
"Beribu sungai yang bertemu di lautan, tidak kah kau lihat itu sebagai keajaiban Allah swt?
Begitupun dengan bertemunya diriku dan dirimu, bukankah itu juga suatu keajaiban? Gadis bermata bulat, sebulat bulan purnama yang sempurna."
By : Assyauq.
Oh my God.. siapa yang mengirim surat cinta se-romantis ini. Manis sekali ya Allah..! Jarang-jarang ada yang memuji bentuk bola mataku yang memang bulat ini, malah kadang aku diledekin sama temen-temen seperti ini, "Eh, Ghisna! Biasa aja dong kalau ngelihatin jangan pakek melotot gitu." Padahal aku mah biasa aja ngelihatnya gak pakek melotot, mereka aja yang rese.
Sejenak aku termenung melihat tulisan dibarisan paling bawah. 'Assauq'. Siapa 'Assauq'? Ini nama orang, inisial, atau nama apa?
Aku mencoba mengingat-ingat barangkali ada salah satu kenalanku yang nama belakangnya 'Assauq'. Sudah berpikir keras namun ku tak kunjung juga menemukan jawabannya.
"Siapa?" Gumamku lirih.
"Ciyee..! Kayaknya ada yang punya penggemar rahasia nih."
Aku tersentak lalu mendongak ke sisi kiri, entah sejak kapan Milka sudah berdiri disitu.
"Eh, Milka. Ngagetin aja!"
Milka menaruh ranselnya lalu menarik kursi dan duduk disampingku.
"Siapa?" Tanyanya dengan alis yang naik turun. Aku menggedikkan bahu-tak tahu.
"Sini lihat." Milka mencoba meraih kertas yang kupegang, namun secepat kilat aku menariknya dan memasukkannya ke dalam saku.
"Rahasia!" Aku menjulurkan lidah-meledeknya.
"Ish! Pelit!!" Milka memanyunkan bibirnya, alisnya sampai berkerut.
Aku tersenyum puas melihat ke-bete-annya itu.
***
"Andra Aji Pamungkas."
Nama Andra terpanggil ketika Pak Siswanto membacakan absensi kelas.
"Gak masuk Pak!" Celetuk salah seorang siswa.
"Kenapa Andra tidak masuk? Kok tidak ada surat ijinnya?"
"Gak tau Pak!"
Pak Sis menghela nafas lalu berkata, "hari ini ada ulangan malah gak masuk sekolah."
Pak Sis melanjutkan mengabsensi kelas.
Aku tahu alasan Andra tidak masuk sekolah hari ini, pasti dia takut kalau Aku melapor kejadian kemarin ke Guru. Dia pasti takut kalau nanti dipanggil ke ruang BP, berhadapan dengan Pak Rusdi beserta penggaris kayu sebesar telapak tangan orang dewasa itu.
"Ck. Dasar banci kaleng!" Aku tersenyum kecut.
"Hah? Siapa yang kamu katain banci Ghis?" Tanya Milka dengan ekspresi agak terkejut.
"Ha? Umm..itu, nganu. Si Andra hari ini kan gak masuk, pasti dia menghindari ulangan fisika hari ini. Cemen banget kan." Kilahku berusaha menutupi kegugupanku.
"Owh.." Milka membulatkan mulutnya sambil menganggukkan kepalanya.
"Maklum aja sih, pelajaran satu ini emang agak susah gitu." Lanjutnya lagi.
Walau bagaimanapun Aku tidak ingin ada lagi yang tahu tentang kejadian kemarin. Bukan karena Aku sudah memaafkan Andra, bukan. Tidak semudah itu Aku memaafkan tindakannya yang sudah melwati batasanya itu.
Aku hanya tidak ingin teman-temanku tau kalau Andra sudah berusaha menciumku. Aib ini mah, harus ditutupin rapat-rapat, bisa-bisa nanti kami malah diledekin terus dicomblang-comblangin lagi. Idiih..!! Ogah banget. Andra juga bertindak demikian pasti karena otaknya sedang dikuasai amarah syetan terkutuk yang berusaha menghasutnya agar membalas dendam padaku.
"Baiklah anak-anak, kita mulai ulangan Fisika pada hari ini. Pastikan hanya ada pulpen dan kertas di atas meja ya. Jangan ada contekan apalagi buku." Intruksi Pak Sis setelah selesai mengabsensi murid-muridnya.
***
Karena hari ini adalah hari kamis, seperti biasa Aku sedang puasa sunnah. Seusai kegiatan sholat dhuha Aku memilih pergi ke perpustakaan untuk menghabiskan waktu jam istirahat. Gak mungkin kan, lagi puasa nongkrongnya di kantin. Sayangnya Milka tidak suka pergi ke perpus, jadilah Aku pergi sendirian.
Sesampainya di depan ruangan perpus, Aku berpapasan dengan Kak Fahri yang baru saja keluar dari ruangan itu. Yah.. telat dong Aku. Kenapa buru-buru pergi sih, Kak Fahri.
"Mau ke perpus?" Tanya Kak Fahri yang seketika berhenti saat melihatku.
Aku mengangguk menanggapinya.
"Emm.. kalau gitu.."
"Kak!" Ucapan Kak Fahri terputus saat seseorang datang diantara kami.
"Boleh minta bantuannya gak Kak? Ini nih, Aku susah banget ngerjainnya."
Jeny tiba-tiba datang dengan membawa buku dan pulpen ditangannya.
"Coba lihat," Kak Fahri meraih buku yang dibawa Jeny. Sepertinya itu buku Fisika.
Kenapa tanya soal pelajaran Fisika sama Kak Fahri sih, Kak Fahri kan ngajar pelajaran Bahasa Arab bukan Fisika. Lagian dia kan udah pinter, ngapain masih minta diajarin Kak Fahri, modus banget.
Jeny mendekatkan tubuhnya tepat di samping Kak Fahri, seolah juga sedang memperhatikan bukunya dipegang Kak Fahri.
Ish, ganjen banget sih ini anak. Kok gak ada malu-malunya ndempel-ndempel kayak gitu. Jeny bahkan sama sekali tidak melihatku yang sedari tadi berdiri disini, apalagi menyapa, seoalah dia tidak menganggapku ada disini.
Baiklah daripada Aku mengganggu mereka berdua lebih baik Aku yang pergi. Kulangkahkan kaki masuk kedalam ruang perpustakaan.
__ADS_1
"Loh, Aghisna.." panggil Kak Fahri, namun kuabaikan. Males banget.
Kutarik kursi sampai menimbulkan bunyi yang keras dari gesekan antara kaki kursi dan lantai, kemudian duduk dan membuka halaman novel yang sudah kuberi pembatas pada saat terahir aku membacanya. Lupakan kejadian tadi Ghisna, itu cuma bikin mood berantakan.
*
Entah sudah berapakali punggung tangan ini mengatup didepan mulut, menutupi mulut yang terbuka karena beberapa kali menguap. Ngantuk, mungkin karena puasa jadi jam segini hawanya itu ngantuk terus.
Sekitar sampai tiga lembar halaman novel yang sudah kubaca, dapat kurasakan pandanganku yang kian lama kian buram, seperti ada yang menarik kelopak mata ini agar tertutup. Beraat banget rasanya, sampai akhirnya Aku tak kuasa menahannya lagi, kepalaku pun seperti sudah tak kuat lagi menopang agar tetap tegak dan akhirnya..
Teklukk!!!
Aku segera tersadar karena kurasakan jidatku bukan menyentuh meja, melainkan menyentuh sebuah telapak tangan.
Tunggu dulu!! Kok bisa?!
Aku tergagap dan segera mendongak, didepanku sudah berdiri pria yang memakai kemeja biru muda bermahkotakan peci hitam polos di kepalanya.
Kak Adam?
Malu banget ketahuan tidur sama orang ini.
"Ka-kakak Ng-ngapain disini?" Tanyaku dengan sedikit gagap.
"Mencegah jidatmu biar gak kebentur meja." Ucapnya, datar. Ia berbicara padaku, tapi pandangan matanya menatap ke arah lain.
"Owh, hmm.. ya. Terimakasih." Ucapku menahan malu.
Ya, sudah sepatutnya Aku berterimakasih meski mukanya saat berkata tadi itu menyebalkan sekali.
Kalau saja tidak ada Dia tadi, pasti jidatku sudah benjol karena kebentur meja.
"Jangan salah paham, Saya cuma kasihan sama mejanya." Katanya lagi sambil berlalu meninggalkanku yang tengah shock mendengar penuturannya. Bener-bener gak nyangka!.
Dasar manusia abstrak, tidak berprikemanusiaan!! Bisa-bisanya Dia lebih peduli sama meja daripada jidatku. Huh!!
Bell berbunyi, tanda jam istirahat sudah berakhir. Aku beranjak dan pergi meninggalkan perpus dengan perasaan yang masih malu bercampur dongkol dengan Kak Adam tadi. Bisa-bisanya Aku berurusan dengannya lagi, sungguh menyebalkan!
*
Saat akan kembali ke kelas, Aku berjalan melewati koridor kelas X. Ternyata Kak Adam juga sedang berjalan satu arah denganku, mungkin dia sedang menuju kelas tempat dimana dia akan mengajar sebentar lagi. Hanya saja dia berada 10 langkah didepanku. Dapat kulihat Dia sedang digoda para siswi kelas X yang masih berada di luar kelas.
"Kak Adamm!!"
"Kakak ganteng, mampir dong!"
"Kakak makannya apa sih, kok bisa ganteng gitu!"
Dan bla..bla..bla. entah apa lagi kalimat pujian yang mereka lontarkan untuk pria bengis itu.
"Kalian juga imut-imut." Pria itu membalikkan punggungnya dan menanggapi siswi-siswi bucin itu.
Hah? Aku gak salah denger kan ini? Tumben dia jadi ramah begitu, apa mungkin dia pilih-pilih dan lebih suka digoda siswi-siswi yang baru lulus SMP itu ketimbang yang lebih dewasa?
Seketika siswi-siswi itu berteriak histeris karena dipuji 'imut-imut' oleh idolanya itu.
Hooahh..!! Aku justru muak.
"Jangan dianggap serius!" Pria itu berucap datar, namun sepertinya cukup menyentil. Dia pun segera melangkah lagi menjauh.
Tuh, kan. Apa Aku bilang. Menyebalkan bukan? Lihat betapa angkuhnya dia.
***
"Ghisna, pulang sekolah kita mampir ke rumahmu ya!"
Nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba saja Shela, Rena, Icha, dan Mili, mendekatiku dan mengutarakan maksud ingin, main kerumahku?
Tumben banget, padahal selama ini Aku dan mereka tidak terlalu akrab karena mereka berempat cenderung berteman hanya dengan satu geng saja.
"Mau ngapain?" Tanyaku heran.
"Ya, mau main lah. Masa gak boleh?" Jawab Shella.
"Katanya Kak Fahri tinggalnya dideket rumah kamu ya?" Celetuk Mili yang seketika itu disikut oleh Icha.
Hemm.. jadi ini alasannya?
Aku langsung melempar pandanganku ke Milka, dia nyengir kuda tanpa merasa berdosa. Pasti Milka yang memberitahu mereka.
"Lain kali aja ya, nanti Aku sibuk bantuin ibuku buat acara yasinan. Ntar malem kan, malam jum'at. Kebetulan giliran di rumahku pengajiannya." Terangku memberi alasan.
Huft, untuk saja memang nanti ada acara di rumah, jadi aku punya alasan supaya mereka gak dateng ke rumahku.
Bukannya aku pelit dan gak mau menerima mereka sebagai tamu, tapi Aku yakin banget tujuan mereka bukan untuk silaturahmi, tapi cuma ingin cari-cari perhatian Kak Fahri aja. Aku gak mau dong, rumahku nanti malah dijadikan markas mereka dalam rangka caper-caper ke Kakak-kakak Mahasiswa itu.
"Btw, rumah kamu dimana sih, Ghis? Emang deket ya dari sekolah?" Tanya Rena.
"Iya deket kok." Jawabku simple, sebenarnya tak ingin lebih jauh memberitahu arah-arah rumahku.
"Yaudah deh, besok-besok aja kalau gitu. Yuk gaes!" Rena mengintruksi ketiga temannya meninggalkan bangkuku.
"Sorry.. keceplosan." Kata Milka sambil mengangkat dua jarinya.
__ADS_1
Aku memanyunkan bibirku, mau ngambek juga percuma udah terlanjur kan.
***
"Kak Fahri?"
Kini pria itu tengah berdiri sendirian di jalanan gang samping gedung sekolah. Ia berdiri bersandar pada dinding pagar gedung sekolah dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Dengan kaki yang agak gemetar, Aku melangkah mendekat, Ia menoleh setelah menyadari kehadiranku. Lagi, senyumnya itu selalu membuat hati ini ingin terbang.
"Kakak ngapain berhenti disini sendirian?" Tanyaku saat sudah berada tiga meter dari hadapannya.
"Nunggu kamu pulang."
"Nunggu Aku?" Mendengar kata itu seketika seperti ada yang mengetuk jantung ini. Deg!!
"Kenapa?" Tanyaku lagi.
"Mengingat kejadian kemarin, rasanya masih khawatir kalau biarin kamu jalan sendirian lewat sini. Di gang ini kan gak ada rumah, cuma ada pekarangan."
Menghangatlah pipiku mendengar penuturan Kak Fahri, jadi merasa seperti sedang diberi perhatian lebih olehnya.
"Ah, jadi ngerepotin Kakak nih." Ucapku sembari berusaha menyembunyikan senyum bahagia.
"Gak perlu khawatir Kak, lagian hari ini Andra gak masuk kok." Sambungku lagi.
"Gak masuk?"
"Iya. Mungkin dia takut kalau kita bakal lapor ke Kepsek."
Kami sama-sama melangkah, berjalan beriringan menyusuri jalanan yang tidak terlalu lebar ini.
Kicauan burung seakan mengiringi langkah kami berdua.
"Tumben Kakak pulang cepet, biasanya agak siangan dikit?"
"Iya, kan memang sengaja mau barengin kamu." Ia melirikku, dan aku tertunduk malu.
"Ah, masa sih."
Sumprit, jantungku rasanya seperti sedang berdisko ria.
Dug...dug..dug..dug..!! kecepatannyapun makin lama makin bertambah.
Kenapa dia jadi begitu perhatian begini ya?
Apakah karena memang hanya kasihan atau dia punya perasaan yang sama sepertiku?
Entahlah.
"Iya beneran. Gak tau kenapa bawaannya pengen ngelindungin kamu terus."
Eaaa...!!
Dia lagi ngegombal atau serius sih?! Haduh, mau kepedean tapi takutnya cuma dibercandain.
"Apaan sih, Kak. Jangan bercanda deh. Nanti kalau aku kepedean gimana hayo?!" Aku mengulum senyum, sebenarnya pengen jingkrak-jingkrak tapi malu.
"Serius, beneran. Duariuas malah," ucapnya meyakinkan. Gak tau harus bilang apalagi, deg-degan banget soalnya.
Gak tau harus bilang apa lagi, ini jantung dari tadi sudah berdiskoria di dalam sana. Telapak tanganku rasanya seperti habis dicelupin kedalam ember berisi es batu, dingin banget. Sedangkan pipiku malah rasanya semakin memanas, kurasa warnanya sekarang sudah memerah seperti kepiting rebus. Jangan sampai Kak Fahri melihatnya, bisa ketahuan kalau aku lagi grogi tingkat kabupaten.
"Eiitss!!" Tiba-tiba saja tanganku ditarik oleh Kak Fahri.
Awalnya aku bingung kenapa dia menarik tanganku, namun aku segera tersadar kalau aku hampir saja menabrak semak-semak.
Astaghfirullah Aghisna, dari tadi mata kamu kemana sih, kok sampai gak lihat ada semak-semak disitu. Malu-maluin banget.
"Mau kemana? Jalannya udah belok ini lho," kata Kak Fahri yang masih menggenggam tanganku.
"Hehe, maaf gak lihat Kak." Aku nyengir kuda, menutupi rasa malu yang luar biasa.
"Lagi ngelamunin apa sih, sampai gak sadar kalau jalannya udah belok. Kalau saja ini di jalan raya, pasti kamu udah kena tilang." Kata Kak Fahri yang masih terkekeh atas tingkah konyolku tadi.
Aku menjadi salah tingkah, ditambah lagi tangan pria itu belum juga melepas genggamannya dari tanganku.
"Kak," panggilku padanya.
Aku memberi isyarat melirik ke arah tangan kami yang masih menyatu.
"Eh, maaf." Ucap Kak Fahri seraya melepas genggamannya.
Kusentuh tanganku bekas genggaman tangan Kak Fahri, ada desiran aneh menyelip di dalam dada.
Aku merasa seperti ada yang sedang berjalan di belakang kami, terdengar suara langkah kakinya yang bergesekan dengan tanah bercampur dedaunan kering.
Kak Fahri menoleh ke belakang, sepertinya dia juga menyadarinya.
"Mau kemana?" Teriak Kak Fahri setelah ia menoleh ke belakang.
Karena penasaran, akupun ikut menoleh ke belakang.
💚
__ADS_1
Bersambung..