I LOVE YOU, KAK GURU

I LOVE YOU, KAK GURU
Diam-diam perhatian


__ADS_3

Hari senin biasanya menjadi hari termalas saat sekolah. Selain karena habis libur, hari senin diharuskan untuk berangkat lebih awal agar tidak terlambat saat upacara bendera.


Tapi semenjak kehadiran Kak Fahri di sekolah ini, hari senin menjadi hari paling semangat bagiku, karena jadwal ia mengajar di kelasku adalah hari ini.


Pagi ini, tak kutemukan surat itu lagi di dalam laciku. Jangan-jangan orang itu sadar sedang aku intai.


Entah mengapa aku merindukannya.


"Waduh, gawat!!"


Setengah panik aku membongkar seluruh isi tas mencari topiku, benda yang wajib dipakai saat acara upacara bendera nanti. Kemana benda itu sekarang, apa aku lupa membawanya?


Dengan tergopoh-gopoh, aku berlari keluar kelas bermaksud ingin pulang mengambil topi daripada nanti aku kena hukuman. Aku akan pinjam sepeda salah satu teman.


"Mau kemana Ghis?"


Milka yang baru datang mencegatku di depan kelas.


"Topiku ketinggalan Mil," ucapku sembari berangsur pergi.


Teeeeeetttttt !!!!


"Mati aku!! Bell udah bunyi lagi."


Aku menghentikan langkahku, tidak jadi pulang karena waktu upacara akan segera dimulai.


Siap-siap deh berdiri di barisan khusus.


Waktu paling mendebarkan telah tiba. Pak Yanto sudah mulai berkeliling memeriksa setiap murid, barangakali ada yang tidak memakai atribut lengkap, maka akan langsung disuruh keluar dari barisan dan membentuk barisan khusus tersendiri.


Saat Pak Yanto mulai memeriksa barisan kelasku, aku berusaha merunduk bersembunyi dibalik tubuh teman-teman yang berbaris di sekelilingku agar tidak ketahuan


Pak Yanto. Namun sayangnya penglihatan Pak Yanto cukup jeli.


"Sssttt..sssttt..!!!" Pak Yanto memberi isyarat, diangkatnya telunjuknya kearahku.


"Ghis..Ghis.. udah ketahuan, percuma juga sembunyi." Kata Nella yang berdiri di belakangku.


Aku kembali berdiri tegak dan melangkah dengan gontai, paham dengan maksud Pak Yanto, aku pun melangkah menuju barisan khusus yang ternyata sudah ada tiga siswa yang berdiri disana. Dua laki-laki dan satu perempuan. Dua anak tidak memakai topi sepertiku, semenyara yang satunya tidak memakai jas.


Dilihat dari bet kelas di lengan baju kirinya kelihatan kalau mereka anak kelas X, hanya aku yang kelas XI.


Upacara pun dimulai, setelah pengibaran bendera serta pembacaan pancasila dan UUD 1945, Pak Syaiful selaku Kepala Sekolah seperti biasa beliau akan memberikan sambutan-sambutan.


"Anak-anakku sekalian, lihatlah empat anak yang berdiri di barisan paling barat itu. Itu adalah contoh siswa yang buruk, mereka tidak disiplin dan melanggar peraturan sekolahan. Padahal sudah jelas-jelas hari ini ada upacara tapi tetap saja tidak membawa atribut lengkap." Sindir Pak Syaiful menyakitkan.


"Wwhuuuuuu....!!!!" Serentak sorakan dari semua siswa, membuatku tertunduk sangat malu.


Rasa maluku bertambah ketika kulihat Kak Fahri yang sedang berdiri di barisan guru terlihat sedang menatap ke arahku, dari raut wajahnya sepertinya Ia sedang menertawakanku.


Gara-gara perkara topi ketinggalan, aku sampai dipermalukan seisi sekolahan. Apes..apes..!!


*


Selesai upacara, sebelum kami diijinkan masuk kedalam kelas, kami berempat diharuskan mengelilingi lapangan terlebih dahulu sebanyak lima kali.


"Pak, hukumannya boleh diganti gak Pak!" Protesku.


"Nggak!!" Pak Yanto menggeleng tegas.


Huft, kenapa harus hari ini sih. Aku kan, lagi puasa senin. Kalau aku pingsan gimana? Mana tadi malam gak sahur lagi gara-gara tidur kebablasan.


Aku dan ketiga anak lainnya mulai berlari menggelilingi lapangan sekolahan. Di putaran ketiga, kurasakan lututku mulai melemas.


Matahari yang mulai meninggi semakin membuat keringat bercucuran deras lewat kening membasahi wajah. Jilbabku pun sampai basah karena kupakai untuk mengelap keringat.


Lalu diputaran ke empat, kepalaku mulai terasa pening dan berat, tenggorakanku terasa sangat kering dan perut yang melilit. Hingga diputaran terahir, kaki dan tanganku ku sangat gemetar, mataku berkunang-kunang dan pandanganku semakin gelap hingga aku tak ingat apa yang setelah itu terjadi.


*


Mataku mengerjap kala bau minyak kayu putih menguar di hidungku. Saat aku membuka mata, aku sadar jika aku sedang berada di UKS.


Disampingku berdiri Kak Azizah dengan memegangi minyak kayu putih.


"Kamu sudah sadar? Ini diminum dulu." Kak Zizah meyodorkan botol air mineral yang ada sedotannya dan berusaha membantuku untuk duduk.


"Tapi aku lagi puasa Kak." Kataku sebelum bangkit.


"Udah, batalin aja. Lagi sakit jangan dipaksa untuk puasa."


Aku pun menuruti kata-kata Kak Zizah karena kurasakan tubuhku pun terasa sangat lemas dan pusing.


"Kakak kok nggak ngajar?"


"Lagi gak ada kelas, nanti jam kedua." Wanita cantik itu menaruh botol air mineral yang kuminum tadi diatas nakas disamping brangkar, lalu diraihnya sebungkus roti disebelahnya.


"Makan ini dulu, kamu pasti lapar. Ya kan?" Kak Zizah membukakan bungkusan roti dan mengangsurkan padaku.

__ADS_1


"Terimakasih ya Kak. Udah repot-repot mau beliin roti segala."


"Bukan aku yang beliin, tadi Adam yang nganterin roti sama air mineral kesini."


"Kak Adam?" Kataku keheranan, apa aku salah dengar?.


"Eh!" Kak Zizah spontan menutup mulutnya, matanya pun melebar.


"Duh, keceplosan!" Gumamnya lirih sembari memalingkan muka, namun aku dapat mendengarnya meski samar-samar.


"Aghisna, sudah siuman?" Bu Ayu melongokkan kepalanya dari m pintu yang sedikit terbuka.


"Nanti kalau sudah baikan bisa langsung masuk kelas lagi ya. Tapi kalau masih sakit juga gak apa-apa istirahat dulu disini, nanti biar diijinin."


"Sudah agak baikan kok bu, asal perut udah keisi. Tadi memang nggak sarapan dirumah, jadinya pingsan."


"Ya, sudah. Sekalian nunggu jam pertama berahir aja sambil istirahat."


"Baik Bu."


"Mari Kak Zizah." Bu Ayu mengannggukkan kepala sambil tersenyum menyapa Kak Zizah lalu menghilang dari balik pintu.


"Kalau gitu Kakak tinggal dulu ya. Kamu tiduran aja. Rotinya juga masih ada lagi tuh."


"Iya, Kak. Terimakasih udah mau jagain."


"Iya, sama-sama."


Wanita idola para murid cowok itu pun pergi meninggalkan ruangan UKS.


Tapi tiba-tiba aku teringat akan sesuatu.


"Eh, Kak!" Panggilku pada Kak Zizah, namun sayang ia sudah terlanjur keluar ruangan.


Aku hanya ingin menanyakan apakah aku tadi tidak salah dengar kalau yang memberikan air mineral dan roti tadi adalah Kak Adam.


Jika benar, sungguh sanhat sulit dipercaya. Kenapa tiba-tiba pria itu sikapnya akhir-akhir ini menjadi agak aneh, tidak seperti biasanya.


Dulu awal-awal kenal dia terkesan sombong, jutek, galak dan jauh dari kata peduli. Tapi sekarang, dia nganterin makanan untukku yang sempat pingsan tadi. Tau aja kalau aku pingsan karena kelaparan.


***


Bell berbunyi, tanda jam pelajaran pertama telah berahir. Aku segera bangkit dan turun dari brangkar. Sekarang adalah waktunya jam pelajaran Kak Fahri, aku tidak ingin bolos saat  jam pelajarannya.


Kupaksakan tubuhku untuk kembali bugar dan segera beranjak pergi ke kelasku.


"Aku gak apa-apa kok."


"Kamu gak apa-apa Ghis?"


Beberapa anak lainnya menanyakan hal yang sama padaku ketika melihatku kembali ke kelas.


"Gak apa-apa udah baikan kok." Ucapku kepada teman-teman lainnya.


"Kenapa gak bilang ke Pak Yanto aja sih, kalau kamu tadi lagi sakit. Kan bisa minta dispensasi hukuman. Mau aja disuruh lari keliling lapangan."


"Gak sakit kok Aku Mil, cuma kelaparan aja tadi. Tadi kan, puasa tapi sekarang udah nggak."


"Ooh.." Milka membulatkan mulutnya.


"Kok tau sih kalau aku habis pingsan?"


"Tadi Bu Ayu yang ngasih tau sama mintain izin kesini."


"Owh.." jawabku manggut-manggut.


Menit kemudian Kak Fahri masuk kedalam kelas disambut dengan riuh suara anak-anak cewek yang menyebut nama guru manis itu.


Saat pertama melangkah masuk tadi ia sempat menengok kearahku dan tersenyum manis. Kubalaslah dengan senyuman juga.


"Oh, jadi ini ya, yang bikin kamu cepet sehat dan buru-buru balik ke kelas." Bisik Milka di telingaku.


Aku tersenyum tersipu, membenarkan apa yang dituduhkan sahabatku itu.


Lelaki berbadan tinggi itu berdehem, mengisyaratkan agar murid-murid bar-barnya kembali tenang, Ia mengucap salam yang kemudian serentak dijawab oleh seisi kelas. Pelajaran pun dimulai.


Setelah memberikan penjelasan satu Bab pelajaran, kami disuruh untuk mengerjakan soal dan harus selesai sebelum jam pelajaran berakhir.


Saat tengah fokus  mengerjakan soal, Kak Fahri berjalan ke arah bangkuku. Jantungku sempat berdebar saat sadar bahwa lelaki itu berjalan mendekatiku.


"Ghisna, kamu lagi sakit? Kok kelihatan agak pucet?" Tanya Kak Fahri saat ia sudah berdiri  di depan mejaku.


"Tadi habis pingsan Kak." Sahut Milka sembari ia mengedipkan matanya padaku. Ngapain sih, ini anak.


"Oh, ya? Tapi kamu gak apa-apa kan?" Terlihat guratan kecemasan diwajah bersihnya itu. Aku menggeleng pelan.


"Kalau sakit kenapa nggak istirahat aja di UKS,  kenapa maksain ikut pelajaran?"

__ADS_1


"Soalnya Ghisna..emmph...!!" Secepatnya kubekap mulut celamitan Milka, lagi-lagi dia nyahut aja kayak listrik kabel dicolokin. Hampir saja dia mengucapkan kata-kata yang beresiko membuatku malu didepan Kak Fahri.


"Cie.. Kak Fahri perhatian banget sama Aghisna."  Celetuk Raisa yang duduk di belakang bangkuku, membuat murid-murid lainnya pun ikut terfokus  menatap kearah kami.


"Waah.. kita juga pengen dong, diperhatiin," sahut beberapa anak lainnya.


"Pingsan aja dulu biar diperhatiin kayak Ghisna!" Celetuk Doni, aku hafal suaranya meski tak melihatnya.


"Wahahahaa...!!!" Suasana kelas semakin riuh, mereka menggoda aku dan Kak Fahri. Aku semakin tersipu malu dibuatnya, kurasa pipiku memerah, rasanya udah panas banget.


Pandangan mataku tak sengaja menangkap Jenny yang tetap sibuk dengan pulpen dan bukunya, dari ekspresi wajahnya kelihatan kalau Ia sedang bermasam muka.


Aku menghela napas kasar dan menarik sudut bibir sebelah, tersenyum sinis. tentu saja dia pasti sedang cemburu berat.


"Sudah-sudah jangan gaduh, cepet diselesaikan tugasnya. Selsai gak selsai nanti bell bunyi harus sudah terkumpul di depan."


Suasana pun kembali tenang, Kak Fahri melangkah menjauh dan keluar dari kelas.


Lima belas menit kemudian bell berbunyi tanda pelajaran berahir,  Kak Fahri mengintruksikan agar semua buku tugas segera dikumpulkaan di atas meja guru.


Setelah semua terkumpul, Kak Fahri mengakhiri kelas lalu mengucap salam.


"Kak, biar aku bantu bawain bukunya." Ujar Jenny ketika ia menghampiri Kak Fahri yang sedang berkemas sebelum keluar kelas. Tanpa menunggu jawaban dari Kak Fahri, gadis itu mengangkat tumpukan buku tugas diatas meja dan membawanya. Ia berjalan mengiringi langkah Kak Fahri.


"Huh, modus." Batinku tak suka.


Kukeluarkan mukena dari dalam tas dan bersiap untuk kegiatan sholat dhuha bersama.


***


Novel yang kupinjam dari Kak Adam telah selesai aku baca, aku berniat mengembalikannya hari ini  saat jam pelajarannya nanti.


Aku meletakkannya di meja guru sebelum ia datang mengajar nanti.


Kuselipkan kertas kecil bertuliskan ucapan terimakasih padanya karena meminjankan novel, dan juga terimakasih karena tadi sudah membelikan makanan dan minuman untukku tadi pagi.


Sebenarnya aku bisa saja memberikannya secara langsung, tapi aku malas jika harua menghadapi kejutekannya itu.


Lelaki berkulit putih dengan alis tebal itu pun datang. Langkahnya yang tegap serta ekspresi wajah datar yang terlihat jarang tersenyum itu membuat kami seisi kelas memilih untuk diam saat menyambutnya datang. Takut kena semprot seperti minggu lalu.


Lelaki sempat menyentuh novel yang kutarus tadi di mejanya, lalu ia mengabaikannya lagi dan mengucap salam.


Entah kenapa hati ini seolah berkata, "buka novelnya Kak, ada ucapan terimakasihku didalamnya."


Bolak-balik kulirik guru muda itu, berharap ia segera membuka novelnya dan menemukan kertas kecil yang kuselipkan tadi.


Tak lama setelah aku membatin, Kak Adam menyentuh novel itu dan membukanya. Ia nampak terpaku menatap novel tersebut. Apa ada sedang membaca tulisanku?


Dia sempat melirikku, Ia nampak seperti orang yang terkejut, lalu mengalihkannya pandangannya lagi. Aku tersenyum lega, akhirnya dia membacanya. Bukan karena apa-apa, aku hanya tidak ingin dianggap sebagai gadis yang tidak tau terimakasih. Sudah dipinjami buku berhari-hari giliran balikin gak ngucapin terimakasih.


Tapi kenapa ekspresinya tadi seperti kaget begitu ya, apa karena di tulisanku tadi yang menyinggung soal makanan pemberiannya tadi pagi?


Aku teringat kalau tadi Kak Zizah sepertinya bilang "keceplosan". Apakah mungkin itu berarti awalnya dia tidak ingin kalau aku tahu bahwa dia yang mengirimkan makanan itu tadi? Tapi kenapa memangnya kalau aku tau kalau dia yang ngasih? Apa dia gengsi? Secara kan dia selama ini sok jual mahal.


Entahlah.


Seperi Kak Fahri tadi, Kak Adam juga memberi tugas untuk dikerjakan sebelum jam pelajaran berahir. Ia juga memberi tugas hafalan beberapa penggalan surah hadits beserta artinya yang harus di setorkan minggu depan.


Pelajaran satu ini memang sering banget suruh hafalan, hafalan, dan hafalan. Udah kayak anak pondok aja.


Tapi kalau dipikir-pikir beemanfaat juga sih, karena saat ujian semester pasti muncul soal yang perintahnya suruh menerjemahkan ayat atau hadits, atau kalau nggak sambung ayat. Dengan menghafal tentu kita dipermudah dong ya, saat ujian nanti.


Suasana kelas menjadi agak tenang, semua siswa sibuk mengerjakan tugas di buku masing-masing, walau kadang ada Dony yang mondar-mandir sana-sini nyari contekan. Padahal semua jawaban ada dibuku, dianya aja yang males nyari. Beberapa kali dia diusir oleh anak yang diganggunya.


"Dony! Kembali ke tempat duduk kamu." Ucap Kak Adam.


"Iya Kak!"


Kak Adam yang sedari tadi duduk dibangkunya terlihat berdiri dan melangkah ke arah pintu. Ia berdiri diambang pintu menyenderkan punggungganya ke gawang pintu dan menatap keluar ruangan.


Posisi bangkuku yang terletak dibarisan paling pinggir dekat pintu, membuatku berada sejajar lurus dengannya saat ini.


Ternyata dia lumayan tampan juga kalau nggak lagi marah-marah. Baru kali ini aku memandangi wajahnya dengan tatapan tak biasa.


Eh, kamu lagi ngapain sih Aghisna. Bisa-bisanya muji guru jutek itu.


Tersadar, aku segera mengalihkan pandanganku dan kembali fokus pada buku tugasku.


"Ghis..ghis.." Raisa yang duduk tepat dibelakangku tiba-tiba menowel punggungku dari belakang, Akupun menoleh kebelakang.


"Hm?" Aku menatap Raisa dengan tatapan tanda tanya.


"Kak Adam kayaknya dari tadi ngelihatin kamu deh." Raisa berbisik dengan menundukkan kepalanya.


Aku terhenyak, tak percaya dengan apa yang dikatakan temanku itu.


💚💚💚

__ADS_1


Bersambung ..


__ADS_2