I LOVE YOU, KAK GURU

I LOVE YOU, KAK GURU
Bumi Pramuka


__ADS_3

"Kak Adam, tunggu !!"


Panggilku setengah berteriak sambil mengejar langkahnya. Namun langkah kaki pria itu begitu cepat.


Hingga kulihat Kak Adam berbelok masuk kedalam kelasku. Akupun segera menyusulnya secepar mungkin.


"Kamu apain dia, ha?!"


Ucap Kak Adam, tangan kanannya menarik kerah baju Andra. Bocah laki-laki itu sampai berjinjit karena tinggi badannya yang tidak setara dengan pria yang tengah mengancamnya.


"Apa?!" Sahut Andra dengan mata yang melotot. Sepertinya dia tak ingin terlihat lemah di depan Kak Adam.


"Kak..Kak.. stop!! Jangan bikin keributan, nanti yang lainnya pada kesini," kataku panik berusaha melerai. Aku berusaha menarik tangan Kak Adam dari kerah baju Andra.


Bukan karena ingin membela Andra, aku hanya tidak ingin masalah ini diperpanjang lagi.


Kak Adam pun menurunkan tangannya, kutarik tubuhnya agar lebih mundur lagi menjauh dari Andra.


"Andra!! Tolong jangan ganggu aku lagi kalau kamu tidak ingin aku laporkan ke guru BK." Ancamku padanya.


Andra melengos dan pergi begitu saja keluar dari kelas.


Kini hanya tinggal aku dan Kak Adam yang berada di ruangan ini. Kulihat nafas Kak Adam mulai tenang, terlihat ia mengusap wajah berusaha menetralkan emosinya.


"Kenapa kamu sampai menangis? diapakan kamu sama dia?" Tanya Kak Adam, tatapannya tajam menusuk netraku.


"Nggak diapa-apain kok Kak." Ucapku terbata-bata, takut melihat sorot mata tajamnya.


"Lalu kenapa kamu sampai nangis?"


"Emm.." otakku berputar, berpikir mencari alasan yang tepat.


Kak Adam masih menatapku menunggu jawaban.


"Sebenarnya tadi.. saat aku sendirian di dalam kelas.. Andra tiba-tiba masuk. Terus.. dia tutup pintunya. Terus.. dia mengancamku dan mencengkram tanganku, melihat aku nangis, dia langsung lepasin tanganku terus aku pergi. Udah gitu aja kok, gak terjadi apa-apa."


"Benar seperti itu?"


"Iya, tadi aku nangis karena takut kalau diapa-apain, tapi alhamdulillah gak sampai terjadi apa-apa."


"Syukurlah." Terdengar Kak Adam menghembuskan nafas dalam.


Sejenak kami sama-sama terdiam, Kak Adam menyenderkan tubuhnya di meja sedangkan aku duduk di kursi yang tak jauh darinya.


Pikiranku kembali melayang pada kejadian beberapa menit yang lalu, saat Kak Adam berusaha mati-matian membelaku. Sungguh aku tidak mengerti dengan sikapnya, kenapa dia tampak sangat marah sekali. Padahal biasanya sikapnya padaku cuek-cuek saja malah cenderung jutek, tidak pernah ramah sama sekali. Dan ini bukanlah kejadian yang pertama kali.


Entalah, aku tidak bisa membaca pikirannya. Dia adalah manusia yang sangat sulit ditebak.


"Emm.. kalau begitu aku keluar dulu ya. Kau jaga diri baik-baik." Kak Adam berucap seperti salah tingkah. Ada yang beda dengan sikapnya hari ini. Aneh.


"Umm, iya Kak."


Dia pun beranjak keluar dari kelas. Aku pun juga ikut keluar dari kelas, jangan yang lainnya sudah pada ngumpul karena kurasa aku terlalu lama di belakang sini.


🍄🍄🍄


Hari yang dinantikan tiba. Perkemahan yang akan digelar selama tiga hari dua malam bertempat di sebuah pantai, membuatku sangat bersemangat saat berangkat. Terbayang betapa asyiknya berkemah di tepi pantai menikmati pemandangan laut yang indah. Pokoknya aku nanti akan menikmati sunrise dan sunset disana, ini kesempatan yang baik bukan.


Aku mengusung semua barang bawaanku ke teras rumah. Ada satu ransel besar, dua tas kecil, satu buah tas kresek lumayan besar berisi bekal makanan dan minuman, tak lupa camilanya juga, serta ember kecil berisi peralatan mandi.

__ADS_1


"Kakak mau kemah atau pindahan?" Celetuk Umar meledekku.


"Diem, bawel !!" Ucapku yang sibuk memeriksa barang bawaanku satu persatu, memastikan tidak ada yang ketinggalan.


"Ayah, bantuin bawa ke sekolahan ya!" Pintaku pada Ayah yang sedang memberi makan burung kesayangannya di teras.


"Iya." Jawab Ayahku setelah menoleh sebentar lalu melanjutkan kegiatannya.


Dirumah sebelah, nampak Kakak-kakak mahasiswa itu juga tengah sibuk menaruh tas besar di teras.


"Wah, kayaknya Kak Fahri juga ikut tuh. Alhamdulillah." Batinku bersorak gembira.


Aku melangkah kembali masuk kedalam rumah mencari ibuku untuk segera berpamitan dan minta uang saku tentunya. Setelah mendapat uang saku dari ibu aku juga meminta lagi pada Ayah, biar double gitu, hehe.


Kuraih sepatuku dari rak lalu memakainya. Setelahnya, kurapikan dasiku sambil nerkaca pada jendela rumah.


"Yuk, yah berangkat."


Kali ini aku minta diantar Ayah ke sekolah. Gak mungkin kan aku jalan kaki sambil bawa tas yang banyak banget. Tanganku tidak akan muat, mana berat lagi.


Saat aku sudah bersiap naik ke atas jok motor, terlihat ketiga mahasiswa itu juga kan berangkat.


"Duluan Kak." Ucapku pada mereka.


Entah kenapa, sekilas mataku tertuju pada Kak Adam dan ternyata dia juga sedang melihat kearahku. Sontak aku menalingkan muka pura-pura tak sengaja melihat.


Sesampainya di sekolah, Ayah membantuku menaruh barang bawaanku ke teras masjid. Disana sudah banyak siswa yang berkumpul.


"Mau pindahan neng?" Ledek Dinda yang menghampiriku. Dia adalah anak kelas XI IPA 2.


"Ye..!! Ini tuh, penting untuk kenyamananku pas di tempat kemah nanti."


"Tau aja kamu Din."


"Udah hafal aku Ghis, tiap ada acara perkemahan dua barang itu gak pernah ketinggalan di tas kamu. Pantesan aja barang bawaannya kayak orang mau pindahan." Ucap Dinda diakhiri tawanya.


"Biarin." Sahutku cuek.


"Oh ya, nanti kamu bagian absensi ya. Sepuluh menit lagi kita kumpul."


Dinda menyerahkan dua lembar kertas berisi nama-nama peserta perkemahan. Akupun menerimanya.


"Siap boss!!"


🌴🌴🌴


Sekitar dua ratus sepuluh siswa yang terdiri dari kelas X dan XI mengikuti acara perkemahan ini. Kami semua naik truk menuju lokasi perkemahan. Terkecuali para guru pembina dan para mahasiswa KKN itu. Yang kulihat mereka semua ikut. Yang kudengar kepala sekolah yang mengusulkan agar mereka ikut, biar ada kesannya gitu selana mengajar di sekolah kami.


Kurang lebih satu jam perjalanan kami pun sampai di tempat tujuan. Baru saja memasuki area pantai kami semua menjerit kegirangan melihat suasana pantai dan hembusan angin segarnya. Kedua mataku langsung disuguhkan oleh birunya laut yang membentang luas. Suara gemuruh ombak seakan menjadi irama musik dalam menyambut kedatangan kami.


Truk yang kami tumpangi tetap melaju sampai akhirnya tiba pada sebuah tanah lapang yang nampak tandus. Disanalah kami akan mendirikan tenda.


Satu persatu kami turun dari truk dengan dibantu oleh kaum pria, kulihat ada Kak Hanif, Kak Ghazi dan Andra yang berada di bawah truk belakang yang kutumpangi.


Melihat Andra aku langsung bergeser posisi, mengantri di barisan dimana dibelakang truk ada Kak Hanif yang membantu.


Setelah istirahat sejenak dan melakukan absensi, seluruh peserta dikomando untuk mendirikan tenda sesuai regu masing-masing. Dimana satu regu beranggotakan sepuluh orang siswa.


Diujung utara adalah bagian tenda siswa, sedangkan dibagian selatan adalah bagian tenda siswi.

__ADS_1


🌴🌴🌴


"Ada yang bisa dibantu?"


Aku yang sedang berdiri didalam tenda terhenyak ketika mendengar suara yang tak asing lagi itu.


Kak Fahri?


Aku tidak bisa mengintipnya karena posisiku sekarang yang sedang memegang tongkat sambil menyangga tenda yang akan dipasang.


Pandanganku terhalang karena tenda yang masih kendur. Didalam sini ada aku, Ulya dan Dinda.


Sedangkan teman-temanku diluar sana bertugas memasang tali dan menarik sudut tenda, sepertinya kami kesulitan untuk menancapkan patoknya karena pekerjaan itu butuh tenaga laki-laki.


"Ada Kak, ada!!" Sahut teman-temanku bersemangat. Seperti mendapat angin segar, kami tidak akan menyianyiakannya, apalagi ini Kak Fahri, berasa kejatuhan durian runtuh.


Dari tadi kami memang sudah menunggu bantuan tapi sepertinya semua sibuk dengan tugas masing-masing.


"Mana kayunya?" Terdengar suara Kak Fahri lagi. Huft sayangnya aku ada didalam sini. Coba saja aku ada diluar, pasti seneng banget aku.


"Eh, itu kayaknya suara Kak Fahri, bener gak sih?" Celetuk Dinda.


Aku mengiyakannya.


"Sayang banget kita ada didalam sini ya, jadi gak bisa lihat Kakak ganteng itu deh." Canda Ulya.


"Kamu Ul, kayak gak pernah lihat cowok ganteng aja." Sergah Dinda.


"Yee.. biarin!" Ulya menjulurkan lidahnya.


"Eh, tapi menurutku lebih ganteng Kak Adam tau," ucap Dinda.


"Tapi sayang, juteknya minta ampun," lanjut Dinda lagi.


"Hu'um." Ulya menimpali.


"Tapi biarpun jutek sebenarnya dia baik kok." Kataku di sela-sela pembicaraan mereka.


Seketika tatapan mereka berdua langsung tertuju padaku, mereka memandangku dengan tatapan heran. Aku langsung sadar, aku telah salah bicara.


"Ciye..!! kayaknya emang ada apa-apa nih. Pantesan aja waktu itu Kak Adam kayak ngelihatin kamu pas waktu pelajaran di kelas." Celetuk Ulya tiba-tiba. Dinda yang mendengar itu menampakkan ekspresi keterkejutannya.


Waduh, ternyata selain Raisa, Ulya juga melihatnya.


"Yang bener? Kirain kamu deket sama Kak Fahri Ghis, soalnya sering banget lihat kamu jalan bardua sama Kak Fahri sewaktu berangkat sekolah."


"Ulya! Jangan nyebarin gosip aneh-aneh deh!" Protesku kepada gadis bergigi gingsul itu.


"Yee.. emang bener gitu kok yang aku lihat. Kamu kan, nggak lihat sendiri Ghis makanya gak percaya."


"Sudah-sudah jangan berdebat, nanti kedengaran Kak Fahri cemburu lho nanti dia." Sahut Dinda diakhiri dengan tawa kecilnya, membuatku sedikit tersipu.


Ulya dan Dinda saling melirik lalu mereka tersenyum.


Beberapa saat kemudian tenda pun sukses terpasang. Aku, Ulya dan Dinda keluar dari tenda. Langkahku pun kupercepat, kutengok kanan kiri, depan belakang tenda Kakak guru idolaku itu sudah tidal ada.


"Yaaah..." Aku mendesah dalam hati.


Cepat sekali pria itu menghilang. Padahal seharian ini aku belum ngobrol dengannya, seperti ada yang hampa di dalam dadaku ini.

__ADS_1


__ADS_2