
BAB 1
"Aghisna!"
Terdengar seseorang sedang memanggilku, kuhentikan langkahku dan menoleh kebelakang, kutemui sosok pria manis nan rupawan yang belakangan ini sering mengganggu pikiranku.
"Kak Fahri?" Ucapku lirih.
Pria yang memakai jas almamater warna hijau itu berjalan mendekatiku. Dia adalah Mahasiswa KKN yang sedang praktek mengajar di sekolahku. Parasnya yang rupawan dan senyumannya yang seakan bikin bunga-bunga yang layu seketika mekar, siswi mana coba yang tidak tergila-gila dengan cowok ganteng yang satu ini. Ditambah lagi sikapnya yang ramah dan murah senyum pada semua orang. Kalau lagi ada disampingnya itu bawaannya pengen jadi makmumnya aja. Tapi sayangnya aku masih sekolah, masih kelas XI pula. (Belajar yang rajin ooiiyy jangan mikirin nikah mulu!)
Dan kabar baiknya posko tempat tinggal sementara bagi Mahasiswa KKN laki-laki itu bertempat di kediaman mbah Idris, yang letaknya tepat disamping rumahku.
Kebetulan rumahku memang letaknya tidak jauh dari sekolah, hanya sekitar 300 meter saja, biasanya aku berangkat sekolah hanya dengan berjalan kaki. Jarak antara rumahku dan mbah Idris juga sangatlah dekat, tembok rumah kami hanya berjarak sekitar dua meter, kadang saat malam aku dapat mendengar suara perbincangan mereka lumayan jelas dari kamarku.
Ada 6 orang Mahasiswa yang sedang KKN di sekolahku mereka terdiri dari tiga lelaki dan tiga perempuan, setahuku posko Mahasiswi berada di rumah Mbok Yat, rumahnya tepat didepan gerbang sekolah.
Sudah terhitung sekitar dua minggu mereka disini.
"Ini," Ia menyodorkan botol minum tupperware berwarna ungu, eh tapi sepertinya aku tidak asing dengan botol itu.
"Ibumu tadi nitip ini," ujarnya.
Ah, iya. Ini memang punyaku, rupanya aku lupa belum memasukkannya kedalam tas.
Aku tersenyum lalu meraih botol itu dari tangannya, agak malu juga masa udah segede gini masih bawa bekal minum dari rumah. Ini semua karena ibu yang ngotot nyuruh bawa bekal minum air rebusan dari rumah supaya aku gak jajan es di kantin karena belakangan ini aku sedang pilek.
"Terimakasih Kak," ucapku malu-malu padanya sembari menganggukkan kepala.
"Iya, sama-sama." Ia tersenyum ramah membuatku ingin berjingkrak-jingkrak saking bahagianya. Ah, mimpi apa aku semalam, sepagi ini sudah dapat asupan gizi dari senyuman Kak Fahri.
Aku meneruskan perjalananku, Kak Fahri juga mengimbangi langkahku menuju sekolah, kami berjalan beriringan. Teman-temanku pasti heboh jika tau kalau aku berangkat sekolah bareng dengan Kak Fahri.
"Lagi pilek ya? Kok suaranya agak sengau gitu." Tanyanya.
"Eh, iya kak. Udah tiga hari ini saya lagi pilek, lagi musimnya mungkin."
"Setahuku di indonesia cuma ada musim hujan sama kemarau, ternyata ada musim pilek juga ya." Ia terkekeh.
"Beda lah, kak," balasku yang juga ikut tertawa.
"Kalau aku dan kamu bedanya apa?" Ucapnya dengan lirih namun aku masih bisa mendengarnya.
"Bedanya ya saya perempuan, Kakak laki-laki. Masa gitu aja Kakak gak tau sih."
Kak Fahri tertawa. Memang benar kan, itu bedanya?
"Kakak kok sendirian?" Tanyaku padanya karena biasanya Kak Fahri berangkat bertiga dengan kedua temannya itu.
"Tuh, dibelakang." Ia melirik kebelakang punggunggnya.
Aku menoleh, benar saja. Sekitar 20 meter dari sini nampak dua lelaki sedang berjalan beriringan memakai pakaian yang sama seperti yang dikenakan Kak Fahri.
__ADS_1
"Tadi pas saya lagi nunggu mereka di teras, ibu kamu manggil, terus nitip botol minum itu. Terus saya langsung jalan duluan aja siapa tau ketemu kamu dijalan," terangnya. Aku pun manggut-manggut menanggapinya.
"Alhamdulillah, terimakasih ibuu.." aku berkata dalam hati. Mendadak aku jadi bersyukur karena botolku ketinggalan. Kalau tidak mana mungkin aku bisa berangkat bareng idolaku ini.
"Kamu tiap hari berangkat sendirian?" Tanya Kak Fahri.
"Iya." Aku mengangguk.
Kenapa Kak? Mau nemenin ya? Hayukk..
"Enak ya, sekolahnya deket. Irit ongkos," candanya.
Duh, manisnya kalau lagi senyum. Sayangnya aku hanya bisa meliriknya sekilas, malu kalau lama-lama mandangin.
Sepanjang jalan jantungku tak henti-hentinya berpacu dengan kecepatan penuh, ditambah lagi dengan melihat senyuman Kak Fahri. Sepertinya setelah ini gula darahku naik deh.
"Senang bisa jalan bareng kamu, cantik." Ucapnya saat kami tiba di didepan gerbang sekolah, ia tersenyum lalu melambaikan tangan dan berlalu.
Akupun terpaku dan terbengong-bengong mendengar ucapan pria itu barusan. Apa itu tadi? Dia lagi ngegodain aku atau apa? Aku gak salah denger kan? Apa aku sedang bermimpi? Kucubit pipiku, "Aww..!!" Ternyata sakit, berarti aku gak mimpi dong. Kupegangi kedua pipiku yang menghangat dan tersenyum kegirangan, apakah ini pertanda kalau dia..?? Ah.. masa iya sih? Kenapa aku jadi kepedean gini ya?
"Ghis," seseorang menepuk bahuku membuatku sedikit tersentak dan tersadar dari angan-anganku yang baru saja terbang tinggi.
"Eh, Mil."
"Ngapain bengong disini?" Tanya Milka.
"Enggaaakk.. yuk, masuk," kilahku. Kugandeng tangan Milka dan berjalan menuju kelas kami, XI IPA 3.
***
"Kok bisa sih? Bagi tipsnya dong..!"
"Gimana rasanya jalan bareng sama guru ganteng itu Ghis?"
"Kalau Aku ada di posisi Ghisna, Aku bakalan pura-pura keseleo atau pingsan, biar di gendong."
"Huu...!!! Dasar modus..!!!"
Ini pada kenapa sih anak-anak, pagi-pagi udah meresahkan banget.
Baru saja aku melangkah memasuki ruangan kelas, namun aku sudah disambut oleh riuh per-ciee-cieean dari teman-teman kelasku. Ini pasti tadi ada yang melihat aku jalan dengan Kak Fahri terus diumumin ke semua orang. Benar kan, dugaanku, kalau mereka tau aku berangkat bareng Kak Fahri pasti jadi hebohlah mereka, terutama anak-anak cewek.
Aku tersenyum malu-malu mendengar celotehan mereka, namun kuabaikan dan segera duduk di bangkuku.
"Oh.. pantesan tadi aku kayak ngelihat Kak Fahri waktu di gerbang. Ternyata bareng sama kamu to Ghis? Kok bisa?" Cecar Milka. Aku mengangguk sembari tersenyum tersipu.
"Iya. Kan, Kakak-kakak itu tinggal disamping rumahku."
"Masa sih? Kok kamu baru bilang sekarang?" Milka menarik kursi dan segera duduk dan bersiap-siap menginterogasiku.
"Sengaja, nanti kalau aku kasih tau jangan-jangan semua pada main kerumahku cuma demi caper sama Kak Fahri." Tukasku.
__ADS_1
"Terus kamu mau caper sendirian gitu gak ngajak-ngajak aku?" Tuduh Milka, aku pun cengengesan karena merasa niatanku ketahuan.
"Kapan-kapan aku main kerumahmu ya? Boleh kan?" Milka bertanya, kedua alisnya naik turun menunggu jawabanku.
"Tuh, kan. Bener dugaanku."
"Masa silaturahmi ke rumah temen sendiri gak boleh."
"Ini sih, silaturahmi dengan maksud terselubung, kurang ikhlas gak ada pahalanya kalau ini mah."
"Hehe, jangan pelit-pelit gitu lah, Ghis. Kita kan best prend. Boleh ya?!"
"Serah dah!"
***
"Tulis yang gede Shel, biar kelihatan!"
"Ayo cepetan nanti keburu datang orangnya!"
"Ditulis kek mana? Pakek bahasa indo apa inggris?"
"Bahasa Arab aja, orangnya kan ngajar bahasa Arab."
"Apa whoyy bahasa arabnya 'aku cinta kamu'?
"Uhibbuka."
"Gimana nulis arabnya? Aku gak bisa kalau pakek arab."
"Maksudku nulisnya tetep pakek huruf latin tapi bahasanya arab, dodol.. buruan..!!"
Ini kenapa sih, anak-anak kok pada heboh di depan papan tulis? Mau nulis apaan sih?
Beberapa anak cewek bergerumul di depan papan tulis setelah pergantian jam pelajaran pertama, setelah ini adalah masuk jam pelajaran kedua yaitu Bahasa Arab yang akan diisi oleh Kak Fahri.
Aku menatap Shela yang mulai memainkan spidolnya dan menuliskan sesuatu di atas papan tulis.
UHIBBUKA KAK FAHRI
Mataku membelalak melihat tulisan besar diatas papan tulis berwarna putih itu. Nekad juga nih, anak-anak. Aku dan Milka saling adu tatap dan tertawa melihat tingkah polah teman-teman kami yang bar-bar itu. Mendadak aku jadi malu sendiri karena menjadi bagian dari kelas murid-murid yang tak punya urat malu ini.
Mereka pun segera duduk ke bangku masing-masing setelah menyelesaikan misi konyolnya, harap-harap cemas menanti kedatangan orang yang dimaksud dalam tulisan besar yang bertengger diatas papan tulis itu.
Jujur sih, aku agak cemburu dengan apa yang mereka lakukan. Rasanya gak rela kalau ada orang lain yang menyatakan cinta kepada Kak Fahri. Ya.. meskipun aku faham kalau yang mereka lakukan itu hanya sebatas candaan belaka, tapi tetap saja ada sedikit rasa cemburu dalam hati ini.
Baiklah, anggap saja kalau tulisan itu adalah ungkapan isi hatiku yang selama ini aku pendam kepada guru ganteng itu.
Aku gak bisa bayangin gimana reaksi Kak Fahri setelah melihat ini.
Sesaat kemudian datanglah seseorang pria yang mengenakan jas almamater hijau dan kopiah hitam polos, tangan kanannya membawa buku LKS dan juga laptop.
__ADS_1
Mendadak seisi kelas menjadi panik karena pria itu bukanlah Kak Fahri.
Mampus dah!