I LOVE YOU, KAK GURU

I LOVE YOU, KAK GURU
Hadiah Misterius


__ADS_3

Di daun yang ikut mengalir lembut


Terbawa sungai ke ujung mata


Dan Aku mulai takut terbawa cinta


Menghirup rindu yang sesakkan dada..


Jalan ku hampa dan ku sentuh dia,


Terasa hangat oh.. didalam hati


Ku pegang erat dan ku halangi waktu..


Tak urung jua kulihatnya pergi..


Aku menikmati entah suara merdu siapa dari balik dinding kamar ku ini.


Ya, suara itu terdengar dari rumah mbah Idris. Dengan diiringi oleh alunan musik gitar, menambah keelokan lagu yang dibawakannya.


Aku yang sedang khusuk membaca novel milik Kak Adam tadi tiba-tiba teralihkan gara-gara mendengar suara nyanyian tersebut. Suara siapa itu ya? Apa mungkin Kak Fahri?


Aku berbaring sambil merentangkan tanganku dan ku pejamkan kedua mataku menikmati alunan syair dengan suara emas yang entah milik siapa. Suara itu benar-benar membuatku terpesona.


Kau datang dan pergi


Oh.. begitu saja


Semua kuterima.. apa adanya


Mata terpejam dan hati menggumam..


Di ruang rindu, kita bertemu..


Tanpa sadar, aku ikut bernyanyi dengan suara lirih dengan mata terpejam sambil membayangkan kalau yang sedang bermain gitar itu adalah Kak Fahri.


Aku berpikir keras menebak-nebak siapa pemilik suara ini, kenapa Aku tidak bisa mengenalinya walau aku hafal suara Kakak-kakak itu saat berbicara, namun aku tak bisa mengenalinya jika sedang bernyanyi seperti sekarang ini.


"Ghisna! sore-sore gini kok malah tidur, pamali. Ayo bangun!" Suara ibu mengagetkanku, kepalanya menyembul dari balik pintu kamarku yang terbuka sedikit.


"Siapa juga yang tidur buk." Aku terduduk agar ibu percaya kalau aku memang tidak sedang tidur.


"Lha itu tadi kok merem?"


"Cuma merem aja, nggak tidur buk."


"Anterin jajan ke rumah mbah Idris dulu, sisa acara arisan tadi masih banyak, sayang kalau gak kemakan," pinta Ibu, aku pun mengiyakannya.


Asyiiik.. aku harap nanti bisa ketemu Kak Fahri.


Suara nyanyian itu pun sepertinya sudah tidak ada lagi, apa mungkin gara-gara mendengar Ibu bicara tadi ya, makanya dia berhenti nyanyi. Kalau aku bisa mendengar suaranya dari sini berarti suara dari kamarku ini juga bisa terdengar dari sana dong. Ketahuan gak ya, kalau tadi aku diam-diam menikmati suara indahnya itu.


Aku pun mematut diri di depan cermin memasang jilbab segi empat polos warna merah maroon se-paripurna mungkin. Kali aja nanti ketemu Kak Fahri, hatus kelihatan kece dong. Aku pun bergegas mengantar kue ke rumah mbah Idris.


"Assalamu'alaikum, mbah." Aku mengucap salam tepat di depan pintu mbah Idris yang terbuka lebar.


"Wa'alaikumsalam," terdengar sahutan lalu muncullah lelaki berbadan tambun, dia adalah Kak Rasyid. Dialah yang paling dewasa diantara kedua temannya, dia pun juga sudah menikah. Istrinya juga merupakan Mahasiswi satu kampus, hanya saja istrinya berada di bawah angkatannya.


"Kak, ini mau anterin kue disuruh ibu." Aku mengangsurkan kantong kresek berbagai macam kue kepada Kak Rasyid.


"Oh, terimakasih." Ia menyambut kantong kresek dati tanganku.


Pandangan mataku menilisik ke dalam rumah Mbah Idris, kenapa Kak Fahri tidak muncul ya?


Aku juga penasaran siapa yang main gitar tadi. Tapi kenapa tidak ada seorangpun di ruang tamu. Yang ada cuma Kak Rasyid yang sekarang lagi berdiri di depanku. Apa mungkin dia yang tadi nyanyi ya?


"Mbah kemana Kak?" Tanyaku berusaha mengulur waktu.


"Mbah Idris masih di kandang, ngasih makan kambing. Kalau Emak lagi masak di dapur." Jawab Kak Rasyid.


Emak adalah sebutan untuk istri mbah Idris.


Tanyain gak ya, soal siapa yang nyayi tadi?


Ah, nggak deh. Nanti aku dikira ada apa-apa lagi. Malu dong.


"Owh.. ya sudah Kak, saya permisi dulu." Aku berpamitan lalu memutar badan.


"Dek Ghisna, gak mampir dulu?"


Suara itu menghentikan langkahku, seketika dadaku berdebar kencang. Aku menoleh kebelakang, kulihat Kak Fahri berjalan mendekati pintu. Sedangkan Kak Rasyid terlihat berjalan masuk ke belakang, mungkin hendak meletakkan kue yang kuberikan tadi.


Kak Fahri kini berdiri di ambang pintu, ia menyenderkan badannya ke gawang pintu sembari tersenyum manis.

__ADS_1


"Ng.. ng-nggak Kak, terimakasih. Saya langsung pulang saja." Aku kembali memutar badan dan berlari ngibrit meninggalkan rumah mbah Idris dengan wajah yang kurasa sudah tampak seperti kepiting rebus.


Hey..!! Ngapain harus lari sih?


Duh, kenapa jadi grogi gini ya. Bukankah tadi aku yang ngarep bisa ketemu Kak Fahri, giliran udah ketemu akunya malah kabur. Bodohnya aku, padahal sudah ditawari buat mampir, seharusnya kan bisa ngobrol-ngobrol dikit tadi, nyesel deh sekarang.


Besok-besok lagi aja deh, siapa tau ibu nyuruh aku lagi jadi kurir pengantar makanan ke sana lagi.


Sesampainya di dalam rumah, aku berjalan mendekati jendela dan mengintip Kak Fahri dari balik jendela kaca samping di ruang tamuku.


Pria itu kini tengah duduk santai di kursi teras sambil memainkan ponselnya.


Perasaan deg-degan masih belum hilang gara-gara disapa Kak Fahri tadi. Aku meletakkan telapak tanganku diatas dada, dapat kurasakan denyut jantungku yang berdetak dengan ritme yang cepat.


Diam-diam aku mengamatinya dari dalam sini, memandang wajahnya sampai puas tanpa takut ketahuan.


"Doorrr!!!"


Seketika aku berjingkat dan setengah berteriak karena kaget.


"Umar..!!!" Aku meraih sapu yang terletak dipojok ruang, tepat disamping aku berdiri dan bersiap menghujami adikku yang rese itu dengan gagang sapu ini.


"Kak Ghisna lagi ngintipin Mas-mas itu buuukk!!" UmarĀ  berlari ke belakang menghindari amukanku. Parahnya lagi dia pakai teriak-teriak segala, jangan sampai Kak Fahri denger deh, bisa malu banget aku kalau ketahuan habis ngintipin dia.


Dasar adik gak ada akhlaq !!


***


Pagi ini seperti biasa aku berangkat sekolah dengan berjalan kaki, jalan yang ku lewati ini jarang sekali dilewati para siswa di sekolahku, karena memang bukan jalur jalan utama.


Aku memasang headset di kedua telingaku sembari mendengarkan musik favorit dari ponsel, biar gak bosen jalan sendirian.


Seseorang tiba-tiba saja muncul berjalan di sampingku. Seketika bau harum menguar bersamaan dengan kehadirannya.


Kak Fahri?


"Gak apa-apan kan, kita berangkat bareng?" Ucapnya.


Demi apa ini jantungku udah kayak mau lompat dari tempatnya.


Aku mengangguk, sedikit tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Lagi-lagi aku jalan bareng hanya berdua dengan Kak Fahri, orang yang sangat-sangat kukagumi.


Aku mengulum senyum, menahan rasa bahagia yang tak terkira, ingin rasanya aku berlonjak-lonjak untuk mengekspresikannya. Padahal baru aja diajak jalan bareng ke sekolah, apalagi kalau diajak berjalan menapaki kehidupan berumahtangga, langsung potong kambing deh kayaknya buat syukuran. (Halu mu ketinggian Ghisna..!!)


"Iya lah, gara-gara ada Kakak disini." Oopps!!! Spontan aku mengatupkan tanganku ke mulut. Keceplosan!!


"Masa sih?" Ia terkekeh. Aku benar-benar malu tak terkira. Kelihatan banget kalau aku suka sama dia.


"Kalau gitu kita tiap hari berangkat bareng aja biar kamu ceria terus. Gimana?"


"Hah?!" Aku menoleh padanya, menatapnya tak percaya dengan apa yang dikatakannya barusan.


"Haha..!! Biasa aja ekspresinya." Kak Fahri tertawa, jangan-jangan ekspresiku tadi sangat jelek makanya dia sampai ketawa gitu. Duh, Ghisna.. malu-maluin banget sih, kamu.


Aku pun menunduk malu.


"Ya.. kalau boleh sih," ucapnya lagi.


"Boleh kok, boleh banget!!" Jawabku dengan semangat 45. Kak Fahri terkekeh lagi. Ghisna.. Ghisna.. kelihatan banget kalau kamu suka sama Kak Fahri, seharusnya kan agak jaim-jaim dikit jadi cewek.


"Nggak bareng temennya Kak?" Tanyaku.


"Emm.. nggak. Bareng kamu aja, kayaknya lebih asyik."


"Asyik kenapa?" Tanyaku lagi.


"Asyik aja bisa lihat senyum kamu dari dekat."


Ampun deh, Kakak ini makin lama makin bikin gemes deh. Bisa aja bikin hatiku meleleh.


Aku berpaling berusaha menyembunyikan senyumku karena tersipu malu. Tapi Kak Fahri malah melongokkan kepalanya mendekat, berusaha mengintip wajahku yang ku sembunyikan.


Aku spontan menutup wajah dengan kedua telapak tangan, dia pun tertawa lepas dengan tingkah absurdku.


***


"Kenapa kamu, dateng-dateng pakek senyam-senyum sendiri. Kesambet setan pohon bambu ya?" Tanya Milka, ketika aku meletakkan ranselku diatas meja kami.


"Ye.. ya nggak lah, mana ada setan pagi-pagi gini." aku menarik kursi lalu duduk.


"Bisa aja kan, secara jalan dari rumahmu ke sekolah ngelewatin pohon-pohon bambu," timpalnya.


"Ehem.. iya bisa jadi, tapi kali ini setannya ganteng banget Mil," jawabku.

__ADS_1


"Ah, mana ada setan ganteng. Ngawur kamu!" Ujar Milka mendorong lenganku.


"Haha..!! Dibilangin gak percaya." Aku menjulurkan lidah ke arah Milka.


"Ghisna..!! Seriusan ini aku nanyanya. Ada apa sih, kelihatannya bahagia banget." Milka mulai merengek dengan wajah penuh kekepoan, kalau sudah begini mana tega aku.


"Sini..!" Aku memberi aba-aba agar Milka mendekatkan telinganya, dan kubisikan sesuatu yang membuat hatiku gembira pagi ini.


Milka memundurkan kepalanya, mulutnya terbuka lebar dan matanya membelalak seolah tak percaya dengan apa yang kukatakan tadi.


"Ciyuss..?!" Ucapnya dengan ekspresi yang masih terkejut.


"He.em!!" Kuremas kedua lengan Milka, gemes saking senengnya.


"Jangan-jangan dia suka sama kamu Ghis." Ucap Milka menatapku lekat.


"Ah, masa sih, Mil." Aku tersipu mendengar ucapan Milka.


"Bisa jadi, kalau nggak ngapain coba dia sengaja berangkat barengin kamu ke sekolah."


"Iya sih, tapi.. ah, masa iya sih dia suka sama anak kecil kayak aku Mil?"


Sebenarnya aku juga berharap demikian. Namun dalam hati masih ada rasa tak percaya. Apakah mungkin Mahasiswa itu naksir anak SMA kelas XI seperti aku ini?


"Kenapa nggak? Yang gak wajar itu kalau dia naksir anak TK."


"Ayah sama ibuku aja jarak usianya terpaut 10 tahun, apalagi kamu sama Kak Fahri. Palingan juga usia kalian terpaut 5 atau 6 tahunan," sambung Milka.


Aku mengulum senyum, membayangkan kalau Kak Fahri benar-benar naksir aku. Betapa bahagianya aku kalau itu benar-benar terjadi.


"Cie..!! Beruntung banget sih, kamu. Coba aja aku yang jadi kamu. Haha."


"Enak aja! Udah, kamu sama si Doni aja. Kamu kan, orangnya perfectsionis banget sedangkan Doni joroknya pakek banget. Siapa tau kalau kalian jadian, Doni bakalan dapat hidayah terus ngerubah penampilannya. Haha," ejekku menggoda Milka.


"Ogah!! Amit-amit jabang kebo!!" Milka bersungut, agaknya ia sangat kesal aku godain.


"Lagian sebenernya si Doni itu tampangnya gak burik-burik amat Mil, sayangnya aja dia jorok, rambut acak-acakan kayak gak pernah disisir, muka kusem karena jarang cuci muka. Coba aja dia pakek skincare atau minimal rajin mandi dan cuci muka pakek pembersih, pasti kinclong deh, itu muka."


"Nggak!! Kenapa sih Ghis, kamu hobi banget godain aku sama si jorok itu. Kamu aja sono yang pacaran sama Doni," sungut Milka. Bibirnya mengerucut dan alinya mengkerut. Kali ini Milka benar-benar


Kesal.


"Haha.. iya..iya.. maaf! Gitu aja ngambek." Aku menowel dagu Milka, ia berpaling.


Ada kepuasan tersendiri ketika aku berhasil menggoda Milka. Meski Milka marah tapi itu gak akan bertahan lama. Palingan juga sejam udah biasa lagi.


"Apaan nih?" Jemariku menyentuh sesuatu ketika aku memasukkan buku ke dalam laciku.


"Coklat? Punya kamu ya Mil?" Aku menunjukkan benda yang ada di tanganku kepada Milka.


"Bukan!" Jawab Milka jutek. Dia masih marah rupanya.


Aku kembali memeriksa laciku, siapa tau ada benda lainnya. Saat kugeledah aku menemukan secarik kertas yang berisikan sebuah tulisan.


COKLAT INI MANIS, SAYANG KALAU TIDAK DIMAKAN.


BEGITU DENGAN SENYUMMU, SAYANG KALAU TAK DIPANDANG.


Aku tersenyum membaca tulisan singkat itu, siapa gerangan yang mengirimkanya. Disini tidak tertera nama pengirimnya. Seharusnya kan, ada inisial atau apalah biar aku bisa nebak.


"Tulisannya apaan Ghis?" Milka melongok hendak mengintip kertas yang ku pegang. Ternyata rasa kekepoannya telah mengalahkan amarahnya.


Aku mengangsurkan kertas yang ku pegang kepada Milka. Ia pun membacanya.


"Uuuhh.. manis banget siih.. dari siapa?"


Aku mengangkat bahu pertanda tidak tahu menahu.


"Kak Fahri mungkin," tebak Milka.


"Tapi kenapa ditaruh disini, gak pakek nama lagi. Kenapa gak ngasih sekalian aja pas tadi berangkat bareng?"


"Kali aja mau ngasih surprise."


Ya, semoga saja coklat ini benar dari Kak Fahri.


"Bagi dong..!!" Milka merengek persis seperti anak kecil.


"Enak aja!" Aku memasukkan coklat yang kupegang ke dalam tas.


"Pelit..!!"


Biarin aja dikatain pelit, sayang kan, kalau coklat hasil dari hadiah orang terkasih harus dibagi-bagi. Ibaratkan cintanya, gak maulah kalau harus dibagi-bagiin.

__ADS_1


Ya kan?


__ADS_2