I LOVE YOU, KAK GURU

I LOVE YOU, KAK GURU
Kangen


__ADS_3

Cekrek.. cekrek..!!!


Semanis mungkin kupajang senyumku menghadap kamera layar depan.


Saat aku membidik kamera lagi tiba-tiba aku dikejutkan dengan sosok pria yang muncul dibelakangku, terlihat dari layar ponsel yang kupegang.


Seketika kuturunkan tanganku yang memegang ponsel dan menoleh kebelakang. Aku pun meringis menahan malu.


"Kok nggak dilanjutin?" Kak Fahri berkata sambil tersenyum mengejek.


"Udah," jawabku singkat sambil memalingkan muka.


Kak Fahri kini mendekat, dia menjatuhkan bobot tubuhnya tepat di sampingku.


"Ghis!" Panggilnya. Kujawab dengan menggumam sambil menoleh padanya.


"Aku kok kangen ya," ucapnya tiba-tiba, sampai-sampai ponsel yang kugenggam lolos dari genggamanku.


"He? Kangen? Sama siapa?" Kuambil ponselku yang terjatuh tadi sambil menahan perasaan agar tidak Ge Er terlebih dahulu, siapa tau yang dia maksud kangen itu bukan aku.


Kak Fahri tertawa menanggapi pertanyaanku.


"Memangnya yang lagi ngobrol sama aku sekarang siapa?" Ujarnya kemudian.


Otakku pun langsung on, paham dengan yang ia maksud. Tapi aku masih tidak percaya dengan apa yang ia katakan tadi. Kangen?


Kurasa pipiku menghangat, kutundukkan wajahku agar tak kelihatan kalau pipiku sedang merona karena malu.


"Sehari tanpa bertegur sapa sama kamu itu rasanya kayak ada yang kurang gitu."


Deg..deg..deg..deg..!!


Demi apa jantungku semakin berdetak kencang. Andai sedang sendirian, pasti aku sudah melompat-lompat kegirangan.


Bola mataku bergerak kekanan, ingin langsung menatapnya tapi rasanya malu banget. Dapat kulihat dari ekor mataku bahwa dia juga sedang memandangiku.


Tahan..tahan.. jangan senyum-senyum ya! Nanti ketahuan kalau lagi ke-ge-er-an.


"Kenapa? Kok malah diem sih?"


Aduh.. dia ini benar-benar gak tau atau pura-pura gak tau kalau aku ini lagi nahan malu gara-gara dia bilang kangen tadi.


"Siapa juga yang diem, ini tangaku juga gerak-gerak, mataku juga kedip-kedip dari tadi." Aku mempraktekkan menggerakkan kedua tanganku dan mengedip-ngedipkan mataku.


Dan Kak Fahri malah tertawa melihatnya.


Memang aku aneh sih, haha. Dasar payah, baru dibucinin segini doang hatiku sudah berkembang-kembang.


"Lucu ya?" Tanyaku padanya.


"Iya, kamu itu lucu dan.. manis."


Gedubrak!! Seketika lenganku melemas yang sedari tadi kugunakan untuk menahan bobot tubuhku, tubuhkupun seperti hendak terjatuh.


"Kenapa?" Tanya Kak Fahri yang melihat tubuhku oleng.

__ADS_1


"Ehh, ini.. tanganku kayak kesleo, tapi gak apa-apa kok, gak sakit." Kilahku memberi alasan.


Kak Fahri sedikit mebulatkan mulutnya.


"Indah juga ya," ucapnya sembari mengedarkan pandangannya.


"Iya. Baru kali ini aku lihat sunrise di pantai. Ternyata indah banget."


"Maksudku itu kamu."


Gudubrak!! Aku benar-benar terjatuh kali ini. Jatuh kedalam rayuan manisnya.


"Whoyy..!!! Seksi logistik!! Pacaran mulu, bantuin nyiapin sarapan!!" Teriak Andra yang berdiri dengan satu tangan berkacak pinggang.


"Ish, gak usah teriak kenapa sih. Nyamperin kesini kan, bisa!" Gerutuku dalam hati.


Baru saja aku menikmati momen-momen manis bersama Kak Fahri, tapi Andra si pengacau itu merusak suasana saja.


"Ya!" Jawabku dengan berteriak juga.


***


Prriiitt...priiitt...priiitt...!!!


Peluit dengan tanda sandi morse berbunyi, menandakan bahwa semua anak harus segera berkumpul.


"Setelah sarapan kalian harus segera bersiap-siap untuk kegiatan penjelajahan kita pada hari ini. Pastikan semuanya harus ikut, jangan sampai ada yang menbuat alasan agar tidak ikut. BISA DIMENGERTI?!"


"SIAP DIMENGERTI!!"


Aku turut membagikan bungkusan nasi kepada yang lainnya, tentunya dibantu dengan teman-remanku juga.


"Ambil saja dulu, jangan sampai gak kebagian." Kak Fahri menyodorkan sebungkus nasi padaku saat aku masih sibuk membagikan bungkusan nasi yang tinggal sedikit lagi.


"Tenang aja, tadi sudah dihitung kok, bahkan lebih sedikit kayaknya," jawabku sembari tersenyum padanya.


"Baiklah, sini biar aku bantu." Kak Fahri hendak meraih kantung kresek berisi bungkusan nasi yang kubawa, namun aku segera mencegah tangannya.


"Nggak usah Kak, orang tinggal dikit kok. Udah kakak makan duluan saja sana. Ini sudah menjadi tugasku." Usirku halus padanya.


"Hmm, ya, sudah. Aku kesana dulu ya." Kak Fahri menunjuk pada suatu tempat lalu ia beranjak pergi. Aku hanya tersenyum menanggapinya.


Kantung kresek yang kubawa sudah kosong, dan sepertinya semua anak juga sudah mendapat jatah masing-masing, tinggal aku saja yang belum ambil. Aku kembali lagi kedepan untuk mengambil jatah makanku.


Kepalaku celingukan memandangi meja yang tadinya dijadikan tempat untuk menaruh nasi-nasi bungkus tadi telah kosong momplong.


Aku mengedarkan pandanganku ke arah teman-teman yang tadi ikut membagikan nasi, barangkali ada yang tersisa pada mereka, namun nampaknya semua hanya memegang masing-masing satu bungkus, dan itu pasti jatah mereka sendiri.


"Nasi bungkusnya masa udah habis?" Kataku dengan nada sedikit lantang.


"Lho, kamu belum kebagian Ghis?" Tanya Kak Salwa yang tak jauh dariku. Aku mengangguk.


"Kayaknya tadi dilebihin deh." Kataku lagi.


Beberapa teman-temanku pun ikut celingukan, barangkali ada yang terselip disuatu tempat.

__ADS_1


"Yaaah, gak dapat sarapan dong." Sesalku dalam hati.


"Joinan sama aku aja Ghis!" Tawar Dinda yang berjalan menghampiriku.


"Ah, nggak usah Din. Aku masih ada cemilan di tas. Lagian aku gak terlalu laper kok," tolakku halus. Tapi sebenarnya perutku sudah keroncongan. Aku hanya tidak ingin mengurangi jatah makanan Dinda.


"Ini masih ada sisa satu." Kak Adam tiba-tiba datang dengan menyodorkan sebungkus nasi padaku.


"Tadi keselip disana." Ia menunjuk arah dengan gerakan kepalanya.


Aku pun meraih nasi bungkus dari tangan Kak Adam dengan sukarela. Setelah itu Kak Adam melenggang pergi begitu saja sebelum aku mengucapkan rasa terimakasihku.


"Yaudah, yuk makan!" Dinda menggait tanganku mencari tempat yang nyaman untuk menyantap makanan kami.


Nasi bungkus dengan lauk telor ceplok dan sambal goreng kentang dilengkapi dengan sambal terasi, kami lahap dengan nikmat sambil menikmati udara pagi di pesisir pantai.


Di tengah-tengah asyiknya mengunyah makanan, mataku melirik dimana Kaka Adam sedang duduk bersandar pada sebuah pohon sambil memainkan ponselnya. Tangan kanannya memegang sebuah roti yang perlahan ia suapkan kedalam mulutnya. Roti yang sama seperti yang ia berikan padaku semalam.


Kenapa dia makan roti, bukan nasi bungkus?.Batinku bertanya. Apa mungkin dia sudah makan duluan tadi, atau jangan-jangan nasi yang dia berikan padaku ini punya dia?


Mendadak makanan yang kutelan seperti tertahan di tengah-tengah tenggorokan, entah mengapa perasaan bersalah tiba-tiba saja menghinggapi diri ini, bagaimana jika benar kalau nasi yang kumakan ini jatah sarapannya Kak Adam. Sedangkan dia rela hanya sarapan dengan roti saja?


Kenapa? Kenapa dia sebaik ini padaku?


"Ghis! Kok malah bengong sih, buruan dihabisin. Habis ini kita dapat tugas jaga pos," ujar Dinda mengingatan, membuyarkan lamunanku tentang Kak Adam.


"Iya." Aku pun kembali melahap makanan yang ada didepanku. Sudah terlanjur aku makan juga, masa iya harus dibalikin makanan sisa begini?


"Eh, Ghis. Lihat deh, ada yang lagi usaha PDKT lagi." Dinda menunjuk suatu arah dengan isyarat dagunya. Mataku pun mengikuti arah yang ditunjukkan Dinda.


Disana, disebelah tendaku duduk Kak Fahri yang ditemani oleh Jenny. Mereka nampak asyik mengobrol sambil menikmati makanan mereka.


Aku memutar bola mata malas, jengah dengan pemandangan yang baru saja tersaji di depan mataku.


Kenapa sih, Kak Fahri begitu mudah akrab dengan orang lain. Eh, maksudku wanita lain. Kukira hanya aku saja yang dekat dengannya.


Eh, tapi, mungkin saja Jenny yang berusaha mendekati Kak Fahri, dan Kak Fahri sendiri orangnya memang humble.


Aku berusaha tetap berpikiran positif pada Kak Fahri, apalagi mengingat ucapan manisnya pagi tadi, membuatku senyum-senyum sendiri saat mengingatnya.


"Jangan mau kalah sama Jenny Ghis. Tunjukin kalau kamu bisa selangkah didepan dia." Ucap Dinda menyulutkan api persaingan.


Memangnya ini lomba?


"Biarin aja sih, Aku nggak mau jadi cewek yang suka ngejar-ngejar cowok. Biar cowonya aja yang ngejar. Gengsi dong!" Tukasku dengan percaya diri.


"Hmm.. bener juga sih. Aku dukung deh!" Dinda mengacungkan jempol tangannya.


"Kita jaga di pos berapa?" Tanyaku dengan melahap satu suapan terahir.


"Pos empat, lebih tepatnya diatas bukit kita." jawab Dinda.


"Harus naik dong kita? Kalau gak salah ada depalan pos ya?"


Dinda mengangguk. Ia melahap satu suapan terahirnya.

__ADS_1


Selesai sarapan, aku dan Dinda mencari air untuk cuci tangan. Setelah itu semua panita berkumpul untuk membahas tugas masing-masing lalu bersiap pergi untuk bertugas mengambil tempat masing-masing sebelum para peserta di berangkatkan sesuai dengan regu mereka.


__ADS_2