
Terlihat langit malam sudah berganti menjadi siang, di sana sebuah kereta berwarna emas dengan kuda putih seperti milik bangsawan sedang berjalan.
Kereta kuda itu adalah milik Harun yang dalam perjalanan dari Desa Tori menunju ke kota besar terdekat. Menurut informasi yang di berikan Luna, kota tersebut sejauh seratus kilometer meter.
Namun, mereka sudah melakukan perjalanan semalaman tidak kunjung menemukan tanda sudah dekat dengan kota.
Saat itu Harun merasa bingung dan ada yang salah dengan perjalanan ini, itu karena intuisi sebagai penguasa waktu. Jika berhubungan dengan waktu dia tidak pernah salah, intuisi Harun sangat tepat bila menyangkut waktu.
'Sepertinya ada yang salah!' pikir Harun.
Setelah berpikir sebentar dia mengeluarkan kepala keluar jendela kereta kuda, dia berniat bertanya pada Avian.
"Avian, apa kamu pernah ke kota terdekat dengan desa Tori?" tanya Harun.
"Tidak, Anda tahu saya terjebak di dalam dimensi ruang waktu, itu membuat saya tidak tahu dunia ini berubah sebanyak apa?"
"Dan walaupun saya tahu cara mengendarai kereta kuda, tetapi saya seorang yang buta arah." Avian dengan wajah polos.
Harun dia memegang kepalanya bukan karena pusing, tapi merasa kesal, dan ujung mulutnya sedikit terangkat.
"Sialan, pantas saja dari tadi ada yang salah!"
"Memang apa yang salah tuan? aku tidak mengerti?" Avian dengan wajah polos tidak paham.
"Arah perjalanan kita salah, dari tadi kamu menuju arah mana? bukankah sudah aku bilang matahari terbit?" Harun sedikit naik darah.
Avian segera melihat ke langit, dia melihat dan kemudian mengingat arah matahari terbit dan terbenam.
"Hm? sepertinya kita berjalan menuju arah matahari terbenam, apa mungkin aku salah jalan?"
Begitu Avian mengatakan kesalahanya. Harun segera keluar kereta kuda melompat sambil menggendong Luna. Namun gadis itu masih tertidur pulas, belum bangun sejak tadi.
Ada alasan kenapa belum bangun, itu terjadi karena tubuh Luna mengadaptasi kekuatan Zafkiel dan Blessing milik Harun.
Kembali pada Harun yang keluar dari kereta kuda. Di sana Avian menghentikan kereta kuda, dan dia terlihat bingung apa yang di lakukan tuanya.
"Tuan, anda mau apa? kenapa melompat keluar kereta kuda? dan membawa nona muda?" tanya Avian.
Avian sangat bingung sangat tidak mengerti apa yang di pikirkan Harun, padahal sudah jelas. Itu karena mereka salah arah dan Harun berpikir tidak ada gunanya terus membiarkan Avian mengendarai kereta kuda.
"Bukankah sudah jelas? aku tidak dapat mengandalkanmu, yang ada hanya akan terus berputar-putar!" tegas Harun.
"Tuan, kalau kita tersesat dan salah arah, saya janji akan menembusnya. Saya akan temukan jalan pintas paling mudah!" balas Avian.
Wajah Avian penuh keyakinan dan untuk Harun dia merasa tidak ada harapan. Harun sangat yakin kalau Avian mencoba mencari jalan pintas, yang ada mereka semakin jauh dari kota yang mereka tuju.
__ADS_1
"Tidak, biarkan aku saja!!" kata Harun.
"Grr!"
Tiba-tiba tubuh kuda putih yang terdapat di kereta kuda berubah jadi seekor naga, kuda itu sebenarnya memang naga. Hanya saja Harun memberikan perintah untuk menjadi seekor kuda.
"Kamu juga Rega, aku mengerti kamu mau mengantarkanku menuju kota terdekat yang menurut informasi Luna arahnya menuju matahari terbit."
"Daga kotowaru! aku sangat yakin Rega, kamu pasti akan benar-benar membawaku sampai matahari!"
"Grr?"
"Bukankah itu tujuanmu? salah Rega! kamu salah artikan! tapi masa bodo, aku mau jalan ke kota hanya bersama Luna. Jadi selamat tinggal!"
Swis!
Dalam sekejap Harun seperti menghilang dari pandangan mereka, itu karena Harun berlari dengan mempercepatnya menggunakan 'temoral accelerate' sehingga pergerakannya sangat cepat.
Harun saat itu menggunakan kekuatan waktu mempercepatnya sebanyak 2 march, dengan biaya 200 tahun usia.
Ding!
[Tuan, sistem terkejut anda masih pagi sudah benar- benar sangat bersemangat, ingat umur sudah bukan anak muda]
[Apa anda ingin cepat menuju kota untuk melakukan beberapa hal pribadi dengan Luna? ternyata sistem benar! anda memiliki fetish seperti itu!]
"Berhenti menambah minyak ke dalam api sistem! kamu membuatku semakin kesal saja apa mengerti?" bentak Harun.
Masih pagi Harun sudah mendapatkan dua hal menjengkelkan, pertama dari bawahan dan kemudian kedua dari sistem yang menambah minyak pada api.
Seketika kening kepala Harun menekuk garis zig-zag karena dia kesal, dalam pikiran Harun ingin rasanya menghajar pelayan termasuk sistemnya yang paling utama.
Untuk pelayannya memang jarang membuat kesalahan, namun sekalinya muncul dia mendadak sakit kepala. Bagaimana tidak? bila Harun ingat, saat berada di dunia salah alamat ke delapan.
Di dunia tersebut sedang terjadi perang nuklir besar besaran, disana memang bukan bumi tetapi universe lain dan nama dunia tersebut adalah Fortes.
Di dunia Fortes juga sedang terjadi perang teknologi tingkat tinggi, mereka sedang perang nuklir besar besaran
Kebetulan bawahan Harun melakukan sedikit kesalahan lalu meminta hukuman dengan keras sangat keras, padahal waktu itu dia tidak sengaja membuat Harun terpeleset.
Kedua dari sistemnya, Harun sangat sering di ganggu sistem lewat notifikasi. Muncul hanya untuk menambah minyak kedalam api, dan kabur tanpa alasan.
Kadang juga sistem menjadi sangat sangat menyebalkan, membuat Harun sangat ingin melakukan restart pada sistem walaupun angan-angan belaka dalam pikiran.
...
__ADS_1
Kembali pada Harun, akhirnya mereka sampai tidak butuh waktu lama. Mereka sampai di hutan dekat dengan kota tersebut.
Kota itu memiliki tembok tebal dan menjulang tinggi, di sana juga terdapat antrian menuju gerbang masuk kota. Di setiap antrian mereka membawa banyak barang, entah dari matrial monster maupun kargo merchant.
"Ini kotanya? sangat ramai dan besar, melihat ini sepertinya benar dunia ini seting waktu Eropa abad pertengahan."
Disana sebelum masuk antrian ke dalam gerbang kota, Harun sedang mengamati nya dari jauh. Setelah mengamatinya beberapa saat mata Harun menunjukkan ekspresi bosan.
"Percuma mau itu sangat manakjubkan, bila bukan bumi sama saja membosankan. Aku merindukan anak asuh di panti!"
"Fuah! eh? Tuan? kenapa aku di sini! tidak aku di gendong seperti putri raja?"
Blush!
Wajah Luna menjadi berwarna merah seperti tomat matang, dia bingung dan malu pada saat yang sama membuat sel urat malunya overload.
"Sudah bangun Luna? apa kamu sakit? kenapa sangat merah?"
"Seharusnya tidak mungkin karena aku memberikan Blessing dan Zafkiel di tubuhmu kan?"
Harun bingung dengan ekspresi wajah Luna dia tidak paham hal tersebut, namun setelah beberapa saat tiba-tiba sadar apa maksud dari ekspektasi malu dari Luna.
'Oh, aku paham! ternyata kamu masih bayi berpikir yang macam-macam. Ya ampun bagaimana nanti saat sudah dewasa? ini mengkhawatirkan!' pikir Harun.
Untuk Harun yang berpikir Luna masih bayi itu tidak salah, usia aslinya sudah terlampaui kakek dari Luna. Jelas memanggilnya dengan sebutan bayi tidak salah, itu bahkan sangat tepat.
"Tuan, tolong turunkan!" pinta Luna dengan suara pelan.
"Baiklah aku mengerti, akan aku turunkan perlahan." kata Harun menurunkan Luna dari gendongannya.
Setelah diturunkan dari gendongan ala putri mendadak Luna terkejut, dia tidak sengaja melihat rambutnya berwarna putih perak yang sangat cantik.
Selain itu juga terkejut tiba-tiba sudah sampai di kota, Luna ingat dia seharusnya ketiduran saat menangis, tetapi lupa dia tertidur pulas dalam pelukan Harun.
"Tuan, kenapa rambutku berada putih? ini kita sampai di kota! bagaimana mungkin bisa? apa yang terjadi!"
"Tenang, Luna biar aku jelaskan apa yang terjadi sebelum dengan singkat."
Harun menjelaskan alasan kenapa rambutnya menjadi berwarna putih perak, karena Harun telah memberikannya sedikit akses kekuatan waktu dan Zafkiel.
Selanjutnya soal perjalanan ke kota di lakukan saat Luna masih tidur, tentunya Harun tidak menjelaskan semua secara rinci.
"Eh? kendala apa?" tanya Luna.
"Tidak penting!" balas Harun.
__ADS_1
Setelah berbincang sebentar, Luna dan Harun menuju antrian masuk ke dalam kota. Tetapi sebelum itu Harun menukar penutup mata pada exchange dan memasangkan di mata kirinya.
Mata kiri Harun adalah jam organik berwarna hijau dan itu terlihat mencolok, mungkin saja akan menarik perhatian.