I LOVE YOU, KAK GURU

I LOVE YOU, KAK GURU
Terjebak di Dalam Toilet


__ADS_3

Teeetttt!!!!!!!


Bell pulang telah dibunyikan, tanpa menunggu salam dan komando dari guru, serentak kami semua mengemasi buku-buku dan alat tulis lainnya kedalam tas masing-masing.


Tak berselang lama setelah bell dibunyikan, terdengar suara pengumuman yang sepertinya itu suara dari Kak Hanif.


"Assalamu'alaikum wr.wb. Pengumuman untuk seluruh anggota Dewan Ambalan pramuka kelas XI dan XII, setelah ini harap untuk berkumpul di kelas XI IPA 3. Wassalamu'alaikum wr.wb."


Sekarang? Di kelas ini?


Aku menghela nafas, sepertinya rencana untukku memergoki orang yang biasa menaruh surat di bangkuku bakal gagal deh.


"Katanya mau ada urusan? Jadi nggak?" Tanya Milka saat aku mengeluarkan ponsel dari dalam tas.


"Nggak tau nih, nggak jadi deh kayaknya."


"Ish! Kok gitu? Aku kan udah terlanjur batalin janji sama Dicky Ghis," ujar Milka memanyunkan bibirnya, tampak sekali raut kekecewaan diwajah ovalnya itu.


"Ya, maaf. Kamu denger sendiri kan tadi ada pengumuman kalau anak pramuka suruh ngumpul habis ini."


"Hm," Milka mendesah. Ia celingukan sedang mencari seseorang. Aku tau siapa yang sedang dia cari.


"Tuh, Dicky baru aja keluar. Buruan susulin sana, gak usah peduliin aku." Aku memanyunkan bibirku, pura-pura merajuk.


"Jangan gitu dong, aku kan bukan anak pramuka, jadi aku balik dulu ya! Bye..bye..!" Milka mencubit pipiku lalu berlari keluar kelas.


"Milka!!" Aku memekik sembari memegangi pipiku. Sakit.


Sambil menunggu semua anggota berkumpul, kugunakan waktuku untuk berselancar di dunia maya.


Di kelasku, yang ikut kegiatan pramuka ada sekitar 7 orang. Diantaranya empat anak cewek yaitu, Aku, Ulya, Dina, dan Jenny. Dan tiga anak cowok yaitu, Galih, Satya, dan Andra.


Milka tidak menjadi bagian anggota pramuka karena dia sudah bergabung dalam ekstrakulikuler PMR. Di sekolah kami hanya diijinkan mengikuti salah satu kegiatan Ekskul saja, agar saat latihan dan ada event tidak bentrok jadwalnya.


Beberapa saat kemudian, semua anggota pun sudah terkumpul di dalam kelas. Disusul dengan Kak Hanif selaku ketua DA Pramuka. Ia berdiri di depan dan memulai pembahasan pertemuan kami.


Singkat cerita, kami disini selaku anggota pembina pramuka mengadakan pertemuan untuk dibentuknya panitia acara perkemahan yang akan dilaksanakan minggu depan. Rencana sih, akan diadakan perkemahan di daerah pantai yang lokasinya tak terlalu jauh dari sekolah. Dan aku ditetapkan sebagai sie logistik bersama empat orang lainnya, yaitu Dina, Kak Farah, Kak Meysa dan Andra.


Heh? Anak itu? Ingin rasanya aku protes tapi tidak berani jawab kalau ditanya alasannya. Walhasil, aku diam saja. Semoga saja nanti dia tidak akan menggangguku lagi.


Acara ini nantinya akan diikuti oleh seluruh anggota pramuka kelas X, XI dan XII.


Pukul 15.30 acara pertemuan kami baru berahir, beruntung kegiatan sholat dzuhur sudah terlaksana tadi secara berjamaah sebelum jam pelajaran terahir. Jadi saat pulang sekolah tidak khawatir terlambat sholat dzuhur karena kegiatan belajar mengajar di sekolah berahir jam 14.00.


Bayangkan saja, jika jam segitu baru pulang terus yang rumahnya jauh pasti bakal kehabisan waktu sholat dzuhurnya.


Alhamdulillah, aku bisa bersekolah di madrasah dimana disini diajarkan semua nilai-nilai keagamaan. Gurunya pun banyak yang jebolan dari pesantren.


Suasana sekolah terlihat sangatlah sepi, saat ingin pulang, tiba-tiba saja kandung kemih terasa penuh dan tidak bisa ditahan lagi. Kuletakkan ranselku di tempat duduk keramik depan kelas dan langsung berlari ke toilet yang letaknya tak jauh dari kelasku.


Setelah selesai dan akan keluar, aku terkejut karena pintu toilet tidak bisa aku buka. Seketika aku langsung panik dan berusaha menarik handle pintu sekuat tenaga, tapi usahaku nihil, pintu tetap tidak bisa dibuka.


Ingin menelpon seseorang tapi sialnya Hp ku ada di dalam tas, dan tasku tadi kutinggal di depan kelas.


Ya Allah, bagaimana ini?


Aku menangis karena ketakutan, takut tidak bisa keluar dari sini sampai besok.


"Kalau kemalaman disini gimana dong? Dikamar mandi kan, biasanya banyak setannya." Aku berbicara sendiri, memikirkan hal itu tangisku tambah menjadi-jadi.


"Tolong!!!" Aku berteriak sekencang-kencangnya, berharap masih ada orang diluar sana yang mendengar suaraku.


Apes banget sih aku. Kenapa juga pintu ini gak bisa dibuka. Rusak atau ada yang ngunci dari luar?


"Jangan-jangan Andra?!" Tiba-tiba aku berprasangka buruk terhadap pria itu, bisa saja kan dia mau balas dendam.


Astaghfirullah.. aku tidak boleh su'udzon dulu sebelum ada buktinya.


"Tolooong..!!" Aku berteriak sambil menggedor-gedor pintu berharap ada yang datang menolongku.


Tak hentinya aku berdo'a dalam hati memohon pertolongan kepada Allah. Disaat seperti ini hanya Allah lah satu-satunya harapanku. Semoga saja masih ada orang disini meski hari sudah sore begini.


"Toloong..!!"


Suaraku sampai serak, telapak tanganku pun teras panas karena menggedor-gedor pintu dari tadi. Biarlah rusak pintu ini asalkan aku bisa keluar secepatnya dari sini sebelum malam tiba.


Kurasa hampir setengah jam aku disini, aku mulai putus asa. Semoga saja Ibuku sudah pulang dari toko dan menyadari kalau anak gadisnya belum pulang, terus ibuku nyusul kesini. Semoga saja.


Tiba-tiba saja aku seperti mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat. Kugedor pintu lagi dan berteriak minta tolong berharap suara langkah tadi memang benar ada orang yang datang.


"Aghisna?" Panggil seorang laki-laki dari luar pintu toilet.

__ADS_1


Suara itu, sepertinya tidak asing ditelingaku. Tunggu dulu, dia langsung manggil namaku? kok dia bisa tau kalau aku yang berada di dalam sini?


"Tolong bukain, pintunya gak bisa dibuka dari sini." Teriakku dari dalam toilet.


Seseorang itu pun juga berusaha mendorong pintu dari luar, tapi tetap saja pintu tidak terbuka.


"Kuncinya didalam belum kamu buka mungkin." Kata lelaki itu. Aku semakin jelas mengingat suaranya.


"Udah aku puter Kak, tapi tetep gak bisa dibuka. Kayaknya macet deh."


Menyebalkan, handle pintu berbentuk seperti silinder ini menurutku memang gampang banget rusak. Aku paham karena kamar mandi dirumah juga pakai pintu yang model handle pintunya seperti ini.


"Kamu minggir dulu biar aku dobrak." Seru lelaki itu dari luar.


Aku pun menarik tubuhku mundur agar menjauh dari pintu.


Brrakk!!! Brakk!! Brakkk!!!


Tiga kali dobrakan akhirnya pintu pun dapat terbuka. Aku bernafas lega sembari mengucap syukur tiada henti.


Didepan pintu yang terbuka berdiri seorang laki-laki memakai kaos biru lengan panjang dan celana kain warna hitam. Dikepalanya dibungkus kupluk warna abu-abu agak kebelakang sehingga rambut poninya terurai menutupi sebagian keningnya.


Ternyata benar dugaanku, suara lelaki tadi adalah suaranya Kak Adam.


Aku pun segera melangkah keluar dengan perasaan sangat lega. Rasanya seperti terkurung dalam ruangan gelap tanpa udara. Bayangan setan, hantu, dedemit, dan makhluk sejenisnya terus . muncul dalam pikiranku saat berada di dalam tadi. Apalagi kalau sampai bermalam didalam sini. Bisa-bisa aku mati berdiri karena ketakutan.


Syukur alhamdulillah Allah mengirimkan Kak Adam untuk datang menolongku. Pertolongan Allah selalu datang kepada hambanya yang dalam kesulitan.


"Terimakasih Kak. Untung aja Kakak datang kesini, kalau tidak aku bisa pingsan di dalam sampai besok."


"Lagian ngapain sih, sore-sore begini masih ada di sekolahan?" Sorot matanya tajam, aku merasa sedang dimarahi olehnya.


"Tadi ada rapat DA, selesainya sore. Terus aku kebelet ke toilet, pas mau keluar malah pintunya gak bisa dibuka." Jelasku padanya.


Kak Adam melangkah ke depan keluar dari area toilet diikuti dengan langkah kakiku yang mengekor di belakangnya.


"Kak," panggilku saat kami tiba di depan ruang kelas. Ia menoleh.


"Kakak sendiri ngapain sore-sore begini di sekolah?" Tanyaku heran, ngapain juga dia bisa kebetulan banget ada disini.


"Aku?" Pria itu mengalihkan pandangannya.


"Tadi ada barang yang ketinggalan makanya kesini." Jawabnya kemudian.


"Tadi aku lihat tas kamu tergeletak di depan kelasmu, habis itu dengar kamu teriak-teriak jadi aku langsung nebak kalau itu kamu."


Aku membulatkan mulutku menanggapinya. Untung saja jarak antara toilet dengan kelasku tidak jauh sehingga Kak Adam dapat mendengar teriakanku tadi.


"Memangnya barangnya ketinggalan dimana, kok Kakak lewatnya di depan kelasku?" Tanyaku lagi.


"Cerewet banget sih, sudah ditolong bukannya terimakasih malah ngintrogasi. Suka-suka dong aku mau jalan kemana. Aku masukin lagi kedalam toilet baru tau rasa ya!"


Bukannya menjawab pria menyebalkan itu malah mengomel tidak jelas.


"Kepo dikit masa gak boleh, kan cuma nanya doang." Jawabku tak kalah sewotnya.


"Lagian tadi udah terimakasih kok, gak denger ya?!" Sambungku lagi.


Pri itu tak menjawab, Ia terus saja melangkah.


Aku menghentikan langkahku dan berbalik arah, baru ingat kalau tasku belum aku ambil.


*


Sesampainya di depan, kulihat Kak Adam masih berdiri seorang diri di gerbang. Apa dia sedang menunggu seseorang?


Gerbang sekolahku memang jarang sekali dikunci karena sudah ada Pak Tio selaku satpam yang menjaganya sampai malam. Pak Tio sendiri rumahnya ada di depan gedung sekolahan ini. Jadi tak heran kalau Kak Adam tadi bisa masuk kedalam sekolah dan menemukanku di dalam toilet.


"Kenapa masih disini?" Tanya padanya ketika aku sampai di ambang pintu gerbang.


"Nunggu kamu lah. Buruan pulang, nanti orangtuamu khawatir." Kak Adam menurunkan tangannya yang tadi menyilang di dada.


"Nunggu aku? Ngapain, aku bisa pulang sendiri kok."


"Jangan kepedean dulu ya. Aku cuma khawatir kalau kamu masuk lagi ke dalam toilet terus gak bisa keluar lagi." Kak Adam melangkahkan kakinya menuju jalanan.


"Ish, ngapain juga aku masuk lagi kedalam toilet." Gumamku lirih.


Aku mengikuti langkah kaki Kak Adam. Bukan ngikutin sih, memang jalan pulang kami yang satu arah.


"Hei, Adam! Ternyata Adam diam-diam berani juga ya, haha." Aku menoleh ke arah sumber suara itu berasal. Ternyata itu adalah Kak Hafsah yang sedang duduk santai bersama dua teman lainnya, Kak Azizah dan Kak Rania di teras rumah mbok Yat, posko tempat para Mahasiswi tinggal.

__ADS_1


Aku sempat bingung dengan kata-kata yang diucapkan Kak Hasah tadi. Tatapan mata mereka bertiga sungguh sangat sulit kuartikan.


"Eits, jangan berpikiran macam-macam dulu Kak. Ini tidak seperti yang kalian pikirkan kok." Kataku buru-buru menjelaskan. Aku merasa kalau mereka berpikir bahwa aku dan Kak Adam sengaja berduaan di dalam gedung sekolah ini.


Aku melangkah mendekati ketiga wanita cantik itu dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi agar tidak menjadi fitnah nantinya.


"Iya-iya kami percaya kok, sudah-sudah!" Ucap mereka setelah aku menjelaskan berulang-ulang dan sedikit ngotot memaksa mereka untuk percaya.


"Lain kali hati-hati, untung aja ada Adam tadi yang nemuin kamu." Kata Kak Azizah menunjukkan kekhawatirannya.


"Iya, namanya juga lagi apes Kak. Yaudah aku pamit pulang dulu ya Kak. Takut dicariin Ibu dirumah." Aku meraih satu persatu tangan ketiga wanita tersebut dan mencium takdzim lalu mengucap salam berpamitan.


Ketika aku menghadap jalan, kulihat Kak Adam sudah tidak nampak lagi ditempat ia berdiri tadi. Kemana dia? Apa sudah pulang duluan? Uh, katanya tadi nungguin, sekarang malah ditinggal.


Aih!! Kenapa jadi aku yang berharap untuk ditungguin sama dia?


Bergegas aku melangkah kembali menyusuri jalan menuju rumah, takut kalau Ibu khawatir karena aku pulang terlambat.


***


Hari minggu, biasanya aku punya agenda bersama Milka. Entah itu jalan-jalan, nongkrong di mall, atau sekedar main ke rumahnya. Tapi minggu ini karena dia punya pacar baru, dicampakannyalah aku.


Dan akhirnya minggu ini aku hanya berdiam diri dirumah saja. Umar juga kalau hari minggu acaranya sangat padat, acara main maksudnya. Dia hanya pulang saat sholat dzuhur dan makan saja, setelah itu dia berangkat lagi entah kemana. Sementara Ayah dan Ibu seperti biasa mereka menjaga toko dan pulangnya sore.


"Hari minggu di rumah aja neng, nggak hangout kemana gitu."


Kak Fahri tiba-tiba menghampiriku saat aku mencabut rumput di halaman rumah.


Aku mendongak lalu segera bangkit dari posisi jongkok.


"Eh, ada Kak Fahri." Ucapku malu-malu.


"Gak pa-pa dilanjutin aja. Sini biar aku bantu." Kak Fahri mengam il posisi berjongkok lalu mencabuti rumput yang ada di depannya.


"Eh, jangan Kak. Biar aku aja, nanti tangan Kakak kotor."


"Gak apa-apa, orang cuma kotor kan biaa cuci tangan nanti. Udah ayo dilanjutin nyabutin rumputnya."


Ragu-ragu aku kembali berjongkok tak jauh dari Kak Fahri, ada sedikit perasaan senang dengan kehadirannya disini.


"Kalau boleh aku kasih saran, sebelum nyabut rumput diniatin dulu 'Ya Allah aku berniat membersihkan hatiku yang kotor' biar gak cuma halaman rumahnya yang bersih, tapi hati kita juga ikut bersih, dan juga dapat pahala, karena diawal tadi kita niat membersihkan rumput sama halnya membersihkan hati. Gampang kan?" Kak Fahri tersenyum memberi penjelasan padaku, membuatku semakin kagum akan kealimannya itu.


"Iya." Aku tersenyum menanggapinya.


"Tumben hari minggu di rumah aja?"


"Temen yang biasa diajak hangour sekarang sibuk sama pacar barunya Kak." Jawabku dengan nada sendu.


"Kamu sendiri kenapa nggak ngajak pacar kamu jalan-jalan?"


"Pacar siapa Kak, orang aku masih jomblo kok."


"Masa sih, gadis secantik kamu jomblo?"


Aku tersenyum mendengar kata pujian darinya.


"Iya, beneran masih jomblo. Jomblo fii sabilillah."


Kak Fahri tertawa mendengar kalimatku yang terahir.


"Memangnya apa nggak boleh pacaran sama Ayah atau Ibu kamu?" Tanya Kak Fahri lagi.


"Entah." Aku mengangkat kedua bahuku.


"Mereka belum pernah membahas soal itu. Aku juga jarang banget kok Kak, deket sama temen cowok. Dan mereka tau itu, mungkin karena itu mereka percaya sepenuhnya padaku kalau aku gak bakal neko-neko." Jelasku panjang lebar.


Ih, Kak Fahri nanya-nanya pacar kenapa ya?


Lah, Kok aku jadi kepedean duluan sih. Memangnya kalau nanya begitu tanda-tanda mau nembak apa?


"Hm, baguslah kalau begitu." Jawabnya singkat.


Tuh, kan. Dia cuma nanya doang.


Sedikit kecewa tapi ah, sudahlah.


Tanganku memang sibuk mencabut rumput, tapi mataku sedari tadi berjuang semaksimal mungkin untuk dapat memandang wajah tampan lelaki yang ada dihadapanku tanpa sepengetahuannya. Tapi sepertinya ia sadar, karena beberapa kali ia membalas melirik sehingga membuat kami sama-sama tersipu dan salah tingkah.


"Itu sudah bersih Aghisna, apanya yang dicabutin?"


Aku tersentak dan melihat kearah tanganku yang ternyata bergerak seolah mencabut rerumputan, padahal tanah tersebut sudah bersih dan tanganku tidak berpindah tempat, tetap disitu saja.

__ADS_1


Spontan aku mengulum senyum menahan rasa malu yang luar biasa. Salah Kak Fahri sih, bukannya bikin kerjaan tambah cepet malah bikin aku salah fokus.


Aghisna..Aghisna..!


__ADS_2