I LOVE YOU, KAK GURU

I LOVE YOU, KAK GURU
Alasan Andra bolos sekolah


__ADS_3

"Mau kemana?" Teriak Kak Fahri setelah Ia menoleh ke belakang.


Karena penasaran, Akupun ikut menoleh ke belakang.


Diujung sana, nampak Kak Adam yang seperti habis memutar badannya balik arah. Ia nampak ragu-ragu dengan langkahnya disana.


"A? Ini, mau balik ke masjid dulu. Lupa bangunin Rasyid." Sahut Kak Adam seraya ia melangkah menjauh.


"Aneh banget sih, masa sama temennya sendiri bisa lupa." Kataku keheranan.


"Ya sudah. Ayo jalan lagi." Ucap Kak Fahri sambil Ia menggait tanganku lagi, sontak Aku terkejut bercampur bingung.


"Eh, maaf Lupa." Ujarnya lagi seketika melepaskan tanganku, Ia tersenyum dan memalingkan muka, malu mungkin.


Lupa atau sengaja Kak?


Aku sendiri hanya senyum-senyum saja dari tadi, antara senang dan malu. Tak kusangka bisa sedekat ini dengan Kak Fahri, lelaki yang sejak awal kedatangannya sudah membuat pikiran dan hati ini gundah gulana gelisah tak menentu. Aish!! Udah kayak lagu aja.


***


Keesokan harinya ternyata Andra tidak masuk kelas lagi. Aku jadi merasa bersalah, jangan-jangan memang benar dia tidak masuk gara-gara Aku. Sudah dua hari Dia ketinggalan pelajaran, kalau terus-terusan gak masuk sekolah tanpa surat ijin, bisa-bisa nanti Dia dapat surat peringatan lagi. Aduh, jangan sampai deh.


Meskipun dia sudah bertindak kurang ajar padaku, tapi rasanya gak tega kalau dia sampai dikeluarkan dari sekolah. Aku harus lakukan sesuatu supaya Andra mau masuk lagi ke sekolah.


Akan kutanyakan saja pada Nela, dia kan masih tetanggaan sama Andra, mungkin saja Nella tau kenapa Andra gak masuk sekolah.


*


"Nella!" Kuhampiri Nella saat semua siswa bersiap untuk pulang sekolah.


"Sini ikut bentar." Aku menarik tangannya menjauhi kerumunan siswa-siswa lain.


"Ada apa sih, Ghis?" Tanya Nella.


"Andra kenapa dua hari gak masuk?" Tanyaku langsung to the point.


"Mana Aku tahu," ujarnya dengan mengangkat bahu.


"Kamu kan tetangganya, masa gak tau sih?"


"Beneran gak tau. Lagian Aku gak pernah lewat depan rumahnya."


Aku menghela nafas, kecewa karena tak menemukan jawaban dari pertanyaanku.


"Ciye..! Perhatian banget sih, sampai nanyain segala."


"Sstt!!" Kusentuhkan jari telunjukku didepan bibirku, kepalaku menoleh ke kanan kiri memastikan tak ada yang menguping pembicaraan kami.


"Apaan sih, orang cuma nanya doang kok. Dia kan temen kita juga. Emang kamu gak kasihan kalau dia sampai dapat surat peringatan gara-gara berhari-hari bolos sekolah?" Jelasku pada Nela, berusaha meyakinkan Nela agar tak berpikir macam-macam padaku. Aku gak mau kalau dikira punya perasaan dengan cowok berandalan berotak mesum itu.


"Ya.. kasihan juga sih. Tapi kayaknya kamu kelihatan khawatir banget. Emang ada apaan sih?" Cecar Nella, membuatku gelagapan. Masa iua aku harus cerita soal kejadian tempo hari itu. Haduh, jangan deh. Aib itu.


"Nggak ada apa-apa Nella. Serius cuma kasihan aja kalau sampai dia dikeluarin dari sekolah kalau kelamaan bolos." Kataku berusaha menjelaskan maksudku.


"Aku gak bisa bilang ke kamu Nel, kalau sebenarnya yang Aku takutkan adalah kalau sampai dia dapat sanksi gara-gara punya masalah denganku." Batinku berkata.


"Yaudah deh. Nanti aku coba cari tau." Ujar Nela.


"Atau kalau kamu punya nomornya langsung tanyain aja Nel." Usulku kemudian.


"Punya sih. Iya dah, oke!" Nela manggut-manggut setuju akan maksudku.


"Siipp! Thanks ya Nel." Kutepuk bahu Nela lalu pergi meninggalkannya. Semoga saja Nela benar bisa bantu.


***


"Astaghfirullah!!" Aku terkejut melihat Kak Adam yang tiba-tiba saja berada di dalam dapurku. Lebih tepatnya ia sedang berdiri di pojokan ruangan.


Pria itu pun menoleh saat mendengar teriakanku tadi. Secepat kilat aku menutup kepalaku dengan handuk yang awalnya kusampirkan dibahu. Untung saja aku memakai pakaian tertutup, hanya saja aku tidak memakai jilbab.


"Biasa ajalah. Kayak lihat hantu aja." Ia berbicara setelah memalingkan wajahnya kembali, lalu terfokus lagi dengan benda yang semula ia otak-atik. Kelihatanya ia sedang membetulkan kabel mesin pompa air. Apa lagi rusak ya?


"Ngapain Kakak disini? Kenapa gak bilang-bilang kalau mau masuk kesini sih? Untung aja Aku pas lagi.." aku menggantungkan kata-kataku, sedikit ragu untuk melanjutkannya. Sebenarnya cuma mau bilang, "untung pas lagi pakek baju tertutup." Tapi ya, sudahlah.


Pria itu menoleh sekilas lalu berpaling lagi.


Eh, ditanyain malah diem aja.

__ADS_1


Bodo amatlah, kuteruskan langkahku menuju kamar mandi yang letaknya berada di ruangan belakang dapur ini. Untung


aja kamar mandinya tidak satu ruangan dengan dapur, kalau iya kemungkinan aku mengurungkan niatku untuk mandi sekarang juga kalau pria itu masih berada di dapurku. Entah, malu aja.


Setelah masuk ke kamar mandi, aku menanggalkan pakaianku lalu memutar kran shower, tapi entah kenapa airnya tak juga keluar dari sana. Gawat, sepertinya air dari tandon habis.


Kuintip bak mandi yang berukuran sedang itu, airnya tinggal dikit banget mana cukup untuk aku mandi, belum lagi buat wudlu.


Huft, terpaksa aku memakai pakaianku kembali dan keluar lagi dari kamar mandi. Langkahku terhenti saat Kak Adam tengah mengatakan sesuatu.


"Kalau mau mandi nanti dulu, air yang di tandon habis. Mesin pompa airnya masih belum bisa dipakek." Ucapnya tanpa menoleh sedikitpun. Uhh, jutek banget sih. Kenapa coba gak bilang dari tadi sebelum aku masuk ke kamar mandi. Udah terlanjur nyopot pakaian tapi gak jadi mandi, kan kesel jadinya.


Aku melanjutkan langkahku dengan sedikit menghentakkan kaki, sebagai bentuk protes kekesalanku padanya karena dia tidak bilang sejak awal kalau air di dalam tandon habis. Aku curiga kalau dia memang sengaja diam. Kalian tau kan gimana sebalnya saat udah terlanjur lepas pakaian tapi airnya buat mandi malah gak ada.


"Siapa sih, yang nyuruh manusia berhati batu itu kesini? Emang gak ada yang lain apa." Aku mendengkus kesal.


"Ibu sama Umar kemana lagi." Aku menghempaskan tubuh ke sofa dan memencet remot tv. Kulirik jam di dinding menunjukkan pukul 16.15


Kira-kira masih lama gak ya, udah sore begini.


Aku baru ingat, Umar jam segini belum pulang dari TPQ. Terus Ibu kemana ya?


Selang beberapa saat kemudian Ibu datang dari luar dengan membawa sesuatu didalam kantong plastik.


"Ibu habis darimana? Itu kenapa ada orang di dapur bu?" Ucapku menghentikan langkah Ibu.


"Ibu kehabisan kopi, jadi Ibu pergi ke warung mbak Ina beli kopi buat Adam yang lagi benerin mesin pompa air didalam itu. Tadi pas Ibu mau nyalain pompa air buat ngisi tandon gak bisa nyala, kayaknya kabelnya yang bermasalah. Ayahmu kan jam segini belum pulang, sedangkan air di tandon udah habis, Ibu datang aja ke rumah mbah Idris, disana kan banyak lelakinya siapa tau bisa dimintain tolong," terang Ibu panjang lebar, aku hanya manggut-manggut saja.


Owh, jadi begitu. Ayahku jam segini memang belum pulang, biasanya menjelang magrib baru tiba di rumah. Ayahku punya usaha toko grosiran yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah kami.


Kenapa Ibu gak minta Kak Fahri aja sih, kan kalau dia yang disini aku jadi seneng.


"Masih lama gak bu? Aku kan belum mandi."


"Ibu gak tau lah Ghis, makanya kalau mandi jangan kesorean. Kamu juga belum sholat?"


"Ya, belum lah."


"Ish, dasar anak bandel. Cepetan sholat dulu, mandinya nanti aja!" Bentak Ibu, membuatku tertunduk.


"Numpang dulu di rumahnya mbak Mila atau mbah Idris kan bisa!" Perintah Ibu. Kalau Ibuku sudah naik pitam begini Aku harus segera bertindak sebelum terjadi perang dunia ketiga.


Aku pun segera bangkit mengambil jilbab dari kamar dan bergegas pergi ke rumah mbah Mila, rumah sebelah. Malu kalau numpang di rumahnya mbah Idris, disana kan, banyak laki-lakinya.


*


Selesai menunaikan sholat ashar, aku keluar kamar hendak mengecek apakah Kak Adam sudah selesai benerin mesin pompanya atau belum. Udah gerah banget pengen cepetan mandi.


Saat aku hendak mengintip dari pintu yang menghubungkan antara ruang tengah dan dapur, tiba-tiba saja Kak Adam muncul dan kami hampir saja bertabrakan.


Reflek aku memundurkan kakiku, memberi jalan agar Pria itu lewat terlebih dahulu. Dia pun berjalan melewatiku dengan wajahnya yang menunduk dan tanpa berkata apapun.


Ish!! Bilang apa kek. Diem-diem bae kayak orang gak pernah kenal aja!


Aku memerotkan bibirku, mengejek lelaki yang punggungnya terlihat semakin menjauh itu.


Aku kembali lagi ke kamar mengambil handuk dan pergi lagi untuk mandi.


***


[Gimana Nel, udah ada kabar soal Andra?]


Kukirim sebuah pesan Whatsapp ke nomor Nella. Tak berselang lama, Nella mengirim balasan.


[Iya tadi aku udah ketemu, katanya sih lagi sakit]


Hmm.. sakit? Sakit beneran atau cuma pura-pura aja nih.


[Tapi anehnya dia tadi itu nanyain apa ada guru yang nanyain dia apa nggak.] Pesan dari Nella lagi.


Aku tersenyum sinis, jadi benar dugaanku dia bolos ke sekolah karena takut kalau bakal aku laporin kelakuannya itu ke Guru.


Aku teringat, waktu itu dia diancam Kak Adam bakal dilaporin ke Kepala Sekolah. Rupanya ancaman Kak Adam itu betul-betul membuat ia takut.


Kak Adam, meskipun kamu nyebelin tapi aku sangat berterimakasih padamu.


[Oh, gitu. Yaudah makasih ya infonya.] Kukirim balasan untuk Nella.

__ADS_1


[Ciye.. perhatian banget sih, sama Andra. Sejak kapan?]


[Apanya yang sejak kapan?]


[Kalian jadian]


What? Jadian. Haduh, kacau ini. Nella sudah salah paham.


[Amit-amit deh, siapa juga yang mau jadian sama anak berandalan itu Nell. Awas ya, kamu jangan nyebarin berita hoaks. Dosa tau!]


[Hahaha.. iya deh, iya. Aku cuma heran aja kenapa kamu sampai nanyain Andra gitu.]


Baiknya aku jelasin gak ya, sama Nella. Biar dia gak nyebarin gosip yang nggak-nggak nanti di sekolah.


[Gini, sebenernya Aku punya masalah sama Andra. Tapi sumpah, ini masalahnya bukan seperti yang kamu pikirin Nel. Makanya aku penasaran apa Andra gak masuk sekolah gara-gara masalah yang ada diantara kami]


Semoga dengan tabayyun Nella gak akan ngira lagi kalau aku ada hubungan sama Andra. Kita dianjuran untuk bertabayyun dalam setiap masalah agar terhindar dari berita-berita hoaks yang akhirnya malah menjadi fitnah.


[Masalah apa Ghis?]


[Ada deh, pokoknya.] Kusematkan emoticon gambar menjulurkan lidah.


[Yaah, kok gitu sih.]


[Udah lah, ini masalah pribadi Nel, kayaknya gak perlu deh Aku ceritain. Milka sahabat dekatku aja nggak aku kasih tau kok.] Jelasku pada Nella.


[Hm, yaudah deh kalau itu maumu Ghis. Aku gak maksa.]


[Ya, dah. Makasih ya Nel.]


[Ok.]


Tak kubalas lagi chat dari Nella. Alhamdulillah, semoga saja dengan taunya Andra kalau gak ada guru yang manggil dia, besok dia gak akan bolos lagi.


Kasihan aja ibunya udah capek-capek nyari duit buat nyekolahin tapi anaknya malah bolos sekolah.


Ya, meskipun dia sudah membuat masalah denganku, tapi itu bukan berarti membuatku menjadi dendam padanya dan membiarkan dia mendapat sanksi atau bahkan bisa-bisa di keluarkan dari sekolah. Aku tidak sekejam itu.


Selesai berbalas chat dengan Nella, aku beralih membuka aplikasi youtube untuk menonton film. Tapi mendadak tenggorak kering, haus banget.


Aku beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamar, maksud hati ingin pergi ke dapur untuk mengambil minum. Tapi saat tiba di depan kamar, aku seperti mendengar suara laki-laki yang kurasa itu bukan suara Ayahku, apa mungkin ada tamu?. Tapi aku juga mendengar suara Umar yang sepertinya sedang berbicara dengan suara laki-laki itu. Nampaknya suara itu berasal dari ruang tamu, karena kamarku letaknya tidak jauh dari ruang tamu jadi aku bisa mendengarnya.


Kuabaikan dan lanjut pergi ke dapur untuk mengambil minum, saat melewati ruang keluarga kulihat Ayah dan Ibu sedang menonton Tv berdua. Terus Umar sama siapa dong?


"Yah, ada tamu kok Ayah malah disini?" Ayah menoleh saat Aku bertanya padanya. Begitupun dengan Ibu yang juga ikut menoleh, lalu terfokus lagi ke layar kaca.


"Tamu siapa?" Tanya Ayah balik.


"Gak tau. Lha itu didepan lagi ngobrol sama Umar.


"Oh, itu nak Fahri lagi bantuin Umar ngerjain PR bahasa Arab." Jawab Ibu.


"Eh? Kak Fahri?" Gumamku. Aku terkesiap, seketika dada ini berdenyut mendengar nama pujaan hati sedang berada di dalam rumahku sekarang ini. Mendadak Aku jadi senyum-senyum sendiri.


Aku bergegas pergi ke dapur, kuambil gelas dari rak piring dan mengalirkan air dari dispenser.


Kuteguk segelas air putih untuk menghilangkan rasa dahagaku.


Tiba-tiba saja muncul ide brilian agar aku punya alasan untuk pergi ke depan, maksud hati biar bisa ketemu Kak Fahri. Kesempatan dong, dia lagi ada di rumahku.


Entah, aku menjadi sangat candu untuk selalu berada didekatnya. Padahal tadi siang kami pulang sekolah bersama, malah tadi kami sempat bersentuhan tangan. Lebih tepatnya dia menggenggam tanganku, entah dia memang sengaja atau tidak.


Setibanya tadi dirumah masih kuciumi punggung tanganku, bekas genggaman tangan Kak Fahri yang masih meninggalkan bau harum disana. Heran deh, kenapa sih parfum cowok bisa kuat banget. Misal dia lagi lewat aja, bau harumnya itu masih tertinggal meskipun orangnya sudah tak terlihat dari pandangan mata.


*


"Itu kopi buat siapa Ghisna?" Langkahku terhenti ketika Ibu bertanya saat aku melewati mereka lagi di ruang keluarga.


"Buat Kak Fahri bu." Jawabku setengah gugup. Takut ketahuan kalau anaknya lagi modus.


"Lhawong sudah Ibu bikinin kopi tadi kok."


Mataku melebar, serasa mati kutu. Terus gimana dong ini, masa harus gagal sih rencanaku.


*


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2