
"Itu kopi buat siapa Ghisna?" Langkahku terhenti ketika Ibu bertanya saat aku melewati mereka lagi di ruang keluarga.
"Buat Kak Fahri bu." Jawabku setengah gugup. Takut ketahuan kalau anaknya lagi modus.
"Lhawong sudah Ibu bikinin kopi tadi kok."
Mataku melebar, serasa mati kutu. Terus gimana dong ini, masa harus gagal sih rencanaku.
Duh, harus jawab apa nih?
Aku memutar otak, mencari alasan sebaik mungkin.
"Emm.. yaudah buat Umar aja."
"Sejak kapan Umar suka kopi?"
Tak kujawab lagi karena Aku langsung melenggang pergi.
Sesampainya di ruang tamu, kulihat Kak Fahri sedang fokus mengajari Umar. Mereka berdua duduk lesehan dibawah kursi tamu. Sadar akan kehadiranku, Kak Fahri mendogak dan padangan kami pun bertemu. Seulas senyum terlukis dikedua sudut bibirnya. Duh, kenapa jadi gugup begini.
Aku melangkah mendekat, kutaruh cangkir berisi kopi yang kubawa tadi diatas meja.
"Yang ini aja belum habis sudah dibuatkan lagi?" Ujar Kak Fahri, ditunjukkannya kopi yang terlihat masih penuh.
"Tadi gak tau kalau udah dibuatin sama Ibu, terlanjur bikin jadi aku bawa aja kesini sekalian. Daripada mubadzir." Ucapku agak malu-malu.
Aku mengambil posisi duduk bersebrangan dengan Kak Fahri, jarak kami hanya terhalang meja ruang tamu yang digunakan Umar untuk belajar saat ini.
"Kakak mau diajarin PR juga?" Tanya Umar, seolah dia sedang mempertanyakan keberadaanku disini.
"Nggak, pengen lihatin kamu belajar aja. Gak boleh?!"
"Mau lihatin aku belajar apa lihatin Kak Fahri?" Tanya Umar menggoda, diliriknya lelaki yang baru saja ia sebutkan tadi.
Etdah, ini anak kecil udah pinter banget ngegodain orang dewasa.
Aku mendelik kearah Umar, tapi dia malah menertawakanku. Kak Fahri tersenyum yang tak bisa kuartikan senyum apa itu.
"Kak..Kak.. tau nggak kalau Kak Aghisna suka ngintipin Kakak dari sini." Ucap Umar antusias, ia tak sadar sedang mempermalukan Kakaknya satu-satunya ini.
Seketika mulutku terbuka lebar, terkejut dengan kata-kata yang dilontarkan oleh adik yang gak ada akhlaq itu. Duh, Gusti.. kenapa aku harus punya adek tengil kayak begini sih? Boleh tidak kalau ditukar tambah?
"Bohong..bohong!! Jangan percaya Kak." Aku menggerakkan tanganku melambai cepat menyangkal perkataan Umar.
"Mana ada, jangan ngada-ngada kamu ya dek. Fitnah dosa tau!" Kataku membela diri. Ya Allah, malu banget sama Kak Fahri. Dasar adik gak ada akhlaq. Pengen ku telan bulat-bulat ini anak. Bisa-bisanya dia membongkar aibku di depan Kak Fahri. Hancur sudah.. hancur..!!
"Siapa juga yang fitnah, benaran kok Kak. Sumpah!"
Eh, ini anak malah pakai kata sumpah segala buat meyakinkan Kak Fahri. Duh, harus ngeles apa lagi nih..
"Umar!! Awas ya besok-besok gak aku kasih pinjem HP aku lagi!"
"Yah, jangan dong Kak. Aku kan masih pengen main game."
Sebuah ancaman mematikan untuk Umar. Orangtuaku memang sengaja tidak membelikan ponsel pribadi untuk adikku, takut kalau dia kecanduan jadi malas belajar. Hape terooosss!
Karena kasihan, sesekali aku meminjamkannya ponselku padanya untuk sekedar dia main game, asalkan tau waktu dan tidak mengganggu waktu belajarnya.
"Sudah-sudah jangan berdebat!" Kak Fahri berusaha menengahi, dapat kulihat tawanya yang tertahan di bibir tipisnya itu.
Pasti dia sedang menertawakanku yang ketahuan suka ngintipin dia. Demi apa ingin rasanya aku tenggelam ke dasar bumi sekarang juga. Rasa malu sudah sampai ubun-ubun ini.
"Berantemnya dilanjut nanti lagi, sekarang ayo belajar dulu." Kak Fahri mengulum senyum, Ia pasti sudah percaya banget dengan perkataan Umar.
Awas kau adik durhaka, tunggu pembalasanku.
Tak ingin lama-lama menahan malu, aku melangkah keluar rumah. Siapa tau udara di malam ini mampu menyejukkan suhu tubuhku yang tiba-tiba memanas akibat menahan malu.
Aku beranjak menuju ayunan besi yang terletak di taman depan rumah. Kuambil ponsel dari dalam saku lalu duduk diatas ayunan berukuran besar yang mempunyai dua tempat duduk memanjang yang berhadapan. Seperti yang ada di taman kanak-kanak itu lho. Dulu aku yang meminta dibelikan ayunan ini sewaktu masih SD, dan masih awet hingga sekarang ini.
Ditaman depan rumahku ini cukup nyaman meski tidak terlalu luas, ada satu lampu yang menerangi taman ini, ditambah pendar lampu yang berasal dari teras membuat cahaya diluar sini cukup terang.
Sejenak melupakan kejadian memalukan tadi, aku melanjutkan rencanaku menonton film yang sempat tertunda tadi.
***
"Lagi nonton apa serius banget?"
Agak terkejut karena tiba-tiba Kak Fahri sudah menaiki ayunan dan duduk tepat di depanku. Bau harum seketika menguar merasuki indera penciumanku.
Penampilannya yang memakai sarung bermotif warna biru dan memakai kaos oblong warna putih seakan memancar aura ke-handsome-annya yang tiada tara.
"Eh, kakak. Biasa, nonton drakor. Sudah selesai ya?"
"Sudah, cuma ngajarin ngerjain PR aja kok. Sama sedikit ngasih penjelasan sama adikmu."
"Apa tadi Umar yang dateng ke Kakak terus minta diajarin?"
Kak Fahri mengangguk. Adikku memang sering main di rumah mbah Idris, kadang Umar mengajak para Mahasiswa KKN itu untuk bermain bulu tangkis di halaman mbah Idris. Mungkin karena disana banyak cowok-cowoknya jadi adikku betah. Maklum saja di daerah rumahku tidak ada anak cowok yang sebaya dengan Umar, rata-rata anak cewek. Kalaupun ada rumahnya agak jauh.
Menurut pandanganku Umar terlihat paling dekat dengan Kak Fahri jika dibanding dengan Kak Rasyid dan Kak Adam. Mungkin karena sikap Kak Fahri yang agak humoris jadi adikku suka kepada lelaki tampan itu. Adikku memang pintar memilih calon kakak ipar. Hehe!
Kehadiran Kak Fahri seketika membuat perhatianku terhadap film drakor di layar ponsel teralihkan.
Kutekan tombol pause dan menurunkan layar ponselku.
"Gak apa-apa dilanjut aja nontonnya." Ucap Kak Fahri.
"Ah, nggak. Dilanjut nanti juga gak apa-apa kok."
Kak Fahri tersenyum manis, reflek aku mengalihkan pandangan agar tak bersitatap denganku. Grogi banget!
"Yang tadi itu beneran ya?"
Mataku membulat mendengar pertanyaannya. Aduh gawat, kayaknya dia lagi bahas soal tadi deh. Harus jawab apa nih? Rasanya aku sudah seperti maling yang tertangkap basah. Saking groginya keningku sampai mengembun.
"Yang mana Kak?" Tanyaku pura-pura bodoh. Kusentuhkan jemariku ke jilbab yang membungkus wajahku untuk menutupi kegugupan. Kebiasanku kalau grogi tanganku tidak bisa diam.
"Yang dikatakan Umar tadi, yang katanya kamu.."
"Oh itu!!" Ujarku sebelum Kak Fahri menyelesaikan kata-katanya.
"Hahaha!!" Aku tertawa garing.
__ADS_1
"Jangan dipercaya Kak, namanya juga anak kecil suka ngada-ngada." Kuayunkan telapak tanganku mengekspresikan perkataanku tadi.
Semoga saja Kak Fahri percaya dengan perkataanku.
Aku memalingkan muka, tak sanggup jika harus menatap langsung pria itu saat ini.
"Hmm, begitu ya. Misalkan iya juga gak apa-apa kok." Ucap Kak Fahri dengan tersenyum jahil.
Aku semakin malu, kutundukkan kepalaku tak mampu lagi menatap wajah tampannya lantaran malu karena ketahuan suka nyuri-nyuri kesempatan untuk melihatnya.
Ini semua gara-gara adik gak ada akhlaq itu!.
"Kok nunduk aja sih, malu ya?" Goda Kak Fahri.
Sekilas Aku melirik lalu menurunkan pandanganku lagi.
Ya jelas malu lah, Kak! Apa Aku kabur aja ya dari sini?
Aku menurunkan kaki kananku, niatnya mau turun dan kabur, tapi buru-buru Kak Fahri menarik lenganku yang terbungkus kaos lengan panjang, menahannya agar Aku tidak jadi pergi.
"Mau kemana? Disini aja."
Dengan perasaan yang kacau Aku kembali duduk diatas ayunan, entah kenapa malah menurut saja.
"Belum juga isya', duduk disinilah dulu sebentar sambil lihatin rembulan." Senyum pria itu mengembang dibawah sinar lampu taman yang terang benderang.
Dengan terpaksa aku tetap tinggal.
Sebenarnya Aku juga ingin berlama-lama duduk disini bersamanya, tapi karena hal memalukan tadi membuatku sangat malu untuk menghadapinya sekarang ini.
Satu tangan Kak Fahri memegang tiang penyangga ayunan dan menggerakkan tubuhnya sehingga Ayunan yang kami tumpangi ini mengayun pelan.
Kami sama-sama diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Suara-suara binatang malam seakan menjadi musik penenang dalam suasana indah malam ini. Ya, indah sekali. Dimana aku dan lelaki pujaanku duduk berdua dibawah sinar rembulan yang hampir membulat sempurna.
Namun terbesit rasa kecemasan dalam hati kecilku, apakah yang kulakukan saat ini benar? Duduk berdua dengan lelaki yang bukan mahram di malam hari.
"Tenang aja gak bakal tak apa-apain kok, Aku tau batasanku." Ucap Kak Fahri seakan Ia tau apa yang ada didalam pikiranku.
Aku tersenyum simpul.
Ingin rasanya aku bertanya, Kak Fahri dukun ya, kok bisa tau isi hatiku?
Ah, pasti dia dapat membaca pikiranku lewat ekspresi kecemasanku saat ini.
"Lagian disini kan, kondisinya juga lumayan terang gak gelap-gelapan, ini juga ada didepan rumah kamu mana mungkin berani macem-macem, ntar kalau tiba-tiba Ayah kamu nongol bisa digorok Aku." Seloroh Kak Fahri, membuatku tergelak.
"Lagi pula kita nggak lagi sendirian kok." Ujarnya lagi.
"Ha? Memangnya ada siapa lagi?" Alisku berkerut, pandangan mataku menyapu sekeliling kami. Tidak ada siapapun.
"Ada semut, ada jangkrik, kodok, nyamuk, terus apalagi ya?" Ucap Kak Fahri membuatku memutar bola mata.
"Kirain ada siapa Kak! Udah merinding aku tuh." Ucapku kesal.
Dia malah tertawa. Tampan sekali ya, kalau dia sedang tertawa. Makin ehem ehem deh!
"Muka kamu itu lho, lucu banget kalau lagi tegang. Apalagi kalau lagi nahan malu, pipinya kelihatan merah jambu." Ia tertawa lagi.
Ish! Malah ngeledek dia.
"Tuh, kan. Pipinya merah lagi."
Aih, Kak Fahri ini gak henti-hentinya godain aku terus dari tadi.
Spontan aku menutupi setengah wajahku dengan jilbab, tapi justru membuatnya semakin terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya.
"Udah puas belum ngeledeknya?" Sindirku, masih tetap menutupi wajahku dengan jilbab.
Kak Fahri menutup rapat-rapat mulutnya berusaha menghentikan tawanya yang sempat meledak tadi. Diaturnya nafasnya sampai ia kembali tenang.
"Maaf-maaf. Habisnya kamu itu lucu banget sih." Ia mengerlingkan matanya, membuatku semakin terjatuh dalam pesonanya.
Kak Fahri, sihir apa yang kau buat sehingga mampu meluluh lantakkan hatiku ini.
Setiap kedipan matamu, hembusan nafasmu, dan suaramu, seakan mampu mengalihkan duniaku seketika.
"Lucu apa jelek? Udah deh jangan ngeledekin Aku terus!" Protesku padanya. Namun sejatinya dalam lubuk hati paling terdalam, aku menyukai tawanya itu. Tak apa jika dia menertawakanku, asalkan senyumnya itu terus mengembang dikedua sudut bibirnya.
"Iya-iya maaf." Ia menangkupkan kedua telapak tangannya sebagai permohonan maaf.
Aku tersenyum dan menurunkan kain jilbab yang menutupi wajahku tadi.
Setelah sedikit ngobrol ngalor ngidul, Kak Fahri pun pamit untuk pulang dan menyuruhku untuk segera masuk ke dalam rumah.
"Malam-malam jangan di luar sendiri, nanti kalau ada yang nyulik kan repot," candanya sebelum akhirnya kami sama-sama kembali ke rumah masing-masing.
***
"Rasaku melebihi semua kata, karena itu aku lebih memilih untuk diam tak berkata."
By : Assyauq.
*
Pesan itu datang lagi, beserta coklatnya juga. Yang aku herankan, kapan orang itu meletakkan semua ini dibangkuku? Kenapa tak pernah kepergok sama sekali, padahal aku berangkatnya juga lumayan masih pagi. Aku juga selalu bertanya kepada siswa yang punya jadwal piket, karena mereka pasti berangkatnya masih pagi, tapi tak ada satupun yang melihat seseorang menaruh sesuatu di mejaku. Entahlah, sampai kapan rasa penasaran ini dapat terungkapkan.
Atau jangan-jangan Dia menaruh semua ini saat semua siswa sudah pulang sekolah? Makanya keesokannya pagi-pagi banget surat beserta coklat itu sudah ada di mejaku.
Aku harus segera mengetahuinya.
*
Hari ini Andra masuk sekolah kembali, lucunya dia sama sekali tidak menatapku, dia terkesan seperti menghindar. Aku pun juga memilih untuk diam, meski sebenarnya hati ini masih dongkol dengan perlakuannya hari itu. Benar-benar tidak bermoral. Seharusnya dia berterimakasih padaku karena tidak melaporkannya ke Guru BP.
"Lagi chat-an sama siapa sih, senyum-senyum gitu?" Tanyaku pada Milka saat jam kosong, seharusnya sekarang jadwalnya Pak Ikhwan, tapi entah mengapa beliau tak kunjung datang juga. Melihat Milka senyum-senyum sendiri membuatku merasa penasaran. Tumben.
Bukannya menjawab, Milka menanggapiku hanya dengan menunjukkan deretan giginya saja.
"Ish! Gak jelas." Ucapku kesal.
"Mil, nanti pulang sekolah jangan langsung pulang ya, temenin aku dulu." Pintaku pada Milka, dia masih fokus ke layar ponselnya.
"Ngapain?"
__ADS_1
"Nanti lah, aku kasih tau. Mau ya?"
"Sorry, kayanya aku gak bisa deh. Kamu kan, tau aku pulangnya nebeng, kalau aku nemenin kamu terus aku pulangnya gimana dong?"
"Nanti aku anterin deh, sekalian aku main ke rumah kamu. Mau ya? Please!"
"Tapi aku ada janji Ghis," ucap Milka lirih.
"Janji sama siapa?"
Tiba-tiba saja Dicky duduk di belakang kami, kebetulan Raisa dan Nana si pemilik bangku sedang kelayapan. Maklum jam kosong, ada yang pergi ke kantin, ada yang di luar, ada yang coret-coret di papan, ada juga yang tidur.
"Janji sama aku," sahut Dicky tiba-tiba.
"Ha?" Alisku berkerut menatap Dicky dan Milka secara bergantian.
Milka tersenyum, ia juga menatapku malu-malu. Ada apa ini? Jangan-jangan..
"Kalian pacaran ya?" Kataku menebak.
Milka dan Dicky saling melempar senyum, menandakan kalau memang benar dugaanku.
"Sejak kapan?" Aku terkejut, tak menyangka kalau mereka bakal pacaran. Padahal selama ini aku tidak mencium gelegat dari Milka kalau dia sedang dekat dengan Dicky. Apa akunya saja yang tidak peka?
"Kemarin." Kedua sejoli itu menjawab serempak.
"Kok kamu mau sih, Mil. Pacaran sama playboy kayak Dia?!" Aku menunjuk-nunjuk Dicky, pria itu langsung memasang muka masam.
"Udah tobat aku Ghis, sekarang cintanya cuma sama Milka. Ya kan, beb?" Dicky mengerlingkan matanya ke arah Milka.
Ih, jijay banget deh.
"Janjiannya dipending dulu ya ****, aku butuh Milka nanti pulang sekolah, ya!" Pintaku memaksa.
"Gak bisa!" Jawab Dicky.
"Mil, kita kan udah sahabatan sejak kelas X, sedangkan Dicky jadi pacar juga masih sehari, masa kamu lebih mentingin dia sih?" Protesku pada gadis didepanku, dari raut wajahnya Ia nampak seperti dilema.
"Besok aja ya, ****. Kasihan Aghisna." Ucap Milka memelas pada pacar barunya itu. Aku tersenyum lega, Milka ternyata masih mementingkan aku sebagai sahabatnya ketimbang pacarnya.
"Tapi kan kita udah janjian." Kata Dicky agak kesal.
"Besok aja ya, aku janji."
"Iya, besok aja kenapa sih. Urusanku lebih penting." Ucapku membela diri.
"Yaudah deh, janji ya." Dicky berucap sembari menggenggam jemari Milka. Spontan aku memukul tangan Dicky.
"Heh!! Bukan muhrim!!" Bentakku pada Dicky. Spontan ia melepaskan tangannya.
"Jangan mau dipegang-pegang sama playboy satu ini Mil. Ati-ati!!" Aku memperingatkam Milka. Sebenarnya aku tidak rela melihat Milka berpacaran dengan Dicky yang terkenal playboy itu. Kerap kali ia berganti-ganti pacar. Heran, kenapa Milka bisa kepincut sama Dicky, memang sih ganteng. Tapi kalau playboy begitu mending nyari yang lain daripada disakiti.
Aku pun memilih untuk pergi daripada menjadi obat nyamuk terus malah baper karena sedang menjomblo.
Aku beranjak keluar kelas dan pergi ke kantin, saat jam istirahat tadi aku tidak ke kantin karena sibuk ngerjain PR dari pak Ikhwan karena aku kelupaan. Eh, ternyata Pak Ikhwanya gak masuk hari ini. Dan sekarang perutku terasa lapar.
***
Sesampainya di kantin, tak sengaja aku datang bersamaan dengan datangnya Kak Adam. Kami sama-sama berdiri di warung lapak milik Bu Sumi. Sebenarnya ada tiga warung kantin yang tersedia di dalam sekolah ini, tapi bakso buatan Bu Sumi selalu menjadi favoritku selama sekolah disini.
"Baksonya buk." Aku dan Kak Adam sama-sam berucap.
"Wah, baksonya tinggal satu porsi ini gimana? Kehabisan stock ibuk." Jawab Bu Sumi.
"Aku kan, datang duluan buk." Kataku sembari melirik pria yang berdiri tak jauh dariku.
"Bukan kamu yang duluan, kita datang tadi barengan." Protes Kak Adam.
"Ih, siapa juga yang mau barengan sama situ!" Jawabku sewot.
"Lagian kamu jam segini kenapa di kantin? Bolos pelajaran ya?! Udah balik sana!"
"Nuduh sembarangan, lagi jam kosong gurunya gak ada!"
"Seharusnya jam kosong dipakek buat belajar, bukan malah di kantin. Perut aja yang diurusin."
"Idih, suka-suka dong. Udah buk, baksonya buat aku aja. Aku kan, pelanggan tetap disini."
"Gak bisa gitu dong, orang sama-sama bayar kok."
"Jadi Kakak gak mau ngalah sama aku yang lebih muda?"
"Nggak!!"
Kami sama-sama ngotot dan adu tatap, tak ada yang mau mengalah.
"Sudah..sudah jangan berdebat. Ini masing-masing dapat baksonya. Gratis gak usah bayar, daripada Ibu pusing mendengar kalian berdebat perkara bakso."
Bu Sumi menyodorkan dua mangkuk bakso, tapi yang membuat aku tercengang adalah satu mangkuk bakso cuma berisi 3 biji bakso berukuran sebesar bola tenis meja, biasanya satu porsi berisi 6 biji. hanya saja yang ini kuahnya lebih banyak.
"Biar adil!" Lanjut Bu Sumi.
Mana kenyang kalau cuma segini?
Dengan terpaksa dan karena tak enak juga dengan Bu Sumi, akupun mengambil mangkuk bakso tersebut dan beranjak ke meja yang disediakan.
"Nih, buat kamu aja biar kenyang."
Kak Adam memasukkan tiga bola bakso miliknya dengan sendok kedalam mangkuk milikku.
Aku menatapnya bingung.
"Kenapa gak dari tadi aja, pakai acara debat segala." Ketusku.
"Karena Aku suka berdebat denganmu." Ujarnya seraya pergi begitu saja.
"Makasih buk!" Katanya lagi sebelum ia benar-benar pergi dari kantin.
Sementara aku masih mencerna kata-kata yang baru saja diucapkan manusia abstrak itu.
"Suka berdebat denganku?" Gumamku.
*
__ADS_1
Bersambung..