I LOVE YOU, KAK GURU

I LOVE YOU, KAK GURU
Terjebak


__ADS_3

"Masa sih?" Alisku naik sebelah, seolah tak percaya dengan apa yang dikatakannya.


"Eh, jangan langsung nengok, ntar ketahuan!" Cegah Raisa saat aku ingin berbalik mengecek.


"Terus gimana?"


"Pura-pura gak lihat aja." Kata Raisa lagi.


Aku mengangguk dan berbalik lagi dengan bersikap biasa-biasa saja menghadap Milka. Dari ekor mataku dapat kulihat Kak Adam memang seperti menghadap kesini. Lalu tak lama kemudian untuk memastian aku menoleh padanya, benar saja, Kak Adam langsung mengalihkan pandangannya.


Kenapa ya, apa ada yang aneh denganku samapi dilihatin begitu. Ah, kok aku jadi canggung gini sih.


Aku pun melanjutkan pekerjaanku yang kurang tiga soal lagi. Sedangkan Kak Adam melangkahkan kakinya keluar kelas.


*


"Kamu!" Kak Adam melambaikan tangannya.


Aku sempat celingukan, benar yang dipanggilnya itu aku atau bukan.


"Iya Kamu, Aghisna fi Ibadi." Ucap Kak Adam yang duduk dibangku guru sembari ia mengemas barang-barangnya ke dalam tas miliknya.


Aku pun segera menyelesaikan aktifitasku berkemas dan bergegas melangkah mendekat ke bangku guru.


"Tolong bawakan buku-buku temanmu ini ke meja saya di ruang guru." Dia berkata lalu pergi begitu saja tanpa menunggu responku.


Baiklah, karena dia guru dan aku muridnya aku tidak boleh gerundel. Anggap saja ini sebagai bentuk bakti dari seorang murid kepada gurunya. Walaupun sebenarnya kalau dipikir bisa saja dia membawanya sendiri.


Aku pun mengangkat tumpukan buku-buku tugas teman satu kelasku dan membawanya, lalu beehenti sebentar di mejaku untuk mengambil tasku kemudian melangkah keluar kelas mengikuti langkah Kak Adam yang sudah berada sepuluh meter di depanku.


Setibanya di dalam ruang guru, Kak Adam sudah duduk manis di mejanya. Aku segera menaruh tumpukan buku di dekapanku di atas mejany dan segera pergi.


"Tunggu dulu." Kak Adam menghentikan langkahku. Aku menoleh padanya.


"Ada yang ingin aku tanyakan sama kamu." Ucapnya lagi.


"Tanya apa?"


"Emm.."


Kak Adam mengangkat pecinya dan mengusap rambut hitamnya yang mengkilat, lalu memasang pecinya kembali.


Aku terdiam, menunggu ia akan bertanya apa. Ia terlihat seperti sedang mengatur nafasnya.


Hmm, mau tanya apaan sih?


"Jadi begini.." ucapnya terjeda.


"Ya?" Sahutku tak sabar.


Kak Adam mengatur nafasnya kembali.


"Apakah kamu-"


"Lho, kok ada disini?"


Suara Kak Fahri yang tiba-tiba masuk memotong pembicaraan Kak Adam.

__ADS_1


Aku menoleh, guru idamanku itu melangkah mendekat kearah kami dengan mendekap buju pelajaran di tangan kananya.


"Ah, iya. Tadi habis bantuin Kak Adam bawa buku tugasnya temen-temen Kak." Jawabku pada Kak Fahri, pria itu menggumam.


"Ya, sudah. Kamu boleh pergi sekarang." Sahut Kak Adam kemudian.


"Tapi tadi-"


"Fahri, aku pulang duluan ya." Sahut Kak Adam memotong pembicaraannku. Padahal aku ingin bertanya apa yang ingin dia tanyakan tadi.


"Rasyid mana?" Tanya Kak Fahri.


"Belum keluar mungkin. Kamu tunggu aja dia ya, aku udah capek banget." Kak Adam menyangklong tasnya kemudian melangkah pergi meninggalkan kami berdua.


Sejurus kemudian masuklah Bu Ayu disusul Pak Ridwan dibelakangnya.


Merasa tak enak, aku pun segera pamit untuk keluar dari ruangan Guru itu.


"Kalau begitu saya pulang duluan Kak, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, tunggu."


Langkahku terhenti lagi.


"Kamu sudah baikan kan?"


"Alhamdulillah, sudah Kak." Aku tersenyum menanggapinya.


"Emm, sebenarnya pengen bareng kamu pulangnya. Tapi sayangnya masih ada pekerjaan yang harus diselsaikan disini." Ucap pria tampan itu.


"Tidak apa-apa Kak, lain waktu juga bisa. Kalau kakak mau sih, hehe." Aku tertawa kecil.


"Pasti mau kok." Pria itu tersenyum lagi, membuat jantung ini semakin dag dig dug.


Aku sempat berpikir, dia seperti sedang mendekatiku, terbukti saat dia mau membersamaiku saat pulang sekolah jalan kaki, lalu malam itu saat ditaman teras rumahku, dia juga pernah bertanya aku sudah punya pacar atau belum. Bukankah itu suatu pertanda kalau dia punya simpati padaku?


Tapi kalau memang benar, kenapa dia tak kunjung juga menyatakan perasaannya padaku?


Atau akunya aja yang terlalu baper?


Au ah, gelap!!!


***


"Kenapa kamu gak laporin aku ke guru BK ?" Andra yang tiba-tiba masuk kedalam kelas membuatku sangat terkejut. Bagaimana tidak, kondisi didalam kelas hanya ada aku dan dia saja sekarang ini.


Siang ini Aku dan teman-teman pramuka lainnya sedang latihan juga untuk membahas persiapan perkemahan hari sabtu nanti. Semula kami semua berkumpul di lapangan, dan sekarang sedang waktu istirahat, aku pergi ke kelas untuk berteduh dan ngadem, tapi malah makhluk pengganggu ini datang mengganggu.


"Oh, jadi kamu berharap aku laporin ke guru BK?" Ucapku berusaha santai.


Andra tiba-tiba menutup pintu kelas, seketika membuatku terperanjat dan sedikit ketakutan.


"Ngapain ditutup?!" Pekikku pada anak berandal itu.


Berbagai macam pikiran sudah menghantuiku sekarang ini, membayangkan hal yang tidak-tidak.


"Gara-gara kamu, aku ditonjok sama guru sok jagoan itu." Andra berkata dengan nada penekanan, ia melangkah semakin mendekatiku yang duduk di balik meja.

__ADS_1


Kini pria itu berdiri di depan mejaku dan meletakkan kedua tangannya dengan posisi menyangga tubuhnya.


"Heh! Jangan macem-macem ya! Aku teriak nih." Ancamku.


"Teriak aja. Semua orang ada di halaman depan, mereka tidak akan mendengar teriakanmu." Andra menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Mati aku, benar juga. Semua orang ada di halaman depan, kalau aku teriak kecil kemungkinan mereka bisa mendengar suaraku.


Ya Allah, kenapa juga tadi aku datang kesini, seharusnya tadi aku tidak sendirian. Aku tidak menyangka kalau Andra masih menyimpan dendam. Sekarang aku harus bagaimana? Apa yang akan dia lakukan?


"Bentar..bentar, apa yang kamu bilang waktu itu padaku? Kamu bilang aku otak mesum? Ha?" Ia mendekat lagi ke sisi meja, sorot matanya begitu tajam.


"Emang iya kan? Waktu itu kamu berusaha nyium aku kan? Apa itu namanya kalau bukan mesum?" Meski sebenarnya aku kalut, tapi aku tetap berusaha terlihat berani di depan Andra, aku tidak boleh terlihat ketakutan.


"Ck. Kayak begitu aja dibilang mesum. Belum pernah ya, ngerasain dicium sama laki-laki?"


"Emang nggak pernah. Masalah?" Aku segera bangkit ingin cepat keluar dari ruangan yang tiba-tiba terasa mencekam ini.


Namun naas, Andra menarik tanganku dan mencengkramnya. Seketika jantungku berdetak kencang karena ketakutan.


"Lepasin Ndra, sebelum teriak!!" Bentakku padanya, namun Andra tetap tak gentar.


Aku berusaha melepaskan tanganku dari cengkramannya,


namun Andra malah semakin mencengkram pergelangan tanganku dengan kuat. Aku tidak mampu melepaskannya, sampai aku menitikkan air mata karena saking takutnya.


"Lepasin Ndra!!" Air mataku mulai berlinang.


Melihatku menangis, Andra melepaskan tangannya dan membiarkanku pergi keluar kelas.


Entah setan apa yang merasuki anak itu tadi, untung saja Allah masih memberi keselamatan untukku.


Aku melangkah cepat meninggalkan ruang kelasku sembari mengusap air mata yang tersisa. Kuhela nafas dan menyentuh dada berusaha tenang agar detak jantungku kembali normal.


Saat sampai di koridor kelas XI IPA 1, langkahku terhenti karena berpapasan dengan Kak Adam, hampir saja aku menabraknya karena sejak tadi aku berjalan dengan merunduk, sehingga aku tidak tau kalau didepan jalanku ada pria itu.


Kedua alis tebal pria didepanku itu berkerut, matanya sedikit menyipit, seperti sedang memperhatikan wajahky lamat-lamat.


"Kamu nangis?" Ucapnya kemudian.


Aku menunduk dan mengusap sisa-sisa embun di pelupuk mataku. Sudah kuhapus kenapa masih saja kelihatan.


"Aghisna!!" Terdengar Andra yang berteriak memanggil namaku. Aku menoleh kebelakang, anak itu terpaku lalu masuk lagi ke dalam kelas.


"Kenapa dia?" Batinku.


Sedetik kemudian, aku baru faham, kulihat ekspresi wajah Kak Adam yang berubah menjadi tegang. Pasti Andra sembunyi tadi karena baru tau kalau aku sedang bersama Kak Adam disini.


Kak Adam memang mengikuti kegiatan pramuka hari ini. Katanya, dia juga merupakan anak pramuka sejak SMP, jadi dia tidak akan melewatkan setiap event kegiatan kepramukaan yang diselenggarakan di sekolah ini. kata Kak Hanif dia juga akan ikut dalam acara perkemahan nanti.


"Kamu?" Kak Adam menatapku tajam, tak ada lagi kata yang terucap karena dia langsung berjalan melewatiku dengan langkah yang terburu-buru, dugaanku pasti dia mau nyamperin Andra.


"Duh, gimana nih?"


Aku bingung harus apa, jangan-jangan Kak Adam sudah salah faham dan berfikiran macam-macam karena melihat air mataku tadi.


Aku pun segera berlari menyusulnya sebelum dia bertindak kasar lagi seperti waktu itu.

__ADS_1


__ADS_2