dia letakkan di atas mejanya.
__ADS_1
Drttt... Drtt... Drtt...
Mamah is Calling...
Setelah mengetahui Mamahnya yang menelponnya, Sella segera menerima panggilan telpon tersebut.
"Hello Mah," kata Sella.
"Sella kamu kemana sih? Kok pergi gak izin dulu sama Mamah," kata Stella dari sebrang sana.
"Maaf Mah, aku tadi jalan-jalan sebentar cari hiburan, sekarang aku lagi di Caffe ***," kata Sella.
"Ya udah sekarang kamu pulang ya, temenin Mamah ke Mall, kita shopping bareng kamu mau kan?" tanya Stella.
"Iya Mah, aku mau kok. Ya udah aku segera pulang ya Mamah tunggu Oke," kata Sella.
"Oke sayang, Mamah tunggu ya jangan lama terus jangan ngebut bawa mobilnya," kata Stella.
"Iya Mah," kata Sella.
Tutt... Tutt.. Tutt..
Sella pun memutuskan sambungan telponnya dengan Mamahnya.
"Maaf ya Tante, Laura kayak aku pulang duluan soalnya aku ada urusan," kata Sella.
"Iya Sella, gak papa kok," kata Tari.
"Apa aku boleh minta nomor handphone Kakak?" tanya Laura.
"Boleh," kata Sella.
Laura memberikan handphonenya pada Sella. Sella pun mengetik nomornya di handphone Laura. Setelah selesai, dia mengembalikan handphone Laura.
"Aku udah save nomor aku ya," kata Sella.
"Makasih Kak Sella," kata Laura.
"Kalau gitu aku pergi dulu ya Tante, Laura," kata Sella.
Sella pun pergi meninggalkan Tari dan Laura. Setelah Sella pergi, Laura pun menyampaikan rencananya pada Tari.
"Mah, kayaknya aku punya deh calon istri buat Kak Gavin," kata Laura.
"Siapa sayang?" tanya Tari.
"Kak Sella. Aku yakin Kak Sella itu masih cinta sama Kak Gavin lagipula Kak Sella gadis yang baik, modis dan elegan jadi cocoklah sama Kak Gavin," jawab Laura.
"Iya kamu benar juga Sella itu cocok banget sama Gavin. Mamah setuju kalau Sella jadi istri Kakak kamu," kata Tari.
"Sekarang rencana kita adalah dekatin kembali Kak Gavin sama Kak Sella biar mereka bisa saling mencintai lagi," kata Laura.
"Iya sayang kamu benar. Wah, anak Mamah memang pintar banget," kata Tari memuji Laura.
Mendengar pujian dari Tari membuat Laura berbangga diri. Setelah menghabiskan makanan dan minuman pesanan mereka dan membayar pesanan mereka, mereka segera pergi meninggalkan Caffe.
"Aku gak sabar deh Mas, mau bawa Alea ke rumah dan memperkenalkan Alea sebagai anak kita," kata Zhivanna.
"Aku juga gak sabar sayang, tapi kita harus menunggu 4 bulan baru kita resmi mengadopsi Alea sebagai anak kita," kata Gavin.
"Semoga aja Alea mau ya Mas kita adopsi," kata Zhivanna.
"Aminn," kata Gavin mengaminkan doa Zhivanna.
" Oh ya sayang apa kamu lapar?"
"Lapar sih," jawab Zhivanna.
"Ya udah, kita ke restoran dulu ya baru pulang Oke," kata Gavin.
"Iya Mas," kata Zhivanna.
Gavin melajukan mobilnya menuju restoran terdekat. Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit, akhirnya Gavin dan Zhivanna sampai di sebuah restoran mewah. Mereka pun turun dari mobil dan berjalan memasuki restoran tersebut.
Sesampainya di dalam, mereka segera duduk dan Gavin langsung memanggil Waiters.
"Selamat siang Tuan, Nyonya. Mau pesan apa?" tanya Waiters tersebut.
"Saya mau pesan beef steak 2, jus jeruk 1 sama jus strawberry 1," kata Gavin.
"Apa ada lagi?" tanya Waiters.
"Gak ada," jawab Gavin.
"Baik, mohon ditunggu pesanannya," kata Waiters.
Waiters tersebut pergi meninggalkan meja Gavin dan Zhivanna untuk menyiapkan pesanan mereka. 20 menit kemudian, waiters kembali menghampiri meja mereka dengan membawakan makanan dan minuman pesanan mereka.
"Ini pesanannya Tuan, Nyonya! selamat menikmati," kata Waiters.
"Terima kasih," kata Zhivanna.
Setelah mengantarkan pesanan, Waiters itu pergi meninggalkan meja Gavin dan Zhivanna.
"Pokoknya kamu harus makan yang banyak, aku gak mau kamu sampai sakit lagi," kata Gavin.
Zhivanna pun tersenyum. Dia senang karena Gavin sangat perhatian padanya. Inilah yang membuat Zhivanna mencintai pria yang kini menjadi suaminya.
"Kamu kenapa senyum sayang?" tanya Gavin.
"Aku senang lihat kamu perhatian sama aku Mas," jawab Zhivanna.
"Itu kan udah jadi tugas aku sebagai suami kamu sayang," kata Gavin.
"Tetaplah seperti ini Mas, jangan berubah," kata Zhivanna.
__ADS_1
"Iya sayang, aku gak mungkin berubah karena aku sangat mencintai kamu," kata Gavin.
"Aku juga sangat mencintai kamu Mas," kata Zhivanna.
"Ayo sekarang kita makan," kata Gavin.
Gavin dan Zhivanna mulai menyantap makanan dan minuman pesanan mereka.
Dimeja lain di tempat yang sama, Sella dan Mamahnya juga tengah menikmati makanan dan minuman pesanan mereka. tiba-tiba tanpa sengaja Stella melihat Gavin dan Zhivanna.
"Sayang itu bukannya Gavin mantan pacar kamu ya?" tanya Stella.
Sella pun memperhatikan arah yang ditunjuk oleh Stella. Seketika dia langsung terkejut melihat Gavin dan Zhivanna ada di satu restoran yang sama dengannya bahkan mereka terlihat sangat mesra.
"Kayaknya wanita itu istrinya deh. Lihat mereka sangat mesra dan harmonis," kata Stella," Kalau kamu kapan nyusul mereka sayang?"
"Mamah apaan sih kok nanya begitu sama aku?" tanya Sella.
"Ya Mamah kan cuma nanya aja lagipula umur kamu untuk menikah itu udah cukup sayang," jawab Stella," Emangnya kamu gak mau menikah?"
"Bukan begitu Mah, aku mau menikah tapi nanti untuk sekarang aku mau fokus dulu sama karir aku," kata Sella.
Stella terdiam setelah mendengar jawaban dari putrinya. Namun sebenarnya dia ingin sekali putrinya itu menikah dan hidup bahagia tapi putrinya hanya memikirkan soal karirnya saja.
Sedangkan Sella, dia sedang memikirkan Gavin. Sebenarnya dia menolak menikah bukan karena karir tapi karena dia hanya ingin menikah dengan laki-laki yang masih dia cintai dari dulu sampai sekarang yaitu Gavin.
Dimeja lain, Gavin dan Zhivanna telah menyelesaikan makan siang mereka.
"Kamu udah selesai makannya sayang?" tanya Gavin.
"Udah," jawab Zhivanna.
"Ayo kita pulang sekarang," ajak Gavin.
Setelah membayar pesanan mereka, Gavin dan Zhivanna segera pergi meninggalkan restoran. Sella memperhatikan mereka dari kejauhan, melihat Gavin dan Zhivanna mesra membuatnya merasa cemburu.
'Kata Laura dan Tari Gavin tidak bahagia dengan istrinya tapi kenapa aku mereka sangat mesra dan harmonis. Apa Gavin hanya berpura-pura mesra biar istrinya senang? kalau emang benar dia gak bahagia sama istrinya, apa aku bisa kembali dalam kehidupan dia?' batin Sella.
Lamunan Sella buyar ketika Mamahnya menegurnya.
"Sella sayang, kamu kenapa melamun?" tanya Stella.
"Gak papa Kok Mah, aku cuma mikirin pekerjaan aku aja dikantor," jawab Sella.
"Udah, cepat lanjutin makannya," kata Stella.
"Iya Mah," kata Sella.
Sella dan Stella pun melanjutkan makan mereka.
→Rumah Gavin.
Tari dan Laura telah sampai dirumah mereka dengan membawa begitu banyak belanjaan. Mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di dalam, Vendo terkejut melihat istri dan putrinya membawa belanjaan sangat banyak.
"Mah, Laura kalian habis darimana?" tanya Vendo.
"Kami habis shopping ke Mall ya kan Mah," jawab Laura.
"Iya Pah, lihat Mamah bawain baju baru buat Papah, " kata Tari," Oh ya Gavin udah pulang Pah?"
"Belum, mungkin sebentar lagi," jawab Vendo.
Tak lama kemudian, mereka mendengar mobil Gavin telah tiba di depan rumah mereka.
"Tuh mereka udah datang," kata Vendo.
Tak lama kemudian, Gavin dan Zhivanna masuk ke dalam rumah dan mendekati keluarga mereka.
"Gimana? Apa urusan adopsi anak udah selesai?" tanya Vendo.
"Udah Pah, tapi kami harus menunggu 4 bulan baru kami resmi mengadopsi anak itu dan membawanya pulang kesini," jawab Gavin.
"Kalian sabar aja, memang seperti itu prosedur mengadopsi anak," kata Vendo.
"Iya Pah, sambil menunggu aku sama Zhivanna akan menyiapkan kamar, kebutuhan, dan keperluan dia. Jadi saat dia datang baru semuanya udah lengkap, " kata Gavin.
"Ya, itu memang harus dilakukan mulai sekarang," kata Vendo.
"Gavin, coba kamu pikirkan sekali lagi, mengadopsi anak itu gak mudah sayang dan Mamah juga gak mau orang asing masuk di dalam keluarga kita," kata Tari.
"Keputusan aku sudah bulat Mah dan anak yang akan kami adopsi nanti itu bukan orang asing tapi dia akan menjadi anggota keluarga kita juga," kata Gavin.
"Ah sudahlah Mamah capek nasehatin kamu gak pernah kamu dengerin. Ingat ya jangan sampai kamu menyesal dengan keputusan kamu ini Gavin," kata Tari.
"Ayo Mah kita ke kamar aku aja, ngapain kita disini buat orang yang cuma sayang sama istrinya aja," kata Laura menyindir Zhivanna.
Tari dan Laura pergi menuju kamar. Vendo mendekati Zhivanna dan meminta Zhivanna untuk bersabar menghadapi Tari dan Laura.
"Kamu yang sabar ya menghadapi Mamah dan adik ipar kamu," pinta Vendo.
"Iya Pah, aku selalu sabar menghadapi Mamah sama Laura," kata Zhivanna.
"Pah, kita ke kamar dulu ya," kata Gavin.
"Iya," kata Vendo.
Gavin dan Zhivanna pun juga pergi ke kamar mereka. Sesampainya di kamar, Gavin langsung memeluk Zhivanna.
"Aku bangga banget sama kamu sayang, karena kamu sangat sabar menghadapi Mamah dan adik aku. Maafin Mamah sama Laura ya aku tau kata-kata mereka pasti udah nyakitin kamu," kata Gavin.
"Gak papa Mas lagipula aku udah anggap Mamah Tari sebagai Mamah aku dan Laura sebagai adik aku," kata Zhivanna.
Gavin kembali memeluk Zhivanna dengan erat. Dia semakin bangga dengan sikap istrinya dan rasa cintanya semakin bertambah pada Zhivanna. Sedangkan Zhivanna, sebenarnya dia sangat terluka mendengar hinaan dari mertua dan adik iparnya namun dia tahan karena dia gak mau suaminya ribut dengan keluarganya sendiri hanya karenanya.
__ADS_1
...[Bersambung...]...