I LOVE YOU, KAK GURU

I LOVE YOU, KAK GURU
Manusia Es yang Menyebalkan


__ADS_3

I LOVE YOU, KAK GURU


BAB 4


(Manusia Es yang Menyebalkan)


Seperti biasa, saat jam istirahat tiba semua siswa-siswi terlebih diwajibkan melaksanakan sholat dhuha bersama terlebih dahulu sebelum ngaso.


Aku dan Milka kini sedang mengantri di toilet siswi untuk berwudlu. Sebenarnya sudah disediakan tempat khusus untuk berwudlu tapi tetap saja tidak mencukupi jika digunakan secara bersamaan.


Lagipula aku sendiri punya kebiasaan sebelum berwudlu harus bersuci terlebih dahulu agar bersih dari hadats dan najis. Kaum wanita pasti pahan dengan maksudku.


"Kamu kenapa sih, Ghis. Klugat kluget kayak cacing kepanasan?" Tanya Milka melihatku tingkahku yang sedang berusaha menahan gejolak ingin buang air kecil.


"Kebelet banget Mil. Udah diujung tanduk ini!" Ucapku sembari mendesis.


"Ke toilet Guru aja sana. Daripada bocor disini malu-maluin tau!"


"Emang gak pa-pa ya?"


"Gak pa-pa. Aku biasanya juga kalau lagi darurat banget larinya kesana."


"Yaudah deh, aku kesana ya!" Ucapku seraya melangkahkan kaki dengan cepat menuju toilet guru yang letaknya berada di sebelah timur kantor guru."


Dari jarak 20 meter mataku berbinar ketika melihat ada satu pintu toilet yang sedikit terbuka dari dua pintu lainnya. Namun seketika itu dari arah barat aku melihat guru jutek itu, Kak Adam baru saja keluar dari kantor guru dan melangkah ke arah timur.


Oh, No!! Jangan-jangan dia mau ke toilet juga.


Aku segera berlari sekencang mungkin agar tidak keduluan Kak Adam. Benar saja, guru kejam itu sedang menuju ke toilet.


Ssrrtt!!!


Tanpa permisi Aku langsung menerobos melewati bawah ketek Kak Adam ketika tangannya sedang terangkat hendak mendorong pintu toilet.


Braakkkk!!!


Buru-buru kututup pintunya dan menguncinya dari dalam. Tak kupedulikan manusia es yang sedang berdiri diluar sana. Siapa cepat dia dapat.


Alhamdulillah, akhirnya lega juga.


Setelah selesai sekalian aku berwudlu disini.


Ceklekk!!!


Hhwaa...!!!


Aku terlonjak kaget saat kubuka pintu dan melihat sosok pria yang kini tengah berdiri persis didepan pintu. Tangan kanannya disandarkan pada gawang pintu, seolah sedang menghalangiku.


Duh, bau-baunya ini kayaknya dia lagi mau ngeluarin tanduknya deh.


"Kamu itu ya! Mbok ya yang sopan sedikit. Main nyelonong aja gak pakek permisi!" Ketusnya.


Tuh, kan bener. Tanduknya udah mulai keluar.


"M-maaf Kak. Tadi gak lihat." Kilahku, Aku menundukkan kepala sedikit takut dengan kemarahannya.


"Apa?! Gak lihat? Badan segede gini gak lihat?" Sungutnya lagi.


Haduh, kenapa aku pakek acara salah ngomong segala sih?

__ADS_1


"M-maksudnya saya gak lihat kalau Kakak juga mau masuk ke toilet ini." Bohongku lagi.


"Alasan! Kamu itu ya, udah tukang tidur, ngileran, minim akhlaq lagi! Udah cepet keluar sana!" Hardiknya. Membuat emosimku membuncah.


Seenak-enaknya dia ngatain aku seperti itu, benar-benar keterlaluan!


Dengan murka, kuangkat jari telunjukku didepan hidungnya serta sorot mataku yang tajam menusuk bola mata hitam milik lelaki angkuh itu.


"Apa? Ha?! Udah cepet keluar, kamu itu membuang-buang waktuku saja," sergahnya sebelum aku membuka mulutku yang sudah bersiap untuk memakinya.


Tak ingin lama-lama berurusan dengan makhluk absurd ini, kuturunkan tanganku dan mengurungkan niat untuk memakinya karena telah menghinaku tadi.


"Gimana mau keluar kalau Kakak masih berdiri disitu?" Protesku, kini giliran aku yang bersungut.


Manusia es itu pun menurunkan tangannya dan sedikit menggeser tubuhnya.


"Agak sana-an dikit lah Kak, ntar nyenggol batal lagi!" Aku mengibaskan tanganku, memberi aba-aba agar pria itu bergeser lagi. Ia pun segera menggeser tubuhnya.


Tanpa menunggu lama Akupun segera melangkah keluar.


Tapi setelah itu hal yang tak disangka-sangka terjadi. Kak Adam menyenggol jemariku sebelum ia masuk kedalam toilet. Kurang asem! Pasti dia sengaja bikin aku batal wudlu.


"Kaaakkk!!!" Pekikku geregetan.


Huh, dasar manusia es gak punya hati. Udah jutek, galak, ngeselin lagi. Lengkap sudah peran dia sebagai antagonis disini. Pasti dia dendam gara-gara tadi aku nyerobot masuk toilet.


Nyebelin..!! Nyebelin..!!


"Ada apa kok teriak?" Tanya Pak Wilan yang baru saja keluar dari toilet sebelah.


"Eh, Bapak. Nggak ada apa-apa kok pak, permisi." Ucapku dengan senyum palsu seraya melangkah menjauh.


***


Aduh mamae ada cewek kerudung merah


bikin saya terpana karena senyumnya


yang membuat hati tergoda


Mau tanya-tanya dia siapa punya


Kalau belum ada kita mau masuk tengah


Sayang kau sungguh manis


Bikin sa tertarik..


Di teras kelas, Galih memainkan gitarnya sambil bernyanyi bersama dengan anak-anak cowok lainnya. Lagu tadi pasti ditujukan kepada Kak Zizah yang baru saja melewati koridor kelas kami.


Kak Zizah adalah Mahasiswa KKN yang juga mengajar di kelas kami. Sering kali ia digoda oleh murid-murid cowok saat mengajar di kelas kami, maklum saja dia adalah wanita yang cantik dan juga terkesan imut. Tak ayal jika ia jadi bahan candaan anak-anak cowok yang tengil-tengil itu.


Sadar sedang digoda murid-muridnya, Kak Zizah melewati segerombolan anak-anak tengil itu dengan menahan senyum. Terlihat dari reaksinya yang menutup mulutnya dengan map yang ia bawa.


"Siang Kak," sapaku dan juga teman-temanku kepada Kak Zizah ketika ia melewati barisan duduk kami.


"Siang juga adik-adik." Sapanya dengan senyum manis. Bau harumnya menguar dan masih tertinggal mesti pemiliknya sudah berlalu pergi.


Tiba-tiba terbesit pertanyaan dalam benakku. Kira-kira diantara para Mahasiswa itu ada yang naksir gak ya sama Kak Zizah? Atau malah justru sudah berpacaran?

__ADS_1


Kak Fahri gimana ya? Apa jangan-jangan dia juga naksir dengan Kak Zizah? Secara Kak Zizah itu kan, cantik banget dan mereka pasti juga sudah lama kenal.


Ah, kenapa aku malah mikirin itu sih? Memangnya apa urusannya denganku.


Tapi, bagaimana kalau memang benar, patah hati dong aku?


Secara aku sudah terlanjur baper karena tadi pagi digombalin sama Kak Fahri. Mungkinkah dia cuma bercandain aku?


Entahlah, kenapa aku malah jadi bertanya-tanya sendiri begini!


"Ssst..sstt!!"


Milka menyikut lenganku, ia seperti sedang memberikan sebuah kode.


"Apaan sih?" Aku mengeryitkan dahi menatap kearah sahabatku yang satu ini.


"Lihat itu Ghis," ucap milka seraya menggerakkan wajahnya menunjukkan sesuatu.


Aku pun mengedarkan pandangan mencari sesuatu yang sedang ditunjukan Milka.


Dari arah jam dua, aku melihat ada Kak Fahri yang sedang duduk di teras kelas XI IPS sambil memangku laptop, dan ia dikelilingi beberapa siswi yang kukira adalah anak-anak IPS.


Idih, ngapain sih mereka pada caper sama Kak Fahri? Pasti mereka modus minta diajarin sesuatu supaya bisa deket-deket sama Kak Fahri.


Seketika dadaku terasa sesak melihat pemandangan tersebut. Kuremas bungkus snack yang kupegang dan melemparnya asal-asalan ke tong sampah dari jarak jauh.


"Widiiih.. hebat betul kamu Ghis bisa masuk gitu." Celetuk Sinta yang duduk disebelahku.


"Hebat apanya! Digerumin cewek-cewek gitu dibilang hebat?!" Ucapku kesal seraya beranjak dan bermaksud hendak masuk ke dalam kelas. Tak ingin lama-lam melihat pemandangan dan yang seketika membuat cuaca menjadi panas. Gerahh!!


"Apaan sih, maksud Ghisna, Mil?"


Entah apalagi yang mereka bicarakan aku tak lagi mendengar.


***


"Kemana lagi nih, pulpenku?!" Aku menggeledah meja serta tasku mencari pulpen yang tadinya kuletakkan diatas meja. Kucari di sekitar kolong meja juga tidak ada.


Kecolongan lagi ini Aku kayaknya, ini sudah kesekian kalinya aku kehilangan pulpen dan tersangkanya pasti anak berandalan itu, Andra.


Sudah menjadi rahasia umum kalau kebiasaan Andra memang suka mengambil pulpen anak-anak lain. Jika ditanya pasti dia ngakunya itu miliknya, Dia pinjampun pasti nggak akan dibalikin.


Kali ini aku benar-benar jengkel. Sudah berbiji-biji pulpen dia embat. Sekarang aku tidak akan tinggal diam.


Mumpung kelas lagi sepi dan cuma ada aku didalam kelas, aku bermaksud untuk mencari sendiri pulpenku di tasnya Andra.


Kulangkahkan kakiku menuju meja Andra. Kuraih tas ransel milik Andra setelah memastikan keadaan aman dan tak ada siapa-siapa, takutnya kalau aku disangka mau nyuri.


Saat kubuka resleting tas paling depan, aku terkejut melihat puluhan pulpen ada didalam sana.


Gila!! buat apa dia nyuri pulpen sebanyak ini. Jangan -jangan anak ini punya kelainan psikologis, suka ngumpulin pulpen-pulpen hasil ngembat.


Tiba-tiba muncul sebuah ide brilian dalam otakku. Lihat aja Andra, apa yang akan kulakukan nanti!!


Hhh..!! Aku tersenyum licik.


***


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2