I LOVE YOU, KAK GURU

I LOVE YOU, KAK GURU
Ancaman


__ADS_3

"Perhatian.. perhatian!! Temen-temen semua, siapa yang selama ini merasa sering kehilangan pulpen, Nih, Aku nemu pulpen banyak barangkali ada merasa mempunyai salah satu dari pulpen-pulpen ini silahkan ambil kesini ya!" Seruku yang kini sedang berdiri didepan kelas saat semua siswa sudah masuk kedalam kelas setelah bell berbunyi.


Kuletakkan dua genggam pulpen ditanganku diatas meja Lina yang berada dibarisan paling depan. Sekilas kulirik Andra yang ekspresinya sedikit melongo, lalu aku segera kembali lagi ke bangkuku dengan perasaan puas.


Setelah itu hampir semua anak (tidak semua tapi banyak) maju kedepan mengerumuni meja Lina untuk mengambil pulpen-pulpen itu, rata-rata anak cewek.


Andra nampak sedang sibuk membuka-buka isi tasnya, ada gurat kekesalan dalam ekspresi wajahnya itu. Aku tersenyum puas melihatnya.


Kini Andra melempar pandangannya kearahku dengan sorot mata yang tajam setajam-tajamnya, sontak Aku membuang muka dan mengalihkan pandanganku kedepan, pura-pura tidak berdosa tentunya. Haha!!


***


Aku berjalan menelusuri jalanan gang kecil di samping pagar gedung sekolah, jalanan yang setiap hari aku lewati setiap berangkat dan pulang sekolah. Karena memang ini jalan satu-satunya yang terdekat menuju rumahku.


Aku teringat akan coklat hadiah entah pemberian siapa pagi tadi. Kuambil coklat itu dari dalam tas lalu memakannya sambil membayangkan kalau coklat ini adalah pemberian Kak Fahri.


Tapi tiba-tiba aku teringat akan kejadian saat jam istirahat tadi, dimana aku melihat Kak Fahri tadi didekati oleh cewek-cewek anak IPS.


Uh, mau-maunya sih, Kak Fahri dideketin sama cewek-cewek kayak gitu? Emang gak risih apa ya?


Huft, memang dasar laki-laki semuanya sama aja!


Aku terus menggerutu dalam hati sampai tak sadar coklat telah habis kumakan semuanya.


Namun tiba-tiba..


Ssrrttt !!!


Seseorang menarik bahuku dengan kasar dan menyandarkannya ke dinding pagar sekolah.


Andra?!


"Siapa yang nyuruh kamu ngambil pulpen dati tasku ha?!" Ucap Andra dengan mata yang melotot, ia mencengkram bahuku.


"Apaan sih? Aku cuma balikin pulpen temen-temen yang kamu embat!" Ucapku tak kalah ngototnya.


"Lancang bener kamu ya! Gak usah ikut campur urusanku!"


"Yang salah itu kamu Ndra! Perbuatanmu itu dosa, ngambil barang orang tanpa izin."


"Alah... cuma pulpen aja kok!"


"Tetep aja namanya NYOLONG!!"


"Terserah aku dong, yang dosa aku kenapa yang repot kamu?!"


"Udah lepasin aku Ndra, aku mau pulang!" Aku mencoba melepas cengkraman tangan Andra dari bahuku, tapi tangan laki-laki itu terlalu kuat.


"Nggak!! Sebelum aku beri kamu perhitungan Ghisna!"


Andra memajukan wajahnya mendekati wajahku. Apa yang akan dia lakukan?


Ya Allah.. bagaimana ini? Aku takut diapa-apain. Anak ini benar-benar nekat. Mana jalanan sepi banget lagi.

__ADS_1


"Andra jangan macem-macem ya, aku teriak nih! TOLONG!!!"


Bukannya gentar, Andra malah semakin memajukan wajahnya hingga jarak kami tinggal beberapa centi. Jantungku berdebar kencang, aku memejamkan mataku, takut.


BUUGH!!!


Andra tersungkur ke tanah, aku terperangah karena Kak Adam yang tiba-tiba datang dan menonjok Andra.


Alhamdulillah, pertolongan Allah datang diwaktu yang tepat.


Jantungku masih berdebar, hampir saja aku tadi dicium oleh Andra.


Di depanku kini berdiri Kak Adam dengan tangan yang masih mengepal dan dadanya yang naik turun. Nampak sekali ia sedang diliputi rasa amarah yang membuncah.


Andra berdiri dengan tangannya yang memegangi pipinya, pasti sakit banget. Rasain!! Siapa suruh berbuat macem-macem.


"Mau kamu apain dia? Mau saya laporin ke Kepala Sekolah?" Ancam Kak Adam. Lalu datanglah Kak Fahri yang setengah berlari.


"Kenapa?" Tanya Kak Fahri.


"Anak ini mau berbuat kurang ajar sama Ghisna." Kak Adam menunjuk-nunjuk Andra.


Andra menatapku seolah-olah sedang mengancam sebelum akhirnya ia pergi dari hadapan kami bertiga tanpa mengatakan sepatah kata pun.


"Kamu nggak apa-apa Ghis?" Kak Fahri bertanya sembari menyentuh pundakku, ada raut kecemasan di wajahnya.


Aku menggeleng pelan, rasanya masih shock dengan kejadian barusan.


"Terimakasih Kak..." baru saja aku mengucapkan terimakasihku kepada Kak Adam, tapi pria itu sudah melenggang pergi begitu saja meninggalkan Aku dan Kak Fahri. Dasar pria aneh, tadi sikapnya sudah seperti pahlawan eh, sekarang berubah jadi kayak es lagi. Beku dan cuek.


"Emm.. cuma masalah kecil Kak, Andra gak terima trus dia nyegat aku tadi disini. Dia berusaha.. em.." ingin kulanjutkan kata-kataku tapi aku merasa sedikit canggung.


"Berusaha apa?"


"Dia.. berusaha.. men..ciumku tadi," ucapku dengan sedikit ragu-ragu. Malu menyebutkan kata "cium" di depan Kak Fahri.


"Hah?!" Kak Fahri terhenyak.


Aku mengangguk untuk meyakinkan kata-kataku tadi.


"Kalau begitu besok kita lapor ke Kepala Sekolah biar dia mendapat sanksi. Ini pelecehan namanya!" Sungutnya, dalam hati aku tersenyum karena merasa mendapat perhatian dari pria yang aku taksir.


"Jangan Kak, gak usah. Andra itu cuma tinggal dengan neneknya yang udah sepuh. Kasihan kalau neneknya nanti sampai dipanggil ke sekolah." Jelasku pada Kak Fahri.


"Memangnya orangtuanya kemana?"


"Ibunya kerja di luar negri, sedangkan Ayahnya sudah pergi meninggalkan mereka sejak Andra masih kecil Kak."


Ya, meskipun Andra itu anak yang sangat bandel tapi disisi lain aku merasa kasihan padanya karena ia tidak bisa merasakan kasih sayang dari kedua orangtuanya.


Aku tau tentang kehidupan Andra berdasarkan cerita dari Nela, teman satu kelas kami. Nela merupakan tetangganya Andra. Menurut cerita Nela, Andra sejak kecil sudah ditinggal ibunya kerja di luar negri dan hanya tinggal bersama neneknya. Sedangkan Ayahnya entah pergi kemana tidak ada yang tau.


"Ow, begitu rupanya," kata Kak Fahri dengan sedikit manggut-manggut, kemudian ia tersenyum padaku lalu berkata, "ternyata kamu baik juga ya."

__ADS_1


Aku tersipu mendengar penuturannya. Aku tidak bermaksud pencitraan lho ya ini. Aku hanya merasa kasihan aja kalau nenek Andra yang sepuh itu sampai harus datang ke sekolah dan menanggung malu atas kelakuan cucunya yang berandalan itu.


"Beneran ya, Kak. Jangan dilaporin ke Kepsek atau guru yang lainnya. Kasih tau Kak Adam juga ya, supaya jangan diperbesar masalah ini. Lagipula gak terjadi apa-apa denganku kan," pintaku kepada lelaki tampan yang ada didepanku saat ini.


Kak Fahri sejenak terdiam lalu menyetujui permintaanku.


"Ya, sudah. Ayo pulang." Ucap Kak Fahri. Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya.


Sedangkan Kak Adam, ia sudah menghilang dari belokan jalan di depan sana.


***


Mataku mengerjap kala aku mendengar sayup-sayup suara petikan gitar yang mengiringi suara merdua seseorang yang sedang bernyanyi dari rumah sebelah.


Ya, suara ini lagi. Aku benar-benar jatuh hati pada suara ini. Entah siapa pemiliknya, masih menjadi misteri bagiku.


Kulirik jam digital diatas nakas menunjukkan pukul 03.00. Ternyata aku tertidur cukup lama setelah pulang sekolah tadi.


Aku enggan bangkit dari tempat tidur dan memilih untuk menikmati suara indah itu, terlebih lagi ia membawakan lagu arab yang belakangan ini menjadi lagu favoritku.


Inna fii hubbik fauqo mustawil kalam


Faqorortu lisani an askut 'anil kalam


Syauqi ilaika fauqo min hissiihaa


Hatta aqwa min alami asaariha


Bishumti fi diikil 'ibaroh 'amma a anii


Isytik ilaika bifardi liannak qoriibamminni


Hubbi la limada wala kaifa


Lam ahtaj sababasytaki ilaika


Mawajadtu sabab faroha qolbi illa bika


Mawajadtu maujuudii ilaika


Inna filhubbi laqod mata kullul idloh


Lagu ini berkisah tentang seseorang yang mencintai dalam diam karena ia tak mampu untuk mengatakan apa yang tengah ia rasakan, meskipun sakit namun ia tetap menikmati segala rasa rindu yang ia pendam.


Sungguh, aku merasa lagu ini sangat mendukung dengan situasiku sekarang ini, yang kini tengah dimabuk asmara oleh pesona Kak Fahri, Mahasiswa berkarisma itu. Namun aku tak kuasa untuk menunjukkan perasaanku kepadanya. Yang bisa kulakukan hanyalah mengaguminya dalam diam.


Apakah pria yang bernyanyi dibalik dinding ini juga sedang merasakan hal yang sama?


Lagi-lagi aku berharap Kak Fahri lah orang itu.


Apa aku intip aja ya? Tapi darimana?


Aku mendongak, melihat kearah jendela kamarku yang letaknya lurus berseberangan dengan jendela kamar rumah sebelah.

__ADS_1


Intip gak ya?


__ADS_2